
Betapa rindu hati Zet dengan hunian tingkat dua, berpagar batu bata putih, yang sebelumnya ia pikir sangat biasa dan membosankan, karena tampak sama seperti bangunan lain di perfektur itu. Sekarang barulah ia sadar, tak ada tempat lebih nyaman selain rumah keluarganya. Terlebih lagi, saat melihat Oxi berlari menuju arahnya dengan brutal, seperti anak perempuan yang mengejar kucing. Belum juga keduanya sempat berpelukan, Deon menghambur lebih dulu, tak memedulikan adiknya yang paling kecil itu terpental jatuh. Zet menertawakan kekonyolan mereka. Keakraban yang ternyata tak tergantikan.
Sementara Aeron muncul dengan tenang dari balik dinding. Ia lalu berterima kasih kepada pengendara kereta kuda dari Kubah Malam. Pedati itu segera bergerak pergi, seusai barang Zet diturunkan oleh seorang pembantu keluarga. Aeron lantas membimbing ketiga anaknya ke dalam. Zet tersenyum menyapanya. Ia tak bisa menyalahkan ayahnya lagi. Cerita dari ibunya kemarin sedikit banyak mampu mengubah arah pemahaman pemuda tersebut.
Sepertinya, ada rasa kecewa yang tak pernah mampu Aeron utarakan kepada Rhea. Sebagai master Arcana, seharusnya istrinya itu mengikuti perintah suami dan juga kerajaannya demi kebaikan. Memilih melaksanakan tugas daripada membiarkan masalah jadi menggantung, tak terselesaikan, dan bisa berujung fatal di kemudian hari. Setelah jeda makan siang, Zet mengikuti ayahnya. Pria itu berhenti di taman belakang, kemudian mengambil duduk di ujung teras.
“Ibu hanya tidak ingin membuat kerusakan dunia semakin parah, Ayah. Makanya dia lebih memilih untuk mengakhiri era arcana,” kata Zet membuka percakapan lagi, setelah melirik Aeron sebentar.
“Aku tahu. Mencela perbuatannya yang sudah lewat pun tidak ada baiknya bagiku. Yang kusayangkan adalah, belas kasihan itu ternyata berbuntut panjang, dan menimbulkan perkara lagi sekarang.”
“Tapi bukan berarti itu salah ibu, ‘kan?”
Sifat welas asih memang bukan kesalahan Rhea, tetapi terlalu naif, mungkin saja iya. Aeron menghela napas panjang. “Ya, hidup kita selalu dipenuhi dilema. Dan setiap keputusan pasti punya konsekuensi, Zet. Seperti misalnya ketika aku tidak ikut menemui ibumu kemarin.”
Zet menangkap penyesalan dari raut wajah ayahnya. Ia memeluk pundak bidang pria itu. “Kabar baiknya dia berhasil kabur dari penjara. Semoga ayah bisa bertemu ibu lagi, suatu saat nanti.”
Mulai saat itu, Zet mencoba untuk lebih akrab lagi dengan anggota keluarganya, terutama Oxi. Ia ingin menghabiskan waktu terbaiknya sebelum pindah ke asrama.
[...]
Sembilan bulan telah terlewati. Waktu yang terasa singkat itu mengantarkan Zet kepada musim semi yang dinanti-nanti. Udara bulan September berbau lembut dan manis seperti buah aprikot. Pohon dan perdu berbunga oranye di pinggir lapangan hijau, menghiasi sepanjang jalanan setapak. Seusai memasuki gerbang, bangunan megah berwarna cokelat bata langsung menyapa Zet dengan jendela dan pintu besarnya yang ramah. Inilah Perguruan Tinggi Langit Angkasa. Zet terpukau dengan segala hiruk-pikuk yang berbeda dan benar-benar baru.
Percakapan orang bertumpuk-tumpuk. Pembicaraan mereka seputar pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, pentas seni, dan lainnya, yang mana Zet tidak peduli dan tidak terlalu suka menguping. Hal berikutnya yang menarik perhatian dia adalah, seorang anak perempuan sengaja membakar rambut temannya menggunakan sihir api.
