The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 45 (Benci yang terpendam)



"Mama!" panggil Vian kala ia membuka pintu kamar sang ibu.


Dera yang tengah merajut mengangkat pandangan nya. Tersenyum pada sang putra, sebelum menepuk sebelah sisi kasur. Sebelah tangannya meletakan rajutannya di samping kirinya.


"Ayo, kesini!" Ujar Dera masih menepuk permukaan tempat tidur.


Vian melangkah masuk ke dalam. Merebahkan diri di paha sang ibu. Ke dua matanya terpejam. Tubuh nya terasa sangat letih. Usapan Dera di puncak kepalanya memberikan Vian kenyamanan. Pria remaja itu tersenyum di sela pejaman matanya.


"Ada sesuatu yang ingin Vian katakan?" Tanya Dera di sela usapan nya.


Ke dua kelopak mata Vian terbuka. Manik mata coklat tajam itu menatap wajah bersahaja sang ibu. Ia menarik kembali garis senyum nya.


"Hanya rindu, Mama saja!" jawabnya.


Dera terkekeh pelan mendengar pernyataan sang putra.


"Bukankah setiap harinya Vian selalu bersama Mama, Hem!"


"Ya, hanya saja terkadang itu seperti mimpi. Bisa berada di pangkuan Mama, memakan masakan buatan Mama dan mendengarkan suara Mama," ujar Vian jujur.


Vian Yamato, pria ini memang terlihat dingin dan tidak terbaca. Ada banyak hal yang tidak bisa ia katakan. Hanya biasa ia simpan rapat, begitu pula dengan emosi. Begitu lah Mirabel mengajarkan padanya dahulu. Hingga, ia merasa terbiasa dengan hal itu.


"Bagaimana bisa itu adalah mimpi. Di saat Mama benar-benar menyentuh putra Mama seperti ini." Ujar Dera mengusap permukan dahi Vian."Lupakan semuanya Vian. Jangan pernah menyimpan apa yang tidak ingin kau simpan. Sekarang Vian punya Mama dan Papa di sisi Vian. Tidak perlu menekan diri, Vian bisa merengek jika ingin. Vian bisa marah jika meras tidak adil. Atau menangis jika merasa tak kuat lagi. Itulah emosi yang tidak perlu di sembunyikan. Pria tidak pernah ada larangan menangis. Karena pria juga manusia yang punya emosi dan perasaan. Tidak ada yang perlu Vian takutkan!" Lanjut Dera sebelum menepuk pelan dada bidang sang putra.


Vian diam. Pria ini mencoba mencerna apa yang di katakan oleh sang ibu. Dera adalah sosok ibu yang benar-benar membuat Vian takut dan bahagia dalam waktu bersamaan. Ia takut jika Dera tidaklah nyata, meskipun waktu telah lama berlalu. Vian masih saja takut, jika semua kebahagiaan yang ia lalui selama ini hanya halusinasi semata.


Kala menyuntikkan racun ke tubuh nya. Atau melukai sedikit tubuh nya, ia bisa sadar jika kebahagiaan yang ia dapatkan bukanlah mimpi. Dera benar-benar ibunya dan benar-benar ada. Sean adalah kembaran nya. Launa dan Laura adalah adiknya.


Vian menggenggam tangan Dera."Terimakasih Ma!" Ujarnya sebelum kembali menutup ke dua matanya.


Dera tersenyum lembut. Mengusap pelan puncak kepala Vian dengan tangan yang bebas dari genggaman Vian. Dera tau, Vian sudah cukup menderita. Hingga anak lelaki nya ini takut pada sesuatu yang semu.


Di balik dinding pintu kamar yang terbuka. Delta menyandarkan tubuhnya. Ia sengaja mengikuti Vian. Siapa sangka ia kembali mendapati pemandangan yang begini lagi. Ketakutan Vian.


"Aku ingin menjadi kebahagiaan mu juga, Vian!" lirih Delta.


Sebelum gadis remaja ini tersenyum lembut. Ia terpana melihat kekosongan di balik mata tajam Vian. Pertama kali mereka bertemu, Delta merasa berbeda. Ia suka mendengarkan suara Vian yang serak. Melihat Vian tersenyum dan mengerutkan dahinya. Setiap ekspresi yang Vian perlihatkan sangat berbeda.


