
"Wah! Wajahmu tampak ceria lagi Sean," seru David saat Sean duduk di depannya.
Sean tersenyum lebar. Tangannya mengangkat ponsel yang ia genggam. Di layar ponsel nya terlihat Adella tersenyum dengan lebar. Tak lupa kata semangat untuk Sean.
Willem, Delta dan David mengeleng serentak. Kalau sudah menjadi budak cinta memang berbeda. Tidak ada kabar sejam saja sudah seperti satu tahun.
"Sebegitu bahagia nya?" Tanya Delta dengan tangan bergerak membuka bekal yang di bawa Sean dan Vian.
"Ya, tentu saja dong!" Jawab Sean mengangguk antusias.
"Kalian tidak tau saja kemarin. Dia bahkan meloncat-loncat tidak jelas saat mendapat pesan balasan dari Adella. Yang paling membuat aku kesal adalah dia mencium pipiku. Itu sangat menjijikan," timpal Vian dengan bergindik jijik.
Kontan saja teman-teman nya tertawa keras. Beda dengan Sean, pria remaja gagah ini malah mencibir karena kembarannya.
"Abang tidak suka. Padahal Laura saja sering menciummu!" kesal Sean.
"Hei! Itu beda bung. Laura adalah adik perempuan yang lucu. Sedangkan kau....." Vian memberikan jeda dengan memindai Sean dari kepala sampai dada bidang Sean,"kau amit-amit!" lanjut Vian.
Hahahaha!!!!!!!!
Bug!
Bug!
Bug!
Sean melempari kakak nya dengan kulit kuaci yang berada di atas meja. Teman-teman nya masih tertawa keras.
Suasana kembali terasa hidup setelah beberapa hari awan mendung terus berada di atas kepala Sean. Vian, juga tampak berbeda. Pria yang biasanya selalu irit bicara dan berwajah dingin terlihat lebih ceria.
"Abang tidak lihat seberapa banyak wanita yang mengeluh-eluhkan namaku. Karena aku ini tampan, malah di anggap amit-amit!" cibir Sean tak lupa membanggakan dirinya.
Vian terkekeh, dengan ke dua tangan menepuk dada bidangnya. Delta ikut menepis kulit kuaci yang menyangkut di atas bahu Vian. David dan Willem hanya menatap ke duanya.
"Jangan sampai sahabat jadi cinta," seru David.
"Benar. Gak seru loh kalau ada yang namanya sahabat jadi cinta," kini giliran Willem menimpali.
Sean, anak lelaki ini malah bersiul saat Delta salah tingkah kala menjauhkan tangan nya dari dada bidang Vian. Senyum kotak khas Vian terlihat, mata tajam nya terlihat biasa saja.
"Kalian ada-ada saja," ujar Vian dengan nada serak beratnya.
"Aku sih, tidak masalah ya kalau punya kakak ipar seimut Delta!" goda Sean.
"Ma—mana ada," bantah Delta tergagap.
"Cie! Malah jawabnya jadi gagap!" David ikut mengompori.
Blush!!!
Ke dua pipi sampai menjalar ke dua daun telinga nya Delta memerah. Willem mengeleng pelan.
Suara gaduh kembali terdengar kala Delta memilih meninggalkan meja menuju toilet. Sean tidak henti-hentinya berteriak penuh semangat.
***
"Bagaimana kondisi nona pagi ini?" seru Ino saat sampai di dalam kamar rawat inap Adella.
Adella menoleh ke arah pintu masuk. Tak lupa ia mengulas senyum lembut. Saat sadar, wanita cantik ini yang di hubungi oleh Adella untuk pertama kali. Dan juga, menanyakan informasi tentang Hani. Adella juga tidak lupa menanyakan kondisi pria yang sudah ia bunuh. Sayangnya, saat itu Ino tidak fokus pada hal-hal lain. Wanita ini hanya fokus mencari mayat Adella dan ke dua rekannya.
"Sudah lumayan baik, hanya saja jahitan di perutku masih agak menyusahkan," jawab Adella,"oh iya, bagaimana dengan informasi yang aku butuhkan Ino?" tanya Adella.
Ino mengikis jarak antara ia dan Adella. Ia menarik kursi, duduk di samping ranjang Adella.
