The Master Of Arcana

The Master Of Arcana
62: PESAN KJELDE



“Aha, akhirnya!” Merasa “mangsa”-nya sudah dekat di depan mata, Argyle beringsut dari Mirran dan hendak mencuri cakram dari Zet.


Dihadang Janos dan Argyle sekaligus, mau tak mau Zet mengoper pada Simon di sampingnya.


“Huh, tak berani berkelit dariku?” sindir Argyle sambil berlari ke arah Simon. Kai ini, ia dan Brynn menyudutkan si kapten Empat Musim itu sampai ke sisi terjauh lapangan.


Inisiatif mendorong Zet mendekat ke Simon. Benar saja, Simon mendadak berputar di tempat dan mengoper pada Zet.


Baru sedetik melayangkan cakram, Zet langsung mengopernya lagi kepada Mirran di sudut terjauh lapangan.


“A-apa?” Argyle berteriak. “Jangan harap...!”


Argyle jelas hendak merebut cakram dari Mirran, namun Zet malah pasang badan menghalangi Argyle. Posisi keduanya cukup berdekatan, sehingga satu-satunya cara untuk menerobos hadangan Zet adalah dengan menjatuhkan Zet. Itu artinya pelanggaran lagi dan Argyle harus keluar dari lapangan. Apapun yang ia lakukan, keuntungan tetap ada di tangan Empat Musim.


“Menyebalkan kau, Amazetaa!” hardik Argyle. “Akan kulaporkan ini pada Putri Catriona!”


Zet malah menjawab, “Tak usah repot. Aku yakin Tuan Putrimu sedang ada di sini dan menyaksikan semua ini.” Ia tak perlu menoleh ke arah Kjelde untuk menegaskan maksudnya.


Tepat saat itu pula terdengarlah sorak sorai penonton yang riuh rendah, disertai seruan komentator, “Gool! Gol yang indah dari Mirran! Dua-satu untuk Empat Musim! Waktu habis, pertandingan selesai! Tim Empat Musim telah membuat kejutan besar tahun ini, melaju ke Babak Final dengan menyisihkan tim unggulan teratas, Kubah Malam!”


Terjadilah sudah. Zet dan teman-teman setimnya, baik di tim utama maupun pemain cadangan tumpah-ruah ke tengah lapangan, saling berpelukan, bersalaman dan memberi selamat.


Sebaliknya, para pemain Kubah Malam mengungkapkan rasa kecewa engan bermacam-macam cara. Kjelde menangis sambil menutup wajah di tiang gawang. Janos jatuh berlutut dan meninju-ninju tanah. Brynn menghampiri wasit dan protes, menganggap Zet telah melakukan pelanggaran dengan menghalang-halangi Argyle di jarak yang amat dekat. Namun wasit tak menggubris protes itu, mengatakan bahwa selama Zet tak menjatuhkan Argyle, itu bukan pelanggaran.


Namun, yang paling mengenaskan adalah tingkah Argyle. Ia malah terus berlutut dan menjambak-jambak rambutnya sendiri sambil berteriak-teriak histeris, “Amazeta! Awas kau! Akan kubalas kau lain kali! Amazetaa!”


Zet hendak menghampiri Argyle dan berniat menyadarkan pemuda itu. Ini semata-mata adalah pertandingan olah raga, walaupun ada kehormatan yang hendak diraih di sini, akan lebih berarti bila itu diraih dengan kehormatan pula dan hati dan benak yang bersih. Namun Kjelde memberi isyarat pada Zet dari jauh agar jangan mendekat. Biar Kjelde saja yang bicara pada Argyle dan ia akan menemui Zet nanti untuk menjelaskan seluruh duduk perkaranya.


Melihat sikap Kjelde itu, Zet mengurungkan niatnya dan berbalik ke luar lapangan.


Sungguh, pertandingan tadi telah menguras seluruh stamina dan emosinya. Rasa lelah luar biasa membuat Zet pasti pingsan, andai tak ada arcana air yang selalu menjaga tubuhnya.


\==oOo==


Seperti janjinya, Kjelde bertemu dengan Zet di kantin kampus setelah makan malam. Tentu saja kantin sudah sepi, tapi tak tertutup karena letaknya agak terbuka dengan pemandangan ke taman.


“Nah, kau pasti punya pertanyaan untukku, Amazeta,” kata Kjelde, membuka pembicaraan.


