The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
85: UJIAN DALAM UJIAN



Ahmed tidak main-main.


Di tengah teriknya matahari yang menyorot tepat di atas kepala, ditambah kekeringan cuaca di iklim Gurun Kaktus Kuning, Zet lagi-lagi harus menghadapi musuh yang amat kuat dan mungkin pula raksasa.


Apalagi Ahmed, si penjaga tempat suci menyebut dirinya titisan Ahriman.


Pasalnya, di dunia-dunia lain seperti Bumi, Terra Everna atau di dimensi apa pun, Ahriman dianggap sebagai dewa segala hal yang negatif dan secara sifat dan prinsip berlawanan dengan Ahura Mazda, dewa yang dianggap mewakili segala hal yang positif di dunia.


Di Negeri Ular Pasir, Ahriman juga disembah sebagai salah satu dewa utama, sejajar dengan Ahura Mazda, Zeus, Odin dan Kaisar Langit sebagai maha dewa yang lebih kuat, lebih berkuasa daripada dewa biasa.


Karena itulah perubahan wujud Ahmed menjadi Ahriman tak ayal membuat nyali kandidat manapun ciut, terintimidasi. Sebagai manusia biasa, tentu saja keringat dingin Zet bercucuran, seakan ia baru berhadapan dengan malaikat maut.


Betapa tidak, lewat perubahan yang tak begitu cepat tapi pasti, tubuh manusia Ahmed meraksasa. Bentuk badannya jadi aneh, mirip semacam kelabang raksasa dengan delapan tangan yang amat panjang, yang membentang bagai sayap kelelawar tak berselaput.


Tambahan pula, kepala manusia Ahmed kini bagai mengenakan helm berbentuk mirip dengan kepala capung raksasa. Telinganya pun berganti menjadi sepasang antena raksasa yang nyaris sepanjang tangannya. Yang paling gila, empat helai sayap capung raksasa yang terus mengibas cepat membuat tubuh kelabang-capung raksasa itu melayang di udara, menutupi hampir seluruh pandangan Zet ke gerbang batu besar pintu masuk gua bawah tanah.


Zet bergumam sendiri, “T-tunggu dulu. Setahuku Ahriman adalah perlambang kejahatan dan kegelapan. Tapi mengapa ia menyebut gua yang dijaganya sebagai ‘tempat suci’? Lagipula ia tak menyerang aku dan Nina, hanya melayang saja di tempat. Apa maksudnya?”


Suara Ahmed dalam wujud Ahriman jadi berubah, bercampur dengan dengung capung. “Nah, bagaimana, Zet? Seperti permainan catur, inilah giliranmu bergerak,” katanya. “Apa yang akan kau lakukan dalam situasi seperti ini?”


“Biar kuserang dia!” Nina maju, hendak menyerang dengan sihir apinya. Tapi Zet malah pasang badan, menghalangi gadis itu.


“Kau ini kenapa, Zet?” hardik Nina. “Kau lihat sendiri, dia itu Ahriman dan Ahriman adalah entitas perlambang kejahatan! Ayo kita serang dan tumpas dia bersama-sama!”


Zet menggeleng. “Tidak, Nina. Kalau Ahriman itu benar-benar murni jahat, ia pasti sudah menyerang kita sejak tadi. Ahmed bukan orang bodoh, jadi kurasa ini adalah ujian dalam ujian.”


“Lantas apa yang akan kau lakukan?”


“Aku tak yakin dengan ini, tapi mau tak mau aku harus mencobanya. Kalau ternyata tindakanku salah, kau larilah dari tempat ini, Nina.”


“Tidak tanpa kamu, Zet. Pokoknya entah misi kita di sini berhasil atau gagal, kita harus kembali bersama-sama ke Universitas Langit Angkasa.”


Zet tersentak. Apa maksud kata-kata Nina itu? Apa jangan-jangan... gadis berambut sarang burung berkacamata itu suka pada Zet?


Ahriman lantas bicara, “Bagaimana keputusanmu, kandidat? Apa kau sudah terlanjur ketakutan dengan penampilanku ini sehingga kau tak bisa bergerak?”


