
Zet mengambil potongan daging rusa dan salad sayuran dengan segan, sementara ada beberapa anak yang menyerobot tak tahu malu, lantas segera menjadi bahan tertawaan. Acara makan siang itu selanjutnya diselingi dengan senda gurau dan ramah-tamah yang wajar dari Ratu Maire, sementara jika Zet perhatikan Pangeran Barra sedari tadi tampak malas ikut berdialog. Dari acara itu juga, Zet jadi tahu nama remaja-remaja ini, beserta riwayat dan latar belakang singkat mereka. Namun sepertinya ia cuma bisa menghafal Shem dan Ingrid. Shem, si anak penempa besi itu tampaknya cukup hebat dengan perawakan yang besar dan berotot. Sementara Ingrid sepertinya adalah perempuan yang sulit dikalahkan.
“Kami sebenarnya tidak ingin membebani kalian,” ucap Raja Taraghlan setelah kunyahan terakhirnya selesai. “Tapi demi kepentingan dua kerajaan, kalian terpaksa akan menjadi prajurit terlatih di Kubah Malam.”
“Apakah benar rumor bahwa Kerajaan Kubah Malam akan melakukan penyerangan kepada Kerajaan Ular Pasir?” tanya Ingrid dengan suara yang serak dan terkesan tegas untuk ukuran perempuan.
Raja Taraghlan mengurut jenggot panjangnya. “Hmmm, Kerajaan Ular Pasir adalah ancaman bagi seluruh umat manusia. Mereka dikuasai oleh raja-raja yang tamak, dan telah melukai saudara-saudara kita dari Suku Padang Sabana. Ular Pasir merampas tanah kelahiran mereka, menduduki semua pusat perekonomiannya demi kepentingan pribadi. Bahkan tak segan mengusir dan membunuh para penduduk asli Kerajaan Padang Sabana. Mereka sampai harus mengungsi di kerajaan kami.
“Kita tidak akan menyerang mereka sekarang, kita hanya perlu mempersiapkan segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kapan saja. Sebab Kerajaan Ular Pasir telah bersekutu dengan Fajar Emas, yang mana—menurut beberapa informasi kami—mereka mendapat pasokan dana dan juga persenjataan yang sangat banyak. Kita juga sebenarnya tengah mengembangkan teknologi baru. Dan kuharap, bantuan dari kalian nantinya juga akan sangat membantu. Kalian akan diberi bekal ilmu dan dilatih layaknya para Prajurit Bintang.”
Percakapan serius itu berlangsung cukup singkat, tetapi sangat membekas di pikiran masing-masing. Merasa terhormat, sekaligus ngeri. Ancaman perang mulai membayangi kehidupan Zet, yang seharusnya bisa lebih santai dan menyenangkan sebagai kawula muda.
[...]
Seperti yang dijanjikan oleh Putri Catriona, Zet ditandingkan lagi di palagan Kubah Malam pada keesokan harinya. Zet mengira arena itu akan dihadiri oleh banyak warga seperti rumahnya kemarin. Akan tetapi, jajaran para Jenderal, termasuk keluarga kerajaan Kubah Malam ini, sudah terasa sangat mengintimidasi. Apalagi Zet masih buta mengenai kemampuan lawan-lawannya yang sekarang sudah berjajar di sekeliling arena berbentuk lingkaran. Menghadapi mereka tentu sama sekali berbeda dengan melawan para sepupu Dionisos, yang tiap tahun jurusnya hanya itu-itu saja.
Raja Taraghlan berdiri dari tempat duduknya. Zet dan para peserta lain melihat dari bawah. “Pertarungan ini bukan pertarungan biasa. Melainkan masing-masing dari kalian akan memperebutkan satu buah relik berbentuk telur emas. Yang kutaruh di tengah-tengah arena. Kalian boleh mendapatkannya dengan menggunakan teknik dan senjata apa pun—asal jangan ada yang saling bunuh, ya.” Raja itu terkekeh sebentar. “Nah, setelah dapat, kalian juga masih harus mempertahankan telur itu supaya tidak direbut oleh peserta lain, sekurang-kurangnya selama tiga menit. Jika dalam tiga menit tidak ada yang berhasil merebutnya, ia akan keluar menjadi pemenang. Pemenang bisa mendapat hadiah apa saja yang ia minta. Dan siapa pun yang keluar dari lingkaran arena, dinyatakan gagal.”