Sebelum keributan terpicu, Zet segera berlari ke tempat tersebut dan menggunakan air kolam untuk menyiram rambut merah si perempuan berkacamata bulat. Saking paniknya Zet, air yang ia gunakan terlalu banyak. Rambut keritingnya yang jabrik seketika layu. Tak hanya itu, buku yang ia peluk dan hampir seluruh pakaiannya ikut basah terkena air. Tawa para perempuan malah semakin keras melihat si gadis berambut merah mirip tikus tanah yang habis keluar dari got.
Tiga orang perempuan melambaikan tangan kepada Zet dengan centil, lalu pergi sambil cekikikan seperti hantu, sementara si gadis berambut merah menatap Zet sambil memperbaiki kacamatanya yang melorot. Tatapannya lebih horor. Sorotnya setajam pedang baru diasah yang siap menusuk perut orang. Bintik matanya sehitam dan sebulat tahi lalat yang menempel di pipi kanan.
Zet tentu saja protes diperlakukan seolah ia tidak membantu sama sekali, “Mereka membakar rambutmu, tahu!”
Zet mendesah pelan. “Setidaknya berterima kasihlah, karena kau tidak jadi pulang dengan kepala pitak.”
“Oh, jadi kau mau membantuku hanya karena ingin dipuji? Dasar pamrih!”
Zet tidak bicara lagi, dan hanya bisa melongo menyaksikan punggung gadis itu. Dia melenggang pergi, mengeringkan rambut dengan tangan, sambil terus menggerutu. Ada-ada saja. Gadis itu sudah merusak suasana hati Zet yang cerah ceria.
“Hai, sepupu!” Zet hafal suara tinggi yang melengking itu. Ia menoleh, dan dugaannya tak memeleset. Filian memakai baju merah tua dengan lis tebal berwarna emas kerlap-kerlip. Ia sebenarnya mau pergi ke pesta pernikahan atau mau sekolah? Pikir Zet dengan mood yang semakin berantakan.
Zet hampir saja mengejeknya, tetapi ia berpikir untuk menanyakan hal lain. “Hmmm, jadi akhirnya kau memilih untuk masuk ke universitas?”
“Ya, setelah kupikir lagi, aku tidak mungkin hidup menggelandang. Kurasa aku setuju dengan apa yang dibilang Rylon,” jawab Filian sambil mengerucutkan bibir.
Zet mulai bisa tersenyum kembali. “Ah, ya, bagaimana kabar Rylon?”
“Ya, begitulah, seperti orang habis menikah pada umumnya. Tiap malam aku selalu ... ah, aku tidak mau membahasnya. Semoga dia cepat pindah dari rumah.” Filian memutar bola mata dan mengibaskan tangan seperti anak perempuan. “Omong-omong, bagaimana kabarmu dengan Putri Catriona, ha? Kau sudah mencium bibirnya, belum?”
Wajah Zet langsung memanas. Meskipun tak ada siswa lain yang mendengar—atau lebih tepatnya peduli dengan—percakapan mereka, Zet berbisik dengan malu-malu. “Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Tuan Putri. Kami hanya ... teman biasa.”
“Ah, kau ini lamban sekali. Bukannya kalian punya cukup banyak waktu bersama-sama kemarin, selama di Kubah Malam, ya? Kalau aku jadi kau, pasti sudah kuutarakan perasaanku ke dia. Dari cara dia memandang, kurasa Tuan Putri Catriona juga suka padamu. Jadi buat apa masih buang-buang waktu? Apalagi aku mendengar dari ayah, Raja Taraghlan sudah membuka diri dan berperilaku lebih baik kepada keluarga kita, terutama padamu. Ah, enak sekali jadi dirimu, Zet!”
Filian tentu tidak tahu pergulatan apa yang terjadi di dalam pikiran Zet selama ini. Ia tak akan paham mengapa Zet harus berhati-hati terhadap keluarga Lewis, tak terkecuali Putri Catriona. Berkat omongan Yun Lao pula, rasa tidak percaya itu kini semakin tumbuh membesar, bahkan menghalangi rasa suka Zet terhadap Sang Putri. Membuatnya hampir melupakan beberapa momen yang menyenangkan selama di sana.
Kelas pertama yang Zet ambil, tak lain dan tak bukan, tentu saja kelas sihir. Selain Filian, tak ada lagi siswa yang ia kenal. Semua wajah tampak asing baginya. Zet hanya peduli kepada buku catatan bersampul cokelat, yang baru ia keluarkan dari tas. Sementara Filian langsung mendapat teman mengobrol perempuan yang duduk di dekat bangkunya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-