The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 98 (Romansa kehidupan)



...SRAK!...


Tirai di buka lebar. Senyum lebar terpahat di bibir pink cerah itu. Gaun putih dengan mutiara di pinggang ramping dengan rambut di tata rapi, tak lupa pula mahkota berukuran sedang di letakan di atas kepalanya. Sean yang telah siap dengan jas putih dengan ornamen Bros rantai Rubi di pasangkan tepat di atas saku jas sebelah kiri. Terlalu sangat tampan.


Adella terpesona menatap pria yang menengadah menatap dirinya dengan pandangan tak jauh berbeda.


"Cantik," puji Sean dengan nada lirih.


Beberapa pegawai butik tersenyum geli melihat ke dua calon pengantin muda itu.


"Bagaimana tuan Yamato?" tanya sang manajer,"apakah gaun ini sudah pas?" tanya nya lagi.


Kepala Sean mengangguk pelan."Ya, ini sudah pas. Wanitaku terlihat cantik," jawab Sean,"ah! Tidak. Dia terlihat sangat cantik dan sempurna," lanjut Sean meralat perkataan nya.


Sontak saja erangan tertahan dari para pegawai butik terdengar jelas. Mereka sangat senang melihat ke duanya pengantin terlihat saling menatap dengan tatapan penuh cinta. Tidak hal terindah di dunia ini, dimana pernikahan berlandaskan cinta. Dan di perkokoh dengan kesetiaan. Berornamen kan kejujuran. Dan di beri atap kepercayaan. Semua nya akan sempurna.


"Baiklah, kalau begitu kami tinggal dulu." Ujar manajer butik sembari membungkuk ke arah Sean dan Adella. Di ikuti oleh pegawai butik lainnya.


Mereka meninggalkan ke duanya di ruang ganti. Adella turun perlahan dari podium. Sean bergerak cepat menyambut tangan Adella. Ah, debaran keras mendamba di dalam tubuh masing-masing. Seakan ke duanya tengah merasakan jika mereka tengah benar-benar akan melakukan pemberkatan pernikahan satu jam lagi.


Hanya untuk mencoba pakaian pengantin saja. Ke duanya merasa jika hal seperti ini adalah sebuah kenyataan.


"Kau terlihat seperti pangeran sungguhan, Sean!" ujar Adella. Sebelum menunduk malu.


Sean menunduk, menatap Adella dengan intens.


"Bagaimana kalau hari ini juga kita ke gereja?" ucap Sean gemas,"aku sudah tidak tahan mengikat janji di atas altar denganmu," lanjut nya.


Adella sontak mengangkat pandangan nya. Menepuk pelan dada bidang Sean dengan senyum malu.


"Hei! Kita bisa menjadi orang paling aneh sedunia. Karena menikah tanpa persiapan. Padahal kita sudah sama-sama mendapatkan restu. Awal bulan besok kan sudah di tetapkan," bantah Adella malu-malu.


Sean mengangkat ke dua tangan nya menangkub ke dua sisi wajah Adella. Membawa manik mata hitam legam itu menatap ke dua mata coklat kelam miliknya.


Deg!


Deg!


Deg!


Hembusan napas mint menerpa wajah Adella. Kala jarak di kikis oleh sang pemilik tangan besar. Jantung Adella dan Sean berlomba-lomba menyuarakan debaran. Hingga hidung mancung Sean menyentuh puncak hidung Adella. Tubuh Adella membeku.


"Aku sangat ingin mengecup bibirmu. Atau bahkan menghabisimu saat ini juga, jika saja aku tidak ingin nasehat mamaku. Mungkin saja aku sudah menerjangmu saat ada kesempatan Adella!" ucap Sean dengan nada rendah dan berat. Seakan menahan hasrat terdalam dalam diri.


Gelora darah remaja memang menyulitkan. Keinginan menggebu-gebu sangat sulit untuk di kontrol. Kini, ia mengerti. Kenapa Hiro sang ayah, memilih cepat mengikat sang ibu. Tanpa lamaran romantis, lucunya lagi. Otak prianya mulai berpikir keras, bagaimana caranya sang ayah menahan kebutuhan naluri lelaki nya untuk tidak menyentuh sang ibu. Saat ia menjadi sang ibu kucing peliharaan. Saat hati terlibat?


Sean Yamato akui. Jika sang ayah memiliki pengendalian emosi bahkan gairah seksual yang handal. Tangannya di lepaskan, ia mundur dua langkah kebelakang.


"Se——sean," panggil Adella tergagap kala tubuh Sean membelakangi nya.


"Hem!" jawab Sean dengan nada seksi.


"Mau kemana?" tanya Adella dengan nada ragu.


Sean menghela napas."Toilet," jawaban pelan. Sebelum melangkah cepat.


Ingin sekali Sean Yamato memaki pelan. Tidak ada yang aneh. Adella memakai gaun tertutup. Tidak satupun yang terbuka. Anehnya, ia merasa panas. Naluri lelaki nya seakan membayangkan hal lain. Oke, mari salahkan David Miyaki. Sahabat mesumnya itu mengirimkan lagi video aneh. Dengan judul 'Pranikah malam pertama' terkutuk lah David. Sean memaki saat merasa pangkal pahanya mengembung. Normal. Namanya juga lelaki.


