
Pembicaraan Zet dengan Kjelde mengangkat hampir seluruh rasa penasaran yang merundungnya. Namun tinggal sedikit rasa gundah yang tersisa.
Kjelde berkata begitu dia mendapat kabar tentang Tuan Putri. Jadi mungkin sekali dia sudah lama tak berkomunikasi dengan “kembarannya” itu.
Seperti yang telah Zet katakan pada Kjelde, ia hanya ingin tahu bagaimana keadaan Putri Catriona, itu saja. Ia harus menyelesaikan studi di Universitas Langit Angkasa dulu.
Apapun yang berubah selama masa studi ini, entah itu hati Zet atau hati Putri Catriona tak akan banyak berpengaruh pada hubungan mereka, yang Zet yakin tak lebih dari teman biasa saja. Sebagai temanpun Zet meragukan itu karena persekutuan antara Kubah Malam dan Empat Musim sedang rapuh-rapuhnya, ditambah dengan ulah oknum bernama Pangeran Barra.
Dan perubahan itu mungkin bakal terjadi lebih cepat daripada dugaan tergila Zet.
Yang berdiri berlawanan arah dengan Zet saat ini adalah palang pintu terakhir antara dirinya dan gelar juara, yaitu Tim Fajar Emas.
Menyusul kemudian suara lantang si komentator merangkap pembawa acara yang berkumandang di seluruh stadion berkat suara yang diperkeras berkali-kali lipat dengan sihir.
“Ya, setelah melalui perjuangan yang panjang – dan pastinya – melelahkan, akhirnya tiba saatnya kedua tim terakhir ini berlaga kembali di Babak Final, untuk memperebutkan gelar Juara Dunia Odyscus antar mahasiswa Universitas Langit Angkasa, yaitu Tim Fajar Emas lawan Tim Empat Musim.”
Komentator kedua – yang sebenarnya sudah ada pula sejak Babak Penyisihan – menyambung, “Mengingat ada satu tempat lowong dalam Tim Odyscus Langit Angkasa tahun ini, para pemain tetap berusaha untuk jadi yang terbaik, baik secara individu maupun tim. Karena itu pula, setiap tim selalu mengerahkan upaya ekstra sejak awal, kadang berjuang lebih keras daripada dugaan kita yang semula. Bukankah begitu, Bill?”
“Ya, Murray,” sahut Bill si komentator pertama. “Nah, adapun susunan pemain adalah sebagai berikut. Tim Fajar Emas terdiri dari Rick Oakes sebagai kapten, Bonnie Hunt, Clyde Johnson dan penjaga gawang, Seth McCormick. Sedangkan para pemain inti Tim Empat Musim adalah Simon Kegg, kapten, Amazeta Dionisos, Mirran Balski dan penjaga gawang, Hailey Dawson.”
“Aha, lihat. Wasit telah bersiap-siap di tengan lapangan hendak memulai pertandingan. Mari kita saksikan bersama-sama, karena ini pasti akan menjadi peristiwa bersejarah!”
Sudah saatnya menghadapi dinding penghadang terbesar di depan mata. Zet sendiri belum tahu betul seberapa tinggi dan tebalkah dinding itu. Masalahnya, selama ini ia hampir selalu mengandalkan arcanum air untuk menerobos dan melampaui segala halangan. Baru sejak jadi atlit Odyscus ia mengatasi segalanya lewat akal yang panjang dan kerjasama tim yang kompak.
“Cara ini harus berhasil lagi, sekali ini saja,” batin Zet. “Aku tak ingin menggunakan kekuatan dan kekerasan lagi, walaupun itu adalah cara terakhir dan amat terpaksa. Ingatlah apa yang telah kulakukan pada Pangeran Barra.”
Peluit dibunyikan, pertandingan final dimulai.
Seluruh perhatian Zet kini tertuju pada cakram Odyscus di depannya. Entah karena sedang beruntung atau semacamnya, cakram membubung dan melayang di atas telapak tangan... Zet.
Seperti biasa, Zet menggiring cakram sambil masuk jauh dalam wilayah pertahanan lawan. Saat itulah ia sadar hanya satu pemain Fajar Emas saja yang ikut memperebutkan cakram di tengah tadi, yaitu Clyde. Sedangnkan Rick dan Bonnie tetap berjaga di posisi masing-masing, yaitu sayap kiri dan tengah lapangan.
Melihat Rick sedang menghadang di depannya, Zet langsung mengoper pada pemain terdekat yang lari di sektor tengah lapangan, yaitu Mirran.
“He, kau terjebak,” kata Rick. Dengan gerakan yang amat mendadak, Rick berlari dari hadapan Zet ke tengah. Lebih gilanya lagi, posisi sayap kiri yang seharusnya kosong itu langsung ditempati oleh Bonnie.
