The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
54: HARI KEJUARAAN



Waktu terus berlalu tanpa insiden berarti.


Walau tak akan melupakan pertemuan pertamanya dengan Minerva Kaleos, Rektor Universitas Langit Angkasa, banyak hal telah menyita perhatian Zet sehingga ia melupakan banyak hal lain.


Di antara hal-hal itu adalah kasus pembusukan di Hutan Regenerasi. Tak ada kabar tentang itu sampai pada Zet, apalagi diumumkan. Mungkin memang kasus itu sudah tuntas dan sengaja ditutup-tutupi agar tak menimbulkan kepanikan dan kekacauan.


Yang Zet lupaka juga walau sesekali terlintas dalam benak adalah Nina Gnossis dan Kimiko Maru. Zet sempat beberapa kali berpapasan dan bertegur sapa dengan Kimi, tapi Nina seakan lenyap ditelan bumi, sama sekali tak ada interasi, pesan bahkan bertemu muka pun tidak.


Apalagi hari penyelenggaraan Kejuaraan Odyscus Mahasiswa Langit Angkasa telah tiba.


Jadi, selain anggota tim dan pelatih Empat Musim, Zet paling banyak berinteraksi dengan sepupunya sekaligus teman kamarnya, yaitu Filian. Hari ini pun, Filian menemani Zet berjalan ke arena utama Odyscus di Gelanggang Olah Raga di sayap barat daya kompleks Universitas Langit Angkasa.


Karena mereka berjalan dari Asrama Behemoth di sayap utara dan harus melewati Fakultas Supranatural di sektor tengah kompleks kampus, perjalanan jadi terasa jauh, seperti berjalan dari rumah ke stadion saja. Mereka tak terburu-buru melangkah, untunglah ada yang bisa diajak bicara, jadi perjalanan tak terasa membosankan.


“Hari besarmu akhirnya tiba, Zet! Sudah siapkah kau untuk jadi juara bersama Tim Empat Musim?” tanya Filian.


“Aku harus siap, tak bisa tidak,” jawab Zet. “Karena inilah misi terpenting dalam hidupku, yaitu menjadi duta perdamaian dunia lewat Odyscus.”


“Ya, bisa kulihat itu. Kau latihan amat keras, waktu untuk kita nongkrong saja sudah tak banyak.” Filian mengerutkan dahi.


“Hehe, maaf ya, Fili.” Zet mengacak-acak rambutnya sendiri yang memang tak bisa rapi. “Setelah kejuaraan ini selesai, kita akan bersenang-senang gila-gilaan.” Sebelum Fili menanggapi itu, Zet cepat-cepat menambahkan, “Tapi tak janji lho, dan bukan hiburan yang mahal-mahal.”


“Ya, ya, aku mengerti kok.” Filian mengibaskan telapak tangannya. “Kau konsentrasilah pada pertandingan. Soal hiburan, aku ikut apa maumu saja, asal kau yang traktir.”


“Hei, yang tajir melintir kan orangtuamu!” Zet menjitak kepala Fili, lalu keduanya lanjut bercanda sambil tertawa-tawa.


Tak terasa, mereka tiba di Gelanggang Olahraga. Stadion yang tak terlalu besar, berdaya tampung sepuluh ribu orang itu memang amat kentara ukurannya dibanding Colosseum yang dapat menampung tiga puluh ribu orang di ibukota Empat Musim, tempat tinggal kebanyakan sanak keluarga Dionisos.


Apalagi saat Zet keluar dari ruang ganti mengenakan seragam ungu hijau Tim Empat Musim, lalu berbaris rapi bersama timnya dan tim-tim dari negara-negara lain. Ada tiga puluh dua tim yang ikut serta dalam kejuaraan ini, termasuk enam tim unggulan yaitu Kubah Malam, Fajar Emas, Ular Pasir, Empat Musim, Naga Nirwana dan Sakura Ungu.


Tentu saja sambutan paling meriah ditujukan pada Sang Rektor Agung, Minerva Kaleos. Bagai seorang maha dewi bermahkotakan daun salam emas dan memakai gaun panjang serba putih, Minerva tampil dengan melayang dari pintu masuk ke panggung kehormatan, lalu mendarat sambil mengepak-ngepakkan sepasang sayap aura tenaga dalamnya bagai malaikat. Hanya para mahasiswa Fakultas Supranatural atau yang berbakat supranaturallah yang dapat melihat aura sayap putih itu.


