
Kelopak mata Adella terbuka perlahan. Manik mata hitam legam merasa silau, cahaya lampu yang masuk terbentur retina. Membuat ke dua matanya menggerjab perlahan.
"Kakaknya sudah bangun!" seru Laura heboh.
"Ssstt!! Jangan berteriak Laura. Kakaknya bisa terkejut!" Peringat Launa meletakan jari telunjuk nya di depan bibir.
Laura mencabik. Sebelum menuruti perkataan sang kakak. Ke duanya duduk di dua sisi ranjang. Adella mengerang pelan, kepalanya terasa pusing.
"Ini——"
"Ini di rumah kita. Eh, rumah keluarga Yamato. Kakak lupa ya, Abang Sean membawa kakak ke sini," jelas Laura menggebu-gebu.
Ah, Adella ingat. Saat itu ia hampir pingsan di depan loker. Pria itu mengusap air matanya dan mengendong nya. Launa dan Laura bergerak membantu Adella duduk dari posisi terlentang. Gadis remaja itu berdasar di dasbor ranjang dengan bantal kepala sebagai sandaran.
"Ini air!" seru Launa tak lupa menyodorkan segelas air putih ke tangan Adella.
Gadis itu menerima nya. Bibirnya putih pucat, perlahan namun pasti Adella meneguk air hingga tandas. Launa menerima kembali gelas yang kosong.
"Kakak lapar kan?" tanya Launa begitu perhatian.
Adella menarik ke dua sudut bibirnya ke atas.
"Kami akan meminta seseorang untuk membawakan kakak makan," kini suara Laura terdengar.
Adella hanya mengangguk pelan. Ke duanya turun dari ranjang. Melangkah menuju pintu keluar. Adella tersenyum lebar, baru kali ini ia melihat anak kecil sedewasa dan setenang itu. Hanya sepuluh menit jarak ke duanya keluar. Pintu kembali berderit. Seorang wanita mungil masuk ke dalam kamar. Tersenyum ke arahnya.
"Bagaimana keadaanmu, nak?" Tanyanya lembut di sela langkah kaki yang dia ambil.
"Lebih baik, Tante!" jawab Adella lirih.
Dera mendudukkan body nya di bibir tempat tidur. Menempelkan telapak tangan di dahi Adella. Masih terasa panas, Dera tak tau seberapa menderita nya gadis ini sampai memiliki gangguan panik dan trauma.
"Masih panas," seru Dera pelan. Sebelum menurunkan telapak tangannya.
"Tante——"
"Panggil Mama saja. Tante rasanya terlalu jauh, lagipula teman-teman Vian dan Sean memanggil ku, Mama bukan Tante!' Potong Dera sembari mengulas senyum.
"Ma——maa," seru Adella terbata. Panggilan ini terlalu jauh asing dari bibirnya. Sudah sangat lama ia tak bisa memanggil seseorang dengan panggilan ini.
Telapak tangan Dera mengusap pelan wajah pucat Adella penuh kehangatan dan kelembutan membuat ke dua kelopak mata Adella tertutup. Menikmati rasa hangat yang menjalar di tubuh nya. Dera meras iba, melihat gadis sebaya dengan putranya. Tak mudah kehilangan sosok ibu di usia yang masih belia.
"Jangan menangis sayang!" Seru Dera mengusap ke dua pipi Adella yang di genanggi oleh air mata.
Adella Putri merasa sakit. Entah kenapa rasa sangat menyakitkan dirinya. Kenangan yang tak mampu di gali. Ia bahkan tak bisa mengingat dengan jelas wajah sang Ibu. Jati dirinya pun ia lupakan. Jika bukan karena name tag di tangan nya. Mungkin nama nya pun akan ikut sirna.
Ke dua kelopak mata Adella terbuka. Ke dua mata itu basah, tergenang.
"Bo——bolehkah, aku memeluk Mama?" tanya serak.
Dera tersenyum. Dan mengangguk. Perempuan ini merentangkan ke dua tangan nya. Adella masuk ke dalam pelukan hangat Dera. Samar-samar Dera dapat mendengar tangisan Adella. Gadis remaja itu menangis, di tengah hati yang sakit. Usapan di punggung belakang nya terasa.
"Tidak apa-apa, Mama di sini." Ujar Dera di sela usapan nya.
Di luar pintu kamar tiga orang pria berdiri. Pintu kamar terbuka sedikit.
"Sebaiknya, kalian berdua tidak usah masuk dulu. Biarkan Mama kalian yang menemaninya!" Ujar Hiro menepuk pelan ke dua pundak sang putra.
Serentak Vian dan Sean mengangguk bersamaan. Clara di ikuti oleh tiga anak perempuan melangkah mendekati ke tiganya. Wanita itu membawa nampan berisi bubur dan segelas air hangat.
***
"Mika mau yang mana, biar Abang ambilkan?" Tanya Willem sembari mengatakan sumpit di tangan nya.
Anak perempuan berusia delapan tahun itu terlihat meragu. Sari menyumpit beberapa makanan, meletakan di mangkuk sang suami. Sesekali melirik ke dua anaknya.
