The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
91: ARCANUM TANAH



Di hadapan Behemoth, penjaga arcanum tanah sejati, Zet, Nina dan Kimiko serasa menatap ke arah sebuah benteng hidup nan kokoh.


Apalagi kini si “benteng hidup” itu telah menebarkan tantangan terang-terangan, sarat dengan ujian, bahaya dan resiko kehilangan nyawa yang tersirat di dalamnya. Hanya ada dua pilihan, merebut arcanum tanah dari dahi Behemoth maha raksasa atau menyerah, cukup jadi pewaris dua arcanum sejati saja.


Masalahnya, sifat pantang menyerah sudah diajarkan turun-temurun dan mendarah daging dalam Keluarga Dionisos. Jadi mau tak mau, Amazeta alias Zet Dionisos sebagai generasi penerus harus mempertahankan ajaran dan kehormatan keluarga, kalau perlu dengan bertaruh nyawa.


Bisa jadi gua bawah tanah Ahriman ini bakal menjadi kuburan Zet, bersama dengan kandidat-kandidat gagal lainnya yang kehilangan nyawa.


Narayanan Singh, rekan sesama musafir si titisan Ahriman lantas mulai lagi melaksanakan tugas memberi petunjuk. Ia berseru, “Ayo, jangan diam saja! Cepat putari Behemoth dan panjat tubuhnya dari belakang dengan arcanum kayu atau semacamnya! Maju!”


“Baik!” Zet, Nina dan Kimiko bergerak cepat dan berpencar ke tiga arah.


Karena memiliki akal budi Ahriman alias Ahmed, sudah sewajarnya Behemoth berputar ke arah Zet. Namun pergerakannya yang lamban membuatnya tak bisa terus mengikuti Zet, hanya bisa menyusul secepat yang ia bisa saja.


Saat Zet, Nina dan Kimiko telah berada di tiga sisi yang berseberangan satu sama lain, barulah Zet berseru, “Bagus, teman-teman! Sekarang, maju bersamaan!”


Ketiga penantang yang sekelompok itu maju serempak. Kimiko yang pergerakannya paling cepat sengaja mengambil posisi di bagian belakang Behemoth, sedangkan Nina mengincar posisi agak samping Behemoth yang tak terlalu jauh dari kepala. Sedangkan Zet, karena dirinya yang diincar, terpaksa ia maju berhadap-hadapan frontal dengan si banteng benteng.


“Hoho, jangan pikir kecepatan kalian bisa mengatasiku dengan mudah!” Sesumbar Behemoth. “Rasakan kekuatan pertahananku, Inti Pusaran Gempa!”


Tak perlu repot-repot melihat, apalagi menghampiri para lawannya, Behemoth hanya mengentakkan satu kaki depan raksasanya saja di tanah. Titik imbas entakan kaki itu menjadi episentrum, titik pusat gelombang gempa yang menyebar luas ke sekitarnya. Akibatnya, Zet, Nina dan Kimiko yang masih menjejak tanah terpental masing-masing ke belakang.


Daya gempa dahsyat tadi menimbulkan rasa nyeri tak terkira di tubuh Zet. Ia terkapar sambil meringis menahan sakit. Andai tenaga dalam Zet kurang dilatih dengan matang, ia pasti sudah tewas dengan tulang remuk.


Tapi bagaimana dengan Kimiko dan Nina? Zet memaksa diri duduk dan melihat ke sekitarnya. Tampak Nina dan Kimiko sama-sama terkapar dan mengerang kesakitan.


“Bangkit, kalian semua!” seru Singh. “Satu jurus saja tak akan membuat kalian habis, bukan?”


Zet tak perlu menjawabnya dengan kata-kata, cukup bangkit berdiri saja. Tak mau kalah, Nina dan Kimiko berdiri pula.


Nina malah menghardik Behemoth, “Kau curang! Katamu tadi kau hendak bertahan saja, mengapa menyerang kami? Sebelum kami menyerangmu pula!”


“Itu tadi termasuk usaha membela diri,” jawab Behemoth membela diri. “Lagipula, aku hanya menggunakan kurang dari sepertiga energiku untuk menghalau kalian saja. Kalau aku mengentak dengan dua kaki dan tenaga penuh, kalian pasti sudah luka parah atau bahkan tewas di tempat.”


Zet sempat pasang mata melihat ke arah kedua rekannya. Lalu ia memutuskan menimpali hardikan Nina, “Ah, masa? Kena serangan yang tadi saja rasanya sudah seperti sekarat. Entah apa yang bakal terjadi kalau kau menggunakan ‘jurus pertahanan’ yang lain lagi, Behemoth!”


“Kalau jurus setengah takar tadi bisa membuatmu sekarat, Zet, itu berarti kau tak sekuat yang kuduga...” Tiba-tiba Behemoth berhenti sekejap dan bicara lagi, “Tunggu dulu, sepertinya aku harus... begini!”


Si raksasa mengentak-entak tubuhnya bagai banteng yang hendak mengusir lalat yang hinggap di punggungnya. Kenyataannya, memang ada “lalat” yang sedang hinggap di punggung Behemoth, dan ia adalah Kimiko Maru, si gadis ninja.


Akibat rontaan Behemoth itu, pijakan kaki Kimiko goyah dan ia jatuh dari punggung Behemoth. Tapi dengan gerakan yang amat lincah, Kimi menolakkan kakinya dari sisi tubuh si raksasa, lalu bersalto ke belakang dan mendarat dengan posisi badan tegak lurus. Ini gerakan yang indah.