"Untuk Hani, tubuh nya di makamkan di kampung halaman ibunya. Polisi saat ini tengah mencari tau pembunuh Hani. Untuk pria yang kau bunuh, ada keanehan. Mayatnya menghilang, besar kemungkinan jika komplotannya yang membawa tubuhnya. Yang paling aneh adalah, saat kejadian kunci pintu apartemen itu di kunci dengan serentak dengan bantuan ahli eloktronik. Mungkin Polisi Eropa tidak akan bisa menemukan penyebab kematian orang-orang yang di kabarkan terkunci secara tidak sengaja. Rumor yang sengaja di edarkan, mengatakan jika apartemen itu sebagai di bakar untuk kepentingan orang lain yang ingin membeli tanah apartemen untuk pemukaan Kasino," jelas Ino dengan jujur.
Ino terkangga mendengar tebakan Adella. Gadis remaja ini sungguh memiliki pemikiran yang tajam. Ino baru tau, jika Hiro memilih Adella sebagai pendamping Sean adalah langkah besar yang benar-benar hebat. Otaknya benar-benar mampu di asah dengan baik. Didikkan Mirabel dengan penuh paksaan selalu menakjubkan. Seperti Vian dan Adella.
"Nona benar-benar hebat, aku bahkan tidak terpikir ke sana!" puji Ino.
Adella hanya diam, kerutan di dahinya terlihat semakin menjadi. Gadis ini akan menghancurkan orang besar itu. Ia akan membuat orang itu membayar kejahatan nya. Adella tidak ingin diam dengan ketidak adilan. Terutama untuk Hani, ia akan membayar hutang. Adella berjanji.
***
Gelak tawa dari si kecil Launa dan Laura di dapur cekup membuat gaduh. Dapur terlihat benar-benar kacau. Tepung berserakan di mana-mana. Belum lagi lelehan adonan yang di buat oleh Sean lumer kemana-mana. Meskipun rambut Sean sudah memutih di atasnya karena ulah si kembar. Pria remaja satu ini masih terlihat serius menatap langkah-langkah membuat kue.
"Abang Sean terlihat sangat lucu," seru Cherry yang duduk di meja bar.
"Aku yakin, mama Dera akan murka dengan apa yang di buat oleh mereka," timpal Cleo,"benar begitu kan Bang Vian?" tanya Cleo.
Vian yang sibuk bermain game yang kini duduk di apit oleh Cleo dan Cherry mengalihkan pandangannya pada Sean, Launa dan Laura. Pria ini terkekeh renyah, sangat seksi suara kekehan yang di keluarkan oleh Vian. Melihat wajah sampai rambut Sean benar-benar terlihat lucu.
"Mama akan murka pasti nya. Dan Laura yang akan lolos sendiri dari hukuman mama," tebak Vian.
"Hah! Benar. Laura adalah iblis betina yang selalu punya seribu macam cara untuk lolos dari hukuman." Cleo mengangguk pelan.
Ke tiganya kembali fokus melihat Sean yang di bantu oleh Launa dan Laura.
"Ini di isi juga Bang. Katanya di sini bubuk putih ini akan mengembang kan kue!" Ujar Laura menggoyangkan botol berisi beking soda.
Sean menoleh. Menatap botol berisi beking soda dengan dahi mengerut.
"Itu terlihat seperti gula," ujar Sean.
Laura membuka dan mengeluarkan isi beking soda untuk di taruh di tangannya.
"Ah, masa sih?" tanyanya kurang yakin.
"Cicipi dulu baru tau itu gula atau tidak," usul Launa dengan senyum jahil. Anak perempuan satu ini sudah tau kalau itu bukan gula. Melihat bentuknya berbeda.
"Oh, iya juga ya!" Balas Laura mengangkat tangan yang berisi bubuk beking soda dan menjilat nya.
Pluh!
Cuih!
"Wuek! Pahit!" ujar Laura dengan wajah memerah.
Suasana mendadak diam.
Satu!
Dua!
Tiga detik.
Hahahaha!!!!!!
Tawa keras mengalun. Cleo terbatuk-batuk bersama Vian. Laura mengangkat pandangan nya.
Glek!
Mati sudah Laura saat ini. Sean mengusap air liur yang mendarat di wajah tampan nya dengan wajah memerah karena kesal.
"Laura!!!!!!!" Teriak Sean menggelegar.
"Maaf bang!" seru Laura sebelum turun dari meja dan berlari sekencang mungkin. Takut di tangkap oleh Sean.