"Mika mau makan ini dan itu!" Tunjuk Mika pada semua makanan daging di atas meja.
Willem mengembangkan senyum.
"Makan yang bergizi saja, Mika. Berikan Mika banyak sayuran Will!" seru Sari.
Mika cemberut. Anak perempuan yang terlihat berisi ini sangat tidak suka dengan sayuran. Dia lebih menyukai daging dan daging. Dia sangat benci makan yang namanya sayur-sayuran.
"Papa!" rengek Mika dengan nada manja pada Carlos.
Willem akan menuruti perkataan sang Mama. Meski kakak lelaki nya akan meletakan daging sembunyi-sembuyi. Namun, melihat bagaimana Sari mengawasi nya. Seperti nya malam ini ia akan menjadi kelinci. Makan sayur-sayuran. Dan Mika Zhao tidak suka.
Sari melemparkan pandangan memperingatkan pada sang suami. Membuat pria gagah itu mengulas senyum aneh. Jika tidak menuruti sang istri ia bisa tidur di luar. Tapi jika tidak menuruti sang putri, maka Mika akan merajuk panjang. Berujung tuan putri Zhao ini akan minggat ke rumah keluarga Yamato. Akan sulit bertemu dengan nya.
"Papa!"
"Sayang!"
Dua suara membuat Carlos Zhao semakin terjepit saja. Willem tersenyum lucu.
"Mika harus makan sayur. Kata Kakak Launa, Laura dan Cherry memakan sayuran akan membuat Mika sehat dan cantik. Kalau Mika bisa memakan sayuran. Nanti Abang belikan Dua puluh kelinci lucu seperti punya kakak Cleo!" bujuk Willem dengan lembut.
Mika menoleh ke samping kanan. Menatap wajah sang kakak.
"Tapi, sayuran pahit bang!" keluhnya.
"Tidak kok. Sayur sawi putih ini rasanya manis, toge juga begitu. Nanti di atas nya Abang taruh daging sapi!" Bujuk Willem meletakan beberapa sayuran yang di sebutkan dan juga daging sapi di atas sayur-sayuran.
Mika tersenyum lucu."Suapi!" Serunya membuka mulutnya lebar-lebar.
Willem tersenyum. Pria gagah itu menyumpit sayur-sayuran dan menyuapkannya pada Mika. Anak ini makan dengan lahap. Carlos mengusap pelan dadanya penuh syukur. Untung saja, Willem turun tangan. Jika tidak maka habis sudah dirinya. Sari diam-diam tersenyum tipis.
Mika adalah anak yang cukup keras kepala dan manja. Ini di sebabkan oleh Carlos sang suami. Yang terlalu memanjakan Mika, membuat anak perempuan nya menjadi begitu manja. Jika membujuk harus di iming-imingi sesuatu yang dia suka. Beruntung Willem selalu bisa menangani Mika.
Sari berpikir, siapa pun wanita yang nanti bersama Willem. Pasti akan sangat bahagia, melihat bagaimana anak remaja ini begitu lembut. Berbeda saat ia kecil dulu, Willem cenderung pendiam dan tertutup. Sekarang Willem penuh dengan semangat dan penuh keceriaan seperti Sean. Sari maupun Carlos sangat mensyukuri hal ini.
***
Kreat!
Pintu kayu terbuka perlahan. Pelan-pelan Sean masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang king size, gadis berpipi chubby itu terlelap di temani oleh ke dua adik kembarnya. Langkah yang di ayunkan Sean begitu ringan. Ia masuk perlahan di dalam kamar temaram hanya di temani oleh lampu tidur.
Sean tersenyum lucu melihat bagaimana Launa tidur memeluk tubuh Adella. Sedangkan Laura, adik nakalnya ini tidur dengan kaki menyentuh wajah Launa. Bodi di atas perut Adella. Lucunya, Adella maupun Launa tidak terganggu sama sekali.
Sean mengeleng kan kepala nya. Mengelilingi ranjang. Menaiki tempat tidur dengan perlahan. Memperbaiki posisi tidur Laura. Menurunkan tubuh Laura yang berada di atas perut Adella. Meletakan adik nakalnya di samping kanan Adella. Menarik selimut tebal hingga dada adik-adik nya.
"Selamat tidur adik ku sayang!" Ujar Sean sembari melayangkan kecupan di dahi Laura. Sebelum mencondongkan tubuh nya pada Launa dengan kesusahan. Mengecup dahi Launa. Pria ini duduk dengan lurus di atas tempat tidur. Tersenyum malu-malu melihat wajah gadis yang ia cintai.
"Aku mau mengecup nya juga! Tapi, takut di gantung oleh Mama!" serunya pelan. Sebelum terkekeh pelan. Jari jemarinya membenahi anak rambut yang menghalangi anak rambut Adella.
"Selamat tidur juga calon istri ku!" Monolog nya di sela kegiatan nya membenahi anak rambut di wajah Adella.
Sean turun dengan perlahan. Melangkah mendekati pintu keluar. Meninggalkan ketiga nya menyelami alam mimpi.