The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
66: MINERVA KALEOS MENGHILANG



Upacara penyerahan hadiah dan piala bagi para juara jadi seperti mimpi buruk saja bagi Zet.


Berdiri berderet-deret di panggung tingkat bawah sebagai juara dua dan dikalungi medali perak belum apa-apa, karena setidaknya ia dan timnya mendapatkan sesuatu, bukan harus menanggung malu saja.


Yang lebih parah adalah kenyataan bahwa tim Zet, Empat Musim kalah karena kesalahan Zet yang lemparan cakramnya kurang akurat, sehingga gagal mencetak gol dalam babak adu penalti.


Namun yang paling menyakitkan adalah pengumuman terkahir dari Rektor Universitas Langit Angkasa, Minerva Kaleos. “Dalam kesempatan ini pula kami, atas nama Rektorat Universitas Langit Angkasa memberi penghargaan pada pemain terbaik dalam kejuaraan tahun ini, yaitu... Rick Oakes!”


Zet menoleh ke arah Rick. Ingin rasanya ia meninju wajah si tampan menyebalkan yang sedang tersenyum lebar itu. Sebenarnya memang bukan salah Rick kalau tim Empat Musim dipaksa bermain habis-habisan oleh tim Kubah Malam, sehingga didera bencana dan cedera, tak bisa menampilkan permainan terbaik mereka dalam pertandingan final.


Tak ada alasan bagi Zet untuk menuduh Rick telah menghasutnya atau semacamnya. Kualitas satu tim tak hanya ditentukan oleh teknik permainan dan kemampuan para pemain di tim inti, tapi juga stamina, daya tahan terhadap cedera dan pengalaman tanding para pemain cadangan. Karena itulah, Empat Musim harus mengakui keunggulan Fajar Emas dalam bidang-bidang terakhir itu.


Bagai sudah jatuh, tertimpa tangga, datanglah kabar buruk kedua. “Karena Rick Oakes sudah masuk dalam tim inti Langit Angkasa dan kami sedang mencari pemain cadangan, pilihan jatuh pada urutan kedua pemain terbaik, yaitu Argyle dari tim Kubah Malam.”


Zet terkejut bukan kepalang. Ingin ia protes dengan berkata kalau mental Argyle tak selamanya stabil dan ia cenderung “menggila” bila terdesak. Namun, teringat janjinya pada Kjelde dan rasa hormatnya pada Rektor Minerva, Zet mengurungkan niat itu dan diam saja.


Mungkin sekali tipe pemain yang dibutuhkan untuk cadangan itu adalah tipe pengumpan. Kalau yang dibutuhkan adalah penjaga gawang, pasti Seth McCormick dari Fajar Emaslah yang akan terpilih. Andai yang dicari adalah tipe penyerang, barulah Zet punya peluang untuk terpilih.


Saat Zet dalam kondisi galau dan sedang menyendiri saja malam itu di taman, hantu Yun Lao muncul di hadapan Zet, berpangku tangan dan pasang wajah tanpa ekspresi.


Zet menatap penampakan itu dengan dahi berkerut. “Ya, ya, Guru pasti ingin bilang ‘Nah apa kubilang’ dan segala khotah tentang keharusan mengumpulkan kelima arcana sejati itu, kan? Juga menjadi lebih kuat dengan berlatih tenaga dalam lebih keras, bla, bla, bla...”


“Aku tak akan mengatakan itu,” kata Yun Lao.


“Lantas apa?”


“Aku hanya ingin mengingatkanmu kembali, Amazeta. Setiap kali pikiran dan hatimu terpusat pada atau mulai melenceng dari arcana dan tujuan kita, aku hadir untuk membimbingmu atau menegurmu. Kau baru sadar kalau beberapa bulan terakhir kau seakan ‘terbebas’ dariku, bukan? Kau berlatih tenaga dalam ala kadarnya dan membuang waktu sia-sia dengan menggeluti olah raga bernama Odyscus itu. Kini, pikiranmu kembali terpusat pada arcana dan aku muncul lagi. Jadi, tak usah bertanyapun aku sudah bisa menebak apa yang telah terjadi.”


“Kalau begitu, apa yang Guru ingin aku lakukan sekarang?”


“Perlu kuingatkan sekali lagi, alasanku membiarkan kau kuliah di Universitas Langit Angkasa adalah karena aku tahu arcanum kayu ada di wilayah ini. Kau jelas belum mendapatkannya, tapi apakah kau sudah tahu di mana arcanum itu berada?”


Zet berbohong, “Belum, Guru.”


Yun Lao menghela napas seolah-olah ia masih hidup. “Kalau begitu, misi utamamu sekarang adalah mencari dan mendapatkan arcanum kayu. Caranya terserah kau, tapi ingat, kali ini aku akan terus membimbing dan mengawasimu.”


“Bagaimana jika arcanum itu dipegang atau jadi bagian dari sosok yang jauh lebih kuat dan lebih sakti daripada diriku? Apa yang harus kulakukan?”


“Berlatih lebih keras daripada dewa untuk mendapatkan kekuatan dewa,” jawab Yun Lao. “Bilamana itu tak bisa tercapai dalam waktu singkat, kau harus menghalalkan segala cara.”


