
Melihat reaksi Zet itu, Kjelde cepat-cepat berbalik ke posisinya di depan gawang. Entah sikapnya itu adalah pura-pura tak kenal Zet, atau Kjelde memang bukan Catriona.
Banyak orang berwajah mirip di dunia ini, apalagi yang berasal dari negeri atau ras yang sama. Lagipula, mana mungkin Catriona yang adalah bangsawan tingkat puncak bergengsi tinggi rela masuk belajar di Universitas Langit Angkasa? Apalagi sambil menyamar dengan nama lain dan penampilan yang jauh lebih sederhana dan tak secantik dandanan ala putri raja?
Walau demikian, tetap saja jantung Zet berdebar keras dan ia tetap berdiri terpaku di tempat.
“Sedang apa kau, Zet? Cepat kembali ke posisimu!” Teguran Simon itu sontak menyadarkan Zet dari lamunannya.
“Oh ya, siap, Kapten!” Zet cepat-cepat lari ke posisinya di daerah timnya sendiri. Namun sesekali ia menoleh ke belakang, melihat sosok Kjelde yang sudah jauh dan tak sejelas tadi.
“Begitu ada kesempatan aku akan mencoba mencari tahu identitas Kjelde yang sebenarnya,” batinnya. “Aku harus memastikan dia benar-benar Putri Catriona atau bukan.”
Setelah berdiri mantap di posisinya, Zet mendengar bisik-bisik lagi. “Psst, Zet!” Ia menoleh dan melihat Simon memberi isyarat dengan menggerakkan jari-jarinya. Zet tersentak. Itulah yang ia tunggu-tunggu sejak tadi. Simon baru akan mencoba “taktik khusus” itu sekarang.
Tak percuma Tim Empat Musim mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu peniru yang fleksibel. Tak ada taktik lawan yang tak bisa mereka tiru dan kembangkan. Asal bermodalkan kekuatan, kecepatan, kecerdasan yang mumpuni dari para pemain tim Empat Musim itu sendiri, serta latihan yang lebih keras daripada tim-tim lain.
Kata-kata wejangan dari Pelatih Zoe itulah yang membuat Zet kembali fokus, menatap jauh ke depan, ke arah para lawannya.
Saat peluit dibunyikan, lagi-lagi ketiga pemain Kubah Malam berlari dalam formasi. Seperti biasa, Janos di tengah melayangkan cakram yang ia terima dari Kjelde.
Anehnya, kali ini tim Zet tak beranjak jauh dari posisi masing-masing. Bedanya dengan tim Brynn, ketiga personil tim Zet bergerak samping menyamping seperti pagar betis yang bergeser dan berlapis-lapis, bukan diam saja. Mungkin taktik inilah yang bakal menginspirasi permainan sepak bola meja, andai olah raga sepak bola benar-benar tercipta di Terra Revia kelak.
“Oi, oi, percuma saja! Memangnya kalian bisa menghentikan kami?” seru Janos. Ia bukan hendak menerobos Miguel, palang pintu pertama Empat Musim, melainkan mengoper pada Brynn.
Lucunya pula, Miguel tak lantas menghadang Janos, melainkan hanya mundur sambil menjaga agar dirinya tetap di depan Janos. Janos tersentak melihatnya dan berseru, “A-apa-apaan ini?”
Lebih heran lagi Brynn si gadis atletis, kapten Tim Kubah Malam. Ia langsung mengoper cakram pada Argyle sesaat setelah menerimnya, tapi Simon tetap menjaga jarak dan tak lantas mencoba mencuri cakram darinya.
Taktik “aneh” Empat Musim itu membuat konsentrasi Brynn pecah sejenak, sehingga operannya pada Argyle jadi kurang akurat. Zet yang lebih dekat posisinya dengan cakram mengambil kesempatan dengan telekinesisnya, mencuri cakram sebelum Argyle bisa meraihnya.
“Ya, aku tahu,” tanggap Zet. Kata-katanya ditindaklanjuti dengan mengoper cakram pada Simon di sisi lain lapangan yang agak jauh, sehingga kecepatan Argyle tak cukup untuk menghalau cakram.
“Dasar menyebalkan kau, Amazeta!” Emosinya terpancing, Argyle lari untuk mengepung Simon, padahal sudah ada Brynn yang bertugas mengawal kapten Tim Empat Musim itu.
Melihat gerakan Argyle, Brynn yang sudah dekat dengan Simon berseru, “Jangan, Argyle! Kembali ke posisimu!”
Namun peringatan Brynn terlambat. Simon sudah terlanjur mengoper cakram pada Zet. Argyle tersentak baru menyadari kesalahannya. Tapi tubuhnya bertabrakan dengan tubuh Brynn hingga keduanya jatuh di lapangan.
Zet tinggal menghadapi penjaga gawang saja. Kjelde sengaja tersenyum manis ke arah Zet. Tapi Zet kali ini jadi seperti kesetanan. Atau lebih tepatnya Zet sedang terlalu fokus, sehingga ia sama sekali tak mempedulikan apa pun yang lain, termasuk rasa penasarannya terhadap identitas asli Kjelde, apakah ia adalah Putri Catriona atau bukan.
Tanpa ragu, Zet melemparkan cakramnya dengan cepat ke sudut gawang terjauh. Tentunya tanpa mengendalikan dan mengubah arahnya secara langsung agar sengaja berbelok karena itu amat curang. Itu adalah pelanggaran yang dapat diganjar lemparan penalti untuk lawan.
Kjelde hendak meraih cakram itu dengan sihir, namun cakram sudah lebih dahulu bersarang di gawang Kubah Malam.
“Taktik aneh Empat Musim berhasil membuahkan gol!” seru komentator. “Kedudukan kini sama kuat, satu lawan satu! Akankah ada penambahan skor lagi? Akankah skor imbang ini bertahan hingga waktu berakhir? Mari kita saksikan bersama!”
Sesaat setelahnya, Tim Kubah Malam mengambil waktu jeda. Tampak sang kapten, Brynn menegur Argyle yang lalai dan terlalu emosional tadi, sehingga menimbulkan kerugian bagi timnya dan kesempatan emas bagi tim lawan. Argyle hanya tertunduk dan sebentar-sebentar mengangguk.
Sesekali Argyle menoleh ke belakang dan melihat ke arah Zet yang sudah berdiri menunggu dalam formasi pembuka. Zet menatap balik ke arah Argyle, namun kali ini jantung Zet serasa berhenti berdetak.
Sampai detik ini, Zet tak pernah menyangka kalau Argyle, pemuda bertampang manis dan kekanak-kanakan seperti “wajah bayi” itu bisa menampilkan raut wajah menyeramkan. Matanya melotot dan menyorot seperti mata elang yang sudah menentukan mangsa sasarannya. Sedangkan bibirnya mengulum senyum tipis, seperti iblis atau maniak. Ini pertanda bahwa ia akan gila-gilaan, kalau perlu menghalalkan segala cara.
Dan target utama Argyle adalah Zet.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-