The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 56 (Kepergian)



Dera melipat beberapa baju tebal sebelum memasukan nya ke dalam koper besar. Adella menyusun berkas data diri ke dalam map. Agar besok pagi saat berangkat, tidak ada yang tercicil satu pun.


"Besok pagi berangkat jam berapa Adell?" Tanya Dera dengan tangan masih setia memasukan beberapa potong baju yang ia lipat.


Adella menghentikan kegiatan nya. Ia menoleh menatap ke arah ibu empat anak ini.


"Pukul sebelas Mama. Paling berangkat pukul setengah sepuluh ke Bandara nya," jawab Adella.


Dera munggu-mungut pertanda mengerti."Besok Adella akan di kawal oleh anggota Yakuza diam-diam. Tidak masalah bukan?"


Senyum segaris Adella terlihat."Tidak masalah Ma!"


Di luar kamar. Pria remaja itu tampak mondar-mandir seperti orang bodoh saja. Ia ragu harus masuk atau tidak. Mengingat hari ini adalah hari terakhir Sean Yamato bersama dengan Adella. Besok dan tujuh hari kedepannya Adella tidak akan ada di samping nya. Meskipun zaman sekarang sudah di permudah dengan kecanggihan teknologi. Bagi Sean, tidak ada yang bisa mengalahkan kehadiran yang nyata. Tampak dan bisa di sentuh.


Kreat!


Sean membawa atensinya pada pintu ujung lorong, dimana kamarnya yang terbuka memperlihatkan Vian Yamato. Pria yang kini menutup pintu dan membalik kan tubuh nya menatap sang adik dengan pandangan aneh.


"Kau, apa yang di lakukan di depan pintu kamar Adella?" tanya Vian dengan nada serak dalam yang begitu berat.


"Hah!" Sean mendesah,"aku ingin masuk tapi ragu," aku Sean jujur.


Vian tersenyum tipis, sangat tipis. Dapat pria ini lihat dengan jelas kegelisahan di ke dua manik mata sang kembaran.


"Masuk saja, jika kau ingin. Apa susahnya sih!" cibir Vian.


Sean memutar ke dua bola matanya. Kesal sekali dengan kakaknya satu ini. Tidak mengerti perasaan aneh di dadanya.


"Nanti saja," kata Sean pada akhirnya,"lalu Abang sendiri mau kemana?" tanya Sean menatap kembaran nya dengan pandangan bertanya.


"Aku?" Tunjuknya pada dirinya sendiri.


Kepala Sean mengangguk."Mau ke ruangan laborlah, mau kemana lagi. Racun yang kemarin masih belum berubah warna menjadi jernih. Beberapa hari ini aku dan Gio merasa pusing dengan hal ini," papar Vian mengeluh sedikit.


Sean terkekeh pelan melihat ekspresi yang berubah dari Vian. Kembaran nya ini memang jarang mengeluarkan beberapa ekspresi seperti saat ini.


"Kalau begitu selamat berjuang, Bang!" ujarnya dengan senyum konyol.


Vian mendesah pelan. Ia mengangkat ke dua sisi bahunya acuh. Sebelum melangkah kan ke dua kakinya meninggalkan lantai atas. Menuju undak tangga. Sean hanya memperhatikan gerak gerik sang kakak. Sampai punggung belakang Vian menghilang.


Klik!


Kreat!


Pintu kamar Adella terbuka perlahan. Sampai sosok Dera berada di ambang pintu yang terbuka.


"Sean?" Dera terkejut dengan tubuh sang putra yang ada di depan pintu kamar Adella.


Sean membalikkan tubuhnya. Tidak lupa tingkah sok manis nan polos tanpa dosa ia perlihatkan.


"Kenapa berdiri di sini?" tanya Dera dengan pandangan heran.


"Mau ketemu Adella," jawab nya jujur.


Dera melebarkan senyumnya. Sebelum membuka daun pintu kamar dengan lebar. Tidak lupa ibu empat anak ini menganjel pintu dengan besi pintu. Hingga pintu kamar Adella terbuka dengan lebar. Anak perempuan itu terkejut dengan kehadiran Sean.


"Ya sudah. Masuk, tapi ingat jangan lama-lama. Sudah malam, Adella butuh waktu istirahat yang cukup juga. Dan biarkan pintu ini terbuka. Ingat di atas sana ada cctv-nya, jangan macam-macam. Oke!" Ujar Dera sembari menunjuk letak cctv yang bertengger indah di dinding. Tepat di depan kamar Adella.


Kepala Sean mengangguk cepat. Tangan kanan nya, mengaruk kepala belakang nya yang tidak gatal.


"Iya, Ma!" jawabnya pelan.


Dera melangkah keluar dari kamar Adella. Kini tinggal lah ke dua remaja yang hanya saling tatap.


