
Arahan Pelatih Zoe menghentikan obrolan keduanya. “Waktu pertandingan lima belas menit. Tim yang mencetak gol terbanyak dalam waktu itu akan mendapatkan poin bonus. Aturan mainnya, dilarang menggunakan tenaga dalam, sihir dan kemampuan khusus selain sihir levitasi atau telekinesis. Itupun harus ditujukan untuk melayangkan cakram saja, bukan benda atau pemain lain. Pemain yang menyerang pemain lain, wasit atau siapa pun selama pertandingan berlangsung, apalagi berkelahi langsung dianggap gugur dari seleksi. Pemain yang menjegal atau melakukan pelanggaran semacamnya, baik fisik maupun mental terhadap pemain lain akan mendapat pengurangan nilai tergantung seberapa parah pelanggaran tersebut, dan tim lawan akan mendapat kesempatan ‘giring bebas’. Semua paham?”
Semua pemain berseru hampir serempak, “Ya, bu!”
“Baik, semua pemain siap di posisi masing-masing... Tunggu aba-aba... Bersedia... Siap... Ya!”
Kecuali dua penjaga gawang, keenam anggota dua tim yang bertanding maju serempak sambil mengulurkan tangan masing-masing. Cakram yang tergeletak di titik tengah lapangan terangkat, lalu digiring oleh... Filian.
“Hahaha, biar kuberi kau tekanan dengan mencetak gol pertama, Zet!” seru Filian penuh percaya diri. Tapi setelah berlari kira-kira sepuluh langkah, kekuatan telekinetiknya ngadat lagi dan cakramnya jatuh di lapangan.
Dengan mudah, salah seorang pemain tim Zet melayangkan kembali cakram itu. Gadis itu berseru, “Kesempatan! Gol pertama buatku!”
“Jangan girang dulu!” Dua pemain tim Filian, satu pria satu wanita mengadang di depan si gadis tim Zet. Dengan gerakan cukup luwes gadis itu berputar di porosnya dan menyelinap untuk melewati hadangan lawan. Namun Filian cepat-cepat merebut cakram gadis itu dan kembali menggiringnya ke arah gawang tim Zet.
Tak lama, giliran Zet yang lari ke arah gawang juga, menyusul Filian dan bahkan berhasil merebut cakram itu. “A-apa?” Filian ternganga. Ia sedang dipaksa untuk mengakui bahwa Zet lebih kuat dari dirinya sekarang dalam segala hal – kecuali mungkin ilmu pedang.
“Hei, enak saja! Semuanya, hadang Zet! Rebut cakramnya!” teriak Filian sambil cepat-cepat berbalik dan lari mengejar Zet.
Melihat setidaknya dua orang maju mengadangnya dan bakal ada halangan dari penjaga gawang, Zet malah berlari lurus ke arah kedua pengadang itu.
Saat jarak di antara mereka cukup dekat dan si kedua pengadang mengulurkan tangan mereka, tiba-tiba Zet melontarkan cakram ke satu sisi seraya berkata, “Ini, ambil umpannya!”
Seakan paham maksud Zet atau punya sambung rasa dengan Zet, si gadis yang sempat menggiring cakram tadi “menangkap” cakram itu dengan Sihir Pelayang Benda.
Karena kedua pengadang Zet sudah mati langkah, tak menduga Zet akan mengumpan pada pemain lain. Tinggal si penjaga gawang yang mengadang si gadis yang terus melayangkan cakram, tak kunjung menembak ke arah gawang.
Si penjaga gawang maju untuk merebut cakram si gadis dengan telekinetik, namun si gadis dengan cekatan mengumpankan cakram itu pada pemain ketiga tim Zet, seorang pria muda yang tinggi semampai. Dengan tangannya yang panjang, si pemuda mengerahkan ilmu telekinetiknya. Akibatnya, cakram tak berhenti dan malah berbelok di udara ke arah gawang.
Si penjaga gawang mati langkah dan terlambat menghalau cakram, sehingga cakram itu melesak ke dalam gawang tim Filian.
