
Hembusan napas menyapa tengkuk belakang Sean. Anak lelaki Yakuza ini tersenyum lebar di setiap langkah yang ia ambil. Sepasang tangan melingkar di leher. Meski punggung belakang nya terasa memberat. Hatinya terasa ringan dan berbunga. Ke duanya melalui gang tikus dengan penerangan temaram.
"Turunkan saja aku," kata Adella dengan nada lirih.
"Diamlah, aku akan mengantarmu sampai ke kontrakan mu!"
Sean berucap tegas. Adella menghembuskan napas kasar. Ini kali pertama dirinya di gedong oleh lelaki. Ia pikir diri nya bisa menghindari pria. Tapi pada kenyataannya itu tak sama. Pria aneh ini bahkan mengendong nya dengan keinginan penuh.
"Apakah masih jauh?" Tanya Sean di sela langkah kaki yang terayun.
Adella menoleh ke depan.
"Tidak. Itu! Di sana pintu besi berwarna merah itu adalah kontrak kan, ku!" Tunjuk Adella pada tiga pintu di depan sana.
Hati Sean melenguh tak rela. Kenapa secepat ini? Ia ingin berlama-lama berada di sisi Adella.
"Kontrakan mu di atas apa di bawah?"
"Atas!"
"Aku antar sampai ke atas ya!"
"Eh?"
"Aku haus, mengendong mu. Tubuh mu terlalu berat!" Bohong Sean, membawa decakan kesal dari Adella.
Diam-diam bibir merah itu menarik ke dua sisi bibirnya ke atas.
"Turunkan aku!" ujar Adella kala keduanya sampai di pintu pagar depan.
"Buka kan saja pintu nya. Aku bisa menunduk sedikit."
"Tapi——"
"Tubuh mu masih lemas kan? Karena itu tak usah turun!" Potong Sean menekuk ke dua lutut kaki panjang nya. Agar Adella bisa meraih gembok pagar.
Keras kepala.
Adella merogoh saku rok sekolah nya. Sebelum mengeluarkan kunci. Gembok pagar terbuka, Adella menarik tangannya. Sean mendorong perlahan-lahan pagar besi. Ke duanya masuk, Sean membalik kan tubuh nya. Menekan kembali mengunci gembok.
"Kenapa di kunci?" tanya Adella dengan nada aneh.
"Takutnya nanti ada yang masuk selain penghuni kontrakan. Nanti bisa di buka lagi lah," jawab nya santai.
Modus. Lagi-lagi putra mahkota Yakuza ini menjalankan pemikiran liciknya. Ia membalikkan tubuhnya melangkah menuju tangga. Pukulan di pundaknya tak ia hiraukan. Ia terus menaiki satu persatu anak tangga.
"Turunkan saja aku!" Ujar Adella tak berhenti memukul pelan pundak Sean. Gadis remaja ini takut jatuh, sebelah tangan nya yang melingkar di leher Sean mengerat.
"Tenanglah. Aku tidak akan menjatuhkan mu, apa lagi terjatuh. Jangan remehkan kekuatan fisik ku!" Cegah Sean kala Adella kembali memukul pundaknya.
Ke dua pipi Adella mengembung. Benar saja. Pria ini sampai di teras kontrak kan nya. Menurunkan Adella dengan perlahan. Seakan takut jika sedikit saja ia kasar, maka tubuh gadis di belakang nya ini akan hancur.
"Lihat! Kau sampai dengan selamat kan," ujarnya dengan banga.
Adella hanya mengangkat bahu nya acuh. Sembari membuka kunci pintu kontrakan. Ke dua remaja ini masuk ke dalam. Tak lupa melepas kan sepatu mahalnya. Ke dua bola mata Sean terlihat begitu liar, menyapu kontrakan kecil Adella. Ruangan tamu yang di sekat dengan triple sebagai pembatas kamar dan ruang tamu. Ruang tamu bahkan langsung berhadapan dengan dapur dan kamar mandi. Sangat kecil.
Masih jauh luas kamar mandinya. Dari pada kontrakan Adella. Gadis cantik itu melangkah masuk ke dalam kamar. Meletakan tas di dalam kamar sebelum keluar lagi. Sean masih berdiri menatap sekeliling. Tampak kosong. Hanya ada meja kecil di lantai. Dengan satu kulkas di sudut.
"Duduklah! Aku akan membuat kan mu minum." Titah Adella bergerak menuju kulkas.
Sean duduk di lantai tanpa alas. Dingin. Beruntung musim Panas, tidak perlu menyalakan mesin pemanas khas Jepang hanya untuk menghangatkan udara di musim dingin.
TUK!
Dua gelas es sirup Marjan rasa pandan terhidang dengan cemilan setoples rempeyek khas Indonesia.
"Minumlah, di rumah ini hanya ada ini saja!" ujar Adella sebelum berdiri lurus,"Aku mau menukarkan pakaian jangan lakukan hal aneh-aneh di sini!" lanjut nya.
Sean mengangguk patah-patah. Manik mata coklat kelam itu menatap pergerakan Adella. Yang melangkah kembali menuju kamar. Pintu kayu di tutup berlahan. Raut wajah Sean berubah sumringah. Senyum-senyum tak jelas mengembang.
"Aku tak akan mencuci seragam ini!" Serunya mencium aroma tubuh yang tercampur dengan aroma parfum murahan.
