The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
32: MENCURIGAKAN



Makan malam dihadiri oleh keempat anggota keluarga Lewis. Yun Lao hanya duduk diam di pojok ruangan sambil sesekali mendengarkan percakapan, berharap ada yang membuatnya tertarik. Hanya basa-basi normal. Sampai pada suatu ketika, Raja Taraghlan bertanya, “Bagaimana keadaan anak itu?”


“Bagus,” jawab Putri Catriona datar, kemudian melanjutkan kunyahannya. “Ayah ingin mentega?”


Mulai dari situ, Yun Lao menarik kesimpulan bahwa benar ada yang tidak beres dengan keluarga ini. Siapa yang dimaksud “anak itu”, kalau bukan Zet?


“Hmmm, besok pagi aku akan tanya langsung ke Jenderal Pan,” gumam Sang Raja sambil memberikan roti tawar untuk dioles.


“Ayah,” panggil Pangeran Barra dengan mulut penuh daging sosis, “aku masih tidak bisa menggunakan kekuatan itu.”


“Tidak apa-apa, Sayangku.” Sang Ratu pun memberikan senyuman manis, selentik dan seapik milik Putri Catriona. “Kau hanya harus pastikan kekuatan itu tidak jatuh ke tangan yang salah. Termasuk Zet, juga ibunya.”


Mata Yun Lao membelalak. Benar-benar busuk! Rasa kasihan Yun Lao terhadap Zet dan keluarga Dionisos semakin menjadi. Jika saja ia tak menahan amarahnya, pasti ruangan itu telah porak-poranda oleh angin topan. Tidak, tidak. Yun Lao masih ingin mendengarkan kelicikan dari para monster berbentuk manusia ini.


“Tapi aku ingin menggunakannya, Bu! Ayolah, tolong carikan elementalis yang andal buatku!”


Raja Taraghlan menggebrak meja. “Jangan seperti anak kecil! Merengek terus! Suatu saat nanti kau akan jadi raja, menggantikan aku. Aku sudah bilang padamu ratusan kali, raja memang harus membuat rakyat terkesan. Tapi dengarkan dulu kemauan mereka, jangan cuma fokus pada keinginanmu saja. Dari kemarin kau itu cuma main-main sama gulungan dan liontin itu.”


“Rakyat akan terkesan dan tunduk kalau rajanya bisa menggunakan arcana! Aku akan jadi raja pertama yang bisa mengendalikan lima elemen. Ayah ini bebal atau bagaimana?”


“Barra, jaga kata-katamu, Sayang!” sahut Ratu Maire menodongkan garpu.


“Jangan pernah menciptakan teror di rumahmu sendiri. Lagi pula, anak payah sepertimu tidak akan pernah cocok memegang arcana,” tukas Raja Taraghlan, membuat Barra mengeratkan genggaman di atas meja. Yun Lao tidak tahu, apakah setiap makan malam keluarga Lewis selalu begini, atau ia hanya beruntung saja mendapat pertunjukan menarik seperti ini.


Raja Taraghlan meneruskan, “Kau itu tampan tapi bodoh. Sibuk mencari sesuatu yang tidak mungkin kau miliki, seperti arcana misalnya. Malah menyia-nyiakan apa yang kau punya, yang sebenarnya sangat penting. Kharisma adalah aset. Yang dari dulu coba aku asah dan keluarkan dari dirimu, tapi ternyata hasilnya mengecewakan. Kau sedikit-sedikit marah dan mogok, seperti ibumu.”


“Eh, siapa bilang?!” Ratu Maire bersungut sambil menodongkan garpu lagi. Putri Catriona menggeleng sambil menahan tawa.


Sang Raja tertawa seolah-olah itu hal terlucu dalam hidupnya. Membuat amarah Yun Lao seketika naik di ubun-ubun. Pria gendut seperti dia tak tahu apa-apa soal Kaisar. “Zhang itu idealis, tapi tidak realistis. Kolot, tidak fleksibel. Ia tak mendengar apa kata rakyat, yang sebenarnya sudah mampu berdamai. Hanya karena dulu sihir dianggap melanggar kodrat alam dan menyinggung Tuhannya yang Maha Agung, ia tak segan mengeksekusi para penyihir dari Sekte Salju Putih, termasuk menciptakan suasana tertekan untuk semua warga yang telah mempelajari sihir. Nah, akhirnya senjata itu berbalik memakan tuannya. Bahkan ironis, istri dia sendiri yang membunuh Kaisar Zhang di atas ranjang.”