“Gol! Tim Selendang Ungu satu, Tim Selendang Hijau nol!” seru Zoe yang menjadi wasit dalam pertandingan seleksi ini.
Giliran tim Filian yang mengenakan selendang hijau menggiring cakram. Kali ini, karena perut Zet tiba-tiba kram ia tak bisa membantu para anggota timnya. Setelah saling memberikan umpan matang, akhirnya Filian mencetak gol pertama untuk timnya.
“Tim Selendang Hijau satu, Tim Selendang Ungu satu!”
Akhirnya Zoe meniup peluit panjang lalu berseru, “Waktu habis! Skor akhir, satu lawan satu!”
Zet jatuh berlutut di lapangan dan mengaduh kesakitan, kram perutnya kumat.
Filian dan Kimiko cepat-cepat menghampiri Zet dan memapahnya berdiri. “Kau belum sarapan tadi ya, Zet?” tanya Filian dengan nada kuatir.
“I-iya, aku lupa,” jawab Zet. Ia dan kedua temannya lantas duduk di bangku panjang di sisi lapangan. Perutnya masih terasa agak melilit.
“Ini, kebetulan aku bawa bekal kue nasi kepal yang sebenarnya buat nanti siang,” kata Kimiko sambil menyerahkan bekalnya itu pada Zet. “Jangan lupa minum air putih juga yang banyak, supaya kram perutmu itu cepat pulih.”
“Iya, terima kasih ya, Kimi.” Zet lalu memakan nasi kepal itu pelan-pelan dan minum secukupnya. Lalu ia menghela napas. “Aku benar-benar kuatir, aku tak akan lolos seleksi gara-gara lupa sarapan dan kram perut tadi.”
“Dibanding dirimu yang sudah beraksi bagus sejak tahap pertama, harusnya aku yang sudah berkali-kali melepaskan cakram karena telekinesisku yang kurang stabil yang lebih kuatir,” tanggap Filian. “Begini saja, karena sesi seleksi kita sudah selesai seluruhnya, kita hanya perlu menunggu sampai hasilnya diumumkan. Bilamana salah satu dari kita – atau harap saja kita berdua – masuk dalam Tim Empat Musim, itulah pilihan takdir. Semoga Zeus tersenyum pada usaha kita ini.”
Zet mengangguk. “Ya, kau benar, Fili. Kadang-kadang kau bisa juga bicara seperti orang bijak, ya. Walaupun kebanyakan waktu kau selalu bercanda saja.”
“Daripada kamu yang hampir sepanjang waktu seriuus melulu. Kalau banyak bercanda, suasana di kampus ini takkan membosankan buat kita.”
Tak perlu berpanjang-lebar lagi, Zet, Fili dan Kimi menonton pertandingan antara Tim Tiga dan Tim Empat. Pertandingan juga berlangsung sengit, mungkin lebih sengit daripada pertandingan antara Tim Satu dan Tim Dua. Bedanya, Tim Tiga menang telak dengan melesakkan dua gol tanpa balas. Kalau begini jadinya, persaingan dalam ajang seleksi ini jadi makin ketat saja.
Hingga akhirnya tibalah saatnya pengumuman hasil seleksi. Zoe Aprendos membacakannya dengan lantang di depan seluruh peserta dan penonton yang hadir. Tiga nama peserta yang lulus dan masuk dalam Tim Empat Musim telah dibacakan.
“Amazeta Dionisos!” Nama anggota baru nomor empat itu membuat Zet menghela napas lega.
“Dan akhirnya, saya akan membacakan nama lulusan terbaik dalam program seleksi tahun ini,” seru Zoe dengan wajah antusias. “Dia adalah... Mirran Balski!”
“Aah, gagal sudah!” Fili menjambak rambutnya sendiri dengan dua tangan.
Tapi Zet sendiripun tak habis pikir. Mirran Balski ternyata adalah gadis manis yang bekerja sama dengan Zet dalam satu tim di pertandingan seleksi tadi. Kalau dia jadi lulusan terbaik seleksi, seperti apakah kemampuan Mirran yang sebenarnya?
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-