
Nina menyimpulkan penjelasannya, “Oleh karena itulah, Universitas Langit Angkasa selalu menerima mahasiswa dari semua negara dan tak terkecuali, asal mereka cerdas, berbakat, memiliki kekuatan gaib dan yang terpenting, hati yang masih cukup murni. Walau kemurnian hati itu kini banyak berkurang akibat konflik berkepanjangan antara negara-negara besar, kadar kemurniannya masih di ambang batas normal. Karena tadi kau sudah menepuk permukaan kolam kemurnian hati itu, kita lihat saja jangan sampai kestabilan dan kenetralan tempat ini terganggu pula.”
“Kalau itu sampai terjadi?” tanya Zet.
“Kau akan mendapat antara surat peringatan sampai hukuman dari Rektorat. Hukuman paling berat adalah dikeluarkan dari kampus dan dipulangkan ke negerimu sebagai Perusak Misi Perdamaian.”
Zet bersuit. “Wah, kalau begitu mulai sekarang aku harus ekstra hati-hati.”
Tiba-tiba Zet terkejut dan melihat ke arah jam dinding. “Gila, aku terlambat ke kuliah berikutnya!” teriaknya. “Aku pergi dulu, Nina! Lain kali aku akan menanyakan hal lain lagi, ya! Makasih!”
Tanpa menoleh lagi Zet meninggalkan piringnya yang masih berisi sedikit sisa makanan, gelas minumannya juga masih setengah penuh. Pemuda itu lantas lari menuju koridor.
Tinggal Nina yang masih duduk dan bergeming di tempat. Gadis yang seharusnya tampak lebih manis tanpa kacamata itu tak sedetikpun melepaskan tatapannya pada Zet.
Setelah Zet menghilang dari pandangan barulah gadis itu tersenyum sendiri dan bergumam, “Selangkah demi selangkah, kau akan makin mendekat dan bergabung dengan kami.”
[...]
Hari demi hari berlalu. Masa orientasi mahasiswa baru selama tiga hari sudah lama usai.
Zet sebenarnya tahu lebih banyak daripada yang seharusnya diketahui oleh hampir semua mahasiswa Universitas Langit Angkasa. Namun ia mengira pengetahuannya tentang Alistair Kane dan musafir itu tidak lebih banyak dan lebih mendalam daripada orang lain yang notabene masih awam mengenai rahasia-rahasia Dunia Terra Revia yang terdalam.
Karena itulah, walau sedikit demi sedikit Nina telah mencekokinya dengan pengetahuan yang tak diajarkan oleh dosen Mata Kuliah Sejarah atau mata kuliah mana pun juga, Zet tetap merasa dan bersikap biasa-biasa saja. Ia mengira, mungkin itu bahan kuliah untuk tahun berikutnya atau fakta itu tertulis dalam buku-buku perpustakaan kampus.
Yang pasti, Zet merasa lega karena rasa penasarannya terhadap ketimpangan teknologi di negeri dan dunianya sudah terpuaskan, walau memang sulit dibuktikan dengan fakta-fakta historis.
Pernah satu kali Zet bertanya pada Yun Lao tentang Alistair Kane. Namun jawaban yang diterimanya hanya gelengan kepala. “Mungkin orang yang kau maksud adalah Zhang En, filsuf yang konon memiliki kesaktian setara dewa dan dapat berpindah-pindah dunia sekehendak hati. Namun bagiku ia tak lebih daripada pembual yang menyebalkan.”
“Maksud Sesepuh, apakah Zhang En itu seorang penipu?” tanya Zet.
“Kata Nina, Zhang En alias Alistair Kane–jika mereka itu memang orang yang sama–dengan terus terang mengakui keberadaan para dewa. Hanya saja sejak awal, para dewa itu sering bersaing dan malah bertikai baik antar kelompok maupun dalam masing-masing kelompok itu sendiri. Jadi tugas Alistair Kane hanya memperbaiki ketimpangan dan kekacauan teknologi di dunia. Dengan demikian kecemburuan dan rasa iri di antara negeri-negeri besar dan kecil dapat diredam, sehingga perang dapat dicegah.”
