The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
94: SARANG KALAJENGKING HITAM



Kali berikutnya Zet membuka mata, ia menemukan dirinya dalam sebuah ruangan yang gelap dan lembab. Ruangan yang tak terlalu sempit itu dibatasi dengan dinding di satu sisi dan jeruji-jeruji besi di sisi-sisi lain. Itu jelas adalah sebuah sel penjara.


Rupanya Zet tak sendirian, karena ada Singh yang bersamanya dalam satu sel yang sama.


“Wah, kau sudah sadar rupanya, Zet,” ujar Singh, telapak tangannya menyentuh dahi pemuda itu. “Tapi kau masih lemah. Jangan bertarung dlu, apalagi mengerahkan energi arcanum.”


Kata-kata terakhir Singh tadi membuat Zet terkesiap. Ia melihat ke pergelangan tangan, dada dan pinggangnya dan langsung lemas seketika bagai disambar petir. Betapa tidak, baru saja mendapatkan arcanum ketiga, ia harus kehilangan tiga-tiganya sekaligus. Zet merasa gagal dan tak pantas melindungi, apalagi menggunakan arcanum.


“Tak usah kuatir, aku sempat mengamankan arcanummu sebelum orang-orang itu merampasnya.” Singh memperlihatkan kalung, gelang dan ikat pinggang arcanum pada Zet. Tapi ia tak memakainya, hanya menyembunyikan ketiga pusaka itu dalam jubah ajaibnya yang dapat menampung segala benda.


“Wow, keren sekali, Guru! Kurasa unta kita juga bisa ditampung di sana, ya?”


“Tentu saja.”


“Boleh aku minta satu?”


“Kalau tenaga dalammu bisa mencapai Tahap Langit Tingkat Kelima, dengan latihan yoga dan bertapa puluhan tahun seperti aku, akan kuberi kau tsatu.”


“Yah, kalau begitu tak jadi ah. Hidup sebagai pertapa pasti membosankan.”


“Nanti saja kita bahas soal itu,” ujar Singh untuk mengganti topik pembicaraan. “Lagipula kau sudah punya arcanum, itu modal yang lumayan cukup untuk setidaknya sampai di Tahap Langit Tingkat Satu, setara musafir antar-ranah pemula atau separuh dewa.”


“Memangnya sudah sejauh apakah perkembanganku sekarang, Guru?”


Singh lantas menyentuh nadi pergelangan tangan Zet dengan menggunakan tenaga dalam sendiri untuk mengukur tingkatan tenaga dalam secara cukup akurat.


“Berkat latihan yoga, meditasi dan pengalaman di gua bawah tanah Ahriman yang lalu, kini tenaga dalammu ada di Tahap Bumi Tingkat Tujuh,” papar Singh. “Tinggal tiga tingkat lagi dan kau akan memiliki kekuatan setara dewa, dan kau akan dianggap manusia setengah dewa saat mencapai Tahap Langit Tingkat Pertama.”


“Yah, baguslah kalau begitu.” Zet tersenyum. Walaupun ia masih belum tahu untuk apa segala kekuatan yang telah ia pupuk dan kembangkan ini nanti persisnya, setidaknya ada rasa percaya diri yang membuatnya lebih bersemangat untuk terus maju.


Namun kini Zet mengajukan pertanyaan yang lebih penting lagi, “Di mana kita sekarang, Guru?”


“Aku tak tahu pasti. Tempat ini amat rahasia, bahkan segala ciri-ciri, lambang atau identitas apa pun tak terlihat, disembunyikan rapat-rapat. Tapi dari gerak tubuh orang-orang yang mengepung kita, tampak sekali mereka amat cepat, lincah dan terlatih. Sejauh yang aku tahu, hanya ada satu organisasi di dunia yang dapat mengumpulkan anggota pembunuh gelap sebanyak itu, dan itu adalah...”


“ ... Sekte Kalajengking Hitam,” kata Zet, terkesiap. “J-jadi ini adalah... markas besarnya?”


“Bisa jadi,” jawab Singh sambil mengangguk. “Setahuku, karena begitu rahasia dan misteriusnya sekte ini, mereka sering berpindah-pindah markas besar, tergantung di mana Ketua Umum mereka berada. Kadangkala, si ketua menempatkan diri di markas cabang.”


“Ah, jadi bisa saja Klan Ninja Maru di Sakura Ungu, tempat asal Kimiko pernah dijadikan markas besar sementara Kalajengking Hitam. Tak ada istilah ‘markas besar tetap’ dalam sekte ini. Menarik sekali!”


“Justru itulah yang membuat mereka jdi amat berbahaya. Beda dengan Sekte Salju Putih yang lebih kaku dan terang-terangan, yang berlindung di balik status tinggi, jaringan koneksi yang luas dan kehormatan para anggota dan ketuanya.”


