
Gordon melanjutkan ceramahnya, “Tapi ingat, walau secara umum pengguna tenaga dalam lebih unggul daripada pengendali elemen, ia masih bisa kehabisan amunisi energi juga bila persediaan aura di tubuhnya menipis. Kalian mungkin merasa beruntung dapat mempelajari Ilmu Tenaga Dalam di sini, tapi tetap jangan takabur. Berlatihlah keras meningkatkan kapasitas dan persediaan energi sejati alias inti tenaga dalam di tubuh kalian, niscaya kalian akan menjadi pendekar-pendekar yang mumpuni. Paham, semua?!”
Semua pendengar menjawab serempak, “Paham, Pak Gordon!”
“Bagus.” Gordon mengangguk puas, sebentuk asap seakan mengepul dari lubang hidungnya tanda ia makin bersemangat. “Kita lanjutkan pembahasan kita. Nah, tenaga dalam, yang disebut pula dengan istilah ‘chi’ atau ‘prana’, adalah energi yang dikerahkan dari energi kehidupan yang terdapat dalam diri setiap orang.
“Energi kehidupan – yang dapat dilihat oleh orang-orang tertentu sebagai ‘aura’ – itulah yang dikendalikan oleh roh dan dialirkan ke bagian-bagian tubuh kita untuk melakukan segala macam aktivitas. Mulai dari aktivitas sehari-hari seperti makan, tidur, belajar, bekerja, berolah raga dan lain-lain, sampai pengerahan yang ekstrem dalam pertarungan dan... pertempuran.”
“Jadi, apakah tenaga dalam sama dengan tenaga fisik?” tanya Zet.
“Pertanyaan yang bagus. Ada dua jenis turunan tenaga dalam, yaitu tenaga fisik dan tenaga spiritual. Tenaga dalam di tubuh kita didapan dari makanan, meditasi dan pelbagai cara lainnya, termasuk mengambil dan menyerap energi ‘mana’ dari alam, sumber kekuatan gaib, benda-benda berkekuatan gaib atau bahkan makhluk-makhluk lain. Pelbagai energi itu diproses dalam tubuh, lalu dialirkan dan dikerahkan sesuai kebutuhan.
“Energi yang didapat dari sumber-sumber fisik dan alami yang digunakan untuk aktivitas-aktivitas fisik disebut tenaga fisik. Sedangkan energi dari ‘mana’, kekuatan spiritual, supranatural, dan ekstrem disebut tenaga spiritual. Nah, tenaga dalam spiritual inilah yang akan kita gali dan kembangkan dalam mata kuliah Ilmu Tenaga Dalam ini.”
Satu mahasiswi lain mengangkat tangan. “Apakah kita akan belajar jurus-jurus tarung pula seperti di Naga Nirwana?” Dari matanya yang sipit, Zet menduga ia berasal dari Negeri Naga Nirwana, Sakura Ungu, atau Ginseng Putih.
“Bisa, Kimiko, tapi bukan di sini. Yang kita pelajari di kelas ini adalah jurus-jurus dasar saja, itu pun semua berfokus pada pengembangan tenaga dalam, bukan untuk memenangkan pertarungan,” kata Gordon. “Ada beberapa cabang mata kuliah ilmu bela diri di kampus ini yang dapat dipilih di tahun kedua. Ilmu Tenaga Dalam yang kita pelajari sekarang adalah prasyarat untuk itu. Jadi silakan nanti pilihlah sesuai dengan elemen ataupun aliran yang kalian inginkan.”
Wajah Kimiko Taru yang berasal dari Negeri Sakura Ungu jadi bagai ditekuk seribu. Kesannya, ia telah memiliki dasar Ilmu Tenaga Dalam, buat apa belajar lagi dari nol? Ia ingin langsung mempelajari jurus-jurus saja sambil memperdalam mata kuliah-mata kuliah lainnya. Mata kuliah ini jadi terkesan buang-buang waktu saja, tapi apa boleh buat, ia harus menjalaninya.
“Jurus tenaga dalam untuk pengendalian elemen,” pikir Zet. “Kurasa itulah yang bisa kukembangkan lebih lanjut setelah mematangkan Ilmu Tenaga Dalam. Aku harus menanyakan hal ini pada Yun Lao nanti.”
