
Esok paginya, Yun Lao menunggui Putri Catriona berpamitan kepada Zet. Putri Catriona dan Jenderal Panthera harus pulang dulu, supaya orang-orang kerajaan tidak mencurigai mereka. Putri Catriona juga bilang dia akan kembali secepatnya. Zet bisa memanaskan kembali makanan kering dan memakai acar di dapur sementara ia pergi untuk beberapa saat. Ada sekantung uang yang diberikan kepada Zet, cukup untuk beli keperluan sehari-hari. Dan terakhir kali, Catriona mengingatkan lagi agar Zet lebih berhati-hati jika pergi ke pasar. Jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama seperti kemarin. Zet hanya ketawa saja saat ia diperlakukan seperti anak kecil. Namun sosok Catriona segera mengingatkan ia kepada ibunya. Bagaimana keadaan Rhea sekarang, di manakah ia berada? Dua ekor kuda poni cokelat terpacu menjauh, meninggalkan Zet di pondok asri itu.
“Kau yakin tidak ingin coba mengikuti mereka lalu melihat apa yang sedang direncanakan kerajaan ini?” tanya Yun Lao dengan nada bicara yang skeptis.
“Apa?” Zet masih saja heran dengan sikap keras kepalanya si hantu itu, bahkan idenya itu terdengar menakutkan. “Tidak, tidak! Menguntit itu namanya. Sudah kubilang, ‘kan, aku percaya kepada mereka. Titik.”
Yun Lao mengurut janggutnya sambil mendesah. “Hmmm, kalau begitu aku yang akan melakukannya sendiri.”
Tentu saja Zet tidak bisa mencegah seorang hantu keras kepala untuk pergi, memegangnya saja sudah mustahil. Ia hanya bisa berharap Yun Lao tidak kelewatan.
[...]
Setibanya mereka di kastel, Yun Lao mengamati aktivitas keseharian yang sesungguhnya hanya biasa saja. Gerbang kerajaan dibuka lebar saat Putri Catriona dan Jenderal Pan datang, para prajurit dan rakyat jelata menyambut dan menyapa dengan hormat dan sopan, serta hal remeh temeh lain yang biasa ia temui di mana-mana. Yun Lao harus membatasi aktivitas, ketika itu sudah masuk ranah pribadi. Walaupun seorang hantu, ia pun masih punya perasaan salah saat melihat seorang perempuan yang usianya jauh lebih muda darinya melepaskan pakaian menuju kamar mandi.
Oleh karena itu, Yun Lao mencoba mencari Raja Taraghlan. Dia tidak menemukan sosok raja tersebut, kecuali sedang bercumbu mesra dengan Sang Ratu di kamar. Mereka menggunakan alat-alat yang aneh. Hal terburuk dari pekerjaan menjadi mata-mata adalah menjadi saksi dari segala kemungkinan yang bisa dilakukan manusia. Dan ia tak mau itu terjadi. Yun Lao hanya bisa berharap kali ini Pangeran Barra akan ia pergoki menggunakan liontin air milik Zet di kamar, atau ruang bawah tanah kerajaan, atau mungkin loteng, kalau tidak di kandang kuda. Sayang sekali, hantu itu tak menemukan Pangeran Barra di mana pun. Barang kali Yun Lao memang harus menunggu adanya panggilan rapat Jenderal, saat semua anggota petinggi kerajaan mendiskusikan sesuatu yang penting. Yun Lao juga harus kecewa melihat Jenderal Pan cuma membaca buku di kamarnya.
Bosan, Yun Lao duduk menepi di atas atap bangunan kastel berbentuk persegi. Cukup tinggi untuk memandangi anak-anak yang sedang asyik bermain dan berlarian ke sana ke mari di tanah lapang. Yun Lao terkadang menjadi sangat iri begitu melihat sesuatu yang hidup. Pikirannya yang sakit akan mencoba mengingat kembali masa lalu, saat Yun Lao masih memiliki jasad yang sehat. Kala itu, istrinya, Shui QingXi, tengah hamil umur tujuh bulan.
