
Saat seorang pria memasuki ruangan, kelas menjadi senyap seketika. Guru itu meletakkan buku dan berjalan sambil menyatukan tangan di depan perut. Dari pakaiannya yang rapi, sekilas mengingatkan Zet dengan Jenderal Panthera. Bedanya, guru di depan gundul dan menumbuhkan kumis lebat, menyatu dengan jenggotnya yang panjang sampai setinggi dada. Walaupun tampak segarang itu, ia tetap tersenyum membuat ujung kumisnya yang lancip naik, dan kulit sekitar matanya berkerut. “Selamat pagi, anak-anak. Nama saya Guru Kashmir. Saya yang akan mengajar kelas seni sihir.”
Zet awalnya biasa-biasa saja, tetapi begitu guru itu mendekati bangkunya, ia merasa seisi kelas ikut mengintimidasi dirinya. Mereka menatap Zet dengan raut yang hampir sama bingungnya. “Kau Zet si pengendali arcanum air itu, bukan?”
Apakah Guru Kashmir ini semacam cenayang yang bisa meramal orang hanya dalam satu kali pandang?
“Bisakah kau tunjukkan kepada kami, benda ajaib itu, Nak?”
Zet tampak masih ragu. Akan tetapi, karena seisi kelas seolah mengharapkan Zet untuk mengabulkannya, maka ia merogoh tas dan mengambil sebuah kalung. Guru Kashmir memperlakukan liontin berwarna biru laut itu seperti benda bernilai milyaran keping emas. Zet sempat merasa cemas. Untungnya Guru Kashmir segera tersadar dari tatapan terpesonanya, lantas mengembalikan kalung tersebut kepada Zet. “Kau harus bijak menggunakannya, Nak. Atau kita semua akan mati,” tukas Guru Kashmir sambil tersenyum. Kalimat itu sangat tidak cocok dengan nada bicara dan gesturnya yang santai. “Oke, kita akan mulai pelajaran pertama kita mengenai sejarah sihir.”
Rasa lega kembali menyelimuti hati Zet setelah seisi kelas berhenti menjadikannya sasaran pandang, dan mereka pun mulai menaruh perhatian kembali kepada Guru Kashmir. Pria itu tak sedikit pun membuka bukunya, lantas bercerita sambil menggores kapur di papan tulis. Membuat garis-garis waktu. “Sihir adalah ilmu yang sangat tua. Ini dipercaya pertama kali digunakan oleh para suku sungai utama, di Benua Selatan, pada tahun 130 Sebelum Perang Besar. Dari sanalah, ilmu sihir menyebar dan diajarkan secara turun-menurun. Hingga sempat terjadi kekacauan, karena orang-orang yang juga ingin memiliki kemudahan menggunakan sihir berusaha mendekati kelompok eksklusif dan tertutup tersebut. Sihir yang semula dipakai secara terbatas, lama kelamaan dipakai secara luas di masyarakat kita. Hal tersebut membuat lonjakan besar dalam sejarah. Terjadi peningkatan jumlah korban pembunuhan dan kekacauan di sana-sini. Orang-orang menggunakan sihir hanya untuk menyelesaikan sebuah masalah sepele. Dan kalian ada yang tahu kelanjutannya seperti apa?”
Saat Kashmir menggantung pertanyaannya, kelas menjadi sangat hening. Beberapa anak bahkan ada yang terang-terangan tertidur, sampai suara dengkurannya terdengar. Zet merasa ada urgensi untuk mengacungkan tangan.
“Raja-raja memutuskan untuk mengeksekusi seluruh penyihir pada tahun 100 SPB.”
Kashmir tersenyum puas. Zet menurunkan tangan malu-malu. Ternyata ada untungnya juga membaca sejarah di perpustakaan keluarga selama berminggu-minggu dulu. “Tepat sekali, lanjutkan Zet.”
