The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
19 : PANGERAN BARRA



Tak berselang lama, semua orang dikumpulkan kembali ke dalam arena. Wajah Zet sedikit tertunduk sementara remaja yang lain masih berusaha menjaga jarak darinya. Mereka takut Zet akan meledak seperti barusan.


Raja Taraghlan kembali ke tempat duduk semula. Ia memandang segan kepada para tamu, terutama kesepuluh remaja di dalam arena. “Aku telah melihat sendiri. Aku akui, kalian semuanya hebat dengan kemampuan masing-masing. Namun, karena namanya permainan tetaplah permainan, jadi hanya ada satu orang yang keluar sebagai pemenang, seperti yang sudah dijanjikan di awal.”


Semua orang tentunya bisa menebak siapa orang yang dimaksud sang raja. “Zet, majulah dan sebutkan keinginanmu, Nak,” titah sang Raja.


Pemuda itu tampak berpikir sejenak, mata ungunya sempat melirik ke sana ke mari. Agak sungkan, ia berlutut dan berkata, “Saya ingin mendapat rekomendasi dari Anda, supaya bisa masuk ke perguruan tinggi Langit Angkasa, Yang Mulia.”


Sang raja mengerutkan kening, lantas tertawa jenaka. “Dengan kekuatan sebesar itu, kau bisa masuk dengan mudah, bahkan tanpa embel-embel plakat atau bantuan apa pun dariku. Lagi pula, Zet, kalian bersepuluh sudah pasti akan aku biayai untuk masuk perguruan terbaik yang kalian minta. Ayolah, kau harus memikirkan hal lain; uang, makanan enak, pakaian mahal, asal jangan putriku, ya.” Raja itu mengerling lalu tertawa lagi, membuat Putri Catriona menoleh dan protes sambil tersipu malu.


Jujur Zet sesungguhnya agak kecewa dengan pilihan tersebut. Namun ia memikirkan satu hal, lalu memantapkan diri untuk memintanya. “Saya ingin bertemu dengan ibu saya.”


Banyak orang yang belum paham akan hal tersebut. Sebagian dari mereka tentu tidak mengetahui bahwa Zet adalah putra kedua dari Rhea, sang Master Arcana yang menjadi tahanan di negeri ini. Namun tidak dengan sang raja, yang kini berhenti bercanda. Permintaan tersebut akan menjadi masalah yang cukup dilematik.


[...]


“Aku tidak tahu harus bilang apa,” ujar Aeron begitu ia dan putranya dipersilakan kembali ke kamar tamu.


“Ayah tidak harus berkata apa-apa,” Zet menunduk memegangi liontinnya, “aku juga sudah paham.”


Aeron mendengus pelan sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Ya, aku sengaja datang kemari karena ingin menilaimu. Dan ternyata hasilnya sudah bisa kutebak. Kau akan menggunakan arcanum itu, lagi dan lagi. Aku sengaja membiarkanmu membawanya, bahkan di arena sekali pun. Sebab aku masih berharap kau akan sadar dengan sendirinya, Zet. Kau bukan anak kecil lagi, yang harus selalu aku beri tahu mana yang baik dan mana yang benar.”


Mendengar pria itu mencerocos, Zet memutar bola mata. “Iya, Ayah, tolonglah. Lagi pula, kalau aku tidak menggunakannya, aku bisa kehilangan kesempatan bagus.”


“Satu kekalahan tidak akan mendefinisikanmu sebagai seseorang yang lemah. Tapi satu kecurangan akan langsung membuatmu jadi orang yang tidak terhormat.”


Zet mendecap. “Tidak ada yang bilang aku tidak boleh pakai arcanum, bahkan Raja Taraghlan sekali pun. Itu bukan tindakan curang!”


“Itu karena belum ada yang tahu mengenai legenda arcanum dan kekuatan yang bisa ia lakukan terhadap orang lain.” Kali ini Aeron berbisik, tampak takut ada yang mendengar percakapan mereka dari luar. “Dan tindakan cerobohmu tadi telah membuka peluang bagi orang-orang yang mengerti tanda. Mereka pasti akan mencarimu.”


Mata Zet dengan berani menatap ayahnya. “Setidaknya lihatlah sisi baiknya, Ayah! Aku bisa bertemu Ibu hari ini. Tidakkah kau merasa rindu, atau memikirkannya barang sedetik pun?”


Aeron kehilangan kekukuhan dari pendiriannya sendiri. Ia pun tak bisa mencegah putranya itu pergi dari kamar. Pemuda tersebut membanting pintu, meninggalkan ayahnya dalam renungan.


[...]


