
“A-apa maksudmu, Nina?” Kimiko melangkah mundur sambil mengangkat kedua tangannya. “Aku tak kenal Fasid’afa, entah itu nama aslinya atau bukan!”
“Jangan banyak alasan! Kalian berasal dari sekte yang sama, itu sudah cukup untuk membuktikan keterlibatanmu dalam kasus pembusukan dan perusakan hutan ini! Jadi menyerah sajalah dan ikut kami baik-baik ke kampus! Para petinggi di sana pasti akan menginterogasimu!”
Malah Filian yang maju dan pasang badan antara Nina dan Kimiko. Ia merentangkan kedua tangannya dan menghardik Nina, “Tunggu, jangan main ringkus dulu! Kalau Kimiko memang bersekongkol dengan Fasid’afa, ia tak mungkin ikut kita melawan rekannya sendiri!”
Kimiko menimpali, “Ya! Tugas Kalajengking Hitam hanyalah sebagai pengawas dan mata-mata. Kami hanya melenyapkan sosok-sosok berbahaya saja! Fasid’afa pasti adalah pengkhianat sekte yang melakukan aksinya demi ambisi pribadi. Aku hanya pemula yang baru bergabung di sekte! Tugasku di Langit Angkasa hanya mengawasi Zet saja, dan aku membantunya karena ternyata ia adalah orang yang ramah dan menyenangkan, jauh dari kata ‘berbahaya’!”
“Kau bohong, Kimiko!” teriak Nina. “Dan Filian, kau amat bodoh karena membela si pembunuh gelap itu! Andai aku tak melihat tato Kimiko tadi, ia pasti sudah membunuh Bu Minerva!”
Mendengar suara-suara perdebatan itu, Zet memaksa dirinya bergerak dan ambil posisi untuk melindungi Minerva Kaleos. “Kita tak bisa main hakim sendiri. Sebaiknya kita bawa pulang dulu Bu Minerva dan membiarkan jenazah Fasid’afa di sini sebagai bukti. Kimiko, ikutlah kami baik-baik kembali ke kampus. Biar Rektorat Langit Angkasa saja yang menentukan apakah kau terlibat dalam kasus ini atau tidak.”
Kimiko menggeleng cepat. “Tidak. Terus terang aku percaya padamu, Zet dan kini juga pada Filian karena sikapnya itu. Tapi aku tak percaya pada pihak Rektorat karena mereka bakal sama saja dengan Nina, menganggapku bersekongkol dengan si pelaku karena tato kami yang sama.”
Karena dirinya sedang lemah-lemahnya, Zet terpaksa menghela napas panjang. “Kalau begitu apa boleh buat. Lakukanlah apa yang harus kaulakukan, Kimiko Maru. Karena aku dan Filian masih lemah dan harus membawa Bu Minerva ke tempat yang aman, biar Nina saja yang mengejarmu. Selebihnya kuserahkan pada keadilan dari para dewa.”
“Terima kasih, Zet. Aku tak akan pernah melupakan ini.” Sambil mengatakannya, Kimiko langsung ambil langkah seribu. Dengan kecepatan luar biasa ala ninja, gadis itu mendoncang dan melarikan diri, menjauh dari ketiga rekannya.
“Hei, tunggu! Agnios!” Bukannya lari mengejar, Nina malah menembakkan bola api ke arah si gadis ninja. Dengan mudah Kimiko menghindari bola api itu dan menghilang di antara pepohonan nan rimbun.
Tahu dirinya tak akan mungkin bisa mengejar, Nina mengentak-entakkan kakinya sendiri di tanah dan menghardik Zet, “Kau ini bagaimana, Zet? Kau sengaja membiarkannya lari!”
“Justru aku melakukan itu untuk menyelamatkanmu, Nina,” jawab Zet. “Andai Kimiko memang bersekongkol dengan Fasid’afa, ia pasti sudah mengkhianati kita sejak awal dan kita pasti sudah berkalang tanah sekarang. Lagipula, kurasa kau begitu bernafsu meringkus Kimiko karena kau amat bermusuhan dengan Sekte Kalajengking Hitam. Apa kau bisa menjelaskan lebih lanjut tentang hal itu kepadaku?”
“Ya, tapi nanti saja, saat kita sudah kembali ke kampus,” ujar Nina sambil menyimpan tongkat sihirnya kembali ke tas bawaannya. “Nanti kau akan tahu, entah Kimiko bersalah atau tidak, Sekte Kalajengking Hitam harus dibasmi sampai ke akar-akarnya.”
