
Dengan aba-aba itu, Zet dan Barra merangsek maju. Pedang pendek Zet yang tebal beradu dengan pedang Barra yang jauh lebih besar. Kekurangan Zet dari segi senjata ditutupi dengan energi gabungan dari tiga arcanum yang dikuasainya, yang secara kolektif dan di atas kertas unggul dari dua arcanum lawan. Jadi, kedua petarung tampak imbang, saling bertukar tusukan, sabetan serta tangkisan yang tak terhitung banyaknya.
Kedua pemuda calon Master of Arcana itu jelas-jelas sedang mengukur kekuatan dan mencari celah kelemahan masing-masing, mencoba hampir semua teknik, arah dan kombinasi serangan yang mereka kuasai. Itu semua dilakukan tanpa mengerahkan energi lebih seperti dalam pengerahan jurus.
Anehnya, wajah-wajah kedua pria yang baru beranjak dewasa itu tak tampak beringas. Mereka malah terkesan tenang dan luwes, sepertinya justru menikmati pertarungan ini.
Pertarungan dua orang rival yang memuaskan dan memenuhkan jiwa.
Namun, “kesenangan” ini tak jadi berlarut-larut. Tersadar kembali dengan “tujuan mulia”-nya, Barra memutar tubuh sambil mengayun pedang besarnya tinggi-tinggi di atas kepala.
Melihat gelagat pergerakan jurus kuat itu, Zet juga memuatar tubuh sambil mengayunkan pedangnya berputar diagonal.
Ayunan pedang dari jurus Sabetan Tenaga Inti Barra yang tegak lurus dari atas ke bawah hendak disambut oleh Zet dengan jurus Angin Berpusar Membelah Awan Zet.
Dua bilah pedang beradu. Energi gabungan arcanum api dan logam bertumbukan dengan gabungan energi arcanum air, kayu dan tanah. Ledakan yang timbul dari pertumbukan energi itu berimbas dan menerpa kedua petarung. Tak ayal, Zet tersuruk mundur enam langkah dan Barra terdorong mundur lima langkah.
Menyadari itu, Zet terkesiap. Ia tak hanya kalah dalam hal senjata. Dalam hal tenaga dalam pun Zet kalah tipis dari Barra. Tak ayal, Zet berkeringat dingin dan ia memuntahkan sedikit darah dari luka dalamnya.
“Huh, kena serangan sebegitu saja kau sudah muntah darah,” ejek Barra. “Sudahlah, serahkan saja pusaka-pusaka arcanummu kepadaku. Dengan begitu kau boleh pulang dari sini ke Empat Musim. Dan satu hal lagi, jangan pernah bertemu, apalagi bicara lagi dengan adikku, Catriona.”
Kalimat terakhir Barra tadi justru memicu bara di mata Zet yang semula menyipit, menahan sakit luar biasa akibat ledakan energi tadi. Rasa marah karena harga dirinya dilecehkan justru malah memompakan energi baru dalam diri Zet.
Si pemegang tiga arcanum itu sontak bangkit dan membentak, “Aku dan Putri Catriona hanya sebatas teman biasa saja! Kalaupun lebih daripada itu, walau sebagai kakaknya sekalipun, kau tak pantas mencampuri urusan pribadinya sebagai gadis yang beranjak dewasa!”
“Mungkin aku akan membiarkan adikku bergaul dengan pria-pria lain, atau lebih pantasnya dengan pangeran mana pun yang dijodohkan ayahku padanya. Tapi kau ini pengecualian, karena kau adalah rival sekaligus musuh bebuyutanku!”
Mendengar itu, Zet malah menghela napas. “Ah, sungguh amat disayangkan, karena aku sama sekali tak ingin punya musuh bebuyutan. Tapi apa boleh buat, karena tadi kau mengatakan dengan gamblang rencanamu setelah menjadi Master of Arcana dan itu bertolak belakang dengan keinginanku untuk menjaga kehidupan dan perdamaian dunia, aku harus menghentikanmu. Tapi aku harus merebut arcanum api dan logam darimu lewat pertarungan yang adil, kalau tidak mereka tak akan mengakui diriku sebagai tuan yang baru.”
