The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
1 : Z E T



Matahari meraja di atas langit. Awan-awan bahkan tak berani mengusik teriknya sinar yang ia pancarkan. Puncak musim panas baru saja dimulai. Birunya angkasa seolah menjadi pertanda bahwa air di muka bumi kini tengah dikumpulkan oleh para dewa ke atas kubah, menanti waktu yang tepat untuk dijatuhkan. Para jangkrik bersahutan dengan cepat di antara pepohonan yang meranggas. Tiga ekor merpati abu-abu bertengger di tepian tempat mandi burung, di sebuah taman belakang rumah yang cukup luas. Berusaha mengais air yang hampir tak tersisa dengan paruh mungil mereka. Tak lama, burung-burung itu pun beterbangan saat terdengar suara teriakan tak jauh dari sana.


Pedang kayu mengacung tepat di hadapan hidung lancip seorang pemuda. Tubuh jangkungnya roboh ke tanah. Persis di atasnya, tampak sosok pria yang gelungan rambut di atas kepalanya menutupi sinar matahari. Pria itu menyeringai sambil berkacak pinggang.


“Satu, kosong,” ujarnya sambil menarik lengan si pemuda, membantunya bangun.


Pemuda tersebut segera merapikan chiton biru muda yang ia kenakan, dan mengencangkan ikatan sabuk di pinggang. Keringat mengucur di dada kanannya yang terbuka, membuat linen yang ia pakai tampak sedikit basah.


“Zet, kalau kau tidak serius di teknik yang kuajarkan tadi, aku yakin kau tidak akan bisa masuk universitas tahun depan,” ucap pria dengan gelungan rambut kecil di atas kepala itu. Kumis dan cambang di rahangnya bergerak seirama saat ia menyesap teh. “Hmm, ternyata nanas dan daun min sangat cocok, ya! Mungkin lain kali akan kutambah aneka beri kering.”


Zet memandang remeh kepada Deon, yang mukanya berseri–seri. Mungkin menurut dia, isi secangkir minuman lebih penting ketimbang masa depan adiknya sendiri. Zet bahkan tak habis pikir bagaimana pria yang hampir tidak pernah serius dalam hidupnya itu, bisa menjadi salah satu lulusan terbaik di Universitas Langit Angkasa dan langsung diterima menjadi Prajurit Bintang. Ditambah lagi, dia akan menikah tahun depan, padahal Zet sendiri masih merasa canggung jika bertemu dengan perempuan.


Mata ungu Zet kembali menuju ke pekarangan, tempat adik perempuannya, Oxi, menceburkan diri dan bermain air di dalam kolam ikan.


“Lihat, adikmu saja sangat senang mempelajari hal baru. Itu adalah kunci menjadi seorang murid yang sukses,” tutur Deon sambil tertawa.


Hal baru yang dimaksud Deon mungkin adalah cara baru untuk mengganggu para ikan. Oxi menggunakan sihir untuk membuat bola air raksasa, sementara ikan-ikan berenang di dalam bola air yang menyerupai akuarium di udara itu. Bola air tersebut gemerlapan ditimpa sinar matahari.


Zet ,yang semula kesal, pun dibuat terkagum-kagum olehnya. Seolah ada dunia baru yang telah tercipta. “Sihir memang sangat indah,” gumamnya. Ia segera membanding-bandingkan hal itu dengan kayu berbentuk pedang yang sedang ia pegang.


“Dengar,” panggil Deon, “aku tahu kau selalu berpikir sihir lebih hebat dari pedang. Tapi ketahuilah, dunia kita dibentuk oleh sesuatu yang saling menyeimbangi—yin dan yang. Sihir ada batasnya, karena itulah para prajurit tak bisa melakukannya. Mereka hanya mampu menggunakan senjata fisik.”


“Kau terdengar seperti Ayah,” celetuk Zet sementara kakaknya mengisi cangkir yang sudah kosong dengan dua balok gula.


“Generasi laki-laki di keluarga kita selalu unggul dalam pertarungan senjata. Dan kurasa kau juga harus mewarisinya.”