“Termasuk berkhianat? Meraih kepercayaan dari sosok itu lalu mengkhianati kepercayaan itu? Menikamnya dari belakang?”


“Ya. Demi arcana, segalanya baik, halal dan diperbolehkan. Demi tujuan besar, kita harus berhati keji dan berjiwa tega. Biar nanti segala perbuatanmu itu kautebus dengan mengamalkan kebaikan sebanyak-banyaknya sebagai Master of Arcana.”


Zet terenyak. Jadi ia harus berkhianat pada Minerva Kaleos, pemegang arcanum kayu saat ini? Mengkhianati Rektor yang cukup ia hormati?


Pasti ada cara lain, cara terbaik untuk mendapatkan arcanum kayu tanpa harus menghalalkan segala cara. Untuk itu, Zet harus menunggu kesempatan yang tepat dan terbaik pula, kalau perlu sampai ia lulus kuliah.


Padahal, kalau boleh memilih, Zet lebih memilih terus menggeluti Odyscus saja. Sayangnya pintu menuju cita-cita melestarikan perdamaian dunia lewat olah raga sedang tertutup. Benarkah jadi atlit Odyscus memang bukan takdir Zet?


Kata-kata ibu Zet, Rhea kembali terngiang dalam benak Zet. “Alangkah baiknya bila segala arcanum, rune atau apapun itu tetap berada di tempat masing-masing seperti seharusnya. Itu berarti keadaan dunia kita, Terra Revia benar-benar sudah kembali stabil, damai dan aman.”


 


 


 


 


Setelah kejuaraan Odyscus Antar Mahasiswa Universitas Langit Angkasa berakhir, latihan tim tiap negarapun berakhir. Itu karena yang menyusul kemudian adalah ujian akhir dan libur musim panas.


Jadi, alih-alih berlatih tenaga dalam, seluruh perhatian Zet tersita untuk belajar, mengulang dan menyerap kembali segala pelajaran dari mata kuliah-mata kuliah yang ia pilih. Jangankan dengan Yun Lao, interaksi Zet dengan teman-temannya yaitu Filian, Nina Gnossos dan Kimiko Maru jadi minim pula.


Yang pasti, tak ada kesempatan sama sekali untuk bahkan melihat Rektor Minerva Kaleos. Untunglah Zet berbohong pada Yun Lao mengenai arcanum kayu, kalau tidak, si hantu menyebalkan itu pasti akan menagih pelaksanaan misinya dengan amat sering, mungkin saja di tengah ujian.


Setelah seluruh rangkaian ujian akhir selesai, Zet baru bisa bernapas lega. Namun baru saja itu ia lakukan, Dosen Ilmu Sihir, Kashmir memanggil Zet untuk bicara empat mata di kantornya.


Mungkin selama ini Zet tak terlalu memperhatikan sosok Kashmir. Itu karena ia selalu duduk paling belakang dalam kelas yang ramai dan baru maju saat mempraktekkan sihir.


Namun, di bawah tatapan tajam pria berwajah tirus, berhidung agak besar dan berkumis tipis yang melengkung di ujungnya itu Zet merasa dirinya sedang diperiksa dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.


“Silakan duduk,” kata Kashmir dengan wajah kaku seperti membeku, seolah-olah tengah menyembunyikan sesuatu, entah kepanikan atau semacamnya.


Dengan canggung dan kaku pula Zet duduk di kursi depan meja yang tepat berhadapan dengan sang Dosen Ilmu Sihir.


“M-maaf, Guru Kashmir, ada apakah Guru memanggil saya kemari?” Zet terpaksa mengurai kecanggungannya dengan bertanya dengan berani.


Di luar dugaan, wajah Kashmir yang semula kaku dan seakan ditekuk seribu berubah tersenyum lembut. “Ah, ternyata kau memang benar-benar Amazeta Dionisos,” ujarnya. “Tenang saja, ini bukan masalah hasil ujian akhir, karena punyamu belum selesai kuperiksa.”


Zet menarik napas lega. Sepengetahuannya, ujian Ilmu Sihir adalah yang paling lancar ia jalani, lebih lancar daripada Ilmu Tenaga Dalam.


Itu karena mantra dan gerakan perapalan sihir Aliran Langit Angkasa ajaran Alistair Kane jauh lebih sederhana, lebih mudah dan lebih cepat daripada sihir pengendalian elemen khas Pilar Pualam yang Zet pelajari dari ibunya, Rhea.


Sudah sejak lama Zet menggunakan mantra-mantra Langit Angkasa dalam praktek dan pertarungan, mantra lama nan rumit seakan sudah terlupakan sama sekali.


Guru Kashmir kembali bicara, “Alasanku memanggilmu kemari dan tadi memeriksa, menerawang dirimu dulu adalah karena yang ingin kusampaikan padamu ini amat penting dan rahasia.”


“A-apakah itu, Guru Kashmir?” Zet tersentak, rasanya ia tak akan suka dengan apa yang akan ia dengar berikutnya.


Kashmir bersedekap. “Pertama-tama, kau harus tahu bahwa Rektor Universitas Langit Angkasa, Minerva Kaleos telah menghilang.”


Mata Zet terbelalak. “A-apa?”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-