
Kerutan halus muncul di dahi Dera, saat melihat taksi berhenti di depan rumah besar Yakuza. Pintu terbuka perlahan, kepala pria terjulur keluar. Sebelum badannya terlihat dengan jelas. Pupil mata Dera terbelalak melihat orang yang keluar dari tranportasi umum itu. Sebelum dia tubuh mengikuti jejak pria tampan itu.
"Leo?" gumam Dera tak yakin dengan apa yang ia lihat.
Supir taksi mengeluarkan dua koper besar dari bagasi di bantu oleh Leo. Vera mengandeng tangan putri sulungnya mendekati istri kakak ipar Leo.
"Kak!" Panggil Vera mengulur kan tangan saat sampai di depan Dera. Ibu empat orang anak ini masih terkejut.
Vera mengulum senyum.
"Mama Dera!" Panggil Lea memeluk kaki Dera. Saat itulah Dera tersentak dari keterkejutan nya.
Nyata. Satu kata yang wanita ini dapat kan. Leo menarik dua koper besar. Mobil taksi sudah melaju keluar dari perkarangan luas rumah besar Yakuza ini.
"Kalian datang kenapa nggak bilang-bilang!" Ujar Dera sebelum meraih tangan Vera.
Wanita yang tengah hamil itu mencium tangan Dera. Sebelum melepaskan nya. Dera melepas kan pelukan Lea di kakinya. Wanita itu menekuk sebelah kakinya. Dan meluk tubuh Lea.
"Kejutan lah kak ipar. Masa kalau mau kasih kejutan bilang-bilang," ujar Leo yang kini sampai di depan Dera.
Dera menengadah. Wanita itu mendengus, sebelum tersenyum.
"Mari masuk, di luar sangat dingin." Ucap Dera melepaskan pelukan nya pada tubuh Lea. Wanita ini menarik tangan kecil Lea masuk ke dalam rumah besar megah bak istana itu.
Di ikuti oleh Vera dan Leo. Clara yang kebetulan sedang ada di dalam rumah terlihat syok dengan kehadiran Leo dan keluarga kecil pria itu.
"Oh! Leo!" ujar Clara tak percaya.
"Hai! Clara. Lama tidak jumpa," ucap Leo.
Vera tersenyum ke arah Clara. Dera memberikan kode pada pembantu di rumah untuk membawakan koper Leo dan membuat kan minum sekaligus membawakan cemilan. Mereka duduk duduk di ruang tengah.
"Kak ipar Hiro kemana, kak?" tanya Vera mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
"Paling Abangku satu itu berada di kantor," jawab Leo. Sebelum pria itu menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Wah! Biasanya dia yang paling kesal kalau Dera dan Bos Hiro mesra-mesraan. Tapi sekarang lihat lah siapa yang mesra-mesraan di sini," goda Clara.
"Coba pikirkan siapa yang tidak kesal. Semua kaum jomblo di dunia ini akan kesal saat ada pasangan yang mesra-mesraan di depan mereka yang nggak ada gandengan," tukas Leo cepat.
Dera hanya tersenyum. Pembantu datang membawakan beberapa gelas minuman hangat dan beberapa cemilan di toples yang sering di buat oleh Dera. Nyonya besar Yamato ini membuka satu persatu tutup cemilan. Di ikuti oleh Clara.
"Ini apa mama?" Tanya Lea melihat bentuk aneh sedikit bulat.
"Itu namanya rempeyek, ambil saja!" jawab Dera,"ayo, diminum Vera. Apa langsung mau istirahat saja ke kamar. Perjalanan kalian itu jauh, apalagi kondisi hamil begini!" lanjut Dera menatap Leo mengusap pelan perut sang istri.
"Nanti aja kak istirahat nya," jawab Vera mengulas senyum.
Dera mengangguk kecil. Ia menatap Leo dengan pandangan geli. Adik suami nya itu benar-benar lucu, saat seperti saat ini. Leo tampak seperti Hiro jika sudah seperti saat ini.
"Abang!" seru Leo. Sebelum menegakkan tubuhnya. Pria ini rindu pada sang kakak. Melangkah cepat menyongsong Hiro.
Ke duanya berpelukan. Dera tersenyum, Lea tampak menatap paman besarnya dengan senyum kecil ke arah Hiro kala Hiro menatap ke arahnya.
...***...
