The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 72 (Rumit)



Gerakan tangan Sean tampak cekatan. Pria ini membelit syal di leher Adella. Gadis ini tersenyum melihat bagaimana Sean memperhatikan nya.


"Salju masih agak deras. Jadi, jangan sampai kedinginan!" Ujar Sean mengusap pelan puncak kepala Adella.


Laura mencabik duduk di samping Adella. Sedangkan Launa yang duduk di depan memasang tampang ingin muntah.


"Ini masih pagi Sean!" Tegur Hiro yang duduk di kemudi.


Sean terkekeh, sebelum merubah seringai licik khas milik nya."Inilah yang aku rasakan saat papa bermesraan dengan mama," ujar Sean dengan nada menyebalkan di telinga Hiro.


Hiro Yamato mendengus mendengar perkataan sang putra.


"Oke, anggap saja seperti itu. Tapi jangan lupa Son! Setelah ini jangan ganggu papa dan mama lagi. Kau juga punya seseorang yang kau sukai. Berhenti mengganggu kami, oke!" Hiro mencoba menawar kesepakatan dengan sang putra.


"Nggak, aku tidak mau. Meskipun sudah punya kekasih, mama tetap milikku. Meskipun aku nanti sudah menikah sekalipun, mama tetap milik ku!" balas Sean dengan wajah menyebalkan.


"Siapa bilang istri ku milikmu. Enak saja, kau sudah tamat SMA. Maka akan langsung aku tendang, jauh-jauh!" Kesal Hiro.


"Dimana ada Sean Yamato, di sana akan selalu ada mamaku!" tukas Sean seenak jidatnya.


Laura dan Launa terkekeh. Adella tersenyum geli mendengar perdebatan aneh ayah dan anak.


"Oho! Tidak bisa. Kau pikir aku akan membiarkannya!"


"Kita bisa adu kekuatan!" tantang Sean.


"Aku akan menculik istri ku. Agar kau tidak bisa menemuinya lagi!"


"Aku——Ouch! Aw! Sakit!" Rintih Sean. Pria remaja itu mengusap pelan pinggang nya yang di cubit kecil oleh Adella.


Kontan saja suara gelak tawa terdengar di mobil sedan mewah itu. Sean memasang muka ternaniaya pada Adella.


"Sakit!" keluhnya.


"Makanya, sudah cukup. Masa berdebat aneh sama papamu sendiri!" tegur Adella.


"Tapikan.."


"Terimakasih calon menantu. Setidaknya, aku punya pembela kedepannya. Papa akan langsung memasukkan namamu di Kartu Keluarga sebagai menantu." Potong Hiro cepat sebelum mengedipkan matanya di balik kaca kecil tepat di depan mobil.


Sean mendengus."Jangan kedip-kedipkan mata papa pada kekasih ku!" kesal Sean menutupi ke dua mata Adella dengan ke dua tangan besar nya.


Hiro terkekeh melihat betapa posesif nya Sean pada Adella.


"Hah! Orang-orang memang aneh," keluh Launa dengan nada lucu.


***


Kekehan renyah dari seberang sana membuat Dera tersenyum. Rasanya, wanita ini sangat gemas melihat bagaimana tingkah lucu Lea. Sedangkan Leo mendengus kesal mendapatkan ledekan dari sang putri.


"Kapan mau ke Jepang, katanya mau ke sini!" ujar Dera menatap layar laptop.


"Secepat nya Mama Dera. Mama Dera jangan lupa buat masakan yang enak ya, buat Lea," ujar anak perempuan berpipi gembul itu dengan senyum lebar.


"Tentu saja. Nanti mama akan buat makanan terenak untuk my princess!" balas Dera.


"Lea cuci kaki dan tangan lagi. Jangan lupa gosok gigi. Ayo bersiap-siap tidur!"


Seruan keras wanita terdengar jelas. Dera tertawa pelan melihat wajah masam Lea. Anak perempuan itu tidak suka. Ia masih ingin berbincang dengan istri pamannya. Leo tertawa, terlihat di layar. Leo menurunkan Lea dari pangkuan nya.


"Pamit dulu sama mama Dera, sayang." Ujar Leo mengusap pelan puncak kepala putrinya.


"Mama Dera. Lea bobok dulu ya, kapan-kapan kita Video call lagi ya."


"Siap. Semoga mimpi indah sayang!" ucap Dera lembut. Sebelum melambaikan tangan ke kamera. Kala putri sulung Leo melambai kan tangannya ada nya.


Kini hanya tinggal Leo dan Dera.


"Kemana Abang Hiro, De?"


"Kak Hiro tentunya ke kantor. Apa jadi akhir bulan ini ke Jepang?"


"Rencananya sih begitu. Dan maunya pindah ke sana saja."


"Bagus itu. Kalau begitu kita keluarga besar bisa berkumpul bersama."