"Ada apa Sean?" tanya Adella menatap Sean dengan pandangan penuh tanya.


Sean melangkah masuk ke dalam kamar. Ia mengikis jarak antara dia dan gadis berpipi chubby ini. Sean berdiri di depan Adella. Sebelum menekuk sebelah kakinya dengan sebelah tangan merogoh saku celana tidurnya.


"Apa itu?" tanya Adella kala melihat sebuah rantai kecil di keluarkan oleh Sean.


"Ini gelang kaki. Di dalam nya ada pelacak dan juga alarm tanda bahaya. Jika terjadi sesuatu padamu. Aku akan langsung tau. Kau pakai ya?" ujarnya dengan manik mata teduh menengadah menatap wajah Adella.


Adella mengedipkan beberapa kali kelopak matanya. Sean terlihat berbeda di matanya. Pria ini terlihat begitu gelisah dan tak rela.


"Maukan?" ulang Sean.


"Ya," jawab Adella. Sebelum mengangguk kan kepalanya.


Sean tersenyum. Tangan nya bergerak memasangkan gelang kaki dengan motif bintang di kaki kanan Adella. Gadis remaja ini menatap Sean yang tengah memasang gelang kaki di pergelangan kaki kanannya.


"Besok pergi jam berapa?"


"Besok jam setengah sepuluh."


"Besok aku antar ya, lagian di jam pertama aku tidak ada kelas."


Ke dua mata Adella memicing curiga menatap Sean.


"Benar loh, gak ada jam pelajaran. Aku tidak bohong," ujar Sean yang melihat cara pandang Adella pada nya.


Sedetik kemudian Adella terkekeh pelan melihat wajah lucu Sean. Pria ini mendengus kesal.


"Kau benar-benar membuat aku gemas!" Ujar Sean mengangkat ke dua tangannya. Mencubit ke dua sisi pipi berisi Adella. Membuat sang empunya terpekit kecil.


"Akit!" seru Adella tak jelas.


"Apa Hem?" goda Sean.


"A——duuh akit!" Kesal Adella dengan tangan mencoba melepaskan tangan Sean dari ke dua pipinya.


Sean tergelak keras melihat wajah Adella merona. Tangan gadis ini tidak ada henti nya mencubit keras pipi Adella.


"Hem! Hem!" dehenan di depan pintu yang terbuka lembar membuat Sean melepas cubitan kerasnya pada pipi Adella.


Ia membalikkan tubuhnya menatap pria yang kini menatap aneh ke duanya dengan ke dua tangan di lipat di dada.


"Sudah selesai!" seru Hiro dengan senyum menyerigai.


Sean mendengus pelan. Adella semakin memerah. Melihat bagaimana Hiro menggodanya.


"Biarkan calon menantuku istirahat. Ayo, Son keluar!" titah Hiro.


Adella mengangguk cepat kala mata Sean berbenturan dengan nya. Sean keluar juga dari kamar Adella. Karena sang ayah mengganggu kesenangan nya.


***


Hembusan napas tak teratur bergemuruh. Pedang panjang itu di gerakan dengan lues. Dua orang yang saling serang menjadi nada tersendiri bagi para penonton. Wajah tampan itu berkeringat, napasnya tidak teratur.


Hyat!


Prang!


Prang!


Prang!


Benturan keras pedang terus terdengar. Gerakan menyerang dari Kris membuat para anggota kagum. Meskipun Kris Uchiha adalah anak remaja. Pria satu itu sangat hebat dalam permainan pedangnya. Tidak ada yang boleh menganggap remeh seseorang. Jika di lihat dari tampilan yang culun di luar. Orang-orang akan berpikir jika pria ini adalah lelaki yang lemah.


Tapi, jika di amati dan bertarung dengan nya secara langsung. Saat itulah orang-orang akan tau kehebatan dari seorang Kris Uchiha.


Prang!


Hyat!


Prang!!!!!!


Pedang lawan terbang kala Kris menangkis dengan bebas.


Prok!


Prok!


Prok!


Tepuk tangan bergemuruh terdengar jelas. Wajah dengan decak kagum dari anggota Joker terlihat jelas. Kris dan sang lawan bertanding membungkuk hormat satu sama lain.


"Kau semakin hebat Kris!" puji sang guru kala Kris sampai di depannya.


Kris tersenyum lebar. Pria ini meraih handuk leher berserta air minum yang di sodorkan di tangan nya.


"Terimakasih pujian nya, guru!" Ujar Kris sembari mengusap leher dan peluh yang membanjiri wajah nya.


"Kau mau bertarung dengan nya secara langsung?"


"Tidak. Aku hanya ingin mengamati dahulu, guru!"


Kepala pria tua itu mengangguk-angguk kecil. Pria ini berharap Kris mampu menghidupkan kembali anggota Joker dalam dunia gelap. Dan memperkuat kelompok mereka.