The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
56: TIM EMPAT MUSIM VS TIM ULAR PASIR



Karena pertandingan Babak Perempat Final atau Delapan Besar bakal lebih berat daripada di Babak Penyisihan, apalagi menghadapi tim unggulan, Zet dan Tim Empat Musim hanya berfokus untuk latihan keras saja di hari ketiga, tak sempat menonton pertandingan tim-tim unggulan lainnya.


Baru di malam hari ketiga itulah Filian memberitahu Zet hasil “penyelidikan”-nya setelah menonton kedua pertandingan tadi.


“Kimiko tadi mendatangiku sambil menangis. Timnya kalah oleh Tim Fajar Emas, padahal perbedaan skornya tipis, dua lawan tiga,” kata Filian. “Sayang sekali, mungkin Tim Sakura Ungu bisa lebih beruntung kalau tak bertemu langsung dengan salah satu tim empat besar unggulan.”


“Apa saja tim empat besar itu menurutmu?”


“Ya jelas, toh! Urutan satu Kubah Malam, kedua Fajar Emas, ketiga Ular Pasir dan yang keempat – yang namanya juga pas – Empat Musim. Jangan tersinggung ya, Zet.”


“Ya, kau kan juga dari Empat Musim. Sama-sama tahu posisi saja deh. Oya, bagaimana dengan hasil pertandingan kedua?”


“Seperti dugaan, Naga Nirwana mengalahkan Zamrud Hijau dengan cukup telak, tiga-nol,” ujar Fili. “Walau bukan termasuk empat besar unggulan ataupun negara adi daya, penguasaan tenaga dalam yang mereka miliki tetap saja yang terbaik di dunia.”


Zet merebahkan kepala di bantal dan tubuh di ranjang. Entah apa sebabnya, ia agak sulit tidur malam itu.


\==oOo==


Walaupun mudah ditebak, segala kekuatiran Zet terwujud di lapangan pertandingan.


Wujudnya adalah tatapan tajam dan bermusuhan dari keempat pemain Odyscus dari Tim Ular Pasir terhadap dirinya dan para anggota Tim Empat Musim lainnya. Tatapan paling sinis tentunya tertuju pada Zet, si pahlawan yang telah mempermalukan negeri mereka.


Ini kesempatan untuk balas dendam. Kalaupun tidak boleh main kasar, Empat Musim harus dibuat bertekuk lutut kali ini – atau kapan pun juga.


Wasit membacakan nama-nama anggota tim. “Tim Ular Pasir, Mustafa, Rizqi, Fatima dan Ahmed. Tim Empat Musim, Simon, Miguel, Hailey dan Zet! Ingatlah peraturan yang telah saya ulangi tadi, bertandinglah dengan adil tanpa pengaruh apa pun juga! Siap... Mulai!”


Kedua tim maju dengan tangan-tangan terulur, hendak melayangkan cakram dari tanah ke udara. Mengira telekinesisnya kena lebih dulu, Zet baru akan mengangkat cakram dari jauh. Cakram memang terangkat, tapi melayang ke dekat pemain Ular Pasir, Rizqi.


Satu-satunya pemain wanita dalam regu Jet, Hailey dengan nekad mendekati Rizqi untuk merebut cakram, tapi ia diblokir oleh pemain wanita Ular Pasir, Fatima.


“Jangan harap kalian bisa merebut cakram ini dari aku!” Rizqi bergerak luwes bagai badai pasir yang berkelok-kelok. Tapi para pemain senior Empat Musim langsung mengenali gelagat lawan, dua pemain, Miguel dan Simon bergerak luwes pula untuk menghalangi Rizqi.


“Cih!” Tahu pergerakannya akan dihalangi total, Rizqi memutar tubuh pada porosnya di satu kaki, lalu mengoper pada pemain terdekat,  yaitu Mustafa.


Mustafa, kapten Tim Ular Pasir jelas paling unggul dibanding rekan-rekannya. Dengan rambut hitam berombak, dia jelas lebih tampan daripada pria mana pun.


Tapi bukan berarti Mustafa bisa melenggang untuk menghadapi penjaga gawang. Itu karena Zet yang dapat posisi bertahan maju untuk merebut cakram dengan telekinesisnya yang kuat. Tangan Zet terulur, cakram sedikit goyah...


“Eit, jangan harap!” Bagaikan ular pasir yang licin, Mustafa meliukkan tubuhnya sambil berputar selingkaran penuh. Dengan penuh percaya diri pula ia melayangkan cakram sampai ikut berputar pula dengan gerakan rumit bagai ular menari di udara.


Telekinesis Zet sulit meraih cakram yang melayang berganti-ganti arah. Alhasil, Mustafa berhasil lolos dari hadangan Zet dan berlari terus ke gawang. Setelah cukup dekat, Mustafa menembakkan cakram itu lurus untuk mencetak gol.


