The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
22 : PERTANGGUNGJAWABAN



Mereka menyewa kuda dan kembali ke wilayah Utara. Setidaknya butuh waktu setengah hari, dan itu cukup merepotkan. Seharusnya Zet sudah bisa bersantai di rumah sekarang. Wajah Zet masih tampak bersungut-sungut, sedangkan Aeron beberapa kali harus meyakinkan putranya agar tidak bertindak gegabah. Topeng itu hampir sama sekali tidak bisa membuktikan bahwa Pangeran benar-benar bersalah. Mereka tetap hanya akan mengandalkan kemampuan berdiplomasi.


Raja Taraghlan sendiri tampaknya cukup kaget ketika Aeron mendadak memohon untuk menghadap. “Apakah ada yang ketinggalan?” tanyanya setengah bercanda, begitu pengawal membawa masuk Zet dan ayahnya ke hadapan singgasana.


“Maaf, Yang Mulia,” kata Aeron sambil menekuk satu lutut. “Kami menyatakan menyesal, telah melakukan sesuatu yang salah, dan maaf sekali lagi apabila baru mengatakannya sekarang.”


Dahi Sang Raja mengernyit. Barangkali ia mengira Aeron dan putranya telah mencuri piala atau relikui emas dari ruang pameran, kendati tak ada laporan sama sekali mengenai hal itu.


Aeron berdiri, walaupun ia tetap saja tak bisa menyamai kedudukan mata sang Raja yang berada tinggi di atas singgasananya. “Arcanum air saat ini telah dicuri oleh seseorang, yang mana kami tidak bisa menangkapnya, dan memerlukan bantuan dari Kerajaan Kubah Malam, terutama kami tujukan kepada Anda secara pribadi, Yang Mulia.”


“Apa? Bukankah itu tugas keluarga kalian untuk menjaganya?” Wajah sang Raja mulai tampak tidak senang. Ia sepertinya takut membayangkan apabila arcanum sampai jatuh di tangan Kerajaan Ular Pasir. “Apakah Raja Santorius sudah tahu tentang ini?”


“Kami belum pulang atau pun menulis surat sejak dari sini kemarin.”


Seusai menyimpulkan sesuatu dari jawaban Aeron tersebut, Raja Taraghlan berdiri dengan muka yang gusar. “Jangan bilang kalian membawa arcanum ke sini, dan memakainya kemarin? Demi Dewa Bulan! Kalian sudah membuka satu kunci neraka!”


Zet sesungguhnya tak tahu apakah Ayah masih mengira ini akan berjalan seperti yang ia rencanakan. Raja yang semula baik-baik saja, kini tampak syok dan paranoid. “Maaf, Yang Mulia Raja. Saya tidak—dan tidak akan pernah—menggunakan arcanum air untuk tindak kejahatan. Saya hanya menggunakannya sewaktu di permainan kemarin,” jawab Zet mempertahankan diri.


“Ini bukan soal menang permainan atau bukan!” Raja Taraghlan agaknya benar-benar marah sekarang. “Ini soal perang sungguhan. Aduh, bagaimana kalau arcanum itu diambil oleh Kerajaan Ular Pasir?! Dan lewat petunjuk arcanum air itu, mereka bisa mulai mengumpulkan kelima arcana, untuk menghancurkan kerajaan kita semua. Kau tentu tidak memikirkan itu, Nak. Dan sekarang kau bilang arcanum itu sudah hilang?! Ini sudah tidak bisa dimaafkan!”


“Sebetulnya kami harus memastikan apakah arcanum tersebut benar-benar hilang atau tidak, Paduka.” Aeron berkata sambil menunjukkan topeng putih, “Kami perlu menanyakannya langsung kepada Pangeran Barra.”


[...]


 


“Topeng putih itu kan banyak sekali dijual di pasar malam. Semua orang bisa memilikinya, Ayah!”


“Tapi topeng ini adalah pemberian adikmu, saat kalian masih kecil dan sering berkunjung ke pasar malam dulu, kau ingat?” tanya Raja Taraghlan kepada putranya dengan nada bicara lemah lembut. Zet juga menangkap sekilas ekspresi kecewa di wajah Putri Catriona yang ikut di tempat itu.


Pangeran Barra mengibas-ngibaskan tangan. “Tidak, tidak. Topengku sudah hilang sejak lama sekali. Cate tahu itu, topeng bodoh ini bukan punyaku. Punyaku tidak penyok begini. Mereka jelas-jelas menuduhku yang tidak-tidak. Masa Ayah lebih percaya dengan orang asing ketimbang anak sendiri? Zet itu kemarin menyerangku di balkon, kalau Ayah mau tahu. Jenderal Pan lihat sendiri bagaimana aku sampai mendapat memar-memar di sini,” cerocosnya sambil menunjuk dahi.


Jenderal Pan hanya bergeming dan tak menanggapi barang seucap kata pun. Zet yang mendengar omong-kosong dari mulut Pangeran langsung merasa ingin meledak saja sekarang. Namun Aeron menahan tangan putranya agar tetap tenang.


Pangeran Barra menggebrak meja sambil tersenyum miring. “Anak ini jelas-jelas sudah terbukti bersalah. Kalian jangan tertipu. Zet bahkan sudah mengaku sendiri, dan kita juga sama-sama menyaksikan kekuatan aneh di arena kemarin. Zet menggunakan arcanum untuk berbuat curang, memenangkan pertandingan supaya dia bisa dengan mudah menjadi Prajurit Bintang. Dan sekarang apa? Dia mau membuat pertunjukan baru lagi, seolah-olah aku yang bersalah. Dia pasti ingin merusak reputasiku. Entahlah untuk apa. Padahal mungkin saja dia hanya berbohong soal pencurian arcanum. Mereka bahkan mungkin masih menyimpan arcanum-nya entah di mana. Para pembohong ini akan mengacaukan kerajaan kita sedikit demi sedikit, Ayah.”


Raja Taraghlan tampak sedikit termakan omongan Pangeran Barra. Zet tak bisa berkutik sekarang, ia serasa sudah masuk ke perangkap buaya. Buaya berambut pirang yang membuat Zet benar-benar muak.


“Kalau begitu, Zet akan kami jadikan tahanan di sini, sampai kasus ini benar-benar bisa diselesaikan. Sementara kita akan tetap membantu menemukan arcanum air. Itu prioritas, karena menyangkut masalah keamanan kerajaan.”


Zet merasa dunianya makin hancur saja sekarang. Ditahan sampai berapa lama, kalau pelaku aslinya sendiri pintar berkelit dan lebih-lebih punya suara yang sangat kuat? Aeron buru-buru menyanggah. “Maaf, Paduka. Zet tidak melukai siapa pun. Jika ada yang disalahkan, itu adalah saya pribadi, sebagai orangtua sudah gagal dalam mendidik anak. Maka, penjarakanlah saya saja.”


Bagi Zet, itu adalah alternatif yang sama sekali tidak lebih baik. Zet tak bisa membayangkan hidup Oxi dalam bayang-bayang kedua orangtuanya mendapat gelar narapidana di negeri orang. Lagi pula, kasihan Deon yang pasti akan menjadi tulang punggung keluarganya.


“Tidak,” potong Zet dengan tegas. Ia berdiri dan maju satu langkah. “Karena aku yang telah menggunakan arcanum air itu. Maka, semua ini sudah menjadi tanggung jawabku.”


Beberapa orang terkesima mendengar jawaban Zet, tak terkecuali Putri Catriona.


[...]


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-