“Baiklah, saya sudah menyampaikan hal paling mendasar mengenai Ilmu Tenaga Dalam. Sekarang waktunya untuk mendemonstrasikan penggunaan tenaga dalam dan bedanya dengan pengendalian elemen, sekaligus untuk memperjelas perihal keunggulan tenaga dalam tadi.”
Gordon lalu menoleh ke kiri dan kanan. “Nah, mewakili pengguna tenaga dalam... Kimiko Taru, silakan maju ke tengah lapangan. Melihat sikapmu tadi, saya rasa kamu sudah menguasai dasar-dasar Ilmu Tenaga Dalam dari negeri asalmu, bukankah begitu?”
Dengan sikap agak enggan dan wajah masih ditekuk, Kimiko maju sambil berkata, “Ya, Pak Gordon, tapi saya masih butuh bimbingan Bapak.” Itu alasan yang mengada-ada, tapi lebih baik daripada langsung terkesan bersikap besar kepala.
Setelah Kimiko berdiri di tengah lapangan tanpa senjata – karena memang ada aturan universitas yang melarang mahasiswa membawa senjata di lingkungan kampus – Gordon memanggil orang kedua untuk latihan tarung ini. “Amazeta, silakan maju.”
“Memang bukan, tapi siapa sih yang tak kenal Amazeta Dionisos alias Zet, pahlawan dalam konflik antara Empat Musim dan Ular Pasir yang baru lalu? Kau memiliki arcanum air, bukan? Dengan begitu, kau adalah Elementalis terbaik di ruangan ini. Silakan buktikan kekuatanmu dengan melawan Kimiko!”
Zet hanya ternganga, tak bisa berkata-kata lagi. Sambil memastikan arcanum air terkalung erat, ia melangkah ke tengah lapangan latihan.
Menatap lawannya yang bertubuh kecil dan ramping dengan rambut pendek hitam berponi rata, Zet merasa seperti sedang berhadapan dengan seorang ninja, yaitu petarung khas Negeri Sakura Ungu yang kerap mengandalkan kecepatan, kelincahan, dan ketepatan. Mesin pembunuh yang sangat efisien dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Dengan sopan Kimiko merapatkan kedua tangan di depan dada sambil menunduk. Melihat itu, Zet juga memberi hormat dengan sikap yang sama.
Namun Zet mendengar suara Kimiko yang setengah berbisik, “Kita selesaikan saja ini secepat mungkin. Aku tak punya waktu untuk permainan membosankan macam ini.”
“Permainan membosankan, katanya?” Zet tersentak dan membatin. “Apa ia meremehkanku?”
Tak mau berlama-lama pula, Gordon yang menempatkan dirinya di tengah-tengah kedua petarung itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi aba-aba. “Bersedia! Siap, mulai!”
Tangan Gordon turun cepat sambil pria besar itu mundur. Di saat bersamaan, Zet dan Kimiko juga maju bersamaan. Tampaknya mereka akan bertarung di jarak dekat.
Agar lawan tak menduga gerakannya, Zet baru mengaktifkan arcanum air saat Kimiko hampir masuk ke jarak jangkauan tangannya. Energi yang mengalir dari pusaka dewata itu tersalurkan langsung ke kedua tinju Zet yang terkepal.
Bergerak secepat mungkin, Zet meninju ke arah tujuan pergerakan lawan. Tapi yang ditinjunya malah udara kosong. Zet terkejut, sadar lawan telah lenyap dari jangkauan pandangan mata.
Refleks, ia menegadah dan melihat Kimiko di udara. Dengan amat cepat, gadis itu menyentuhkan jari-jari dan telapak kedua tangannya dengan gerakan yang amat aneh. Kimiko ternyata telah mengumpulkan tenaga dalam. Zet tak tahu kalau itu adalah gerakan awal pengerahan jutsu, yaitu jurus tenaga dalam aliran ninjutsu.
Sebelum Zet sempat menangkis, Kimiko terjun dari udara sambil mencangkulkan tumitnya di pundak Zet. Akibatnya, Zet jatuh terjerembap dan mencium karpet di lantai lapangan latihan.
Seorang Elementalis pemegang arcanum dipecundangi oleh seorang pengguna tenaga dalam biasa. Sungguh ironis.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-