“Oh, begitu ya?” Barra sepertinya tak tahu mengenai “efek samping” arcanum. Zet berusaha mencatat itu dalam benaknya dan mencoba mencari amunisi baru untuk bersilat lidah. Tapi selama gagasan itu belum terbit, satu-satunya jalan adalah dengan melanjutkan pertarungan. “Mungkin gebrakan kedua akan lebih meyakinkan bagi ‘para arcanum’ itu. Rasakan jurusku!”
Setelah tadi adu kekuatan dari jarak dekat, saatnya adu tembakan energi dari jauh. Barra mengayunkan pedangnya tegak lurus dari bawah ke atas, menembakkan selarik Sabit Api Besar.
Di sisi lain, Zet bereaksi, balas menembakkan energi dari unsur yang berlawanan dengan api, yaitu air. Gelombang ombak dari jurus Gelora Gelombang Samudera menerpa ke arah Barra.
Dengan bentukan yang lebih pipih dan terkesan tajam, sabit api Barra memotong gelombang ombak Zet menjadi dua bagian semudah memotong kue, dan terkesan seperti membelah laut. Sisa energi yang tak teredam air melesat terus ke arah Zet.
Gilanya, energi Zet yang terbelah jadi dua juga turut meluncur, nyaris tak melemah dan tak tersisa, malah menghantam tubuh Barra tanpa ampun. Sedangkan Zet dengan sigap mengaktifkan arcanum tanah, memunculkan semacam dinding atau perisai batu raksasa. Dinding batu itu meredam nyaris seluruh sabit api Barra. Hanya segelintir sisa energi api saja yang menerpa hawa pelindung Zet.
Zet mengerang kesakitan juga, tapi luka memarnya jauh lebih ringan daripada luka dalam yang ia timbulkan dalam tubuh Barra. Buktinya, kini giliran Barra yang terkapar dan muntah darah. Zet jadi pemenang dalam gebrakan kedua ini, dan kedudukan kini sama kuat. Dalam artian, mereka sama-sama sudah terluka dalam.
Kali ini Zet dan Barra berhadap-hadapan dari jarak yang tak terlalu jauh seperti sebelumnya, sambil memegangi luka masing-masing dan meringis. Pancaran aura tenaga dalam dari tubuh mereka makin tinggi dan besar, pertanda keduanya akan mengerahkan jurus andalan yang lebih dahsyat lagi.
“Ya, kurasa energi kita sudah cukup untuk adu pamungkas,” kata Barra.
“Mengapa tidak?” Zet tersenyum unjuk ketenangan. “Ayo kita habis-habisan, seluruh energimu melawan seluruh energiku. Arcanum api dan logam melawan arcanum air, kayu dan tanah.”
“Mari!”
Bedanya dengan yang sebelumnya, wujud sabetan-sabetan dan tusukan-tusukan kedua adalah seperti burung phoenix emas yang mengembangkan dan mengepakkan sayapnya, meniupkan api dan bulu-bulu emas sekaligus, mengurung lawan dari segala arah dengan jarak tiap larik serangan yang amat rapat. Tak ada peluang sama sekali untuk menghindar, jalan satu-satunya hanya menangkis.
Sebaliknya, Zet mengerahkan jurus pamungkas baru, yang ia pelajari sepanjang jalan dari Gua Ahriman ke Kota Oase Kurma dari Singh. Itu adalah pencurahan energi arcanum air, kayu dan tanah sekaligus dalam jurus yang disebut Keseimbangan Alam Raya. Ini jurus serangan balik sekaligus pertahanan pamungkas.
Alur pengerahannya adalah, Zet sengaja bertahan dulu dari sayap-sayap emas berapi Barra dengan mengerahkan medan energi tanah dan kayu yang menyelubunginya seperti kepompong ulat sutra. Sambil meringis menahan sakit akibat luka-luka baru yang menyayati tubuhnya, Zet berusaha menyerap segala energi yang merasuk lewat medan energi yang ternyata tidak terlalu rapat seperti dinding batu pada jurus sebelumnya. Jadi, faktor penentunya adalah daya tahan tubuh Zet sendiri yang diperkuat oleh tenaga dalam dan medan pelindung dari kedua arcanum.