Singh berdalih, “Tak bisakah hanya aku saja dulu? Muridku ini baru sadarkan diri dan belum cukup kuat untuk...!”


“Jangan banyak alasan! Kami sudah tahu tahanan itu hanya bangun tidur dan sudah segar kembali, jadi ketua kami langsung memanggilnya juga! Ikut kami sekarang juga!”


Karena Singh sudah pernah menyelamatkan Rhea dari penjara dengan keamanan yang amat ketat, seharusnya penjara yang amat sederhana ini bukan masalah baginya. Justru karena belum mau membuat kekacauan dan menambah musuh baru, ia memilih bersikap kooperatif. Singh hanya mengangkat dua tangan sambil menunduk, lalu memapah Zet keluar dan mengikuti kedua pengawal.


Zet terus berjalan tanpa bisa mengenali arah, menyusuri koridor-koridor sempit, monoton dan cenderung seragam. Satu-satunya petunjuk hanya kedua pengawal di depan mata. Perasaannya tak enak, kalau sampai ia nekad melarikan diri, ia bakal tersesat, terkepung atau terjebak.


Baru sesampainya Zet di sebuah ruangan berdinding batu yang cukup luas dan cukup berpenerangan lampu minyak, ia merasa agak lega.


Yang pertama Zet lihat tentu adalah kedua teman seperjalanannya yang lain, yaitu Nina dan Kimiko. Kimiko Maru tampak segar-bugar dan berdiri bersama dua ninja lainnya di satu sisi ruangan.Tak ada tanda-tanda paksaan dari kedua ninja itu terhadap Kimiko.


Sebaliknya, kondisi Nina mengenaskan. Ia tampak luka-luka dan babak-belur, sepertinya baru diinterogasi oleh para anggota wanita organisasi ini. Kacamatanya pecah dan si penyihir hanya bisa tertunduk lemas, dipapah oleh dua orang pengawal wanita yang adalah pembunuh gelap.


Yang tampak berikutnya adalah seorang pria yang duduk dengan santai di sebuah sofa tinggi. Satu kakinya diangkat di atas sofa dan ia minum anggur dari cawannya dengan menegadah. Kalau sampai ada tamu terhormat bergengsi tinggi datang, si tamu pasti akan tersinggung melihat gaya si pria yang sangat tidak sopan itu.


Entah ia bergengsi atau tidak, Zet memilih untuk diam saja. Ia tidak akan bertindak sebelum situasinya jelas siapa kawan, siapa lawan.


Setelah menenggak anggur, si pria lancang baru meluruskan lagi letak kepalanya. Mata biru pria yang sepertinya satu ras dengan orang Fajar Emas itu menatap lurus dan tajam pada Zet dan Singh seperti burung elang sedang mengamati calon mangsanya.


Melihat Zet tak mengenakan pusaka-pusaka arcanum atau apa pun yang mencurigakan atau berbahaya, pria berusia tiga puluhan tahun itu mengusap kepalanya yang penuh bekas luka. Terutama luka yang memanjang diagonal sepanjang wajahnya dari dagu sampai ubun-ubun, membuat belahan seperti celah botak di antara rambut peraknya yang hanya memenuhi bagian atas dan samping kiri kepalanya. Bagian samping kanan kelihatannya botak dan penuh bekas luka yang saling-silang pula.


Si pengawal bertugas memperkenalkan tuan rumah pada para tahanan. “Perkenalkan, Don Giovanni Pirlo DiMatteo, Ketua Umum Sekte Kalajengking Hitam.”


Singh memberi hormat dengan menunduk, sambil menepuk pundak Zet agar ia menunduk pula.


“Salam, Don Giovanni. Namaku Narayanan Singh dari Negeri Seribu Tangan, dan ini muridku, Amazeta Dionisos dari Negeri Empat Musim,” kata Singh. “Kami singgah di Kota Oase Kurma untuk beristirahat dan membeli perbekalan. Apa yang membuat kami ditangkap dan diperlakukan seperti ini?”


“Seharusnya aku yang bertanya padamu, pada si Amazeta dan terutama pada si penyihir.” Giovanni menunjuk lurus ke arah Nina.


“Apa yang ingin kau tanyakan?” Singh pura-pura tak tahu lebih jauh tentang Nina dan Zet, juga tentang Kimiko.


“Mudah saja. Aku harus memastikan apakah Nina adalah mata-mata atau anggota Sekte Salju Putih atau bukan. Karena dia tak mau biara, terpaksa aku harus menanyai kalian pula. Sekarang jawablah pertanyaanku. Apakah Nina, Amazeta atau siapa pun di antara kalian bertiga adalah anggota atau mata-mata Sekte Salju Putih? Jawab, kalau tidak Nina Gnossis akan mati.”


Zet menelan ludah. Satu lagi pilihan sulit dan serba salah telah disodorkan padanya. Apa yang harus ia jawab?


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-