
Senyum lebar. Jari jemarinya tampak mengetuk pelan permukaan meja di depannya. Beda anak perempuan cantik berwajah imut nan mengemaskan ini. Beda lagi dengan pria yang duduk di depannya dengan wajah kusut. Permen karet di kunyah sebelum gelembung balon terlihat dan meletup. Lea kembali tersenyum setan pada Vian. Laura duduk di samping Vian. Anak bungsu Hiro Yamato itu tak mau ikut-ikutan dengan rencana adik sepupunya ini. Mengancam seorang Vian Yamato?
God. Yang benar saja! Seorang Sean Yamato saja tidak berani mengancam Vian Yamato. Lucunya Lea Yamato malah dengan angkuh dan berani mengancam Vian dengan video kedekatan nya dengan Adella. Meskipun, di lihat dari sudut mana saja. Tidak ada yang aneh dari video pendek berdurasi lima menit itu. Namun bagi Sean tentu berbeda. Adik nya tercinta akan mencak-mencak. Mungkin bisa melampiaskan kemarahan dan kecemburuan pada hal yang membahayakan.
"Jadi, mau putri Lea tercinta ini apa?" pada akhirnya Vian bersuara.
Lea tersenyum lebar. Seringai iblis terlihat begitu menakutkan. Membuat bulu roman siapa saja yang melihatnya akan berdiri.
"Membunuh," ujarnya,"aku ingin menjadi diri menjadi seorang pembunuh terlatih dan tak terkalahkan," lanjut nya.
Glek!
Laura Yamato meneguk kasar air liur yang ada di kerongkongan. Bagaimana bisa Lea berkata dengan gamblang tentang membunuh. Walaupun Laura bukan anak yang normal. Tetap saja ia tidak begitu bebas dalam berucap. Rumah kaca terasa hening sesaat. Vian terlihat kembali tertegun sebelum menghela napas pelan.
"Ternyata hasrat membunuh di dirimu terlalu besar," tebak Vian. Vian pernah membaca sejarah keturunan Yakuza yang di simpan apik di dalam buku besar.
Memang ada keturunan yang begini. Hasrat membunuh yang begitu besar. Tidak peduli lawan tidak bersalah atau pantas untuk mati. Baginya, melihat mangsa menggelepar dan mengerang adalah hal yang menyenangkan. Seperti Lea, sangat persis. Jiwa psikopat terlalu kental. Wajah bak malaikat, namun jiwa di penuhi kegelapan.
Vian pikir, adik sepupu nya ini butuh penanganan lebih. Sebelum menciptakan kekacauan. Karena ada beberapa di buku yang terpaksa di penggal karena ketidakmampuan diri mengontrol emosi. Itu adalah racun yang membunuh secara perlahan. Dan, akan menghancurkan kelompok Yakuza dari luar dan dalam.
"Oke," jawab Vian,"tapi berikan dulu ponselmu. Karena aku sendiri yang akan menghapus nya," lanjut Vian.
Laura membulat kan matanya menatap Vian tak percaya. Bagaimana bisa Vian mempan di ancam? Laura menoleh kembali ke arah Lea. Lea membentang senyum miring dan dingin dalam satu waktu. Lea mengulur ponselnya pada Vian. Lea tau Vian bukan pria yang tidak memegang janji.
Brak!
Buk!
Buk!
Pupil mata Lea dan Laura membesar. Vian tidak menghapus file video. Pria remaja itu menghancurkan ponsel dengan menghempas dan memecahkannya dengan batu berukuran sedang di samping kursi.
"A——abang," panggil Laura tergagap.
Vian menoleh ke arah Laura. Tersenyum kotak, seolah-olah tidak melakukan hal aneh. Tersenyum polos tanpa dosa, tangannya terangkat mengusap pelan puncak kepala Laura.
"Tidak usah takut. Abang hanya ingin menghilangkan hal yang mengacau saja!" Ujarnya sembari mengusap puncak kepala sang adik. Sebelum menoleh kearah Lea."Nanti Abang belikan ponsel baru kau tenang saja," lanjut Vian.
Raut wajah terkejut berubah dalam hitungan detik. Tersenyum imut.
"Tidak masalah Abang. Aku suka melihat ekspresi Abang menghancurkan ponsel itu. Saat Abang menghancurkan nya, Abang terlihat sepertiku," jawab Lea dengan senyum lebar.
Vian tidak menjawab. Setelah ini, Vian akan membicarakan tentang kelainan Lea pada Hiro dan Leo.
...***...
"Kita mau kemana?" Tanya Adella kala menarik tangan Sean untuk berhenti di trotoar jalan.
Sean mengulas senyum."Kencan dan memilih beberapa tempat untuk menikah dan konsep seperti apa yang kau mau," jawab Sean dengan santai.
"Hei! Bagaimana bisa kita yang memutuskan?" tukas Adella.
"Kenapa tidak?"
"Itu tugas orang tua. Mereka yang akan memberikan gambaran."