“Hmmm,” Zet bingung menata kalimatnya, “ya, jadi karena para penyihir ... maksudku, tentu saja mereka bisa melawan para raja, dengan sihir mereka yang sangat kuat. Akhirnya, untuk menghindari perang besar, keluarlah perjanjian, satu tahun setelahnya. Perjanjian itu berisi syarat agar hak para penyihir dilindungi sepenuhnya oleh kerajaan. Membiarkan para ahli sihir tetap hidup secara normal, dengan catatan harus ada peraturan mengenai penggunaan sihir di kalangan masyarakat. Dan sampai sekarang, keturunan asli para suku sungai utama banyak yang bergabung menjadi anggota Sekte Salju Putih. Mereka pun kembali ke Benua Selatan.”
Perhatian itu berlangsung bahkan ketika Zet sudah keluar dari kelas. Cukup aneh rasanya saat tiba-tiba ia menjadi sorotan publik. Dalam kurun waktu singkat, seisi perguruan telah mengenal Zet sebagai pengendali arcanum yang hebat. Sebagian mungkin saja menganggapnya sebagai manusia setengah dewa yang patut ditakuti, sebagian mungkin ada yang benci karena iri hati. Sedangkan tak sedikit pula orang yang mengagumi. Beberapa gadis malah secara terang-terangan mengajak Zet makan siang bersama. Zet hanya bisa senyum-senyum dan mendapat teguran—atau lebih tepatnya ejekan—dari Fillian biar dia tidak besar kepala.
Zet masih sibuk membalas senyuman mereka, dan tak terlalu memerhatikan sekitar, sampai-sampai kepalanya menjadi sasaran benda tumpul. Zet mengaduh saat tubuhnya tahu-tahu terpental. Dalam beberapa detik ia merasa dunia berputar, beruntung ada tangan yang membantunya berdiri.
“Hei, kau tak apa, ‘kan?” tanya seorang pemuda dengan keringat membanjir di dahi. Dari pakaiannya yang agak lusuh ia mungkin saja sedang berolahraga lapangan. Kesadaran Zet mulai kembali penuh, dan ia pun mengetahui benda yang mengenainya tadi adalah cakram. Barulah rasa ngilu menyebar dari dahi kanan Zet.
“Oh, apa kau Rick, kapten tanding cakram dari Langit Angkasa?!” teriak Filian, seolah benjolan di kepala Zet itu tidak berarti apa-apa baginya. Pemuda berkulit gelap di depan mereka tersenyum sembari mengangguk dengan percaya diri. Dari perawakannya yang tegap dan nyaris sempurna, serta reaksi Filian yang melebihi para gadis pemandu sorak di tepi lapangan, Zet yakin Rick benar-benar setenar itu. Hanya Zet saja yang tidak pernah mengikuti perkembangan pertandingan cakram lewat siaran radio. Baginya itu hanya buang-buang waktu. “Dia Rick, atlet terkenal, Zet. Dia kakak tingkat kita!” bisik Filian langsung kepada Zet dengan wajah bersemangat.
“Hai, kau ... baik-baik saja, ‘kan?” ulangnya lagi kepada Zet, yang hanya menjawab dengan kedua bahu terangkat sebentar. Walaupun nyerinya masih terasa, setidaknya, cakram itu tidak menghapus ingatan Zet yang masih utuh tanpa cela.
“Ah, dia pasti baik-baik saja!” ujar Filian mencoba mengalihkan perhatian Rick. “Jadi, kalian berlatih untuk pertandingan musim semi tahun depan?”
“Demi Dewa! Kau adalah manusia legenda!” Mata Rick membulat dan masih memerhatikan Zet. Filian merasa kecewa berat karena diabaikan. “Hei, dia adalah pengendali arcanum air yang kita bicarakan itu!” teriaknya kepada seluruh lapangan. Mereka bersorak dan bersiul. Zet tak mengira, bahkan ia lebih terkenal dari orang-orang terkenal yang mana tidak ia kenal sama sekali. Rick kembali menoleh, dan ia pun serta merta meraih lengan Zet. “Ayo, kau harus bermain dengan kami!”
Zet tak punya alasan untuk menolak. Ia yang tubuhnya ditarik Rick itu sempat menoleh kepada Filian. Sementara sepupunya itu hanya bisa mendesah dan ikut mendekat ke lapangan. Ini akan menjadi pertandingan yang buruk.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-