Kurangnya pengalaman tanding membuat Miran lebih tak menduga lagi pergantian antara Rick dan Bonnie itu. Akibatnya, dengan relatif mudah Rick merebut cakram dari kendali Mirran, lalu berbalik dan lari menuju gawang Empat Musim.
“Ayo, formasi Serbuan Kawanan Banteng!” seru Rick. Bonnie dan Clyde juga berlari bersama dengannya, bahkan sebelum aba-aba itu diserukan. Alhasil, ketiga pemain Empat Musim malah mengejar trio Rick, Bonnie dan Clyde dari belakang.
“Haha, tak ada Miguel, ini kesempatan kita untuk pesta gol!” seru Rick seraya mengoper cakram pada Clyde beberapa langkah di depan gawang Hailey.
“Tak semudah itu, bung! Masih ada aku!” Ternyata satu lagi senior Empat Musim, Simon sudah sejak tadi berlari karena telah membaca salah satu “jurus lama” lawan ini. Saat Clyde hendak menerima cakram, Simon telah menyusulnya dan merebut cakram itu dari Clyde.
“Bagus, Simon!” Rick yang rupanya seangkatan dengan Simon lantas berbalik bersama kedua rekannya, lalu mengejar lagi.
“Tangkap ini! Lebih waspadalah lain kali!” Simon melemparkan cakram yang ia layangkan kepada Mirran, yang menerimanya dengan mulus.
“Ya, Kapten!” Mirran lantas terus berlari sambil saling mengoper bersama Zet dan Simon. Mereka sengaja memperlihatkan cakram itu agar tak direbut para pemain Fajar Emas lainnya yang adalah pelari-pelari cepat.
Tinggal Seth yang jadi penghalang terakhir di depan gawang. Mirran yang kebetulan menguasai cakram mengoperkannya sekali lagi kepada Zet sambil berseru, “Ayo Zet, cetak gol!”
“Ya!” Saat cakram sudah melayang cukup dekat, Zet langsung “memukul” cakram itu dengan telekinesisnya. Cakram melaju luar biasa cepat dan akurat ke salah satu sudut gawang yang sulit dijangkau oleh si penjaga gawang, Seth.
Gilanya, Seth nekad meloncat dan menghalau cakram itu di udara sehingga melenceng dan jatuh di luar lapangan. Tapi itu ada harganya, Seth malah mendarat dengan membentur keras tiang gawang.
Melihat itu Zet terperangah. Betapa tekad Fajar Emas untuk menang teramat kuat, seakan apapun rela mereka korbankan demi mencapainya, entah sampai di mana batasnya. Dengan tekad seperti itu, tampaknya Seth adalah penjaga gawang terbaik di kejuaraan ini.
Dengan tekad seperti itu pula, Tim Fajar Emas sebenarnya sama atau bisa jadi lebih berbahaya dari pada Tim Kubah Malam. Rick tak akan pernah mengakui itu di depan Zet, entah Empat Musim bakal berhadapan dengan Fajar Emas atau tidak.
Hingga saat ini pun, Rick tak mau mengaku di depan Zet. Saat berpapasan dengan Zet sebelum menempati posisi masing-masing, sekali lagi ia bermulut manis. “Tadi itu nyaris sekali, Zet. Harus kuakui kau sungguh hebat, tapi si Mirran itu bakal jadi batu sandunganmu.”
Zet tercekat. Silat lidah apa lagi ini? Apakah Rick sedang mencoba mengadu domba antara dirinya dan Mirran? Walaupun Zet serta-merta menolak anggapan itu mentah-mentah, pikiran itu bisa jadi seperti ilalang yang ditanam di antara gandum, yang mungkin bakal tanpa sadar mengganggu di saat-saat tertentu.
Giliran Fajar Emas menyerang dengan formasi ala Rugby. Tampaknya cara mereka sederhana saja. Pemain depan menggiring, melayangkan cakram bersama satu pemain lainnya. Mereka adalah duet Bonnie dan Clyde.
Begitu si pembawa cakram, Clyde dihadang oleh Mirran dan Simon, ia mengoper cakram itu pada pemain tercepat Fajar Emas di belakang, yaitu Rick Oakes.
“Saksikanlah kekuatan Fajar Emas yang sebenarnya!” Seperti terpicu, kekuatan sejati Rick seakan meledak. Secepat kilat ia berlari hendak menerobos hadangan tiga pemain lawan. Saat ini kecepatan lari Rick bisa dibilang setara, atau mungkin melebihi kecepatan tertinggi pelari tercepat di Tim Kubah Malam, yaitu Argyle.
Tanpa sadar, Zet melepaskan kawalannya pada Bonnie dan hendak menghadang Rick. Mungkin ia masih terpengaruh kata-kata dan petunjuk Rick yang terkesan bersahabat. Mungkin pula Zet ingin membuktikan dirinya tak boleh diremehkan oleh Fajar Emas dan ia setanding dengan Rick. Argyle saja ia tahan, apalagi Rick.
Apapun itu, Zet telah melakukan kesalahan.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-