Ponsel mahal miliki nya terus bergetar di saku seragam sekolah nya. Dengan raut malas Sean mengeluarkan ponselnya. Ada ratusan panggilan tak terjawab dan juga begitu banyak pesan Line yang masuk.
Willem
Delta
📩Angkat telfon nya!
Vian
Mama menanyai mu, cepat pulang! 📩
Segelintir pesan Line yang ia buka. Untuk pesan dari David ia abaikan.
"Mereka sangat penasaran dengan keberadaan ku." Ujarnya sembari jari jemari menari di atas layar. Mengetik pesan Yang akan ia kirim pada Vian dan Ke dua orang tuanya.
Kreat!
Pintu kamar terbuka bersamaan dengan tiga pesan yang di kirim kan. Sean mematikan ponsel nya. Wajah tampan itu tersenyum lebar pada Adella. Anak remaja itu duduk di depan Sean. Memaknai baju tidur dengan motif kupu-kupu.
"Kenapa tidak di minum, Katanya tadi haus?" Adella menatap gelas yang mana isi di dalam nya masih sama, tidak berkurang sama sekali.
"Eh?" Sean lupa dengan alasannya untuk masuk,"Aku menunggu mu untuk minum juga. Minum sendiri terasa tidak enak!" Katanya dengan senyum di paksakan.
Adella hanya mendesah pelan. Meraih gelas di depannya. Meneguk perlahan air sirup milik nya. Di ikuti oleh Sean, bedanya anak lelaki ini menatap setiap raut wajah Adella. Entah kenapa ia merasa senang dengan raut wajah Adella yang berubah-ubah. Apa ini ini rasanya jatuh cinta?
Itulah yang bergelayut di otaknya.
"Kau sangat haus ternyata," ujar Adella menatap sisi gelas yang kosong namun bibir merah tebal seksi itu masih tak melepas kan Pingiran gelas.
Ke dua mata Sean berkedip-kedip lucu. Adella berdiri dari posisi duduknya. Melangkah kembali menuju lemari pendingin. Mengeluarkan botol sirup dan Katong berisi es. Tangannya bergerak meraih ini dan itu. Posisi pria itu masih sama. Masih memegang gelas, dengan posisi bibir gelas di bibirnya. Tak ia sadari apa yang terjadi. Yang ia tau saat ini hanya tak ingin melepas pergerakan gadis di depannya ini.
Adella membalikkan tubuhnya melangkah mendekati meja, dengan teko bening dari kaca. Berisi kan minuman dingin yang selesai ia buat. Ia terkekeh pelan, melihat pria yang menjadi idola nomor satu di sekolah nya kini masih seperti semula.
"Sini gelasnya aku isi, lagi!" Ujar Adella menyodorkan tangannya pada Sean.
Kontan saja Sean tersadar. Ia menurunkan gelas yang berada di bibirnya. Dan memberikan nya pada Adella. Gadis remaja itu mengisi gelas dengan es sirup Marjan. Sebelum kembali meletakan gelas yang telah berisikan ke arah Sean.
"Terimakasih," seru Sean.
Adella mengangguk dan tersenyum.
"Minumlah!"
Sean mengangguk. Menegak minuman di tangannya, menyisakan setengahnya.
***
Kepala Dera menggeleng pelan setelah membaca pesan yang masuk dari sang putra. Pintu kamar mandi terbuka lebar. Hiro keluar dengan baju tidur pasangan dengan sang istri. Rambut hitam nya terlihat basah, membawa hujan kecil di bahu.
"Sini Kak! Aku keringkan rambut nya!" Seru Dera menepuk bibir ranjang.
Dengan senang hati Hiro melangkah mendekati ranjang. Duduk di samping sang istri. Dera berdiri dari posisi duduk nya, melangkah mendekati lemari. Menarik Hairdryer tanpa kabel. Kembali melangkah mendekati sang suami.
Tangan kiri mengarahkan Hairdryer ke arah rambat Hiro. Tangan kanan dengan handuk leher mengusap perlahan. Senyum Bos Yakuza ini terlihat, ke dua tangannya melingkar di pinggang sang istri. Membenamkan wajah gagahnya pada perut Dera.
"Sean katanya akan tidur di luar. Aku merasa aneh dengan nya, Kak. Ini pertama kalinya ia tidur di luar mendadak seperti ini. Bahkan Vian saja tidak tau dia mau tidur di mana!" Ujar Dera masih melakukan pekerjaan nya.
"Biarkan saja. Dia pasti ingin main di luar," jawab Hiro.
"Aku tidak masalah dengan keinginan nya untuk main di luar. Hanya saja aku merasa ia berbeda. Tapi aku sendiri kurang yakin dengan apa yang membuat nya berbeda."
Hiro menengadah. Membuat Dera mematikan Hairdryer yang menyala. Menunduk menatap wajah putih bening sang suami.
"Kau mau tau?" tanya dengan nada aneh.
"Tentu saja!" Dera mengangguk cepat.
Hiro tersenyum lebar."Cinta! Putra kita seperti nya jatuh cinta sayang!" Kata Hiro mengusap pangkalan hidup nya pada perut rata Dera.
Ke dua mata Deta membulat sempurna.
"Apa??" Teriak nya syok.
Hiro tersenyum lebar.
"Dia sudah besar sayang!" balas Hiro.