Tanpa berlama-lama, Rektor Minerva menyampaikan pidatonya. Kata-kata pembukanya membuat para mahasiswa tersentak dan terkesima. “Sejujurnya, pendiri Universitas Langit Angkasa, Alistair Kane tidak pernah mengatur pembagian tim olahraga, asrama atau apapun di kampus ini menurut negara asal mahasiswa.”


Mungkin Minerva tak pernah mengatakan itu dalam semua pidato sebelum ini, sehingga seluruh hadirin terpana dalam diam. Apa maksud Rektor sebenarnya? Apa-apaan ini? Mungkin hal-hal semacam itulah yang muncul dalam benak mereka. Bahkan Zet sendiri ikut terpana.


Minerva seakan telah menduga reaksi para mahasiswa itu dan ia tetap melanjutkan, “Setiap asrama di universitas ini, yaitu Asrama Behemoth di sayap utara, Asrama Ziz di sayap selatan, Asrama Leviathan di sayap timur dan Asrama Sphinx di sayap barat dihuni oleh para mahasiswa dari pelbagai negara dan jurusan yang berbeda. Tapi sayang, dalam hal organisasi para mahasiswa itu sendiri berkumpul dengan mahasiswa-mahasiswa lain dari negara yang sama atau sekutu-sekutu dekat negara tersebut. Andai dalam pesta olahraga ini, misalnya setiap tim dibentuk berdasarkan keempat asrama yang ada, kejuaraan ini pasti akan jauh lebih sederhana.”


“Benar juga kata-kata Bu Minerva itu,” pikir Zet. “Mungkin aku memang tak pernah terpikir tentang hal ini karena kurang tahu, atau kalaupun aku tahu aku kurang berani mengungkapkan ‘kejanggalan’ ini secara terang-terangan, apalagi di hadapan Rektor. Tak kusangka ternyata diapun sepikiran denganku.” Setelah pidato ini, Zet jadi makin merasa enggan “merebut” arcanum kayu dari tangan Minerva.


“Namun generasi-generasi pendahulu kalianlah yang beberapa abad silam mengatur sistem tim berdasarkan negara asal mahasiswa. Itu disebabkan karena bangkitnya empat negara adi daya yang telah bersekutu atau menjajah negara-negara lainnya di Terra Revia. Karena itu pulalah, persaingan antar negeri dalam lingkungan kampus ini terus diasah hingga makin runcing dan runcing, dan ujung-ujungnya akan saling bergesekan, bahkan bisa jadi saling melukai kelompok satu sama lain.”


Zet mengira mungkin Minerva mengatakan itu berdasarkan insiden antara Zet dan Tim Fajar Emas waktu itu. Atau mungkin saja bisa dari banyak insiden lainnya sebelum Zet.


“Karena sistem ini sudah amat terlalu lama dibiarkan berlangsung, para Rektor sebelum saya memutuskan untuk tetap membiarkannya saja, biar para dosen dan pengawas yang terus memantau dan membina para mahasiswa, demi meminimalisir pergesekan antar kelompok yang kerap terjadi. Namun, karena akhir-akhir ini situasi di dunia luas sedang memanas, terpaksa saya mengungkapkan ini semua hari ini, di tempat ini.


Akan tetapi, saya tidak akan segera mengubah sistem ini sekarang juga atau dalam waktu dekat. Saya hanya mengingatkan sekali lagi dan berulang-ulang kali setelahnya, jagalah agar setiap tim bertanding dengan sportif, jujur dan adil. Kalau sampai ada pertengkaran, perkelahian atau bahkan saling ejek karena isu-isu politik, rasisme atau semacamnya, yang dipicu baik oleh tim tertentu atau penonton, pihak universitas akan melakukan investigasi menyeluruh. Bila terbukti bersalah, tim atau tim dan penonton yang melakukan provokasi itu akan didiskualifikasi dan diberi sanksi yang tegas.


Bagi semua tim peserta, berjuanglah sebaik mungkin. Entah menjadi juara satu atau tidak, yang lebih penting adalah menjadi juara dalam hal nurani, kebaikan dan sportivitas. Baiklah, sekian pesan dari saya untuk kejuaraan kali ini. Dengan ini, Kejuaraan Odyscus Antar Mahasiswa Universitas Langit Angkasa secara resmi saya buka.”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-