Tak perlu menunda-nunda lagi, Zet lantas melangkah maju lambat-lambat ke arah pintu batu. Belum ada gelagat apa pun dari si kelabang-capung raksasa, sehingga Zet terus melangkah mendekat. Setelah ia cukup dekat, Zet diam saja sambil berdiri di tempat.


“Lho, mengapa diam saja? Lakukanlah sesuatu, aku tak punya waktu seharian.”


“Bagaimana jika aku tak berkenan?”


“Itu berarti Dewa menilai hamba tidak pantas menjadi pemegang arcanum tanah. Hamba akan pulang dan berlatih keras jiwa dan raga, lalu hamba akan datang lagi di kesempatan berikutnya... jika memang kesempatan itu ada.”


“Kurasa itu tak perlu,” tanggap Ahriman. Sosok raksasanya lantas berbalik mendekati gerbang. Lalu dengan mudahnya ia menggeser batu besar obelisk yang menutupi ambang pintu gua itu. Tampaklah jalur masuk ke gua terbuka lebar, seakan-akan menyambut kedatangan Zet dan rombongannya.


Tak ayal Zet ternganga. “Ini... Apa ini berarti aku telah...”


“... Lulus dari dua ujian awal, tentunya,” sambung Ahriman sambil berubah wujud kembali menjadi manusia bernama Ahmed. “Aku cukup puas dengan jawabanmu untuk pertanyaan syair dari pahatan huruf runik, sehingga aku melanjutkan ke ujian kedua. Dalam kebanyakan kasus, umumnya ‘seseorang’ lebih berarti daripada ‘sesuatu’. Tapi itu tergantung kasusnya. Kadang kita harus rela berpisah dari orang yang kita sayangi demi menjalani sesuatu yang lebih besar. Tapi ada kalanya pula kita bisa mengorbankan ‘sesuatu’ itu demi sesuatu yang lebih nyata dan berarti, yaitu orang yang kita kasihi. Jadi yang kuperhitungkan adalah alasanmu, karena kedua pilihan itu bisa jadi benar.”


“Maafkan kelancanganku, tapi apakah sebenarnya ujian kedua tadi?” tanya Nina, masih belum paham betul apa yang terjadi tadi.


“Sederhana saja. Aku hanya menunjukkan wujud tarung Ahriman. Karena Ahriman sudah mendapat stigma, dianggap sebagai dedengkot dan perlambang kejahatan dan kegelapan, aku hanya diam saja menunggu reaksi Zet. Apakah Zet berpegang pada stigma itu pula, atau ia mampu berpikir lebih jauh dan hati nuraninya masih murni?


Jadi, andai Zet atau kamu Nina menyerangku tadi, aku akan mencoba bertahan. Kalau serangan kalian sudah keterlaluan, terpaksa kulawan balik kalian dengan kekuatan dewa yang masih kumiliki. Yang terjadi selanjutnya silakan bayangkan sendiri.”


Nina menelan ludah. Meskipun sihir apinya terbilang amat dahsyat seperti saat ia melawan lautan Scarab tadi, belum tentu ia mampu mengimbangi kekuatan dewa, apalagi maha dewa seperti Ahriman tadi. Kalaupun ingin lari saja seperti pengecut, belum tentu ia atau Zet dapat meloloskan diri dari murka si ‘mantan dedengkot kejahatan’ itu.


“Jadi kesimpulannya, ya, Zet telah lolos dalam ujian awal ini,” kata Ahmed sambil tersenyum tulus. “Silakan masuk. Tapi ingat, ujian-ujian lain telah menanti kalian berdua.”


Singh menimpali, “Jangan kuatir, aku pasti akan memandu kalian berdua untuk bertahan hidup dalam ujian-ujian itu.”


“Bertahan hidup?” sergah Zet. “Jadi maksud Guru, itu semua ujian yang berbahaya?”


“Yah, kurang-lebih seperti dua ujian awal tadi. Ayo kita masuk dulu, nanti aku akan memberikan keterangan dan petunjuk satu demi satu.”


“Baiklah, ayo kita masuk,” ajak Zet.


Namun saat hendak berterima kasih pada Ahmed, Zet terkejut melihat si titisan Ahriman itu sudah lenyap tanpa pamit.


Tanpa alasan, Zet merinding sendiri. Jangan-jangan, Ahmed si penjaga tempat suci ini adalah...


... hantu?


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-