Zet tersentak sesaat. Kjelde memanggilnya “Amazeta”. Lagipula, saat pertandingan tadi suara gadis itu tak terdengar cukup jelas karena teredam riuh-rendah sorakan penonton, pemain dan pembawa acara. Kini saat suara gadis itu terdengar jelas, Zet baru sadar bahwa suara Kjelde tak mirip dengan suara Catriona.


Pertanyaan yang langsung ke sasaran tentu dibalas dengan jawaban langsung juga. Kjelde tersenyum manis. “Kjelde adalah nama asliku,” katanya. “Banyak orangyang bilang aku amat mirip Putri Catriona, karena itulah aku dipekerjakan di istana.”


“Sebagai apa?” Zet penasaran.


“Mungkin kau pernah mendengar tentang ‘kembaran pengganti’. Bilamana sang putri sedang bepergian jauh atau pergi ke suatu tempat dengan resiko bahaya yang tinggi, akulah yang diutus untuk menggantikannya.”


“Tapi saat sang putri berkunjung ke Empat Musim diam-diam untuk mengunjungi keluarga besarku, itu dirinya yang asli, bukan? Maksudku, suaranya...”


“Aku tak tahu, tapi hampir pasti ya. Karena sepengetahuanku akulah satu-satunya kembaran pengganti Tuan Putri. Begini sebabnya, agar aku bisa mewakili Putri Catriona lebih baik lagi, aku harus menempuh pendidikan lebih lanjut. Maka aku mendapatkan bea siswa penuh untuk kuliah di sini sejak dua tahun yang lalu.”


Zet tersentak lagi. Ternyata Kjelde adalah seniornya, bukan pemain rekrutan baru Kubah Malam. Seharusnya ia memperhatikan petunjuk Rick lebih seksama, bahwa tidak ada rekrutan baru di Kubah Malam tahun ini.


“Usiaku lebih tua tiga tahun dari Tuan Putri. Kebetulan Argyle adalah kekasihku. Aku suka dia karena ia tampan dan imut. Tapi sikapnya yang kadang kekanak-kanakan dan mentalnya yang tak terlalu stabil sering membuatku kerepotan. Jadi mohon maklum dan jangan ambil hati terhadap semua sikap anehnya itu. Mewakili Argyle, aku minta maaf padamu, Amazeta.”


“Panggil aku ‘Zet’ saja,” ujar Zet. “Ya, tak apa-apa. Aku sendiri tak mengira Argyle bakal bertindak seekstrim tadi. Kurasa tak etis bila aku menanyakan apa yang menyebabkan Argyle seperti itu, bukan?”


“Tak apa-apa, kok. Argy memang mengalami trauma berat karena kehilangan orangtua dan kedua kakaknya dalam sebuah wabah yang konon datangnya dari Empat Musim, negeri tetangga Kubah Malam. Karena itulah, walaupun kedua negeri kita bersekutu, Argyle memendam rasa benci dan trauma terhadap orang-orang dari Empat Musim. Terutama mereka yang menonjol atau yang ia anggap sebagai saingan atau penghalangnya, seperti dirimu.”


“Oh, begitu. Kuharap cepat atau lambat Argyle bakal terbebas dari belenggu traumanya itu dan bisa lebih baik lagi. Terus terang, kurasa Argyle adalah atlit Odyscus terbaik yang pernah kulihat sampai saat ini, bahkan lebih baik daripada Rick Oakes, bintang dari Fajar Emas itu.”


“Terima kasih. Sudah tugasku untuk membantu Argyle agar mentalnya jadi lebih stabil, agar ia bisa diterima dalam tim utama Langit Angkasa. Agar hidupnya jadi lebih berarti.”


Tak ingin berlama-lama, Kjelde mengganti topik. “Oya, Zet. Apa kau ingin titip pesan atau salam pada Putri Catriona? Salam rindu, mungkin?”


Sadar Kjelde sudah tahu tentang sikapnya terhadap Putri Catriona, Zet jadi gelagapan. “Oh, eh, tak usahlah. Aku hanya ingin tahu apakah Tuan Putri baik-baik saja, itu saja. Toh kami hanya teman biasa, tak pernah lebih.”


“Haha, baiklah. Begitu aku mendapat kabar tentang Tuan Putri, aku akan memberitahumu.” Sambil mengatakannya, Kjelde bangkit dari tempat duduknya dan berbalik hendak pergi. Lantas ia sempat menambahkan, “Kau ini baik hati, Zet. Apapun yang kaucapai nanti, pertahankan hati baikmu itu walau bagaimanapun juga.”


“Baik, aku akan selalu mengingatnya,” janji Zet.


 


 


** -N O V E L T O O N O F F I C I A L-**