The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
81: ENERGI YOGA



Insiden ganda di kapal layar udara yang ditumpangi Zet menuju Negeri Ular Pasir ternyata memiliki sisi positif tersendiri.


Justru karena itulah Singh jadi muncul lebih awal dari rencana. Jadi Zet tak terlalu kewalahan begitu kakinya menginjak tanah negeri yang memusuhinya itu.


Di malam sebelum berangkat, Singh memang berniat untuk ke kamar Zet dan memberitahukan rencananya, yang baru saja ia susun dan matangkan setelah mengamati Zet. Mengukur kadar permusuhan rakyat Ular Pasir terhadap Zet.


Tentu Singh mempertimbangkan hubungan antara Zet, teman seperjalanannya Nina dan satu oknum Sekte Kalajengking Hitam yang mengundang kontroversi, yaitu Kimiko.


Supaya tak terlalu memancing kecurigaan, Singh baru menemui Zet dan Nina di bandar kapal layar udara di Palem Hijau, ibukota Kesultanan Ular Pasir.


Untunglah seperti pengakuan Singh, tampang dan penampilannya yang biasa-biasa saja, sederhana dan tidak mencolok membuat dirinya luput sama sekali dari perhatian Nina, yang seluruh fokusnya tersita untuk melacak dan memburu Kimiko.


“Perkenalkan, namaku Singh. Rektor kalian, Minerva Kaleos menunjukku sebagai pemandu dalam misi ini dan menjemput kalian berdua di sini,” kata Narayanan Singh sambil memberi salam namaste, merapatkan dua telapak tangan di depan dada ke arah Nina.


Nina juga membalas dengan namaste. “Namaku Nina Gnossis. Salam kenal, Pak Singh. Ke mana kita sekarang?”


“Aku sudah mempersiapkan kereta kuda. Kita akan menumpang itu sampai ke Kota Oase Kurma di tepi Gurun Kaktus Kuning. Di sana kita akan membeli perbekalan dan istirahat sejenak, baru berangkat ke gua bawah tanah di tengah gurun.”


Nina protes, “Tapi aku punya urusan pening di ibukota...!”


“Silakan,” potong Singh. “Aku akan pergi bersama Zet saja.”


Nina hanya bisa ternganga. Mungkin ia baru sadar bahwa yang memimpin dan memandu misi untuk Zet ini bukan dirinya, melainkan Singh. Apa pun kepentingan yang lain, itu tak lebih penting daripada apakah Zet layak mendapatkan arcanum tanah sejati atau tidak.


“Bagaimana? Cepat putuskan, kita tak punya banyak waktu,” tegur Singh. “Kalian ingin kembali kuliah setelah libur musim panas berakhir, bukan?”


Nina gelagapan. “Eh, i-iya. Baiklah, aku akan ikut kalian saja.”


Sejak tadi Zet hanya diam saja mendengarkan pembicaraan Singh dan Nina.


Apa ini pertanda bahwa pemikiran Zet makin dewasa? Ia jadi makin bijaksana, tahu kapan ia harus ikut campur dan kapan sebaiknya ia diam saja atau cari aman?


Belum tentu. Rupanya Zet sedang ketiduran di kursi panjang di ruang tunggu bandara tempat ketiganya seedang berdiskusi itu.


 


 


\==oOo==


 


 


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, tepatnya empat hari tiga malam dengan kereta kuda, Zet, Nina dan Singh tiba di Oase Kurma, sebuah kota kecil di tepi Gurun Kaktus Kuning.


Sepanjang perjalanan yang menjemukan itu, yang dikerjakan Zet hanya tidur, berdiskusi dengan Singh, makan serta minum dan buang air.


Karena itulah, begitu rombongan sudah duduk nyaman dalam kamar penginapan, tentunya Nina di kamar terpisah, Singh mulai membicarakan satu hal yang amat serius dengan Zet.


“Seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, Zet, kau butuh metode baru untuk meningkatkan level tenaga dalammu lebih pesat dalam waktu yang lebih singkat,” papar Singh.


“Apakah cara-cara yang kugunakan saat ini, termasuk yang dari Langit Angkasa terlalu lamban?”


“Tidak juga. Tapi karena kau telah menganggapku sebagai gurumu dan aku menganggapmu sebagai muridku, yang kuajarkan tentu adalah ilmu terbaik yang kukuasai sepenuhnya.”


“Jadi, apakah sebenarnya ada ilmu dan cara yang lebih baik?”


“Energi yoga? Apa itu?”


“Yoga adalah meditasi yang tidak biasa, baik untuk mengumpulkan energi positif maupun menyehatkan tubuh. Ini ilmu khas di Negeri Seribu Tangan dan Negeri Sungan Teratai, yang terus disempurnakan oleh para empu sejak berabad-abad silam.”


