The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
86: GUA BAWAH TANAH



“Bukan, Ahmed bukan hantu. Ia hanya tak suka terlalu banyak basa-basi, itu saja,” kata Singh yang berjalan di depan Zet dan Nina, menyusuri gua yang gelap dengan membawa lenteranya.


“Yah, syukurlah kalau begitu,” ujar Nina sambil mengurut dada. “Kalian para musafir antar-ranah dan titisan dewa memang membingungkan. Tingkah laku kalian aneh-aneh.”


“Apa itu termasuk Minerva Kaleos?” pancing Singh. “Dia titisan Dewi Athena, lho.”


“Aku tak tahu itu,” jawab Zet. “Karena selama ini Bu Minerva hanya menunjukkan sisi keibuan, ketegasan dan wibawa saja, baik saat sedang bicara denganku maupun di depan umum. Aku tak begitu kenal Bu Minerva. Banyak yang tak kuketahui tentang dirinya, apalagi tentang sisi-sisi lain kepribadiannya.”


“Yah, ada kalanya sebaiknya kita tak perlu sampai menggali kepribadian orang lain terlalu dalam. Yang penting sekarang adalah kita jalani jalan yang sudah dibuka orang itu untuk kita sebaik-baiknya.”


Zet mengangguk sambil mengalihkan pandangan matanya ke sekeliling. Tampaklah pemandangan gua bawah tanah seperti sebuah ngarai yang luar biasa luas, lengkap dengan tebing-tebing, jurang-jurang dan bahkan sebuah bukit di tengahnya.


Setiap kira-kira sepuluh langkah atau lebih, ada kristal-kristal yang bertumpuk dan mencuat, seakan tumbuh di dinding-dinding gua. Semua kristal itu berpendar terang seperti sumber cahaya mandiri, sehingga Singh mematikan api lenteranya.


Singh melanjutkan penjelasannya, “Ujian-ujian yang harus kalian lewati terdiri dari tiga jenis, yaitu ujian jasmani, ujian mental dan ujian spiritual. Dua ujian pertama dari Ahmed tadi adalah ujian mental dan ujian spiritual. Di tempat ini bakal lebih banyak ujian fisik. Salah satu ujian fisik itu, yang paling umum adalah melawan para monster penghuni gua bawah tanah ini, yaitu goblin dan troll.”


“Apa?” Nina terperanjat. “Makhluk-makhluk khas Kubah Malam, Empat Musim dan Fajar Emas ada di wilayah Ular Pasir? Bagaimana bisa?”


“Wajar saja bisa. Kalian rasakan sendiri, udara dalam gua bawah tanah ini sejuk tapi tak terlalu lembab, tak seperti gurun pasir yang panasnya menyengat. Lagipula, banyak sekali kaum goblin dan troll di daerah Empat Musim dan Kubah Malam yang terusir dari daerah asal mereka itu dan mengembara. Lantas Ahriman atau Ahmed memandu para pengungsi itu ke tempat yang paling aman dan jauh dari kejaran siapa pun, yaitu gua bawah tanah ini.”


Zet berkomentar, “Jadi dengan kata lain, gua ini adalah negeri baru untuk para goblin dan troll, dan Ahmed adalah rajanya.”


“Lebih tepatnya, Ahriman menjadi dewa yang disembah di sini.”


Zet dan Nina ternganga sambil mengangguk. Pantas saja Ahmed begitu percaya diri. Ia telah mempersiapkan segala sesuatunya di sini. Kaum goblin dan troll yang dikenal sebagai makhluk buas berjumlah amat banyak dan berakal pendek itu pasti rela mati demi sang dewa dalam rangka menguji kandidat yang masuk dan mempertahankan arcanum tanah sejati, begitu saja.


Tiba-tiba suara Singh mengagetkan Zet dan Nina yang setengah tenggelam dalam pikiran masing-masing. “Ah, yang dibicarakan baru saja datang. Ada rombongan penyambutan buat kita, ayo kalian layani mereka sebaik-baiknya.”


Yang dibicarakan Singh tentu saja adalah segerombolan goblin yang datang menyerbu ke arah Zet dan Nina. Makhluk-makhluk kerdil, berkulit hijau, bertelinga amat lebar dan berhidung panjang itu hanya mengenakan cawat dan membawa senjata-senjata primitif nan kasar.


