The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 96 (Jelmaan iblis bervisualkan malaikat)



Tak!


Sean mengangkat kepalanya kala satu botol Red Wine mahal di letakan oleh sang ayah di atas mini bar markas Yakuza. Pangkal hidung Sean berlipat. Hiro mengambil tempat duduk tepat di samping Sean.


"Ada apa dengan ekspresimu itu, Son?" ujar Hiro tanpa menoleh ke arah Sean.


Bos Yakuza itu bergerak cepat dan cekatan membuka tutup botol minuman dengan warna merah kelam itu. Tak hanya membuka saja, Hiro mengisi cairan dengan alkohol rendah itu ke dalam gelas berukuran sedang. Sean masih mengamati apa yang sang ayah lakukan.


Bunyi gaduh dari kaki gelas digeser ke arah Sean. Minuman yang biasa di sesap oleh Bos Mafia itu kala tidak di rumah. Mengingat, omelan Dera yang tak ingin ia dengar. Istri imutnya itu sangat tidak suka jika ia menyesap minuman beralkohol. Tidak peduli seberapa kadal alkohol yang terkandung di dalam nya. Bagi Dera, alkohol tetap alkohol. Cairan yang tidak pernah menjadi sahabat tubuh manusia. Begitulah cara Dera berpikir dan memandang alkohol. Terkadang Hiro ingin membantah. Mengingat tidak ada Mafia di dunia ini yang lolos dari rasa sepat dan manis dari cairan Red Wine. Istri tercinta nya itu lebih suka jika ia minum susu dan jus buah. Sudah seperti anak kecil saja. Bukan Hiro Yamato namanya jika ia berhenti. Tidak membantah ataupun melawan, Hiro memilih meminum diam-diam. Demi menjaga perasaan sang istri.


Alis mata Sean menungkik ke atas sebelah kanan. Menatap minuman di depannya dan Hiro berganti-ganti. Seakan tengah bertanya dengan maksud sang ayah menghidangkan minuman beralkohol di depannya.


"Minum," ujar Hiro. Sebelum pria itu menyesap Red Wine milik nya dengan perlahan.


Sean menurunkan sebelah alis matanya yang sempat naik. Tangannya bergerak tanpa kata, menyesap perlahan minuman merah gelap itu. Pangkal hidungnya mengerut kala rasa sepat dijajal oleh indra ecapnya. Sebelum rasa manis dari anggur menganti rasa sepat. Sean meletakan gelas minuman dia atas meja.


"Bagaimana rasanya?" tanya Hiro yang tersenyum tipis melihat ekspresi sang putra.


"Sepat...dan manis," jawab Sean jujur.


Seumur-umur, Sean baru kali ini menjajal lidahnya dengan minuman alkohol. Dera tidak ingin baik Vian dan Sean mencoba minum pembawa ricuh itu. Dera ingin anak-anak nya jauh dari alkohol, rokok, narkoba dan hal-hal di nilai membawa candu serta ketergantungan itu. Meskipun, Sean dan Vian adalah anak yang gila dan berjiwa psikopat. Ke duanya masih tau batasan mereka. Terutama larangan Dera. Yang seperti kaset DVD rusak kalau sedang ceramah.


Hiro terkekeh. Menepuk pelan punggung belakang Sean.


"Hidup juga seperti seperti itu Sean. Kau sudah akan beranjak dewasa. Ada beban berat di pundak mu. Meskipun, mamamu menginginkan kau untuk menjadi apa yang kau mau. Namun di sini, kau terikat dengan kelompok Yakuza. Kau bahkan memutuskan untuk mengingat Adella di hidupmu. Papa berharap kau akan terus mengingat rasa di lidahmu saat ini kedepannya," ucap Hiro menatap serius Sean.


Sean mengangguk kecil."Ya, Pa!"


"Dan kau harus tau semua kisah hidup yang sebenarnya di mulai saat ini. Papa selalu berharap baik kau, maupun Vian dan adik-adikmu akan selalu bahagia," ujar Hiro lagi.


"Pasti. Aku akan pastikan aku dan saudaraku yang lainnya bahagia kedepannya,Pa."


"Banyak bahaya di depan sana. Yang menjadi tumpuan adik-adik dan mamamu adalah kau dan Vian. Sedangkan papa, sudah semakin berumur. Kita tidak tau bagaimana takdir bergerak ke depan. Papa ingin kau menjadi pelindung pertama."