"Memangnya kamu nggak punya gambaran pernikahan impian?"
Adella mengedipkan ke dua kelopak matanya. Pernikahan impian? Apakah dia punya! Ia sendiri tidak pernah berpikir tentang pernikahan. Saat bullying besar-besaran ia terima. Yang ada di otak nya adalah bertahan dan bertahan. Serta keinginan membalas yang kuat. Karena rasa sakit yang ia terima.
Adella mengulas senyum lebar. Meskipun tak percaya ia akan menikah dengan pria posesif dan gila ini. Setidaknya ia merasa bahagia karena pria yang akan menikah dengan nya adalah Sean Yamato. Bukan pria lain.
"Ayo, kalau begitu!" ujarnya.
Ke duanya berjalan menyusuri trotoar. Hingga sampai di deretan butik gaun pengantin. Adella dan Sean masuk ke dalam butik yang di anggap bagus. Setidaknya mereka menentukan gaun pengantin lebih dahulu.
"Selamat datang!" Seruan serentak terdengar kala ke duanya membuka pintu di sertakan dengan tubuh membungkuk memberi hormat.
Manajer butik membungkuk menyapa ke duanya. Di ikuti oleh Sean dan Adella. Ke dua nya di giring masuk kedalam tempat khusus. Dimana gaun dan jas pengantin di simpan berjajar rapi.
"Mau coba yang model seperti apa nona muda?" tanyanya menatap Adella kala berhenti di bagian gaun wanita.
Adella melirik Sean. Seakan tau, Sean mengulas senyum.
"Pilihlah gaun yang tidak terbuka dan terlalu memperlihatkan lekukan tubuh," ujar Sean.
Kontan saja beberapa orang di belakang tubuh mereka menatap aneh pengantin pria. Dimana-mana pengantin wanita harus tampil memukau. Dengan memperlihatkan lekuk tubuh dan kecantikan nya. Lalu ini apa? Bagaimana bisa memilih baju yang sopan dan tidak memperlihatkan bentuk tubuh.
Anehnya lagi, mereka melihat gadis itu mengangguk dan tersenyum. Manajer hanya mengulas senyum seakan paham dengan keinginan klien nya. Wanita berusia empat puluh itu jelas tau maksud klien prianya. Sifat yang positif bukan satu atau dua kali ia saksikan. Ada banyak yang datang dengan berbagai pemikiran dan sifat. Termasuk Sean dan Adella.
"Kalau begitu, mari ikut saya nona!" Ujarnya mengulurkan tangan ke arah deretan baju gaun sederhana namun terlihat elegan.
Adella mengangguk dan melepaskan genggaman tangan Sean. Begitu pula sebaliknya, Sean melepaskan tangan Adella. Ia pun di bawa ke deretan jas yang berada di bagian selatan tokoh.
...***...
"Papa gila!!!!!!!" maki Kris dengan suara lantang.
Ken hanya diam. Ia pikir mudah mengalihkan perhatian Kris. Anak lelaki nya ini ternyata benar-benar cerdas. Terbukti, belum satu bulan. Kris sudah dapat mencium gerak gerik aneh darinya. Tidak salah jika ia menjadi pemimpin Joker. Dan dengan mudah membangun apa yang terlah hancur. Meskipun tidak begitu besar, setidaknya pergerakan Kris terlihat.
"Maafkan papa, Nak!" jawab Ken pelan.
Kepala Kris mengeleng keras."Jangan membodohi aku, Pa!" tukas Kris,"aku bukan orang bodoh. Dia tidak mungkin adikku, dan papa tidak mungkin menduakan mamaku!" bantah Kris.
Ken menunduk dalam. Kris melangkah mendekati Ken yang duduk di kursi roda. Ia membungkuk kan tubuh nya. Menatap Ken dengan intens. Matanya tampak tajam dan mengelap.
"Katakan. Dia bukan adikku!" ujarnya entah untuk ke berapa kalinya.
"Maaf," hanya itu yang keluar dari bibir Ken.
Kris menegak kan lagi tubuh nya. Ia melangkah mendekati kaca besar di samping ruangan kerja ayahnya.
Bug!
Bug!
Bug!
"Kris!!!!!!" teriak Ken panik.
Kris menghantam kaca hingga darah segar mengalir. Ken terburu-buru mendorong kursinya untuk mendekati sang putra.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan nya, maka ia lebih baik hancur papa. Aku akan menghancurkan dia. Anak haram itu, bukan adikku. Dan...aku, tidak menerimanya. Karena hatiku sakit. Aku mencintai nya, namun dia terlarang bagiku. Lalu papa pikir aku bisa apa selain menghancurkan nya?" ujar Kris dengan nada serak dalam. Seakan ingin menangis.
Hatinya hancur. Kepalanya penuh dengan ketidak percayaan. Ken tercekat. Menatap punggung Kris yang terlihat lunglai. Dan ia tau kata-kata Kris bukan omong kosong semata.