
Keesokan paginya, Zet membakar beberapa ikan yang ia dapat dari hasil memancing. Setelah kejadian semalam, pemuda itu semakin lihai menggunakan kemampuannya untuk mengendalikan air. Zet memikirkan apa saja yang bisa ia perbuat, kalau ternyata nanti dia sudah mampu mengendalikan kelima arcana. Mungkin Zet tidak akan susah-susah membuat percikan api dari batu dan kayu. Ia bahkan tinggal menudingkan telunjuknya, dan ikan pun siap disantap.
Seusai sarapan, mereka berdua mencoba menyusuri pulau yang tampaknya memang benar-benar tak berpenghuni ini. Walaupun begitu, Zet tampak sangat menikmati perjalanan yang ternyata butuh waktu seharian. Bagaimana tidak, serasa dunia hanya milik berdua. Zet rela kalau selamanya ia terasing di pulau ini bersama Catriona. Persetan dengan perang. Perang tidak akan mungkin susah payah melibatkan atau mengenai pulau tanpa penghuni. Zet tak akan bingung lagi memikirkan kenyataan hidup yang rumit dan membebani pundaknya di luar sana.
Sementara bagi Tuan Putri sendiri ini juga merupakan pengalaman yang sangat berharga. Seakan sudah sekian abad lamanya, ia tidak diajak pergi berlibur dan bersantai seperti sekarang. Catriona tergelak, menari lepas di bibir pantai, berteriak, dan bermain air dengan Zet. Lalu saat mereka menemukan ada hewan yang aneh, seperti **** laut, mereka akan membuat lelucon dan melemparnya dengan jijik. Atau ketika ada kerang yang berwarna indah, Zet akan memberikannya kepada Catriona untuk dikoleksi dan dirangkai menjadi kalung.
Kantuk menyerang Putri Catriona, saat mereka lelah bermain-main dan memutuskan untuk duduk di tepi pantai. Ia bahkan tak sadar telah menyandarkan kepala yang terasa berat itu ke bahu Zet. Ketenangan yang dikumpulkan oleh angin, burung camar, dan derau air ini membuat segalanya terasa pas dan sempurna. Bahkan Zet sudah benar-benar melupakan orang ketiga, yaitu si setan Yun Lao, yang tahu-tahu muncul di samping Zet.
“Aku sudah meminta bantuan. Sebentar lagi akan ada nelayan yang datang menjemput kalian.”
Zet menatapnya datar dan tak berkata apa-apa. Kenapa Yun Lao selalu menjadi perusak suasana? Padahal sebentar lagi matahari akan terbenam, dan Zet sudah menantikan saat romantis seperti yang ada di kisah dan puisi yang pernah ia baca.
Namun seolah tak bisa ditolak, Catriona terbangun dan segera melonjak, melambai-lambaikan tangan, begitu ada bayangan perahu layar yang mendekat ke pulau tersebut. Buyar sudah segala kesenangan Zet.
[...]
Zet merasa bosan. Bukan karena tidak ada percakapan di antara ketiganya, melainkan karena terlalu banyak. Si nelayan tua itu terus-terusan mengulang cerita, dengan alasan dia sudah pikun. Bahkan Zet sudah hafal benar, anak pertama si nelayan sudah menikah dua kali, dan punya anak kembar lucu-lucu. Mereka pindah ke Fajar Emas dan mengunjunginya di Kubah Malam sebulan sekali. Anak keduanya baru lulus dari perguruan tinggi, anak ketiga masih di tahun kedua, dan anak bungsunya suka membuat patung dari pasir liat. Benar-benar tidak penting dan membosankan seperti itu!
Sementara Catriona sendiri berusaha untuk selalu menjawab si kakek nelayan dan mengingatkan tentang ini itu. Kasihan sekali Tuan Putri itu. Zet sekarang malah jadi takut kalau-kalau mereka terjebak di tengah lautan sampai malam dan harus berhadapan dengan monster laut yang lain, karena si nelayan lupa cara berlayar.
Untungnya tidak. Sebab tak lama setelah matahari terbenam, mereka sampai di pulau lain yang sebenarnya merupakan bagian dari Kubah Malam. Nelayan itu langsung pergi, tanpa mau diajak untuk beristirahat dulu di daerah Barat dari Kubah Malam. Katanya, ia ingin berlayar menuju Fajar Emas yang ada di Selatan.
“Baik sekali ya kakek itu. Dia mau susah-susah mengantar kita sampai sini. Aku takut dia bertemu monster. Kenapa dia menolak tawaranku?” tanya Catriona khawatir.