“Sebelum pergi, aku ingin kau memikirkan nama yang bagus untuk bayi kita.” QingXi memandang suaminya dengan penuh makna. Ia sesungguhnya tak akan pernah sanggup memikirkan bagaimana hari-hari tanpa Yun Lao berada di sisinya. Ia terus mengendapkan perasaan itu selama beberapa minggu terakhir.
QingXi tersenyum sembari mengangguk haru. Kecupan selembut angin musim semi itu seolah masih bisa Yun Lao rasakan hingga saat ini. Kecupan terakhir yang memberi kekuatan Yun Lao untuk pergi berperang.
Yun Lao turun bertugas sebagai Komandan Pasukan pada saat Fajar Emas mengalami perang sipil, beberapa saat setelah peperangan Raja Utara. Pada mulanya, muncul sekte religius sesat yang memberikan pengaruh buruk kepada masyarakat untuk tidak percaya kepada pemerintah dan berniat menggulingkan takhta kekaisaran. Belakangan diketahui kalau sekte tersebut mendapat pengaruh besar dari sekte Salju Putih yang berada jauh di Selatan. Para penyihir itu menggunakan ramuan mematikan yang belum ada obatnya.
“Atas nama Kaisar Zhang!”
Seruan Yun Lao tersebut diikuti oleh seratus prajurit yang tersisa, membakar semangat mereka untuk maju. Kala itu, semua orang tahu pemimpin mereka, Kaisar Zhang yang hebat dan adil, hanya tinggal nama. Kaisar Zhang meninggal setelah racun di bibir istrinya memasuki kerongkongannya. Namun, fakta tersebut tak membuat para prajurit meragu. Justru ada kekuatan tersendiri ketika mereka sama-sama ingin membela kebenaran. Walau kebenaran itu amat pahit dan mematikan seperti racun yang merambat di pembuluh nadi mereka. Panah dan parang menancap menembus baju logam, mengalirkan cairan pembunuh yang bekerja sangat cepat dan mangkus.
Yun Lao dengan pedang bercucuran darah menyaksikan para prajuritnya tumbang satu per satu. Mata mereka memerah dan melotot dengan mulut menyemburkan busa. Saat menyabetkan pedang memenggal kepala seorang remaja belia, Yun Lao akhirnya bisa merasakan, perang melawan monster ternyata jauh lebih mudah ketimbang melawan rakyat mereka sendiri. Rakyat yang pada hari-hari biasa ia bantu untuk menemukan anjing hilang, saat seseorang tiba-tiba mengirimkan bunga ke tempat kerja setelah berhasil menangkap pembunuh ayahnya, atau sesederhana saat Yun Lao membantu seorang anak tercebur di air got.
Namun gambaran indah itu kini menjadi buram. Yun Lao terengah-engah, letih menyerbu sendinya, di tengah-tengah tumpukan mayat dan anak panah, dan teriakan nyalang di sana-sini. Terakhir yang bisa ia rasakan hanyalah dingin. Lancipnya tombak menembus kulit leher. Salju yang turun perlahan dari langit seolah meluruhkan seluruh panas badannya. Mulut Yun Lao membeku, kesulitan hanya untuk menyebutkan satu nama. Tinggal ingatannya saja yang masih bekerja, dan berbaik hati menampilkan wajah QingXi di tengah-tengah badai Salju Putih. Harapan Yun Lao yang dulunya sangat banyak, kini berkumpul menjadi satu. Ia hanya punya satu harapan terakhir, bahwa istrinya itu akan baik-baik saja, sehingga bayinya selamat. Walaupun Yun Lao tak akan menyaksikan kejadian tersebut.
Sinar mentari yang menghangat membuat Yun Lao mampu memejamkan matanya yang perih, membuat ia kembali duduk di atas atap persegi Kerajaan Kubah Malam. Pria itu pun berdiri dan sadar penuh. Hidupnya dulu dan sekarang memang benar-benar berbeda. Akan tetapi masih memiliki satu kesamaan. Ia punya pekerjaan.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-