Raja itu terkekeh puas sambil melirik Ratu Maire, yang tampak tidak senang ketika mengiris brokoli. “Jangan begitu, ya, Sayangku,” godanya sambil meminum arak dari piala emas.


“Aku bisa saja melakukannya, kalau kau terus mengejekku di depan anak-anak,” balas Sang Ratu Maire tajam, tetapi lekas-lekas ia menyeringai begitu melihat suaminya menyengir lebar. Yun Lao tahu wanita itu tidak serius.


Putri Catriona yang sedari tadi diam saja, kini mengeluarkan suara. “Tadi aku bertemu dengan para bankir ayah. Mereka semena-mena memperlakukan kakek tua dari Suku Sabana. Sebaiknya ayah menindaklanjuti tindakan rasisme ini, sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk.”


“Hmmm, tenang saja, Putriku. Suku Sabana seyogyanya berterima kasih kepada kita. Suku itu memang punya hutang balas budi karena sudah diberikan lahan untuk hidup. Lagi pula, mereka hanya sekumpulan pengecut yang sama sekali tidak berbahaya,” ujar Ratu Maire, mewakili jawaban dari suaminya.


Putri Catriona tampak menelan kata-kata bersama kue puding. Tak banyak percakapan yang Yun Lao dengarkan setelah itu, dan itu pun sama sekali tidak penting. Sekarang, ia harus mencari cara agar Zet percaya pada kata-katanya.


[...]


Benar saja sesuai dengan prediksinya, Zet menolak penuturan Yun Lao mentah-mentah. “Ah ..., kau pasti hanya mengakaliku saja, ‘kan, Yun Lao? Dengan pura-pura pergi ke sana, lalu kembali seolah sudah mendengar kalau Putri Catriona berencana untuk membunuhku?”


Argumen Zet mungkin masuk akal, tapi Yun Lao tidak berkata seperti itu. Putri Catriona sepertinya tidak ingin Zet terbunuh, buktinya ia menyelamatkan Zet dan membiarkannya menginap di puri ini. Akan tetapi, ada sesuatu yang perempuan itu rencanakan. Ia hanya tidak ingin Zet terjebak dalam pesona seorang anak dari keluarga Lewis.


“Yun Lao, begini, ya. Kau tidak usah cemas memikirkanku. Kau hanya harus siap sedia di sampingku, kalau ada apa-apa. Aku mungkin akan sangat membutuhkanmu,” ucapnya dengan muka serius, setelah membuat perasaan Yun Lao tersakiti. Hantu itu agak malas sebenarnya, tetapi Zet terus membujuk, “Kau tahu, angin topan seperti yang di hutan terlarang waktu itu? Itu sangat keren! Kita akan buktikan perkataanmu tadi bersama-sama, dengan mencoba mengikuti permainan mereka. Jangan kau kira aku tidak punya rencana.”


Yun Lao tentu sudah bisa menduga kalau Zet sebenarnya hanya butuh bukti langsung, alih-alih segera percaya dengan Yun Lao. Zet masih menyimpan ragu kepada Yun Lao. Ia tak segan untuk membahayakan diri sendiri seperti saat di pasar waktu itu. Entah, hanya karena ia yakin dengan peruntungan, atau ia cuma anak yang benar-benar dungu. Namun Yun Lao juga perlu hati-hati, sebab Zet bisa saja mengetesnya kali ini. Wajar kalau anak itu belum bisa sepenuhnya percaya kepada seorang hantu yang tiba-tiba muncul ketika ia menyanyikan lagu. Putri Catriona telah menempati posisi pertama di hatinya untuk saat ini. Sehingga mau tak mau, Yun Lao harus mengikuti rencana—yang tidak bisa dibilang brilian—itu.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-