“Tapi apa itu pernah berhasil?” sergah si roh sesepuh. “Tak usah jauh-jauh, contohnya serangan Negeri Ular Pasir ke negerimu telah terjadi. Teknologi timpang atau tidak, satu negeri tetap ingin melalap negeri lainnya. Jadi faktor utamanya adalah ambisi, keinginan untuk berkuasa seluas-luasnya tanpa kenal batas.”
Zet terenyak. Benar juga, pikirnya. Apa pun alasannya, entah dengan alasan kesenjangan teknologi, ekonomi atau bahkan dendam semata, selama manusia masih memiliki ambisi, apalagi kekuatan untuk mencapai ambisi itu, perang akan selalu ada. Tapi masalahnya, apa ada akar yang lebih dalam yang menimbulkan ambisi itu? Apakah akar terdalam itu adalah “kekuatan”?
Kalau memang demikian, alasan Alistair Kane mendirikan Universitas Langit Angkasa bukan hanya untuk mempersempit jurang kesenjangan teknologi dan memeratakan persebaran teknologi canggih seperti kata Nina saja.
Asumsi sementara Zet, tujuan utama institusi ini adalah mencetak cendekiawan, pendekar atau penyihir bermental bijaksana dan berhati baik. Dua faktor itulah yang harus dikembangkan dan diarahkan untuk mengendalikan kekuatan yang dimiliki masing-masing insan. Dengan niat tulus dan pengendalian yang baik, niscaya ambisi dapat dibendung, bagai menjinakkan kuda liar.
Untuk memastikan kebenaran asumsinya ini, Zet akan bertanya pada Nina atau mencari fakta di perpustakaan besok.
“Hei, jangan melamun, anak muda!” celetuk Yun Lao. “Ayo lanjutkan latihan arcanum air! Aku ingin tahu apakah kau benar-benar sudah naik tingkat atau belum.”
“Bukankah di tingkat empat dan seterusnya, kita bisa mengubah mana dan tenaga dalam dari unsur apapun dari dalam dan luar tubuh menjadi mengandung unsur air dengan bantuan arcanum?”
“Benar. Pendekar atau penyihir biasa hanya dapat memilih satu atau dua unsur saja untuk dilatih sampai mahir betul, kadang harus sampai puluhan tahun. Hanya mereka yang berbakat istimewa atau memiliki kristal dewata arcanum saja yang dapat mengubah unsur tenaga dalam sendiri sesuai dengan arcanum yang ia kerahkan.”
Zet mengangguk. Ia ingat bahwa mengendalikan unsur dari arcanum atau hanya menggerakkannya dari wadah atau tempat unsur itu berada adalah ilmu tingkat rendah. Kalau ia terus berkutat di tingkat ini, ia pasti akan kalah dari pendekar-pendekar Fajar Emas yang hampir semuanya menggunakan tenaga dalam yang mandiri.
Yun Lao lantas menjentikkan jari. “Oh ya,” katanya. “Aku baru ingat. Karena kau kini di pusat titik tengah dunia, sambil kau berlatih ilmu arcanum air tingkat berikutnya, kau punya kesempatan besar untuk mencari dan mendapatkan arcanum khas Wilayah Istimewa Langit Angkasa ini, yaitu arcanum kayu.”
Zet terpana, benaknya berpacu kencang. Segala informasi yang terlalu banyak yang ia dapatkan ini membanjiri benaknya. Ia berusaha untuk mencerna semuanya, namun kata-kata Yun Lao di akhir pembicaraan tadi membuatnya berpikir keras. “Haruskah aku mengumpulkan semua arcana itu agar perdamaian sejati kembali terbit melingkupi seluruh dunia? Ataukah sebenarnya aku melakukan ini hanya demi ambisi pribadi saja?”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-