The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 47 (Meremehkan)



Bug!


"Ah, maaf!" Seruan serentak kala tubuh ke duanya berbenturan. Membuat ke duanya mundur dua langkah.


Pemuda berkaca mata itu membungkuk, begitu pula dengan gadis cantik ini.


"Kamu tidak apa-apa, kan nona?" tanyanya dengan nada yang terdengar halus dan agak kekanak-kanakan.


Adella mengulas senyum."Tidak apa-apa," jawabnya lembut.


Pemuda ini mengangguk malu-malu. Sebelum membenahi kaca mata yang membingkai hidung bangirnya. Ia menunduk dalam. Buku paket tebal di tangan di genggaman erat.


"Kalau begitu saya duluan," ujar Adella sebelum kembali melangkah.


Senyum miring terbentuk. Kris merubah raut wajah culun milik nya. Menyeringai di balik punggung belakang Adella. Aroma tubuh gadis itu membuat Kris mengembangkan sebuah senyuman misterius. Membalik kan tubuh nya, menatap punggung belakang Adella yang menjauhi nya.


"Cantik," serunya pelan,"pantas saja Sean tergila-gila padanya. Lalu apa jadinya, jika gadis yang di cintai menjadi milik ku?" monolog nya dengan pandangan mata menajam. Masih menatap punggung belakang Adella yang menjauh dari pandangan matanya.


"Bos!" seruan di belakang tubuh nya membuat Kris membalik kan tubuh nya.


"Ah, kau ternyata!" ujar Kris dengan wajah dingin,"bagaimana dengan rumah Yakuza?" lanjut nya langsung ke pokok masalah.


Ella menghembuskan napas kasar."Benar di luar dugaan. Tidak ada yang bisa di tembus," jawab Ella jujur.


Kepala Kris mengangguk mengerti. Tentu saja, mengingat Yakuza adalah kelompok besar. Rumah besar Yakuza tentunya tidak ada celah yang bisa di jadikan tempat untuk masuk selain pintu utama.


"Kalau begitu, teruslah berada di sekeliling mereka. Meskipun kita tidak bisa menaruh mata-mata lain di dalam rumah besar Yakuza. Setidaknya, menjadi teman baginya untuk saat ini adalah jalan yang terbaik," ujar Kris.


"Baik Bos," jawab Ella tegas,"Adella! Gadis itu akan ke luar negeri Minggu besok. Jika Bos ingin mencelakai nya, aku akan membantu!" lanjut nya kala tubuh Kris ingin berbalik.


Kris mengurungkan niatnya untuk membelakangi Ella. Sebelah alisnya terangkat tinggi, menatap aneh Ella.


"Kenapa dengan Adella. Kenapa aku harus mencelakainya?"


"Aku pikir dengan begitu kebahagiaan Sean akan hilang."


"Kebahagiaan nya yang hilang. Atau kesempatan kau yang terbuka lebar mendekati nya, huh!" tebak Kris tetap sasaran.


Ella tercekat. Tangannya di tarik Kris di balik pilar. Cengkraman di rahang nya membuat Ella menatap takut Kris. Manik mata Kris terlihat begitu kelam dan menakutkan.


"Jangan coba-coba menusukku dari belakang Ella. Kau tidak tau bukan seberapa menakutkan nya aku. Aku bukan orang yang mudah mentoleransi kesalahan sekecil apapun Ella. Jika kau berkhianat, kau akan langsung mati dalam sekejap mata." Ancam Kris menekan keras ke dua sisi rahang Ella.


Ella mengerang sakit dengan perlakuan kasar Kris.


"Kau mengerti!" peringat Kris lagi.


"Ya, Bos!" Angguk Ella di sela ringisannya.


Kris melepaskan cengkraman nya dari sisi rahang Ella. Kepala Ella terdorong kebelakang. Kris menatap nya dengan pandangan penuh intimidasi.


Ella menunduk. Hanya menunduk dalam, ke dua sisi rahangnya berdenyut. Ke dua tangannya mengepal keras. Kala Kris melangkah pergi meninggalkan nya.


"Sialan kau, aku akan membuat mu juga membayar rasa sakit dan penghinaan yang kau lakukan padaku, Kris!" decak Ella dengan pandangan tajam.


Ella bukan gadis yang bisa di tebak. Banyak rahasia dari gadis satu ini. Yang tidak ada yang tau, siapa dia dan siapa ke dua orang tuanya. Yang orang-orang tau, Ella hanya seorang gadis cantik yang pernah menjadi seorang petarung hebat di Rusia. Menjadi abdi negara Rusia. Hanya sebatas itu, tidak kurang dan lebih.


***


Sean menatap sang ayah dengan pandangan memelas. Hiro tidak goyah, hanya menatap Sean dengan pandangan tak terbaca. Pedang samurai di tangan nya masih di genggaman. Vian duduk bersandar, tangan kanannya mengusap handuk kecil ke leher nya yang basah karena peluh.


Willem menatap ke arah lapangan dengan pandangan penasaran. Carlos meliput ke dua tangan nya di depan dada. Ia tidak tau apa rencana Hiro, membuat putranya bertarung dengan gadis bermata bulat itu.


"Papa! Kenapa harus Adella lawan ku!" protes Sean sedikit merengek.


