
Beberapa orang-orang masuk ke dalam ruangan bawah tanah. Menuruni satu persatu anak tangga, tak lupa topeng melekat di ke dua mata mereka. Menjaga privasi beberapa orang yang datang. Pasar gelap, menjadi salah satu tempat yang secara diam-diam banyak di datangi oleh orang-orang hebat. Banyak hal yang di jual di pasar gelap. Tentu nya, sang penyelenggaraan memeriksa siapa saja yang bisa ikut dalam pelelangan. Tidak, semua orang bisa masuk ke dalam pasar gelap.
Seperti saat ini, beberapa orang yang masuk sudah duduk di posisi mereka masing-masing. Mulai dari si pemburu barang antik, psikopat sampai yang mencari organ dalam yang pas untuk orang-orang terkasih. Di sinilah mereka berada. Dengan identitas tersembunyi.
Manik mata tajam di balik panggung menatap jejeran orang-orang yang baru bergabung dengan pasar gelap.
"Bos!" seruan di belakang tubuh sang pria bertopeng ini membalikkan tubuhnya.
"Bagaimana?" tanya nya.
"Sesuai dengan yang kita rencanakan. Tuan Zhao dan Yamato ikut hadir malam ini. Ke duanya sebentar lagi akan memasuki ruangan," jawabnya.
"Bagus."
Di balik topeng Joker pria gagah ini tersenyum licik. Setidaknya, ia harus mendekati Yakuza dengan perlahan.
"Dimana Ayahku?" tanyanya.
Belum sempat, anak buahnya menjawab pria dengan satu kaki ronda kecil di bawah kaki palsu mendekati ke duanya.
"Kris!" seruan berat dari sang ayah membuat Kris membungkuk pelan. Begitu juga dengan bawahan Kris.
"Pergilah, persiapkan semua nya dengan sebaik mungkin!" titah Kris.
"Baik, Bos!" pria itu membungkuk pada Bos dan mantan bos Joker yang berada di depan Kris.
"Kenapa Papa ke sini?" tanya Kris dengan nada khawatir.
"Apa salahnya, aku hanya ingin melihat perkembangan pasar gelap kita," balas pria yang terlihat semakin menua karena kesulitan yang mereka hadapi.
"Kembali lah ke rumah, di sini aku yang akan tangani, Pa!" ujar Kris dengan nada berat.
Kenan Uchiha mengangguk pelan. Ia pasrah, sembari menepuk lengan sang putra.
"Baiklah, Papa tidak akan menganggu mu di sini. Kalau begitu Papa pulang lebih dahulu," ujarnya.
Kris menatap sendu ke arah kaki sang ayah. Ken menyeret kaki palsu nya untuk melangkah.
Hap!
"Aku akan mengatakan mu sampai ke mobil, Pa!" kata Kris menahan pergelangan tua sang ayah.
Kenan hanya mengangguk tersenyum kembali. Kenan melangkah diiringin oleh sang putra. Kris berjanji akan memberikan Yakuza pelajaran. Menghancrkan Yakuza, seperti kelompok nya dahulu. Karena Yakuza membuat kecacatan kaki kiri sang ayah. Memberikan sang ayah luka, hingga pria ini lemah fisik.
****
Laura mendesah letih, anak perempuan bungsu keluarga Yamato satu ini mendapat kan tugas mengemasi semua binatang peliharaan Yakuza. Untuk mengurusi Top dan Teddy mungkin anak perempuan satu ini tidak akan mengeluh namun. Dengan peliharaan Ayah dan kakak lelaki nya. Beda lagi, pasalnya. Seluruh pakaiannya basah, ke dua buaya tua dengan dua anak tampa istri, tampak hidup kesepian.
"Aku tidak tau apakah harus kasihan atau malah takut pada kalian berempat," keluh Laura yang telah selesai memberikan Buaya peliharaan Yakuza itu makan.
Jumbo dan Jery, si tua keladi tambah besar dari ukuran normal. Si penjantan tangguh, itulah gelar dari keluarga Yakuza untuk ke duanya. Bersama si Otong dan Anu, generasi ke duanya.
Tap!
Tap!
Tap!
"Abang!!" teriak Laura ceria, kala Vian sampai di samping nya.