“Apakah yoga aman dipraktekkan? Apakah lebih nyaman dan lebih mudah daripada meditasi tenaga dalam biasa?”


“Tentu saja meditasi yoga lebih sulit daripada meditasi biasa, karena yoga harus dilakukan dalam pose tertentu, yang dianggap sulit bagi sebagian orang. Makin lentur tubuh seseorang, makin aman, mudah dan nyaman ia mempraktekkan yoga. Tapi siapapun dia, hasilnya tetap sama. Selain mengkultivasi tenaga dalam, tubuh menjadi lebih sehat, segar dan nyaman. Ditambah pula seperti pepatah, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.”


Mata Zet berbinar-binar penuh minat. “Jadi dengan kata lain dengan berlatih yoga kita melatih tenaga dalam, berolahraga serta mencerahkan jiwa kita sekaligus?”


“Tepat sekali.” Singh mengacungkan jari jempolnya sambil tersenyum. “Mendapat tiga manfaat dalam satu kali latihan, seperti membunuh tiga burung dengan satu anak panah. Nah, bisa kita mulai sesi pertama latihan yoga?”


“Ya, Guru. Silakan.”


“Karena kau telah menguasai gerakan yoga yang paling dasar yaitu meditasi dengan duduk bersila, kita melangkah ke pose tingkat dua. Kau berdirilah dulu menghadap ke dinding sebelah sana.”


Zet berjalan, lalu berdiri di posisi yang ditunjuk Singh.


“Selanjutnya, berdirilah tegak lurus dengan posisi jungkir balik, tangan di bawah dan kaki di atas.”


“Apa? Guru yakin?” Jelas Zet belum pernah tahu sama sekali tentang yoga sebelum ini.


“Lakukan saja yang kusuruh. Kau sudah pernah menaklukkan Fasid’afa dan membuat pasukan Ular Pasir kocar-kacir, berdiri dengan tangan pastinya mudah sekali, toh?”


Zet tak ingin terlihat lemah, tapi juga tak mau menyombongkan diri. “Biar kucoba,” katanya. “Tolong Guru betulkan bila berdiriku kurang seimbang.” Ia lantas mencoba berjungkir balik dan berdiri lurus-lurus dengan tangan terulur tegak ke bawah. Tapi mungkin kakinya kurang lurus sehingga keseimbangannya hilang dan ia jatuh ke lantai. “Aduh!” erangnya.


“Coba agak perlahan sedikit. Sebenarnya pose diam yang seimbang lebih sulit dilakukan daripada bergerak cepat dan lincah. Itu karena kau lebih terbiasa melakukan yang kedua, dan yang pertama hanya sebatas duduk bersila saja,” kata Singh.


“Baik, kucoba lagi,” kata Zet.


Di percobaan kedua, Singh hanya perlu membetulkan sedikit posisi kaki Zet sehingga pose jungkir-baliknya lurus dan seimbang.


“Bagus. Tahankan itu selama lima menit lagi sambil bermeditasi menghimpun tenaga dalam, dan kalau bisa, merenungkan makna kehidupan pula,” kata Singh. “Setelah itu rampung, karena ini kursus kilat, kita langsung coba pose berikutnya.”


“Haah? Tak bisakah satu hari belajar satu pose saja dulu?” protes Zet.


“Kalau begitu, aku akan mengirim surat pada Rektor Minerva bahwa kau akan cuti kuliah minimal setengah tahun. Itu pun kalau kau masih berminat meningkatkan level tenaga dalammu dari tingkat lima sampai tujuh atau delapan fase bumi dalam waktu kurang dari tiga bulan libur musim panas ini saja.”


“Ah, yang benar saja! Memangnya bisa aku mencapai kemajuan sepesat itu?”


“Bisa, asal kau latihan intensif selama seminggu di kota ini, lalu agak dikurangi kadarnya saat dalam perjalanan di gurun dan seterusnya. Toh di gurun dan di kota gua bawah tanah kau akan menghadapi banyak monster dan ujian berat. Itu bakal membantu meningkatkan tenaga dalammu.”


“Oh, begitu rupanya.” Zet kini mulai memahami “program pelatihan dan kultivasi tenaga dalam” ala Singh. “Baiklah, aku akan melakukan semua instruksi Guru tanpa banyak tanya lagi.”


“Bagus. Mungkin kau memang punya potensi untuk menjadi seorang Master of Arcana ideal.” Singh tersenyum. “Tapi jangan besar kepala dulu, nanti konsentrasimu bisa hilang dan...!”


“Aagh!” Terlambat, Zet keburu kehilangan keseimbangan dan terjatuh lagi di lantai.


Melihat itu, Singh hanya bisa menepuk dahi. “Ini bakal jadi hari yang panjang,” gumamnya.


\==oOo==


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-