\==oOo==
Tak terasa, dua hari telah berlalu sejak Zet kembali dari Hutan Regenerasi.
Pasalnya, setibanya di lingkungan kampus Zet dan Filian jatuh pingsan. Terpaksa Nina yang minta bantuan. Para petugas dan mahasiswa lain di tempat segera membawa keduanya beserta Minerva Kaleos ke rumah sakit di lingkungan Universitas Langit Angkasa.
Saat Zet membuka mata, ia baru sadar kalau ia telah sempat pingsan dan tertidur amat lama. Dirabanya kalung dan sabuknya. Kedua arcana, air dan kayu masih ada di sana. Menyebalkan.
Satu suara melantunkan komentar dari ranjang lain di sebelah ranjang Zet, “Ah, rupanya kau juga sudah bangun, Amazeta. Syukurlah.”
“Justru aku kini sudah segar karena beristirahat lebih dari cukup, walaupun tempatnya sama sekali tak bisa dibilang nyaman.”
“Ah ya, benar juga.” Zet tertawa renyah. Bisa dibayangkan olehnya betapa bau dan pengap bila berada dalam perut monster raksasa.
“Terima kasih telah menyelamatkanku dari Fasid’afa, Zet,” ujar Minerva tulus. “Pertunjukkan kesaktian dan perjuangan kalian yang luar biasa itu membuktikan kalian layak mendapatkan penghargaan tertinggi dari universitas.”
“Ini sudah tugas kami, bu. Tak usah terlalu dibesar-besarkan.”
Sesaat kemudian Zet menjentikkan jarinya. “Oh ya, aku baru teringat sesuatu,” katanya sambil bergelagat hendak membuka sabuknya. “Ini, kukembalikan arcanum kayu pada ibu.”
Minerva mengangkat satu tangan ke arah Zet. “Tak usah, Amazeta. Arcanum kayu sejati telah memilihmu untuk menjadi pewarisnya yang baru. Lagipula, sejak semula aku memang ingin menitipkan arcanum kayu padamu sebagai hadiah kelulusanmu kelak. Tak kusangka aku melakukannya lebih awal gara-gara kesalahanku sendiri.”
“Maksud ibu?”
“Sebagai musafir antar ranah, aku memiliki kekuatan setara dewa, namun aku bukan maha benar. Aku salah karena mengira bisa memulihkan Hutan Regenerasi setahap demi setahap dengan arcanum kayu saja. Aku tak sampai berpikir untuk menggabungkan kayu dan air, memakai awan dan hujan untuk menyucikan, menyembuhkan seluruh hutan sekaligus dalam waktu singkat!”
“Yah, itu hanya kebetulan saja, kok,” ujar Zet merendah. “Pemikiran spontan saat terdesak.”
“Ya, aku sendiri ingin merasakan itu lagi, seperti dulu...” Minerva cepat-cepat meralat ucapannya yang melantur. “Oh ya, karena kau adalah calon Master of Arcana, kuberitahu kau tempat kau bisa menemukan arcanum berikutnya, yaitu arcanum tanah.”
“Di manakah itu?” tanya Zet.
“Menurut informasi yang kudapat dari rekanku, sesama musafir yang bernama Narayanan Singh, arcanum tanah tersembunyi dalam sebuah kuil kuno di pegunungan di tengah gurun pasir di Negeri Ular Pasir, itu saja. Informasi selebihnya yang lebih rinci akan kauketahui saat kau menemui Singh di ibukota Ular Pasir.”
Mendengar nama itu disebut, Zet terenyak. “Singh,” gumamnya. Ia pernah bertemu orang itu di Negeri Kubah Malam. Tanpa sadar Zet bertanya, “Mungkinkah dulu ibuku menyerahkan semua arcanum itu pada Singh, lalu Singh mengembalikan mereka ke tempat asal masing-masing?”
“Kurasa ya. Tapi menurutku arcanum kayu yang ia serahkan padaku itu bukan berasal dari wilayah Langit Angkasa. Ia sengaja menitipkan itu padaku supaya suatu hari aku akan menyerahkannya lagi pada calon yang terbukti layak untuk menjadi pewaris arcanum kayu.”
Zet hanya terpana. Ternyata semua ini bukan kebetulan semata, melainkan bagian dari sebuah rencana yang telah dipersiapkan dengan seksama. Membuka jalan bagi Master of Arcana baru.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-