Pria ramah dengan wajah dingin itu duduk di samping Laura. Tidak lupa, menyelimuti tubuh kecil Laura dengan handuk.
"Terimakasih, Abang!" Ucap Laura dengan senyum lebar.
Vian mengembangkan senyum. Mengusap pelan pipi chubby Laura.
"Bagaimana, lelah tidak mengurus binatang di sini?" Tanya Vian dengan nada lembut.
Laura mengangguk cepat."Lelah sekali Abang," keluh Laura.
Vian mengangguk mengerti."Beginilah, kalau mengurus binatang. Dahulu, saat Abang dan Abang Sean seusia Laura dan Launa. Kami berdua sudah mengurusi si tua Jumbo dan Jery. Beberapa kali ke duanya, mendapatkan betina baru. Sampai memiliki satu orang anak," curhat Vian mengingat masa lalu aneh, ia dan adiknya.
Setiap hari mengurusi Jumbo dan Jery. Bukan hanya ia saja, teman-teman juga begitu. Belum lagi, sang ibu yang suka kesal kalau mereka main bersama si tua-tua keladi. Buaya betina yang sering mati, lantaran kelelah dengan ia dan teman-temannya.
Ayolah, reptil mana yang kehilangan harga dirinya sebagai makhluk menakutkan di air. Tiba-tiba di jadikan permainan seru oleh Sean dan teman-teman. Kadang di jadikan kuda, yang di paksa berlari ke sama sini. Ada kalanya di jadikan kapal yang di tunggangi oleh tiga orang sekaligus.
Tentu saja, sang betina yang baru datang langsung K.O seketika. Pagi dijadiakan permainan dan malamnya harus melayani si perkasa Jumbo dan Jery. Vian terkekeh tiba-tiba kala ingat dengan apa yang telah terjadi.
"Apa ada yang lucu Abang?" tanya Laura yang heran dengan tawa pelan sang kakak.
Vian tersenyum tipis."Hanya ingat masa lalu, saja!" jawab Vian jujur.
"Masa lalu apa, Bang?" tanya Laura antusias.
"Masa lalu Abang dan si tua itu!" Tunjuk Vian pada Jumbo dan Jerry yang tengah makan bersama dengan anak mereka.
"Abang Vian dan Abang Sean sangat kompak. Kak Launa sangat sulit di ajak kompak. Di ajak merawat Top dan Teddy saja dia gak mau. Setiap hari kerjaannya hanya buku saja dan buku lagi," adu Laura dengan wajah kesal.
"Bukankah Launa masih mau membantu memandikan dan mengeringkan bulu Top dan Teddy?"
"Itukan karena terpaksa," bantah Laura.
Vian mengusap pelan pipi chubby sang adik.
"Launa bukanya tidak ingin bermain dengan Laura. Bukankah Mama ingin, Launa menjadi seorang dokter. Karena itu kakak Launa berusaha keras untuk belajar," jelas Vian.
Laura hanya cemberut. Launa memang cenderung mendengar Dera sang Ibu. Saat ibu mereka mengatakan ingin memiliki putri seorang dokter nantinya. Kontan saja Launa berubah menjadi lebih cinta buku dan buku. Meski kakak'nya sudah sangat pintar. Namun, Launa Yamato masih merasa harus banyak belajar lagi. Jika Laura mendapatkan hadiah binatang dari ke dua kakak'nya. Maka Launa mendapatkan ruangan perpustakaan pribadi yang mencangkup tentang seputar kesehatan dan dunia medis.
"Lalu, Laura apa harus giat belajar jugakah kak?" tanya Laura dengan wajah lucu.
Vian mengeleng pelan."Laura bisa jadi apapun yang Laura mau," ucap Vian.
Ke dua sudut bibir Laura terangkat tinggi. Ia bahagia bisa berbicara dengan kakak tertuanya. Meskipun Vian tampak dingin dan acuh. Kadang jarang berbicara akan tetapi Vian adalah pria yang hangat pada adik-adik.
"Sudah ayo masuk, Luara harus
membersihkan tubuh!" ucap Vian sebelum berdiri.
"Gedong!" Ucap Laura manja. Tak lupa tangannya terangkat minta di gendong.
Vian tersenyum. Laura terkikik bahagia kala tubuh nya di gendong oleh sang kakak.