Adella tampak cantik kala seluruh rambut nya di Cepol tinggi. Memperlihatkan leher putih jenjangnya. Tangannya menggenggam erat pedang Katana.


"Saat di Medan perang tidak ada lawan yang bisa kau pilih Sean. Terkadang, orang yang kau kenal dan kau sayangi adalah seorang pengkhianat. Jika kau ragu, kau akan mati Sean!" papar Hiro dengan nada berwibawa.


"Oke, aku tau itu Pa. Tapi Adella tidak akan pernah mengkhianati aku!" tukas Sean dengan nada penuh keyakinan.


Adella hanya diam. Gadis cantik ini tidak banyak kata. Hanya diam dan menggenggam erat katana nya.


"Kau belum tau cara dunia bekerja son. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini," bantah Hiro.


"Pa——"


"Tapi kau tidak bisa ilmu bela diri Del!" protes Sean.


"Aku bisa," jawab Adelle dengan wajah mantap.


Sean menoleh menatap Hiro. Hiro mengangguk pelan. Sean berdecak kesal. Sebelum mengalihkan pandangannya pada Adella di depannya.


"Jika kau tidak kuat buang pedang nya ya!" ujar Sean.


Adella tersenyum miring."Tidak. Aku tidak akan menyerah. Kau tenang saja Sean!" Jawab Adella dengan senyum memukau.


Sean ikut tersenyum.


"Baiklah ayo berikan penghormatan sebelum memulai!" titah Hiro.


Serentak ke duanya pasang badan. Berdiri tegap dan membungkuk sebagai penghormatan sesama petarung.


Hyat!!


Prang!


Prang!


Prang!


Ke duanya mulai saling menyerang. Sean yang awalnya mencoba menyerang ringan terkejut dengan kekuatan yang Adella keluarkan. Gadis ini, sungguh di luar dugaan. Kekuatan menyerang nya tidak main-main. Gerakan menyerang dan menangkis tidak bisa di anggap remeh. Meskipun belum setara dengan dirinya. Akan tetapi setidaknya, Adella memiliki level lima.


Prang!


Prang!


Kembali terdengar keras suara pedang. Tubuh Adella berputar dua kali sebelum kakinya bergerak. Sean mudur dua langkah. Ia menatap tajam Adella. Gila saja, jika pria ini tidak menghindar dengan cepat sudah pasti ia tersungkur. Malu sekali kalau itu terjadi.


"Jangan meremehkan aku, Sean!" Seru Adella di sela napas yang memburu.


Aliran peluh yang berada di ke dua sisi wajah cantik Adella membuat gadis cantik ini tampak seksi. Sial! Bagaimana Sean malah sempat-sempatnya terpesona melihat gadis ini.


"Oke, mari kita bertarung sungguh-sungguh. Kalau aku menang jangan lupa, kau harus berkencan denganku di akhir Minggu ini!" tawar Sean.


Hiro dan orang-orang yang menonton pertunjukan malah mengeleng pelan. Masih sempat-sempatnya Sean memikirkan kencan.


"Baik!" jawab Adella menyanggupi tawaran Sean.


Ke duanya tersenyum. Sebelum membeli saring serang dan menghindar. Suara hantaman pedang kembali bergemuruh. Tidak ada yang mau mengalah. Carlos terlihat bersemangat melihat pertandingan di depan sana. Meski ke duanya tidak seimbang. Mengingat tingkat Sean berada jauh dari Adella. Siapa sangka, Adella mampu menyeimbangkan nya.


"Sean terlalu bernapsu menyerang Adella!" ujar Willem melihat bagaimana Sean menyerang dan meningkatkan pola serangnya.


"Sean mencoba menyudutkan Adella, Will. Lihat lah, sebentar lagi tentu saja pedang Adella akan melayang!" jawab sang ayah.


Willem mengangguk mengerti. Benar saja, pedang Adella melayang. Dan tergeletak di lantai. Sean tersenyum senang kala memeluk tubuh Adella dari belakang dengan mata pedang di leher Adella.


"Aku memang sayang!" bisik Sean.


Hiro mengeleng pelan."Adella menjadi pemenangnya!" seru Hiro keras. Membuat orang-orang terkangga.


"Ah? Aku yang menang Papa!" tukas Sean.


"Sean lihatlah di perut bawah sebelah kirimu!" ujar Hiro.


Kontan saja mata Sean dan orang-orang menatap ke arah perut kiri bawah Sean. Adella tersenyum sinis.


"Sebelum pedang mu mengores leherku. Tusukan belati ini tentu lebih dulu, Sean!" ujar Adella di sela helaan napas memburu nya.


Gila. Satu kata yang ada di otak Sean. Sejak kapan Adella membawa belati di tangannya. Jangan bilang, Adella sengaja mengalihkan pandangannya pada pedang yang terbang. Sebelum mengeluarkan belati yang entah di selipkan di mana.


"Lihat! Kau benar-benar terlalu sombong sayang!" cemooh Hiro.


Sean melepaskan pelukan dari belakang nya. Cemberut, Adella tersenyum sumringah melihat kekalahan Sean.


"Inilah yang terjadi saat kau meremehkan lawan!" ujar Vian dengan senyum kagum pada Adella.


Pupus sudah harapan kencan Sean.