
Satu lagi siang yang melelahkan telah berlalu. Baru saja selesai makan malam, Zet merasa tubuhnya sudah seperti patah-patah. Ingin rasanya ia langsung kembali ke asrama saja untuk melemaskan otot-ototnya dan melewatkan satu malam ini saja dengan tidur lebih awal.
Tapi repotnya, Zet harus mencicil belajar dan berlatih untuk ujian semester yang sebentar lagi akan tiba. Belum lagi Yun Lao yang sewaktu-waktu bisa muncul dan memaksa Zet fokus paa latihan mencampurkan unsur pengendalian elemen dengan tenaga dalam.
Kabar baiknya, Yun Lao tidak muncul malam ini. Kabar buruknya, baru jam setengah delapan malam Zet sadar bahwa ia ada janji penting.
Melihat Zet melangkah hendak keluar kamar terburu-buru, Filian – yang berkat pengaruh Raja Kubah Malam, Taraghlan, penyokong mereka diatur menjadi teman sekamar Zet – menegur sepupunya itu, “Oi, Zet, ada apa terburu-buru begitu?”
“Aku terlambat untuk janji dengan seseorang!” Zet berhenti sejenak.
“Dengan siapa nih? Nina atau Kimiko?” Nada suara Fili terkesan sedang menggoda Zet.
“Nina, tapi itu bukan seperti yang kau pikirkan!”
“Ah, masa? Jadi kamu benar-benar sudah pacaran dengan Putri Catriona?”
“Sudah kubilang kami hanya berteman saja!” Wajah Zet bersemu merah, mungkin rasa sukanya pada putri negeri penjajah negerinya itu masih tersisa cukup besar.
“Kalau memang tak ada apa-apa juga antara kau dan si kacamata jerawatan itu, ajaklah aku juga bertemu dengannya!”
“Untuk apa?” Zet pura-pura tercekat. “Kau tak usah... Oh, jangan-jangan kau suka pada Nina, ya!”
Fili membantah, “Enak saja! Dia kan senior! Lagi pula kau tahu kan seleraku itu setinggi apa!”
“Aah, lihat kambing dibedaki saja kau langsung jatuh hati!” Sebelum Fili sempat menjitak Zet, Zet menambahkan, “Ya sudah, kau ikut saja! Tapi kau harus membuntuti aku dari jauh dan sembunyi untuk mengawasi kami. Kalau ada yang tak beres, baru kau bertindak.”
Sambil menggerutu, Fili ikut dengan Zet. Tak lupa mereka membawa persediaan elemen logam di tas dan air di botol masing-masing, untuk berjaga-jaga.
Firasat Zet, “misi yang lebih penting dari pada dugaannya” seperti kata Nina bisa jadi berbahaya.
\==oOo==
“Kau terlambat, Zet!” tegur Nina saat Zet tiba di gerbang luar Sayap Timur Laut.
“Maaf, sejak tadi aku terus mencari tempat ini sampai tersesat berkali-kali,” tanggap Zet. “Maklumlah, Fakultas Biologi dan Kedokteran, apalagi Jurusan Botani bukan tempat yang kuminati untuk kudatangi, bahkan untuk berkeliling sekalipun.”
“Humph. Kalau begini penyelidikan kita akan lebih sulit,” gerutu Nina. “Ayo, untuk menghemat waktu kuterangkan saja sambil jalan.” Tanpa basa-basi Nina menarik lengan Zet, lalu memandu pemuda itu ke arah gerbang luar.
Di gerbang itu, Nina dan Zet dihadang oleh seorang petugas keamanan kampus. “Berhenti!” serunya. “Selain petugas, dilarang keluar dari lingkungan kampus waktu malam!”
Si penjaga yang berusia lima puluh tahunan itu membaca surat itu sejenak, lalu berkata, “Baik, saya rasa cukup sah. Silakan lewat dan berhati-hatilah.”