Semangat Zet ikut terbakar, terutama ketika gong dibunyikan dan kesepuluh remaja itu berseru sambil berlari. Mendadak suasana menjadi chaos. Seperti yang ia duga, Shem dengan mudah bisa menyikut yang lain dengan tubuh berototnya. Namun, seseorang membuat ia tersandung dengan batu yang tiba-tiba muncul dari bawah. Shem harus berjibaku dengan pengendali tanah rupanya. Mendapat kesempatan yang bagus, Zet segera berlari menuju telur emas. Akan tetapi seseorang menubruknya dari belakang. Pemuda tersebut memukul pipi Zet, tetapi Zet memukulnya lebih keras. Zet harus menghindari serangan lawan, sementara Ingrid sudah berhasil menyentuh telur itu, walaupun banyak juga yang berkerumun, berusaha merebut benda tersebut.
Telur pun menggelinding jatuh ke kaki seorang perempuan. Dengan segera, ia mengambilnya dan membawa lari. Para remaja mengejarnya ke tepian arena, tak terkecuali Zet. Namun, perempuan itu tahu-tahu mengeluarkan api dari tangannya. Tak ada yang mengira, dua orang terlempar ke luar arena. Api menyembur ke sana ke mari, membuat semua orang mundur dan melindungi diri.
Orang-orang di bawah sana berusaha melompat dan merusak pusaran air milik Zet, tetapi nihil. Zet setidaknya merasa sedikit aman. Ia melirik jam dinding raksasa yang ada di atas kursi raja. Ia tak yakin bisa mempertahankan pusaran air tersebut selama tiga putaran jarum merah. Ia butuh mana lebih banyak. Mata Zet menangkap wajah ayahnya yang menggeleng, tampak tidak setuju. Namun, Zet tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan emasnya, meski sebagai gantinya, ia akan dimarahi ayahnya habis-habisan. Apa boleh buat.
Saat Zet sedang asyik memusatkan pikiran, sebuah bumerang tahu-tahu mengenai pelipisnya. Zet kehilangan keseimbangan, dan akhirnya jatuh dengan air yang tercerai-berai ke mana-mana. Zet masih punya waktu dua menit lagi, dan orang-orang dengan brutal menarik pakaian, serta mengambil telur itu.
“Sial!” umpatnya ketika orang-orang itu mencampakkannya ke tanah.
Zet memutuskan untuk benar-benar menggunakan kekuatan rahasia arcanum sekarang. Ia berdiri dan berlari mengejar telur tersebut. Setiap peserta yang dilewatinya sempat mengadang, tetapi dengan mudah bisa Zet singkirkan. Sihir pengendalian tanah pun juga tak mempan buatnya; justru Zet menyemburkan air dari samping dan dengan segera membuat pengendali tersebut terpental jauh.
Pukulan Shem bisa ia patahkan dalam satu kali gerakan tangan. Ingrid yang memegang bumerang, pun tak bisa berkutik ketika senjatanya patah dibelah es. Semua orang tampak lemah seiring menguatnya Zet. Pemuda itu mendapat mana dan juga stamina dari segala arah. Pusaran air datang lagi, dan kali ini membuat semua orang bertemperasan menjauh karena bentuknya yang menyeramkan. Berkali-kali lipat lebih hebat dari sebelumnya.
Zet sendiri tak tahu apa yang terjadi, tetapi kekuatan yang ia dapatkan melebihi apa yang ia inginkan. Langit tiba-tiba jadi mendung, halilintar menyebar ke mana-mana. Hujan turun deras di tengah hari yang sebelumnya terang benderang. Dedaunan dari pohon kehidupan di atas sana bergemeresak mengerikan diterpa angin badai.
Ada ledakan energi yang terjadi di dalam diri Zet. Pemuda itu tak lagi fokus mengejar telur emas, tetapi sibuk mencari cara bagaimana agar kekuatan arcanum itu bisa berhenti. Air yang berputar di bawah kakinya ia arahkan untuk menjauh dari kerumunan. Arcanum tak boleh menerima lebih banyak mana dan stamina lagi. Hampir selama lima menit, efek dari kekuatan itu berlangsung. Dan selama itu pula para prajurit sibuk mengevakuasi keluarga Lewis dan para tamu penting. Perlahan, tetapi pasti, akhirnya air pun surut. Sinar terang dari dalam baju Zet meredup. Pemuda itu turun kembali ke arena dengan wajah gugup, disambut dengan ekspresi ngeri dari seluruh peserta. Telur emas pecah di depan mata Zet. Ia menoleh kepada Ayah yang tengah menyatukan kedua alis di atas sana. Tamat sudah riwayatnya.
[...]
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-