
“Kau menghindar terus, dan cuma sesekali melawan. Kau irit tenaga, dan membiarkan lawan capek sendiri. Curang!” Deon ketawa sambil masih sibuk mengatur napas. “Tapi itu bagian dari taktik, kan? Jadi tidak masalah. Oh Tuhan, aku jadi seperti orang tua!” teriaknya sambil bangun dan mengelap keringat. Zet sedikit tenang saat menyeruput teh, membiarkan kakaknya tetap berpikir demikian.
Siang itu, Guru Florentia berhalangan tidak bisa datang karena ada acara keluarga yang mendadak. Oxi memutuskan untuk berlatih sendiri. Zet berpikir ini kesempatan yang bagus untuk membuktikan satu hal yang ia pelajari dari gulungan Ayah. Ia mengambil liontin air dan menyimpannya di dalam saku celana.
Di dekat kolam, Oxi membuat beberapa belati dari es. Ia berusaha berkali-kali, membuatnya setipis dan setajam mungkin.
“Well, mungkin kau bisa berhenti membuat mainan, dan ayo bantu aku berlatih,” ajak Zet.
Gadis itu tampak makin frustrasi. “Enak saja, ini bukan main-main. Membuat pisau dari es itu susah, tahu! Guru Florentia berpesan, aku harus membuat senjata yang bagus. Dan ini butuh konsentrasi yang sangat tinggi. Semakin aku konsentrasi, semakin tajam dan runcing pisaunya.”
“Hmmm, buat apa susah-susah? Kau kan sudah bisa melempar air, dan melukai lawan dengan batu es?”
“Guru Florentia bilang, aku tidak bisa mengandalkan teknik jarak jauh saja. Lagi pula, teknik jarak jauh membuat mana cepat habis.”
Oxi benar, tentu ada kalanya musuh menyerang dari jarak dekat.
“Oke, kurasa kau sudah melakukannya dengan cukup baik.” Zet mengamati salah satu pisau es yang berjajar di atas rumput. “Bagaimana kalau kita coba teknik ini, ha?”
Oxi menggeleng. “Kau latihan saja sendiri.”
“Jadi kau takut denganku?”
“Mana mungkin! Kau baru belajar lima hari.”
“Kalau begitu, buktikan!” tantang Zet.
“Νερό στροβιλισμού!” Pusaran air raksasa menggeliat di udara, ujung lancipnya langsung terhunjam ke arah Zet. Pemuda itu menghindarinya dengan cara melompat dan berguling ke samping. Namun, Oxi terus mengejarnya dengan lemparan es. “Hahaha, ayo Zet! Tunjukkan kekuatanmu! Jangan cuma omong saja!”
Tak ada cara lain selain menggunakan benda itu. Zet menutup mata, memfokuskan pikirannya sejenak, kemudian menarik pedang kayu dari sarungnya. Ia membelah es di hadapannya dengan kasar, dan berlari menuju Oxi. Tentu saja gadis itu tak akan membiarkan Zet mendekat. Dilontarkannya peluru dari air, sambil berjingkat ke belakang. Tembok es yang baru dibuat pun berhasil dilompati. Zet seolah tak memedulikan rintangan yang dibuat Oxi, dan terus maju dengan pedang yang melindunginya. Oxi mulai keheranan, karena volume air yang bisa ia kendalikan semakin lama semakin kecil. Akhirnya, tubuh mungil gadis itu tertambat di tembok pagar. Zet menguncinya dengan lengan dan pedang kayu melintang di depan leher Oxi. Pemuda itu tersenyum licik. “Mati kau!”
Oxi mengibas-ngibaskan tangan, berusaha menaikkan genangan air yang ada di bawahnya untuk membuat belati. Namun hasilnya, belati itu lembek seperti agar-agar. Bagaimana bisa pengendalian airnya mendadak jadi payah, bahkan lebih buruk ketimbang Zet?
“Kenapa bisa begini?”
Zet melepaskan tubuh adiknya dari tembok, kemudian mengangkat tangan kanan ke udara. Seolah kekuatan Oxi berpindah tangan sekarang, pusaran air yang sangat besar terbentuk di udara, tepat di saat liontin di balik baju Zet bersinar kebiruan.
Oxi terduduk dengan wajah ketakutan.
Tak lama, Zet membiarkan airnya jatuh kembali ke tanah. Liontin itu berhenti bersinar terang. “Dengan sedikit trik,” jawab Zet mengedipkan sebelah mata. Dia mengulurkan tangan, membantu Oxi bangun. Anak perempuan itu berusaha kembali menggunakan kekuatannya untuk membentuk sebilah pisau, dan yang mengherankan, kali ini ia berhasil.
Oxi masih kelihatan tidak percaya. “B–bagaimana kau melakukannya?”
“Liontin ini—selain membantuku untuk mengendalikan air—dapat membuatku menyerap mana lawan, sehingga kekuatanku menjadi berlipat ganda. Sebenarnya aku juga baru kali ini mempraktikkannya, sih. Dan ternyata benar. Kau bahkan ketakutan seperti anak tikus. Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri tadi, Oxi!” ujar Zet kemudian tertawa terpingkal-pingkal.
Oxi merebut kalung air tersebut, kemudian menekan dan menggoyang–goyangkannya, berharap benda itu bisa bersinar seperti tadi. “Bagaimana cara—?”
Zet mengambilnya kembali dengan mudah. “Kau pernah dengar bahwa senjata bisa memilih penggunanya, kan? Begitu juga dengan Arcanum. Jadi, jangan iri, ya.” Zet berjalan dengan pongah, melewati Oxi yang masih menekuk wajah.
Zet mulai membayangkan apa saja yang bisa ia lakukan dengan benda tersebut. Ia pun akhirnya optimis akan hari esok. Ia yakin pasti bisa mendapatkan rekomendasi dari Kerajaan Kubah Malam.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-