
Di dalam ruangan dek kapal layar terbang yang sempit itu, dua orang pria duduk berhadap-hadapan. Wajah-wajah mereka, terutama di bagian dahinya seperti ditekuk, pertanda mereka sedang membicarakan sesuatu yang amat serius.
Si pria pertama, Amazeta Dionisos angkat bicara, “Pak Singh, keberadaan bapak di kapal ini tentu bukan kebetulan, bukan? Bapak pasti sudah mengantisipasi keberadaanku di sini, lalu muncul di saat yang tepat untuk menjauhkanku dari masalah.”
Pria kedua, Narayanan Singh bicara balik, “Pastinya bukan kebetulan. Rektor Universitas Langit Angkasa, Minerva Kaleos menghubungiku lewat sihir. Rekanku itu berkata bahwa kau, Zet telah mewarisi arcanum kayu darinya. Kini kau akan berangkat untuk mencari arcanum ketiga, yaitu arcanum tanah ke tempat asalnya, yaitu Negeri Ular Pasir.”
Tak terlalu mengherankan. Zet sudah tahu dari Minerva tentang musafir antar ranah dan kekuatan mereka yang bisa membuat yang mustahil jadi mungkin. Jadi wajar saja Singh sendiri yang datang untuk menjemput Zet di kapal layar terbang yang entah dari negeri mana, singgah di Langit Angkasa dan telah bertolak menuju Negeri Ular Pasir.
“Jadi bapak sengaja datang menjemputku supaya aku tak perlu repot-repot mencari bapak di Ular Pasir, negeri yang paling bermusuhan dengan diriku sekarang ini,” tanggap Zet.
“Tidak juga. Aku sengaja menyembunyikan diri dulu di kapal untuk mengamatimu, mencari tahu dengan siapa saja kau pergi dan apakah kau sudah cukup layak diuji untuk mewarisi arcanum tanah. Semula aku berniat muncul dan menemuimu nanti setelah kita mendarat di Ular Pasir, tapi insiden di ruang makan tadi memaksaku untuk muncul lebih awal dari rencana.”
“Sebenarnya lebih awal lebih baik,” kata Zet tanpa bermaksud kurang ajar. “Dengan demikian kami berdua bakal terbantu tanpa harus banyak berdiskusi di mana kami bakal mencarimu.”
“Oh, jadi benar perkiraanku. Kau tak kompak dan tak suka dengan teman seperjalananmu. Supaya tahu lebih jelas dan bisa membantumu lebih baik, aku harus mengamatimu dengan seksama dulu, bila perlu sampai kalian tiba di Ular Pasir. Aku juga baru tahu kalau balas dendam kesumat dan kesalahpahaman Ular Pasir terhadap dirimu ternyata cukup parah.”
“Ya, aku juga baru menyadarinya.” Zet mengangguk. “Ternyata selama ini mereka tak bertindak karena aku masih ada dalam lingkungan kampus, di bawah pengawasan yang amat ketat dari pihak Rektorat. Di kapal udara, tak akan ada yang menuntut bila mereka berbuat macam-macam padaku.”
“Kalau begitu, perjalanan di Ular Pasir akan lebih berbahaya lagi. Karena walaupun hanya sebagian penduduk saja yang salah paham padamu, resiko terjadinya serangan mendadak terhadap dirimu lebih besar daripada di kapal ini. Jadi, usahakan tidak membuka masker kecuali kau yakin tak ada orang yang akan melihatmu selama kau tak mengenakan masker, tudung atau semacamnya.”
“Baiklah. Tapi masker ini sungguh tak nyaman, lho. Napasku jadi sesak kalau terlalu lama memakainya, karena aku menghirup kembali udara kotor yang telah kukeluarkan. Aku penasaran mengapa ninja, pembunuh gelap atau semacamnya bisa berlama-lama mengenakan kain penutup wajah macam ini.”
“Aku juga tak tahu, mungkin saja bahan kainnya jauh lebih tipis daripada punyamu. Lagipula, tampangku terlalu biasa-biasa saja, jadi tak mencolok bila berada di antara keramaian.” Singh mengangkat bahu. “Jadi aku tak butuh masker. Lain halnya dengan kamu, Zet si selebriti.”