Zet hanya bisa terperangah melihat kejadian tadi. Ia membatin, “Aduh, bahkan Kimiko yang paling lincah di antara kami bertiga gagal mencuri arcanum tanah dari dahi si penjaga. Harus bagaimana ini? Apa cara yang paling ampuh untuk mengeroyok satu lawan yang amat kuat? Oh ya, aku baru ingat bisa pakai cara serangan bergelombang ala Odyscus. Anggaplah aku, Nina dan Kimi satu tim dan Behemoth itu seperti Tim Fajar Emas dengan Formasi Banteng Amuknya.”


Zet lantas mengulurkan telapak tangannya dan berseru, “Tunggu sebentar, Behemoth! Biar aku bicara dulu dengan teman-temanku. Kau tidak akan menyerang kami, bukan?”


“Tentu saja tidak. Aku selalu berpegang pada kata-kataku tadi. Silakan!” jawab si banteng sebesar benteng itu dengan nada berwibawa.


Sebenarnya, di mata Zet atau siapa pun, pertarungan ini sungguh aneh. Itu karena ada peluang untuk mengambil waktu jeda alias time out seperti dalam pertandingan olahraga beregu semacam Odyscus.


Toh Behemoth telah menegaskan kalau ini adalah ujian, bukan pertarungan sampai mati. Zet tak perlu membunuh Behemoth untuk mendapatkan arcanum tanah. Lagipula, kecuali karena kecelakaan, Zet tak perlu sampai mati bertahan dari “usaha bela diri” Behemoth. Jadi Zet hanya ikut bermain saja menurut peraturan yang ada, sekaligus memanfaatkan aturan tersebut sewajar-wajarnya.


Dengan kata lain, ujian ini persis seperti pertandingan Odyscus. Melenceng dari itu akan mengubah situasi menjadi pertarungan berat sebelah antara dewa dan manusia. Walau berbekal sepercik kekuatan dewa yang terkandung dalam arcanum air dan arcanum tanah, kemungkinan Zet untuk menang dari Behemoth tetap tipis.


Karena semua itulah, Zet kini sempat membisikkan usulannya pada Kimi dan Nina. Kedua gadis itu mengangguk setuju, lalu ketiganya kembali berpencar ke posisi-posisi yang sama seperti semula. Zet berhadapan, Nina di bagian samping dan Kimi di posisi belakang Behemoth.


Bedanya dengan sebelumnya, kali ini Zet, Nina dan Kimiko berlari terus tanpa jeda, tanpa berhenti sedetik pun. Jadi siapa pun bisa menyerang kapan saja, tak perlu menunggu aba-aba.


Anehnya, Behemoth malah bergeming. Mungkin ia sudah membaca taktik Zet. Mungkin saja ia sudah tahu, selincah apa pun pergerakan ketiga “manusia kerdil” itu, mereka tak akan lolos dari jurus gempanya.


Seperti dugaan, Kimi yang pertama mencoba maju, bersenjatakan belati terbang kunai yang tersambung dengan rantai baja yang tipis tapi kuat. Namun saat kaki raksasa Behemoth terangkat untuk mengentar tanah lagi, Kimi cepat-cepat menyurut mundur. Behemoth urung menyerang balik dan menurunkan kakinya.


Tepat saat itu pula, giliran Zet yang maju. Kalau sebelumnya ia hendak memanjat tubuh Behemoth lebih dulu baru membuat tali panjat dengan arcanum kayu, kali ini ia memunculkan tali yang amat panjang yang terbuat dari sulur-sulur tumbuhan rambat yang keluar dari arcanum kayu di ikat pinggangnya. Ujung sulur itu diikatnya sehingga tampak seperti gelang tali ****.


Sambil terus berlari, Zet melemparkan tali **** sulur rambut itu tinggi-tinggi, sambil mengendalikan kepala **** dengan telekinesis. Karena lemparan biasa dengan tenaga fisik saja tak akan cukup kuat maupun akurat untuk mencapai sasaran yang amat tinggi. Alhasil, tali **** mengalungi salah satu duri dekat kepala Behemoth.


“Eit, jangan harap!” Sambil berteriak, Behemoth mengentakkan satu kakinya lagi, mengirimkan gelombang kejut lewat jurus Inti Pusaran Gempa. Zet dan Kimiko sudah siap, mereka cepat-cepat melompat tinggi-tinggi dari tanah untuk bergelantung, satu di tubuh Behemoth dan satu lagi di dinding batu gua.


Sebaliknya, Nina yang sempat melompat sesaat dan mendarat lagi di tanah malah terkena lagi imbas gelombang kejut gempa yang kali ini tak hanya berlangsung sedetik saja. Daya gempa yang tak terpaut jauh tapi lebih kuat daripada jurus yang sama yang dikerahkan pertama kali tadi membuat Nina roboh dan muntah darah. Jelas gadis berkacamata itu terluka dalam.


“Ninaa!” Perhatian Zet teralihkan sedetik, tapi lagi-lagi konsentrasinya terpusat lagi dan ia terus memanjat tubuh Behemoth dengan tali arcanum kayunya, menyasar si “saudara ketiga”, arcanum tanah sejati di depan mata.


Gagal menumbangkan Zet dengan gempa, lagi-lagi Behemoth meronta seperti yang ia lakukan pada Kimi tadi. Bedanya dengan Kimi, Zet telah mengantisipasi tindakan Behemoth itu. Ia memanfaatkan energi kinetik dan tenaga dalam yang terpancar dari rontaan si raksasa. Caranya, Zet berayun ke kepala Behemoth seirama dengan ritme dan arah pergerakan tubuh raksasa itu.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-