"Aku rindu menggodamu di depan Abang Hiro!" canda Leo.


Dera tertawa kecil. Leo benar-benar pribadi yang ceria. Keceriaan yang tidak dapat di lihat oleh semua orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat kecerian Leo. Pria Yamato satu ini termasuk pria yang malang. Kehilangan ibu di usia yang masih sangat kecil. Pembunuhan yang terjadi tepat di depan mata. Masa-masa sulit telah mereka lewati. Meskipun demikian peristiwa yang berbeda.


"Sebenarnya sih aku takut. Tapikan ada kakak ipar yang bisa membuat amarah Abang Hiro surut." Leo kembali tertawa.


"Ada-ada saja," ujar Dera,"oh iya, bagaimana kabar Vera. Apakah tidak apa-apa jika ia melakukan perjalanan jauh?" tanya Dera khawatir.


"Kami sudah berkonsultasi dengan dokter kandungan. Seperti nya tidak masalah saat lepas dari masa periode kehamilan awal. Setidaknya, jika kami di Jepang. Vera tidak akan merasa sendiri jika aku tinggal kerja."


Kepala Dera mengangguk. Meskipun di sana ada Nomi. Wanita tua itu, agak kaku. Meskipun tidak terlalu kaku.


"Ya. Pokoknya kami tunggu ke datang nya," ujar Dera.


"Sip kakak ipar!"


"Ya sudah. Di sana sudah waktunya kamu istirahat. Sampai jumpa lain waktu adik ipar," kata Dera.


"Hem! Bye! Kakak ipar!"


Dera membalas melambai dan tersenyum. Sebelum sambungan video call terputus.


***


Kuku jari di gigit pelan. Pandangan matanya tampak menusuk. Gadis cantik ini frustasi dengan kehadiran Adella. Sean, terlihat benar-benar teralihkan. Hembusan napas gusar kembali mengalun. Kelopak mata nya menyempit kala melihat cara Vian memandang Adella. Meskipun sesekali, Ella dapat melihat dengan jelas pria itu mencuri pandang dengan cara yang aneh.


Senyum licik terbit. Gadis cantik ini merogoh saku rok nya. Merekam interaksi Vian dari jauh. Terlihat beberapa detik pandangan dalam Vian. Sebelum pria itu memasang tampang acuh. Delta tampak bercerita dengan raut wajah ceria pada teman-teman nya. Willem terkekeh. Sebelum Vian menimpuk David dengan bantal sofa.


"Saatnya beraksi, ada seribu satu cara menuju Roma!" ujarnya sebelum melangkah pergi dari tempat persembunyiannya.


Ke enam remaja yang duduk itu tampak asik.


"Aku tidak menyangka, jika pria Thailand sangat cantik!" celoteh Delta.


"Aku jadi takut sama wanita," timpal Willem dengan nada serius setelah tawa yang sempat meledak.


"Kenapa?" tanya David. Menoleh ke samping dengan wajah penasaran.


"Cantik belum tentu original," ujarnya dengan nada lucu.


Kembali gelak tawa menggelgar.


"Makanya kalau mau cek cewek asli atau nggak nya. Ya bawa bobok dulu!" balas David dengan senyum mesum.


Bug!


Bug!


Bug!


Bug!


Tubuh David di lempar bantal serentak. Pria itu malah tertawa. Wajah nya memerah karena tawa mesum nya.


"Yang aku katakan ini benar loh!" ujar David mempertahankan perkataan nya.


"Cih! Kadal air seperti mu ini memang nggak ada kapok-kapoknya!" cemooh Delta.


"Kau pikir, lelaki yang jadi wanita itu nggak ada yang menempuh operasi transgender?" sembur Sean.


"Kayak Om Hana itu. Banci Thailand. Udah gak ada yang asli!" Kini Willem angkat suara.


"Aku sampai merasa dunia runtuh." Ujar Delta mengeleng pelan."Gagal paham dan gagal saing sama mereka," lanjut nya dengan wajah lucu.


"Heran juga ya, kenapa mau!" ujar Vian pelan.


"Kau tes dulu Vian. Siapa tau kau juga ikut belok!" celetuk David.


Bug!


"Aw! Sakit Delta!" Teriak David keras dengan menyentuh punggung belakang nya.


"Makanya, jangan asal ngomong!" kesal Delta.


"Eh! Kok Delta yang marah ya?" goda Willem.


"Jangan-jangan.....ada Hem!" David ikut menggoda.


Adella hanya mengulas senyum. Ia senang jika Delta punya rasa pada sahabat nya. Vian, pria itu hanya di anggap sebatas teman bahkan saudara lelaki nya. Ia melirik wajah Vian.


Dahinya mengerut saat mata mereka saling tatap. Vian tampak membuang muka, saat matanya berbenturan. Sean melirik dalam diam. Adella dan Vian. Ah! Rumit.