“Percuma saja jadi selebriti kalau dibenci.” Zet tertawa renyah. Meskipun pada awalnya Singh dulu bersikap sama menyebalkannya dengan Nina, kini ia merasa lebih akrab dengan Singh, “teman ibu” yang pernah menolong dirinya dulu di Kubah Malam. Kali ini, kehadiran kembali Singh untuk membantu Zet membuat Zet merasa lega seperti harimau tumbuh sayap.
Singh lantas menyela lagi, “Oh ya, satu hal lain yang perlu kau tahu. Aku sendiri adalah pihak yang netral, bukan anggota sekte atau organisasi apa pun. Lain halnya dengan Nina Gnossis dan Pinkesh Kashmir yang adalah anggota Sekte Salju Putih. Aku tak punya dendam atau rasa permusuhan terhadap sekte apa pun, termasuk Sekte Kalajengking Hitam. Minerva sendiri telah memintaku mengatakan ini padamu agar kau tak ragu dan bertanya-tanya tentang diriku.”
“Aku adalah salah satu dari tiga musafir yang ditugaskan Alistair Kane untuk mengawasi peredaran arcanum, termasuk mengembalikan semua arcanum sejati ke tempat semula bilamana ada Master of Arcana yang tewas atau mengundurkan diri.”
“Dan ibuku termasuk yang mengundurkan diri.”
“Persis. Arcanum sejati tidak boleh diwariskan, melainkan harus didapatkan oleh calon yang layak, tangguh, kuat dan lolos uji. Aku tak menyangka ada keturunan master yang cukup layak dan berhasil mengumpulkan lebih dari satu arcanum. Jadi yah, segala hal bisa saja terjadi di dunia ini, termasuk yang paling ajaib sekalipun.”
Zet membalasnya, “Padahal aku sendiri sudah pernah berusaha untuk beralih dari jalan Master of Arcana itu, untuk memenuhi amanat ibuku. Tapi arcanum-arcanum itu seakan terus-menerus memanggilku, menarikku kembali pada mereka. Apa itu buruk?”
“Baik-buruknya ikatan dengan arcanum tergantung dari keteguhan dan kekuatan batin sang calon master itu sendiri,” jawab Singh. “Karena itulah, aku akan terus membimbingmu hingga mental dan jiwamu sama tangguh dan sama kuat, kalau perlu melebihi kekuatan dalam dirimu, ditambah kekuatan kelima arcanum sejati.”
“Benarkah? Terima kasih Pak Singh, eh... Guru.” Beda dengan Yun Lao, kali ini Zet cukup antusias menerima bimbingan mentor yang satu ini.
Singh lantas menepuk pahanya sendiri dan bangkit. “Baiklah, aku akan kembali dulu ke kabinku. Kalau kau ingin menanyakan hal-hal lain lagi, aku akan menjawabnya di pertemuan berikutnya. Sementara itu, kenakan dulu masker dan tudung tiap kali kau keluar dari kabinmu, bahkan untuk ke kamar kecil sekalipun. Tahan dulu rasa lapar dan dahagamu, nanti kubawakan makanan dan minuman ke kabinmu.”
“Baik, Guru.” Zet mengangguk.
Sepeninggal Singh, Zet berbaring di ranjangnya. Ia tak habis pikir, latihan dan bimbingan macam apa yang akan Singh berikan padanya nanti? Apakah seperti ilmu yoga khas Seribu Tangan?
Anehnya pula, sejak tadi dan di kabin ruang makan Zet tak sekali pun melihat Yun Lao dan Nina. Ada apa dengan mereka berdua? Seharusnya mereka muncul saat Zet memerlukan mereka.
Sebelum pikirannya jadi berlarut-larut, belum sempat Zet melakukan meditasi rutin untuk melatih dan meningkatkan level tenaga dalamnya, ia ketiduran. Rupanya insiden dan pertemuannya kembali dengan Singh tadi membuat Zet kelelahan
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-