“Hmm ... ya, ya, ya, tapi murid seperti itu biasanya akan menjadi bahan tertawaan di Universitas. Mereka, kau tahu ..., payah. Kapasitas manusia itu terbatas, Zet. Sama seperti kedua cangkir ini. Kalau dia berniat menguasai dua-duanya, tentu kemampuannya akan menjadi setengah–setengah. Jika dia cukup serakah untuk menguasai segala ilmu sampai penuh,” Deon terpaksa menuang teh kesayangannya ke dalam salah satu cangkir kaca dan membiarkannya tumpah ruah, “dia akan menjadi gila!” pekik Deon sambil membuat ekspresi wajah yang mengerikan di depan hidung adiknya.


Zet tetap datar, tak menanggapi. Kemudian, ia berdiri dengan wajah serius dan mengayunkan pedang kayunya di udara beberapa kali, lalu berhenti dan menoleh ke arah Deon, “Kau tidak akan menyia-nyiakan waktu latihanku untuk pesta minum teh, kan?”


Wajah serius Zet menumbuhkan semangat tersendiri bagi Deon. Keduanya segera mengambil posisi kuda-kuda. Zet menyerang lebih dulu, tetapi dengan mudah ditangkis oleh otot lengan Deon yang kuat. “Ingat, selalu buat gerakan untuk mengecoh lawan, Nak!”


Percobaan kedua dan ketiga pun gagal, walaupun Deon harus mencari cara agar pukulan baliknya tidak terlalu sakit. Deon yakin, meski adiknya itu selalu menjadi bahan ejekan dari tahun ke tahun dalam pertarungan keluarga Dionisos, Zet bukanlah pribadi yang lemah—semata-mata karena keluarganya tidak mewarisi darah itu. Hanya saja, terkadang Zet tidak fokus terhadap satu hal. Yang Deon takutkan sekarang hanyalah Zet sedang terobsesi dengan hal lain. “Tetapkan satu tujuan dengan kepala tenang, sebelum kau menyerang!”


Kali ini Zet diam dalam posisinya, menunggu Deon menyerang.


“Oke, biar kucontohkan sekali lagi.” Deon berlari sambil menggiring pedangnya ke samping kanan. Saat Zet melihat Deon meloncat ke atas, pedang itu sudah berpindah tangan. Zet, yang semula refleks hendak menghindar ke kanan, merundukkan kepala dan berguling ke depan. Saat kaki Deon tiba di tanah, Zet berancang-ancang hendak menendang leher kakaknya dari belakang. Sayang, kakinya berhasil ditangkap oleh Deon. Zet pun menggunakan kaki satunya dan berhasil membuat Deon berguling di atas rumput. Zet memanfaatkan keadaan untuk menghunuskan pedang di atas badan kakaknya. Beruntung Deon masih sempat menangkis dan menghalaunya. Zet terus berusaha membuktikan bahwa dia bukanlah anak payah, sampai akhirnya pedang kayu Zet melintang di depan jakun Deon.


“Ya, ya, ya. Kau berhasil menyeimbangkan skor kita, bocah. Membaca situasi dengan cepat, dan mencari kelemahan lawan. Kau melakukannya dengan cukup bagus.” Deon mengacak rambut pendek Zet. Walaupun begitu, dalam hati, pemuda yang terengah-engah itu masih merasa tak puas, lantaran kakaknya bersiul santai sambil kembali berteduh dan mengayunkan kipas di teras rumah. Deon seolah meledek bahwa dia tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk melawan Zet, dan sengaja mengalah hanya untuk menghibur hati adiknya.


Amarah Zet beralih ke hal lain, saat pelipisnya terkena batu—lebih tepatnya pecahan es. Saat ia tahu dari mana benda itu berasal, Zet melemparkannya dengan serampangan ke arah Oxi yang tertawa meledek sambil berlarian ke arah teras.


“Oh, hei, Oxi,” seru Deon. “Buatkan aku es! Cuacanya panas sekali!” Oxi mengabulkan permintaan Deon. Dia mengubah badan air, yang melayang di atas kepala Deon, menjadi kristal, kemudian membuat kristal-kristal itu berjatuhan menimpanya.


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-