Nina lantas berjalan dengan sikap biasa-biasa saja, sambil membawa lentera.
Sebaliknya, Zet yang berjalan di belakang Nina malah merasa was-was, dahinya berkerut. Pasalnya, ia tak membawa senjata andalannya, yaitu pedang pendek khas Pilar Pualam.
Dengan hanya sebotol air yang tergantung di pinggangnya, apakah itu cukup andai bahaya benar-benar mengancam mereka di Hutan Regenerasi? Jangan sampai Zet jadi terpaksa menggunakan arcanum air lagi seperti saat waktu pertama kali berhadapan dengan Kimiko dulu.
“Jangan sampai aku tergoda lagi oleh arcanum. Ingat pesan ibu, jangan sampai...” batin Zet.
“Hei, apa kau sedang melamun? Hati-hati, kita sudah sampai di wilayah hutan!” seru Nina yang sudah menggenggam erat senjatanya, yaitu sebatang tongkat sihir. Siapapun yang melihatnya, termasuk Zet bisa langsung menyimpulkan bahwa Nina adalah seorang penyihir.
“Oh... oh, tidak kok!” Zet gelagapan. “Tadi kau bilang hutan ini disebut Hutan Regenerasi, bukan? Apa maksud sebutan itu dan apa yang sedang kita selidiki di sini?”
“Tanpa menoleh ke belakang, Nina berjalan terus sambil menerangkan, “Hutan Regenerasi adalah hutan ajaib alami di Pulau Langit Cahaya, bukan buatan. Pohon-pohon di sini konon tak pernah tumbuh terlalu tinggi-besar padahal usianya ada yang lebih dari seribu tahun. Sebagai gantinya, setiap kali ada bagian pohon yang patah, meranggas atau membusuk, bagian baru tumbuh dari bagian yang patah tadi. Ajaibnya, secara normal pertumbuhannya bisa mencapai ukuran semula dalam hitungan hari saja. Bila kekuatan regenerasi pohon itu sangat besar, pertumbuhannya bisa amat pesat dalam hitungan menit saja. Bahkan segala jenis hewan penghuni asli hutan ini dapat beregenerasi juga.”
“Astaga!” Zet tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. “Tapi apa yang ingin kau selidiki?”
“Belum lama ini, para mahasiswa Jurusan Botani mengeluhkan bau busuk yang amat menyengat, yang datangnya ternyata dari Hutan Regenerasi. Kebetulan aku yang terpilih di antara para mahasiswa Fakultas Supranatural untuk menyelidiki sumber bau itu, lalu aku harus melaporkan hasilnya pada Rektorat.”
“Oh, begitu. Tapi mengapa kau membutuhkan bantuanku?”
“Walaupun Hutan Regenerasi tak terlalu luas, bila bau busuk seperti bau sampah sampai tercium sampai ke kampus, ini pertanda jelas bahwa masalahnya mungkin terlalu besar untuk kutangani sendirian. Aku adalah penyihir yang tak begitu mahir teknik tarung dan kau ini terkenal cukup mumpuni, jadi keahlianmu jelas kuperlukan untuk melindungiku.”
“Oh, begitu rupanya. Tapi kita hanya diminta untuk menyelidiki saja, bukan menyelesaikan masalahnya langsung, kan?” tanya Zet.
Nina menggeleng. “Kalau masalahnya tak melebihi kekuatanku, aku mampu mengatasinya sendirian. Tapi bila tidak, kita harus lari kembali ke kampus dan melapor pada Rektorat. Biar mereka yang mengerahkan regu, kalau perlu pasukan untuk mengatasinya.”
Zet mengangguk. Namun entah karena penguasaan tenaga dalamnya masih mentah atau Zet tak cukup terlatih, ia tak menyadari ada satu sosok yang perawakannya mirip kera yang meloncat dari pohon dan mengarahkan kuku-kuku tajam ke tubuhnya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-