Adella hanya menatap aneh Sean dari belakang. Beruntung, gadis itu tidak melihat perbedaan dalam tubuh Sean saat pria puncak hidung Sean bertemu dengan puncak hidup nya.


...***...


"Kau gila!" ucap Willem sebelum melayangkan bantal sofa pada David yang mengembangkan senyum mesum khas memiliknya.


Vian menghela napas pelan. Ketiga pria tampan itu duduk di salah satu kafe yang sering mereka datangi berempat saja. Dimana kafe yang di peruntukan bagi mereka pencinta permainan game. Kebanyakan yang datang adalah para lelaki. Meskipun ada anak perempuan, itupun bisa di hitung dengan jari. Setiap tempat tertutup dengan televisi besar di samping tempat duduk yang mana sering di gunakan untuk bermain oleh pada pengunjung.


"Hei! Apa salah nya?" tanya David dengan wajah tanpa dosa.


"Kau ingin di hajar lagi oleh Sean, huh?" ujar Willem sebelum mengeleng kecil.


"Aku heran kau benar-benar tau cara membuat Sean jengkel,Dav!" kini Vian terdengar berusaha.


David melepaskan sesapannya. Menatap aneh Vian.


"Vian!" panggil David pelan,"terkadang aku merasa aneh padamu dan Willem. Kalian terlihat begitu dingin. Apalagi kau, Vian. Seakan tidak terpengaruh dengan hormon seksualmu. Tidakkah kau merasa terangsang melihat hal begituan?" ujarnya. Bukan menjawab David malah menyuarakan isi hatinya untuk ke duanya.


"Lalu maksudmu kami aneh?" tukas Willem kesal.


Ke dua sisi bahu David terangkat.Sebelum tersenyum mesum.


"Bisa jadi," jawabnya.


Bug!


Bug!


Bantal sofa melayang kembali ke arah David. Pria itu melindungi wajah tampannya. Sebelum menarik ke dua bantal sofa untuk di pangkuan.


"Jangan-jangan belum mengalami mimpi basah, hah?" ujar David kembali.


Kontan saja raut wajah Vian dan Willem berubah memerah.


"E——enak saja. Si——siapa bilang belum!" bantah Wilem terbatah-batah.


Vian memilih meraih konsol game. Pria itu mengalihkan pandangannya ke arah layar.


David semakin ingin menggoda ke dua sahabat nya.


"Biar aku tebak, kalian sudah mendapatkan nya. Hanya saja terlihat begitu malu mengakui jika hormon gairah itu tersembunyi," goda David.


Ke dua bola mata Vian dan Willem membola malas. Willem berdiri lebih dahulu di ikuti oleh Vian.


"Kita cari udara segar saja Vian. Di sini udaranya sudah terkontaminasi oleh kemesumaan David!" kesal Willem sebelum melangkah terlebih dahulu. Di ikuti Vian dengan gaya coolnya.


Terdengar teriakan David memanggil kedua nya. Namun mereka memilih abai. Melanjutkan langkah kakinya meninggalkan David.


...***...


Air hangat menyentuh permukaan kulit Hiro. Sebelum telapak tangan Dera mengusap pelan punggung putih Hiro. Meskipun punggung Bos Yakuza itu terlihat seputih salju. Namun dibelakang nya penuh dengan goresan yang tak beraturan. Pertarungan yang pernah ia alami meninggalkan bekas.


"Bagaimana perkembangan Sean dan Adella?" tanya Hiro di sela pejaman matanya kala tangan Dera bergerak memijat pelan pundak telanjang Hiro.


Pergerakan tangan Dera berhenti sesaat. Sebelum bibirnya mengulas senyum. Wanita itu duduk di pinggiran bathtub.


"Sean dan Adella sudah memilih gaun pengantin dan jas. Apakah kakak udah lihat foto mereka memakai baju pengantin?" tanya Dera antusias.


Kepala Hiro menengadah. Menatap wajah istri imutnya yang begitu mengemaskan. Bibir merah basah itu tak berhenti tersenyum. Ia mengingat bertapa cantik dan tampan nya putranya. Putra kecil yang sekarang sudah mau jadi suami orang.


"Eh! Kok lihat aku begitu?" tanya Dera nada pelan melihat bagaimana ekspresi Hiro tengah menatap nya.


"Kenapa setiap ekspresi wajahmu selalu saja membuat aku merasa tak pernah jemu menatapmu, De?" tanya Hiro dengan nada berat.


Dera membuang wajahnya. Malu, sungguh.


Bruk!


Byur!!


Dera terpekik kala tubuh nya jatuh kedalam bathtub. Berada di atas pangkuan Hiro. Bajunya basah bercampur dengan busa sabun mandi.


"Sayang!" panggil Hiro dengan suara memberat.


Dera meneguk kasar air liurnya. Menatap Hiro takut-takut. Wajah Hiro berada di samping wajah Dera. Bibirnya mendekati daun telinga Dera.


"Bagaimana kalau kita bikin adik lagi untuk anak-anak kita?" bisiknya seduktif,"biar kita bisa pamer sama Leo juga," lanjut nya.


Beberapa kali kelopak mata Dera berkedip cepat. Jantung nya bertalu-talu. Wajah nya memerah. Sebelum terpekik tertahan kala bibir basah mengecup leher jenjangnya.