
Lengan kiri Zet digoyangkan pelan. Matanya mengerjap memindai ruangan sebentar. Saking lelapnya ia tidur semalam, Zet bahkan hampir hilang ingatan sekarang sedang berada di mana. Namun, setelah wajah Tuan Putri Catriona muncul dan menghalangi cahaya dari pintu, semua ingatan kembali pada posisi yang semestinya. Zet membalas senyuman manis itu dengan rikuh, lalu menunggu sebentar sebelum beranjak mengikuti langkah perempuan tersebut keluar kamar.
Setelah mandi dan berbenah diri, meja makan sudah dipenuhi dengan makanan. Asap dari sup kacang polong dan kentang membumbung tinggi ke langit-langit, roti yang merekah kelihatannya sangat empuk, ditaburi kismis dan kacang pecan, serta lauk ikan yang baru selesai dipanggang. Semua bau dari atas piring bekerja sama untuk membuat perut Zet meronta dan berbunyi nyaring. Pemuda itu sudah hampir bertanya dari mana asal makanan ini, lalu apakah Pohon Kubah Malam juga bisa berbuah daging kalkun goreng? Namun, keberadaan Jenderal Pan beserta bakul kotak penjalin menjawabnya tanpa butuh waktu panjang.
“Duduklah, Zet.” Pria itu mempersilakan dengan logat sopan santunnya yang khas. Zet sebenarnya masih enggan berbicara dengan orang yang telah menangkap ibunya di masa lalu itu. Setelah Rhea bercerita kemarin, rasa hormat Zet terhadap orang-orang Kubah malam seolah mulai ikut terkikis. Dan mungkin sebentar lagi, ia melakukan hal yang sama kepada Putri Catriona. Hanya saja, hati kecilnya masih berharap ada orang—setidaknya dua ini saja—berbeda dari yang lain.
Rayuan meja lesehan ditambah rasa sungkan membuat Zet akhirnya duduk juga. Putri Catriona memberinya piring kosong, dan mendekatkan roti yang sudah diiris-iris setebal satu senti. “Kau barangkali ada pertanyaan, Zet?” tanya perempuan itu.
Tentu saja, Zet punya. Matanya tertuju kepada Sang Jenderal. “Apakah Anda memiliki informasi tentang ibu saya, Pak?”
Raut wajah Jenderal Pan tak bisa ditebak. Guratannya tetap saja tampak kaku. Pria itu membiarkan poni abu-abu panjangnya mencuat, sembari menengadahkan gelas di bawah cerek yang dituang oleh Tuan Putri. “Sayangnya tidak sebanyak yang kau mau.”
Mata Zet menegas. Kantung matanya membasah. “Jadi? Apakah mayatnya tidak ditemukan?”
Pria berambut panjang itu menggeleng. “Begitulah, kata saksi mata ia seolah lenyap ditelan air laut. Aku sangat berharap ibumu selamat dan kabur entah ke mana, Zet. Wanita itu telah membuatku terkagum-kagum. Aku bertemu dengannya cuma sekali di medan perang dulu, dan aku akan selalu mengingat pengorbanannya terhadap kemanusiaan.”
Air mata membutir di dagu Zet. Putri Catriona segera mengelus pundaknya. “Kita berdoa saja supaya para Dewa memberikan kebaikan dan kesejahteraan bagi ibumu.”
Seolah teringat sesuatu yang penting, Tuan Putri menepuk kedua tangannya sekali, berusaha mencairkan suasana. “Ayo, makanan yang sudah terhidang, tidak boleh kita sia-siakan.”
Sungguh disayangkan, sarapan itu berlangsung dalam diam yang mampu melumpuhkan semua cita rasa masakan menjadi hambar.
[...]
Zet berusaha tersenyum sebagai tanda terima kasih. Sebetulnya, ia punya Yun Lao kalau untuk sekadar dijadikan teman mengobrol. Walaupun hantu itu tidak banyak membantu akhir-akhir ini. Ia selalu mengejek Zet yang amat naif, memercayai Tuan Putri dan Jenderal Pan hanya karena diselamatkan dan diberi makan. Oke, mungkin bagi Yun Lao tindakan itu belum cukup, tetapi apa salahnya percaya bahwa akan selalu ada kebaikan dalam diri seseorang? Justru menurut Zet, menganggap semua orang Kubah Malam jahat, hanya karena raja dan pangerannya korup, adalah pemikiran yang sama sekali salah.
“Aku sebenarnya masih tak seratus persen yakin,” Zet akhirnya bicara, “apakah rumor yang mengatakan bahwa Kerajaan Ular Pasir akan menyerang kita itu benar-benar nyata?”
Jenderal Pan bergumam. “Kalau tidak benar, mana mungkin Raja Taraghlan akan sepanik ini? Dari laporan para mata-mata kami, memang begitu adanya. Ular Pasir memborong senjata dari Fajar Emas. Fajar Emas mulai menutup diri dari Kubah Malam dan Empat Musim. Sudah hampir bisa dipastikan, dalam tiga tahun terakhir akan terjadi perang besar.”
Zet menelan ludah. Apa yang ia cemaskan selama ini akhirnya terkonfirmasi. Jenderal Pan menerangkan lagi, “Tentu bukan tanpa alasan kalau Raja Taraghlan benci begitu tahu kau mengaktifkan lagi arcanum. Dosa masa lalu itu hanya akan menambah beban militer kita.”
“Aku minta maaf, aku tak bermaksud untuk membuat keruh suasana. Pada awalnya aku hanya ingin diriku tidak dipandang lemah oleh keluargaku. Aku tahu, itu terdengar konyol dan kekanak-kanakan.”
Tawa kecil sempat keluar dari mulut Jenderal Pan. “Tidak juga, aku bercanda, Zet. Aku tidak menyalahkanmu. Aku sendiri bahkan sekarang berpikir, dengan adanya Master Arcana, kita bisa menyelamatkan dunia dari para monster rakus itu. Makanya, kita harus jalan sama-sama.”
“Tapi kenapa? Apa alasan Ular Pasir tiba-tiba mau menyerang kita? Ibu bahkan sudah mengorbankan diri agar mereka menyerah dan kembali ke Utara, bukan?”
Jenderal Pan menyunggingkan senyum sinis. “Ya, begitulah. Yang namanya Ular Pasir tidak pernah berubah, Nak. Sekali tamak akan tetap tamak. Lahan kosong mereka sudah habis di utara dan ingin mengganggu wilayah kami. Mereka pun dari dulu ingin menjadi negara terbesar dan terkuat di dunia. Mencaplok kekuasaan Kubah Malam tentu menjadi tindakan rasional bagi mereka. Suku Padang Sabana yang dulunya di utara saja telah merasakan kebrutalan nafsu dari para penguasa kerajaan itu.”
Wajah Zet tampak makin depresi. Putri Catriona mendekat ke tempat tersebut, dan mengulurkan jaket kepada Zet. Perempuan itu menghela napas dan melirik Jenderal Pan dengan wajah malas. “Terima kasih guru, sudah menghibur Zet.”
Jenderal Pan hanya mengedikkan bahu lalu beranjak.
Putri Catriona berkata, “Ayo Zet, kita pergi.”
“M—memangnya mau ke mana?”
Putri Catriona menjawabnya dengan satu seringai cerdik. Gadis itu merendahkan tudungnya saat jaket yang ia acungkan sudah berpindah tangan. “Ikut saja.”
[...]
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-