Wajah gadis cantik itu tampak cemberut. Tidak menyentuh makanan yang ada di depan nya. Wajah cemberutnya tak pernah lepas sejak kembali ke Texas beberapa hari yang lalu. Pria gagah itu tidak menegurnya. Membiarkan putri cantik nya berwajah masam.
"Aku ingin kembali ke Jepang," ujarnya dengan nada tak senang dengan apa yang ayahnya lakukan. Pria itu mengurung nya di dalam rumah besar. Tak lupa begitu banyak penjagaan untuk nya.
"Tidak. Kau tidak akan kembali ke sana," tolak Jon dengan wajah datar.
"Dad!" serunya kesal,"aku ingin kembali ke sana apapun yang terjadi," lanjut nya.
Jon mengangkat pandangan nya. Menatap wajah putri nya yang keras kepala. Sama seperti wanita yang ia cintai. Demi wanita itu ia menghabiskan banyak harta bendanya. Wanita yang kecantikan nya benar-benar mampu membiusnya.
"Kau harus tetap di sini. Kau adalah keturunan Daddy satu-satunya. Keturunan yang akan melanjutkan bisnis keluarga," tukas Jon.
"Aku nggak mau!" bantah Ella.
"Annabelle Brown!" teriak Jon kehabisan batas kesabaran nya,"jangan melakukan hal bodoh. Aku tidak ingin kau bernasib sama dengan Mom mu yang keras kepala itu. Kau, ku besarkan dengan segenap jiwa dan ragaku. Hanya aku yang mencurahkan cinta penuh padamu. Tapi kenapa kau sangat suka membantah Daddy mu sendiri!" lanjut Jon dekat nada kesal. Wajah putihnya terlihat memerah. Bahkan urat lehernya tampak mencuat.
Ela menghela napas kasar. Tidak ada yang salah dari perkataan sang ayah. Jon Brown, membesarkannya seorang diri. Sedangkan Mirabel, ibu kandung nya sibuk dengan anggota Mafia yang ingin ia bangkitkan. Sesekali ia bertemu Mirabel. Wanita itu tampak dingin tak terlihat ada cinta pada wanita itu. Yang ada di hati dan benak ibu kandung nya adalah kebangkitan Dragon dan mendapatkan Hiro Yamato. Ia sama sekali tak terlihat. Bahkan, ia sangat jelas tau. Mirabel merawat dan membesarkan Vian Yamato dengan baik. Sedangkan ia, harus di buang jauh.
Ella berdiri dari posisi duduk nya. Melangkah cepat menuju kamarnya. Jon menggebrak meja makan dengan wajah marah. Ia sangat kesal, lantaran putrinya menuruni sifat Mirabel.
...***...
Sean mendorong kecil kursi roda Adella. Ke duanya melewati lorong Rumah Sakit. Di belakang tubuh mereka ada Vian yang mengikuti dengan tengang. Ke tiganya ingin melihat taman indoor yang sengaja di bangun di dalam Rumah Sakit. Di rumah kaca, taman besar itu di bangun.
"Kamu tidak ke sekolah?" Tanya Adella menengadah menatap wajah Sean yang terlihat dingin.
"Nggak!" jawabnya acuh.
Adella hanya menghela napas. Cemburu nya seorang Sean Yamato benar-benar menyebalkan. Percaya lah, pria ini menjadi seorang pria yang pendiam dan irit berbicara. Vian menghela napas. Adiknya itu benar-benar aneh. Kalau cemburu atau marah harusnya ia menjauhi Adella. Lucunya, ia malah tetap mendekati Adella. Hanya saja ia tidak berbicara seperti biasanya. Itu membuat Adella terlihat tak nyaman.
Vian mengedarkan pandangan matanya menatap taman di rumah kaca. Matanya menyipit melihat wajah yang pernah ia temui tengah menatap bunga mawar putih yang mekar. Duduk sendiri.
"Sean! Adella!" panggil Vian yang menghentikan langkahnya.
Roda kursi berhenti menggelinding. Sean dan Adella menoleh kebelakang.
"Aku ke sana dulu, ya." Ujarnya menunjuk sisi lain dari taman.
Kontan ke duanya mengangguk kecil. Vian membalik kan tubuh nya melangkah mendekati Ara. Bagi Vian lebih baik menjauhi pasangan ambigu itu.