Sean menatap lambat wajah sang ayah. Meskipun wajah sang ayah terlihat jauh dari kata tua. Namun usia tidak mampu berbohong. Kakeknya, Zeo Yamato sudah sangat tua. Dan ia tau tidak selamanya sang ayah bisa melindungi ia dan keluarganya yang lain.


Hiro mengulas senyum. Tangannya meraih kembali gelas Red Wine memutarnya perlahan. Sebelum kembali menyesap. Hiro tidak tau, hatinya terasa resah dan gelisah. Seakan ada hal besar yang menunggu anak ke duanya ini di depan sana. Apapun itu, Hiro Yamato berharap putranya akan baik-baik saja dan bahagia. Itulah doa yang sering pria ini panjatkan.


...***...


"Mau jalan denganku hari ini?" tawar Vian kala melihat Adella bermain air di kolam berenang.


Adella terkejut. Ia menoleh kebelakang, menatap sang pemilik suara. Derap langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arahnya. Adella mengulas senyum. Cahaya mentari memantul di permukaan air kolam. Pagi-pagi sekali, Sean dan Hiro keluar dari rumah besar. Tidak ada yang tau kemana ayah dan anak itu pergi.


"Mau kemana?" tanya Adella. Kala Vian mengambil tempat duduk di samping Adella. Ia ikut mencelupkan ke dua kakinya di dalam air kolam.


"Hem...kau mau kemana?" bukanya menjawab. Pria ini malah balik bertanya.


"Hei! Kau yang menawari jalan keluar Vian. Tapi malah bertanya balik ke aku. Dasar aneh," ujar Adella dengan nada mencemooh.


Vian tergeletak."Aku melihat wajahmu terlalu bete di tinggal adikku. Jadi, aku pikir nggak ada salahnya aku menawarkan tawanan mengiurkan. Kapan lagi jalan-jalan sama pria setampan aku, Hem!"


Jika tadi Vian yang tergelak. Kini giliran Adella yang tergelak. Sebelum menepuk kecil bahu Vian. Kedua sudah mulai akrab, dalam arti kata; sebatas teman. Tidak lebih dan tidak kurang. Sama-sama tau menjaga batasan diri masing-masing.


"Terlihat jelaskah?" Tanya Adella menangkup ke dua sisi wajahnya.


Kepala Vian mengangguk."Ya, kau terlihat seperti orang yang di tinggal satu tahun saja."


Adella mendelik tajam pada Vian sebelum ke duanya tertawa. Musim panas adalah musim ke dua yang tiga di sukai oleh negara yang memiliki iklim empat musim. Karena di musim panas akan ada banyak wahana air yang ingin di kunjungi.


Diam-diam Lea dan Laura merekam interaksi Adella dan Vian. Ke duanya bersembunyi tak jauh dari kolam berenang outdoor. Laura mengerutkan dahinya, sebelum menoleh menoleh ke arah Lea.


"Memangnya Abang Sean akan cemburu melihat Video itu?" tanya Laura dengan wajah tak mengerti.


Lea menoleh ke samping."Kak Laura terkadang terlihat polos terkadang terlihat seperti monster kecil. Tidak seperti aku, yang benar-benar monster!" ucap Lea dengan bangganya mengakui dirinya sebagai monster kecil.


Kontan saja Laura berdecak sebal. Anak perempuan yang muda beberapa tahun darinya ini memang di kenal menyebalkan dan menakutkan. Walaupun ia adalah anak yang jahil. Namun kadar jahilnya belum berada di level Lea. Yang benar-benar bisa mengalahkan ia sebagai setan betina kecil. Lea benar-benar terlihat sempurna sebagai pengganti Sean. Jika saja tambuk kekuasan berpindah. Wajah imut dan cantik itu hanya topeng di balik sifat iblis nya. Seperti saat itu, ia tersenyum menatap ke arah Vian dan Adella. Sungguh! Terlihat seperti psikopat sejati. Siapa sebenarnya, yang di tiru oleh Lea. Satu pemikiran yang terlintas di otak cerdasnya Laura.


Apakah darah Yakuza terlalu kental pada Lea. Hingga adik sepupunya ini benar-benar iblis dengan visual jelmaan malaikat.Ah! Entahlah Laura bingung. Ia memilih menatap ke arah Vian dan Adella yang beranjak dari kolam menuju ke arah rumah. Lea masih terlihat antusias menatap gerak-gerik Adella dan Vian.