
Zet terbangun dari tidur singkatnya, karena tiba-tiba kereta berhenti di tengah jalan. Pemuda itu segera memandang keluar jendela, berpikir bahwa ia sudah sampai di rumah. Nyatanya tempat itu hanya berupa lembah luas di antara deretan Pegunungan Tianyu. Artinya mereka masih setengah perjalanan. Lalu mengapa kereta urung jalan?
“Apakah ada masalah?” Aeron tampaknya juga jadi terbangun dan segera turun dari kereta untuk memeriksa roda. Pria itu setengah kaget mendapati pengemudi sudah tidak ada di tempat, sementara tali pengait kuda sudah dilepas dari kereta. Zet sendiri sama terkejutnya ketika ia tahu-tahu ditarik keluar secara paksa. Engsel pintu kereta pun sampai rusak terkena sentakan keras tersebut. Secara refleks, Zet segera memberontak, walaupun tetap saja kalah siaga dibandingkan lawan yang gerakannya sudah teratur dan direncanakan. Zet mengerang saat lengan kirinya berhasil ditusuk dengan belati oleh pria pengemudi tadi. Dia masih tak bisa melihat wajah pelaku. Pria itu menutupnya dengan topeng berwarna putih. Kini perut Zet yang jadi sasaran hantaman lutut si pencuri. Sebelum punya kesempatan untuk membalas, Zet sudah dijatuhkan ke tanah dengan posisi kepala belakang terantuk batu. Zet masih menahan rasa sakit bekas tusukan di lengannya, sementara kepalanya sendiri serasa pengar, seperti mau pecah. Pria itu dengan mudah menemukan kalung arcanum di balik baju Zet yang longgar.
Pikiran Zet lagi-lagi kalah gesit. Dan sangat disayangkan tak ada sumber air yang menguntungkan sama sekali di sekeliling Zet. Lagi pula setelah kalung terlepas, pengendalian Zet hanya akan seperti anak-anak sedang main air. Aeron masih tampak berlari dari arah kereta. Kalung Zet telah berhasil ditarik secara serampangan, hingga rantainya terlepas sebagian. Aeron sempat menangkap ujung jubah hitam si pelaku yang berkibaran ketika pelaku itu menaiki kuda. Badan si pencuri terhuyung, nyaris jatuh dari kuda, tetapi tali topengnya tak sengaja lepas, kemudian benda itu berguling ke tanah. Betapa terkejutnya Aeron, begitu sadar bahwa wajah orang yang menyerang mereka itu sangat mirip dengan seseorang yang telah ia kenal. Belum selesai Aeron mencerna situasi, si pencuri menutup wajahnya lagi dengan tudung jubah hitam, lantas mengentakkan tali pacu kuda, kabur dengan kecepatan penuh, dan menghilang di balik kabut pegunungan.
Tidak mungkin Aeron pergi mengejar kuda hanya dengan sepasang kaki tuanya yang sudah gampang terserang linu itu. Lebih-lebih ia tak bisa meninggalkan anaknya di tempat seperti ini sendirian dengan keadaan terluka cukup parah. Pria itu pun mengambil topeng putih di tanah, dan berlari menghampiri Zet. Aeron menyobek bajunya sendiri, lalu membebat lengan putranya yang masih mengeluarkan darah. “Bertahanlah, Zet.”
Aeron membopong tubuh Zet, menyandarkannya di bebatuan yang lebih lapang. Ia juga mengambilkan air minum dari dalam kereta tanpa kuda itu, yang masih dibiarkan teronggok di tengah jalan. Nahas sekali, mereka mungkin tidak akan bisa pulang sesuai jadwal yang semula direncanakan.
[...]
Setelah badan Zet cukup membaik, Aeron memutuskan untuk mencari tempat beristirahat dulu, mengingat hari sudah mulai gelap. Sambil membawa barang-barang yang penting, Aeron dan Zet berjalan kaki menuju Selatan. Keduanya masih merasa canggung, walaupun sebenarnya kemarahan Aeron telah sirna sepenuhnya, digantikan rasa khawatir terhadap bahaya yang lebih besar.