“Energi... cukup,” bisik Zet sambil tersenyum tipis. “Sekarang, Barra, belajarlah dari kekuatan sejati yang berasal dari keinginan untuk melindungi sesama.”
Barra malah terkesiap. “Apa!? Tunggu...!” Ia baru sadar telah salah langkah, tapi ia terlambat.
Zet merangsek maju sambil menusukkan pedangnya satu kali saja, lurus ke arah jantung Barra. Dengan menggunakan energi arcanum air sebagai pemicu, ia menumpahkan seluruh energi yang ada padanya, ditambah energi api dan logam yang ia serap tadi pada lawannya.
Wajah Barra pucat pasi seketika, matanya terbelalak melihat yang hendak menerjangnya adalah segala bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan badai logam dan api sekaligus. Seakan dunia sudah kiamat, planet Terra Revia meledak dan seluruh unsur alam dari ledakan itu hendak menerpanya.
Mati-matian si pangeran dari Kubah Malam menghindar sambil menangkis dengan segala energi pertahanan yang tersisa, yang ia alihkan dari serangan tadi. Namun gagal, sebagian besar energi serangan Zet masih menimpa dirinya tanpa ampun. Akibatnya, ia jatuh dan terkapar, tertelungkup di lantai yang ikut melesak, membentuk ceruk yang besar.
Melihat kesempatan emas ini, Zet terus menghunjamkan pedangnya ke jantung di balik punggung Pangeran Barra yang kini sedang kejang-kejang. Namun ujung pedang Zet terhenti kira-kira dua jengkal dari punggung rivalnya itu. Ia malah menusuk ke arah lain, membuat energi pamungkasnya menjebol dinding ruang kubah yang diterpanya.
Menyadari hal itu, Pangeran Barra memaksa dirinya berbalik ke posisi telentang. Ia menatap ke arah Zet sambil berkata terbata-bata, “A-apa yang kau lakukan? Cepat... habisi aku! Aku tak mau hidup dalam kekalahan, kehilangan muka dan menanggung malu!”
Zet malah berdiri agak limbung dan mematung, lalu menggeleng. “Tidak. Aku tak ingin membuat Putri Catriona menangis dengan menghabisi kakaknya sendiri yang sedang dalam keadaan tak berdaya.”
Wajah Barra malah berubah memelas, “Tapi, kau tak tahu keadaanku yang sebenarnya, Zet! Kumohon, cepat habisi aku! Aku ingin segera terbebas dari...!”
Seakan menanggapi kata-kata Pangeran Barra, kedua arcanum pusaka miliknya yaitu cincin api dan gelang perak terlepas dengan sendirinya dari jari manis dan pergelangan tangan si pemilik lama, lalu melayang dan terpasang di jari manis dan pergelangan tangan Zet. Ternyata mereka telah menyaksikan suatu pertarungan yang adil dan memutuskan memilih pemilik baru.
Kelima pusaka, yakni kalung arcanum air, sabuk arcanum kayu, gelang emas arcanum tanah, cincin arcanum api dan gelang perak arcanum logam kini tersandang oleh satu pribadi. Dengan demikian, kini status Zet sudah pasti dan ia menjadi...
... Master of Arcana.
Zet melihat pada dirinya sendiri sambil terheran-heran dan terperangah. Tubuhnya kini menebar aura berwarna-warni seperti warna pelangi, yaitu biru, hijau, kuning, merah dan jingga emas. “Inikah perwujudan kekuatan dewata yang tak terbatas?” batin Zet.
Saat berikutnya, Zet mendengar suara tepuk tangan.
Disusul suara seorang pria, “Bagus, bagus. Tak seperti yang kuharapkan, tapi setidaknya kini sudah ketahuan siapa yang benar-benar pantas untuk menjadi Master of Arcana yang sejati.”
Zet menegadah dan melihat sesosok hantu pria melayang di antara dirinya dan Pangeran Barra.
Dia adalah guru arcanum pertama Zet, yaitu Yun Lao.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-