Namun kekurangan dari segi senjata dan tenaga dibanding Zet dan Nina itu ditutupi, bahkan para goblin jadi lebih unggul dalam hal keganasan, walaupun secara jumlah mereka tak lebih banyak daripada lautan Scarab. Mata dan ekspresi wajah mereka nyalang, seolah-olah mereka ingin membantai Nina, Zet dan bahkan Singh juga tanpa pandang bulu.


Zet dan Nina lantas siaga dengan senjata mereka masing-masing dan mulai menghantam setiap goblin yang menerjang. Singh yang juga diserang menghantam mereka dengan tangan kosong dan bisa menghalau mereka dengan mudah.


Zet menyabet-nyabetkan pedangnya dan menyayat satu-dua goblin. Namun lebih banyak goblin lagi yang menyerang ke arah Zet dan pemuda itu mulai kewalahan.


Melihat situasi cukup genting, terpaksa Zet mengerahkan energi arcanum air, menyalurkannya ke seluruh tubuhnya. Gerakannya jadi lebih lincah dan luwes, pedangnya menari makin indah dan ia berhasil mencacah goblin-goblin yang paling dekat dengannya. Suara-suara pilu goblin yang tewas mulai bergaung memenuhi udara.


Tak berhenti di sana, Zet bergerak mendekati Nina. Ia lantas membunuhi goblin-goblin yang merubung rekannya itu sambil berseru, “Nina, bakar yang lainnya dengan sihirmu!”


“Baik!” Mendapat kesempatan bergerak bebas, Nina mengacungkan tongkatnya lurus-lurus ke gelombang baru gerombolan goblin yang datang mendekat, lalu berseru, “Pyroagnios!”


Selarik sihir Sambaran Api Besar melesat dan menyambar hampir semua goblin di jalur gua yang tidak terlalu lebar itu. Para goblin lain yang masih hidup jadi ciut nyalinya, mereka cepat-cepat berbalik dan berlari pergi ke arah mereka tadi datang sambil berteriak-teriak ribut.


Zet hendak mengejar pasukan goblin itu sambil berseru, “Hei! Biar kubungkam kalian semua...!”


Namun Singh pasang badan dengan tangan terentang untuk mencegah Zet bertindak sembrono. “Jangan kejar, Zet! Para goblin penyerangmu itu hanya sepasukan kecil saja. Mereka sengaja lari untuk memancingmu agar terkepung dalam jebakan serangan mendadak pasukan yang jauh lebih besar dan jumlah yang lebih banyak daripada ini. Belum lagi para troll yang konon kebal api!”


“Oh ya, terima kasih sudah memperingatkanku, Guru,” kata Zet sambil berdiri saja.


Nina lantas menghampiri Zet sambil tersenyum. “Terima kasih untuk bantuanmu tadi, Zet,” katanya. “Aku sungguh menghargainya.”


Zet justru menatap Nina dengan dahi berkerut. “Jangan salah sangka dulu. Aku melakukan itu hanya sebagai taktik agar kau sempat mengerahkan sihir api besar seperti tadi. Sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan, jangan buang waktu lagi.”


Melihat Zet cepat-cepat berbalik pergi, Nina hanya mendelik dan ternganga saja. Ia berbisik pada Singh di dekatnya, “Ada masalah apa sih dengan si Zet itu?”


Singh hanya mengangkat bahu. “Entahlah,” katanya dengan santai. “Kurasa Zet hanya butuh sedikit lebih luwes, lebih dewasa dan lebih pengertian saja tentang perasaan wanita. Percayalah, aku tahu itu yang terjadi bila menilik pengalamanku sendiri... eh... bukan, eh, sudahlah! Yang penting, eh... yak, bagus tadi sihirmu tadi, Nina! Ayo lanjutkan perjalanan saja!”


Nina hanya mengerutkan dahi dan hidungnya sekaligus dan mengangkat bahu, lalu berjalan di belakang Zet dan Singh sambil bergumam sendiri, “Dasar laki-laki... semuanya aneh!”


Entah Singh menyadarinya atau tidak, tapi Zet dan Nina tak menyadari bahwa mereka tengah diawasi oleh sepasang mata jeli dari kejauhan. Sosok pada sepasang mata itu bergelantung seperti kera di celah di dinding gua, dan satu tangannya memegang pisau terbang empat ujung yang disebut shuriken, yang siap ia lemparkan kapan saja, di mana saja.


Zet dan Nina akan menghadapi bahaya yang jauh lebih banyak dan lebih besar daripada segala “materi ujian” yang memenuhi gua bawah tanah tak bernama ini.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-