Zet sendiri masih berpikir ini adalah hari paling sial yang pernah ia alami seumur hidup. Menghilangkan arcanum mungkin bisa dikatakan sebagai aib yang sangat besar dalam Keluarga Dionisos. Keluarganya sudah mati-matian menyembunyikan dan melindungi benda keramat tersebut, tetapi dengan satu kecerobohannya, Zet malah menyerahkan benda tersebut kepada seorang pencuri sialan. Sayang, perasaan menyesal selalu datang belakangan.
Berkat petunjuk warga setempat, mereka akhirnya menemukan rumah penginapan beberapa kilometer dari sana. Makan malam sederhana menyatukan kembali Zet dengan ayahnya, yang sedari tadi tampak memikirkan sesuatu dan tak banyak bicara. Kali ini Zet bahkan benar-benar sudah putus asa. Mungkin jika tak punya malu, atau tak ada Ayah yang menguatkan punggungnya, Zet sudah menangis seperti anak kecil sedari tadi.
“Aku ... minta maaf, Yah. Seandainya aku mendengar kata-katamu sejak awal.”
Aeron meletakkan mangkuk sup kedelai yang terasa hambar dan dingin. “Dengar, Zet. Kita harus menemukan arcanum itu bagaimana pun caranya, atau ia akan disalahgunakan untuk hal yang tidak baik. Tapi kita tentu tidak bisa melakukan sendiri.”
“Ya, kita harus cepat bilang Paman Josen. Dia punya mata-mata, kan—”
“W-wo-wow, tunggu, tunggu.” Zet tidak setuju jika Ayah melibatkan Raja Taraghlan, yang sudah bisa dipastikan akan mencabut restunya untuk menjadikan Zet Prajurit Bintang apabila Zet ketahuan menggunakan arcanum air. “Ayah sudah tahu risikonya kalau kita bilang ke Raja Taraghlan, kan? Ini bunuh diri, Ayah! Semua yang kulakukan akan sia-sia.”
“Ya, Ayah paham akan hal itu. Namun, aku merasa masalah ini masih bisa dibicarakan baik-baik. Semoga Raja mau mengerti.”
Dahi Zet mengerut tak paham. “Hanya dengan berharap seperti itu? Maksudku, kenapa kita harus melibatkan Raja Taraghlan? Pencuri itu bisa dari mana saja, tidak selalu dari Kubah Malam. Sepertinya keluarga kita bisa mengatasi masalah ini sendiri.”
“Aku sudah melihat wajah si pencuri, Zet,” Aeron kemudian menunjukkan topeng putih, “aku yakin dia adalah Pangeran Barra.”
Mata Zet nanar membuka lebar. Iris ungunya memantulkan cahaya perapian, yang menari-nari di dalam kamar penginapan. Bagaimana bisa Zet tidak menduganya sejak awal? Jika memang perkataan Ayah benar, Zet tak akan segan-segan mematahkan hidung mancung pangeran sialan itu. Namun, tentu saja itu akan membuat masalah makin runyam.
Zet segera terpikir sesuatu. “Apakah Ayah tidak takut kalau ternyata Raja Taraghlan sudah tahu tentang arcanum air, lalu menyuruh pangeran busuk itu untuk mencurinya dari kita? Kita akan masuk ke dalam jebakan mereka, Ayah.”
Aeron tampak berpikir lebih keras. “Aku sudah mengenal peringai Raja Taraghlan. Beliau sangat menyayangi putra-putrinya. Tidak mungkin Raja membahayakan nyawa Pangeran Barra yang notabene sendirian hanya untuk menyerang kita. Jika Raja Taraghlan berniat mencari arcanum, pastinya akan lebih memilih untuk mengerahkan pasukan kerajaan, atau pun menyewa pembunuh bayaran.”
Argumen yang cukup masuk akal juga. Pangeran Barra tampaknya memang secara pribadi memiliki ketertarikan terhadap arcanum air, dan barangkali Raja Taraghlan sudah melarang untuk berurusan dengan hal tersebut, tetapi bukan anak bandel namanya kalau Pangeran Barra hanya menuruti kemauan orangtua. Zet bahkan tahu-tahu diserang tanpa ampun di balkon kemarin, dan itu masih saja terasa menyebalkan.
“Kita lihat dulu saja reaksi dari Sang Raja besok,” lanjut Aeron. “Satu-satunya cara melewati ini adalah dengan menghadapinya.”
[...]
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-