Jelas saja aneh, Zet menduga itu adalah teman Yun Lao. Mungkin si kakek itu pun juga hantu seperti Yun Lao yang menjelma menjadi nelayan tua. Jadi tak akan takut mati lagi, karena ya, secara harfiah memang sudah mati. Dan cerita-cerita itu pasti rekaan belaka.
Zet memutuskan untuk bertanya kepada Catriona mengenai hal yang lebih penting, “Oh, iya, kenapa kita kembali ke Kubah Malam?”
“Aku punya rencana,” jawab Putri Catriona sambil tersenyum cerdik. Lalu ia mengajak Zet untuk bergerak.
“Hati-hati, Zet.” Yun Lao muncul untuk memperingatkan. “Kau adalah buronan mereka, ingat.”
“Oh, ayolah tak bisakah kau sekali saja memercayai dia?!”
“Apa?” Putri Catriona langsung menoleh ke belakang, mencari siapa orang yang Zet ajak bicara. Dengan wajah kebingungan ia berkata, “Kau tadi bilang sesuatu kepadaku?”
Putri Catriona menerima jawaban itu, dan hanya menaikkan alis sekilas. “Oke.”
Keduanya menaiki jalanan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan gelap dan menyeramkan. Sejenak Zet merasa Putri Catriona telah mempermainkannya, dan ingin memercayai perkataan Yun Lao, walaupun hati kecilnya tetap merasa optimis. Tempat ini sebenarnya terlalu mengerikan untuk dijelajahi malam-malam.
Namun setelah sampai di ujung, tempat tersebut berubah menjadi seratus delapan puluh derajat berbeda dari sebelumnya. Dari kesan sebelumnya yang horor, pondok sederhana dengan taman dan lampu-lampu menyala itu membuat Zet seakan kembali ke rumah. Terlihat nyaman dengan tetumbuhan yang hijau dan asri. Putri Catriona mengeluarkan kunci dari tas kecil yang ia sabukkan di pinggang. “Kita akan tinggal di sini sementara. Besok aku akan membawa Jenderal Pan ke mari untuk rencana selanjutnya.”
“T—tunggu dulu, Jenderal Pan?” Zet seketika teringat cerita ibunya. Jenderal Pan dengan nama asli Panthera itu adalah komandan pasukan yang menangkap ibunya dulu sewaktu perang besar dunia pertama.
Pintu kayu rumah itu berderit terbuka, Putri Catriona mempersilakan tamunya untuk masuk. “Iya. Tenang saja, Zet. Jenderal Pan adalah guru privatku, sekaligus penjaga setiaku. Beliau sudah tahu betul apa yang menjadi keinginanku. Kita ada di kubu yang sama, kok.”
Rumah pondok ini mengesankan. Jauh dari kata sederhana, apalagi jika sudah memasukinya. Perabotannya tidak banyak, tetapi kelihatan mahal-mahal. “Ini rumah pribadi keluarga kerajaan, ya?” tanya Zet sekadar penasaran, sambil memegangi boneka kucing dari porselen yang mengilat.
“Iya, cuma jarang sekali dipakai, jadi maaf kalau agak berdebu, ya. Terus kamar utama di belakang sana itu rusak, jadi tinggal kamar tamu ini saja.” Putri Catriona memperlihatkan kepada Zet ruangan yang bisa dipakai untuk tidur. Sayangnya hanya cukup untuk satu orang. Sementara Catriona sendiri memutuskan untuk tidur di karpet di ruang tamu.
Zet merasa sungkan dan menyergah perempuan itu, “Jangan, jangan. Aku saja yang tidur di luar.”
“Tidak, lah, kau saja yang tidur di dalam. Kau kan tamu di sini. Makanya pakai kamar tamu.”
“Tapi kan—”
“Atau kamu mau kita tidur berdua di dalam?”
Pertanyaan spontan itu membuat Zet terdiam dan wajahnya seketika memerah. Sementara Putri Catriona langsung tertawa terbahak-bahak.
“Sudah, tenanglah. Aku baik-baik saja, kok.” Putri Catriona menepuk pundak Zet. “Masih banyak yang harus kau siapkan dan lakukan esok hari. Aku dan Jenderal Pan akan membantu sebisa mungkin. Tapi kau pengendali arcanumnya di sini, jadi istirahatlah yang cukup, Zet.”
Senyum keduanya mengembang hampir bersamaan. Zet merasa bersyukur telah menemukan Putri Catriona. Seakan ketika hidupnya telah runtuh, gadis ini membantu menata kembali puing-puing yang sudah tak utuh. Akan tetapi, Yun Lao masih saja tampak tidak senang. Hantu itu terbang menjauh, meninggalkan keduanya dalam keheningan senja buta.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-