Zet meloncat naik dan berniat menghabiskan waktu sorenya di balkon perumahan yang padat. Ketika matahari sedang merangkak turun di ufuk barat, kota ini menampilkan keindahan yang lain. Paduan cahaya merah dan oranye menimpa permukaan perunggu. Gemerlapan, menghibur pikiran Zet yang sedang tidak keruan. Apakah mungkin Zet bisa melepaskan arcanum itu seperti kata Ayah, sementara Yun Lao bilang dunia sedang sangat membutuhkannya?


Suara yang asing. Zet menoleh dan mendapati sosok lelaki sebaya dengan dirinya. Bedanya ia punya kedudukan yang jauh dibandingkan dengan Zet, membuatnya harus membungkuk hormat. “P-Pangeran Barra, Anda mencari saya?”


Pangeran Barra mendengus sinis. “Jangan bicara seolah aku ini kakek-kakek tua. Umur kita sama. Panggil saja Barra.”


Zet berdiri dan masih berusaha mencerna keadaan. Sebelumnya ia tak pernah sekali pun disapa oleh pangeran itu. Ia pikir sang pangeran punya pekerjaan lain, dan tentu tidak akan sudi melakukan remeh-temeh dengannya.


Pangeran itu menuju pagar balkon, membuat rambut pirangnya yang dibelah tengah bergoyang terkena semilir angin. “Dengar, aku tahu kita belum pernah bicara sebelumnya. Tapi sihirmu saat di arena tadi membuatku sangat tertarik. Aku tahu kau adalah pengguna arcanum air.”


Sekarang Zet mengerti alasannya. Benar kata Ayah kalau arcanum itu akan menarik orang. Zet punya firasat yang tidak baik dengan kehadiran Pangeran Barra. “M-maksudnya? Aku tidak tahu. Arca ... apa?”


“Tidak usah pura-pura berlagak bodoh. Perlihatkan padaku sekarang. Atau aku sendiri yang akan mencari tahu.”


Pedang terhunus. Zet tak menduga pangeran akan mengancamnya. Zet pun mundur dan tidak mau berusaha tampak mencolok. Ia menghindari ayunan logam runcing tersebut. Meloncat bertengger di pagar, dan berguling ke lantai. “T-tunggu. Aku tidak paham maksudmu! Kenapa kau tiba-tiba menyerangku?!”


Namun pangeran gila itu tidak mau tahu. Ia tidak akan berhenti sampai Zet terdesak dan mengeluarkan kekuatannya. Terpaksa, Zet harus melempar dan menyiram sang pangeran dengan air dari ember tanaman. Lelaki itu masih juga tak peduli bahkan setelah bajunya basah kuyup, lantas mengayunkan pedangnya dan hampir menggores jakun Zet. Beruntung Zet masih sempat meloncat ke belakang dan menendang Barra agar ia menjauh.


“Ayolah! Keluarkan arcanum-mu, dasar pecundang!”


Zet mulai kesal, bukan hanya karena mulut pangeran itu yang kasar, melainkan juga karena pemuda berambut pirang itu mengayunkan pedangnya lagi, padahal Zet tidak punya mood untuk bertarung sekarang. Beruntung Pangeran Barra bukan petarung yang terlalu andal. Ia berkali-kali jatuh ke lantai akibat tendangan dan hantaman air dari Zet yang sebenarnya hanya untuk menghindari pertikaian tak berarti tersebut.


Pangeran Barra berdiri sambil terengah-engah. “Kau pasti sudah menggunakan teknik itu untuk membuatku lemah, ya kan?!”


Zet dalam hati ingin berteriak, kenapa Barra tidak mengakui saja bahwa dirinya memang sangat payah? Namun pengetahuan Barra tentang arcanum air membuat Zet penasaran. Bagaimana Barra bisa tahu sampai sejauh itu?


Barra berusaha menarik baju Zet. Tebakannya cukup jitu, tetapi Zet tidak akan membiarkan kalung itu terekspos. “Maaf!” teriaknya sambil memukul wajah Barra hingga ia terantuk tembok.


Sang Pangeran mengusap ujung bibirnya yang berdarah. “Sialan kau. Kau sudah mencurangi permainan Ayah dengan arcanum itu!”


“Kau sudah gila atau bagaimana?” Zet menangkap lengan Barra yang terus berusaha meraih baju Zet, lalu memelintir lengan itu dan menekuknya ke punggung Barra sendiri. Terakhir yang Zet lakukan adalah membuat pangeran itu terjerembap jatuh ke lantai dengan posisi tertelungkup dan tangan tertekuk di belakang. Lalu Zet menindihnya dengan satu kaki. Zet tahu itu sangat tidak sopan, tetapi ia merasa perlu memberi Barra sedikit pelajaran.


“Hentikan!”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-