Gilanya, lagi-lagi Mustafa mengerahkan ilmu fakir ala Ular Pasirnya. Cakram itu kembali meliuk rumit, menari bagai ular pasir di udara. Hailey tak dapat meraihnya dan cakram melesak di jala gawang Tim Empat Musim.


Zet terpana, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Inikah kekuatan khas, senjata utama Tim Ular Pasir? Kelas mereka jelas setingkat, atau dua tingkat di atas Tim Singa HItam yang kebanyakan mengandalkan kecepatan lari sebagai senjata utama saja.


Tak ada waktu merenung, giliran Empat Musim yang menggiring cakram, hendak menusuk ke wilayah pertahanan Ular Pasir. Kali ini Zet yang melayangkan cakram di atas kepala.


Inilah salah satu senjata andalan Tim Empat Musim, yaitu rotasi pemain. Peran para pemain sering dirotasi alias digilir sehingga nyaris semuanya serba bisa. Penyerang bisa jadi pemain bertahan begitu pula sebaliknya, sehingga Empat Musim mampu menyesuaikan taktiknya untuk mengatasi tim manapun juga. Namun itu menyisakan satu kelemahan, yaitu tak ada pemain yang benar-benar menonjol sebagai penyerang atau pemain bertahan.


Simon, kapten Tim Empat Musim berseru, “Hindari Mustafa! Bila ia mengadang kalian, langsung oper!”


“Baik!” seru Zet dan Miguel.


Zet menggiring cakram melewati Fatima. Gadis itu memang tak setangguh Mustafa, namun liukan dan gerakan tubuhnya yang gemulai sebagai seorang penari di Ular Pasir tak bisa diremehkan. Untunglah Zet dapat mengunggulinya dengan kelincahan yang terasah lewat latihan dan pengalaman tarung.


Namun Zet terkejut, tepat di belakang Fatima, ada Mustafa yang mengulurkan tangan, hendak merebut cakram dari Zet dengan telekinesis juga. Hampir mengikuti gerakan Mustafa, Zet cepat-cepat menarik cakram itu dan mengopernya pada pemain terdekat, yaitu Miguel.


“Oh, tidak boleh!” Mustafa cepat-cepat berbalik untuk menangani Miguel, namun si pemain Empat Musim yang sepertinya sama dengan Pelatih Zoe, berasal dari wilayah bernama asli Tirai Mirah cepat-cepat mengoper lagi pada pemain di sisi lapangan yang berjauhan, yaitu Simon.


Simon berlari samping-menyamping. Ia berhasil mengecoh Ahmed, si penjaga gawang dengan membidik ke kiri padahal sebenarnya menembak ke kanan.


Si komentator mengangkat kedua tangannya sambil bangkit berdiri. “Gooll!! Gol untuk Tim Empat Musim! Satu sama! Pertandingan ini makin sengit saja!”


Lagi-lagi Ular Pasir menggiring cakram, melakukan operan dan giringan tanpa bisa dihindari. Lagi-lagi Mustafa berhasil menjebol barisan pertahanan lawan dan menembakkan cakram dari jarak jauh ke gawang. Untunglah tembakan itu meleset dua jengkal dari tiang gawang, jadi Empat Musim masih bisa bernapas lega.


Setelahnya, kedua tim bergantian melayangkan cakram tanpa menghasilkan gol, aksi saling rebut cakram kerap kali terjadi. Mustafa sepertinya sedang mengendurkan “keganasan”-nya, ada apa gerangan? Apakah “amunisi” si bintang Ular Pasir itu sudah habis?


“Jangan kendurkan pertahanan kalian, teruslah cari kesempatan untuk menyerang!” seru Simon. Sepertinya ia membaca gelagat yang tak beres dari pihak Ular Pasir.


Mungkin merasa taktik mereka sudah terbaca, Mustafa yang merangkap kapten Tim Ular Pasir memberi isyarat jari seperti “berenang” pada rekan-rekannya.


Tanpa dikomando, kesemua empat anggota Tim Ular Pasir membentuk formasi, dua di depan sayap kiri dan kanan, dua lagi di belakang dan berjajar agak ke tengah. Mustafa di sayap kanan melayangkan cakram di baris depan, diikuti oleh Rizqi di sayap kiri beserta Ahmed dan Fatima di formasi belakang. Gerakan mereka seperti badai pasir yang datang bergulung-gulung, hendak menerpa lewat sepanjang lebar lapangan.


Simon berseru, “Awas itu Formasi Khamsin! Semua lari dan berkumpul di depan gawang!”


Mata Zet terbelalak. Rasanya sepertinya ada Khamsin, badai pasir panas sungguhan sedang melanda ke arahnya. Tapi apa yang harus ia lakukan? Mengikuti arahan Simon, atau mencoba bertindak sendiri dengan menyelinap dan menunggu saja di ujung wilayah sendiri agar tak dianggap pelanggaran?


Inilah satu ujian terhadap kedewasaan Zet dalam mengambil keputusan.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-