***


Tawa canda terus terdengar berisik dari orang-orang di ruangan tengah. Ella hanya diam, menjadi pengamat. Beberapa kali manik matanya menyapu rumah besar Yamato. Ini ke dua kalinya, Ella bisa masuk ke rumah besar Yakuza. Benar-benar menakjubkan, itulah yang ada di otak Ella.


"Kau akan ke Paris?" tanya Sean tak percaya.


"Ya. Masih Minggu besok," jawab Adella jujur.


Wajah Sean di tekuk. Delta mencabik, David masih dengan wajah masam sesekali. Kala di goda Willem perkara si banci. Vian sesekali menimpali.


"Aku juga mau ke Paris," ujar Sean dengan nada manja.


"Cih! Jangan sok manja. Itu menjijikan!" cibir Willem.


"Suka-suka akulah. Lagian Adella kan calon istri ku," tukas Sean dengan wajah angkuh.


"Gak percaya. Omong sekarang mah begitu, nanti kalau ada wanita lain lebih cantik dari Adella pasti langsung klepek-klepek!" goda David.


"Kau pikir, aku itu kamu!" cibir Sean.


"Kau belum merasakan aja pesona wanita lain. Kau jangan percaya pada pria, Adella!" hasut David.


Pletak!


"Aduh! Kau gila Delta. Sakit tau ini!" Keluh David mengusap dahinya yang memerah karena ulah gadis itu.


"Kau jangan mencemarkan nama baik sahabat mu, dong!" balas Delta.


Adella hanya terkekeh pelan mendengar pertengahan ketiga nya. Sebelum ia menoleh ke arah Ella, yang kebetulan menatap nya dengan pandangan tak suka.


Dahi Adella berlipat kala pandangan Ella beralih pada Delta. Gadis ini bertanya-tanya apakah ia tidak salah lihat. Pandangan Ella padanya jelas pandangan tak suka.


"Anak-anak, cemilan nya!" Seru Dera di ikuti dari belakang oleh Clara.


Ke dua wanita itu membawa nampan berisi makanan dan minuman. Di letakan di atas meja.


Ella menatap lambat Dera. Wanita yang menjadi ibu dari si tampan Vian dan Sean. Wanita itu terlihat bahagia dan berubah imut. Tidak tampak menua, meski usia tak lagi muda. Jika Dera bergabung dengan mereka. Mungkin orang-orang akan mengira jika Dera masih duduk di bangku SMA. Melihat wajah nya tampak imut dengan tinggi tubuh yang jauh lebih pendek dari mereka.


Perawatan mahal memang sangat berbeda bukan. Diam-diam Ella berdecak sinis melihat kebahagiaan Dera. Wanita ini berbahagia, di atas tangis wanita lain. Bisakah Ella mengatakan jika Dera adalah wanita paling ia benci. Meski membenci wanita ini, nyatanya Ella tidak bisa menolak pesona Sean Yamato. Putra ke dua dari Dera Sandya.


***


Hiro mengeleng kecil melihat sang istri masih saja merajut baju dari wol untuk ke dua putranya yang sebentar lagi akan genap berusia sembilan belas tahun. Hiro merebahkan dirinya di samping tubuh sang istri.


"Kenapa tidak beli saja kado sayang. Sudah tiga hari merajut," seri Hiro. Sebelum memeluk pinggang sang istri. Kepalanya di naikan ke paha Dera.


"Di beli sama buat sendiri beda, Kak!" balas Dera. Menghentikan kegiatan nya.


"Tapikan istri ku gak capek-capek bikin," ujar Hiro.


"Tidak akan yang letih untuk anak-anak kita, kak!" bantah Dera lembut.


"Nanti kalau aku yang ulang tahun. Mau di kasih apa?" tanya Hiro dengan nada lucu.


Dera terkekeh pelan."Maunya apa?"


"Honeymoon!" ujarnya dengan nada tak tau malu.


"Kenapa harus honeymoon?"


"Aku iri sama Leo. Kau tau dia mengirimkan foto USG anak ke duanya. Aku mau lagi," bujuk Hiro.


Dera tertawa ringan."Nanti kalau ada lagi, gelar anak setan turun lagi."


Hiro ikut tertawa pelan."Suamimu inikan rajanya setan. Jadi tidak masalah," balas Hiro.


"Lalu aku apa, kalau kakak raja setan," runggut Dera.


"Istri ku tentu saja bidadari yang di tawan oleh raja setan!" canda Hiro.


Kembali tawa mengalun. Di kamar ke duanya. Hiro tersenyum aneh, ke dua pintu kamar putra dan putri nya telah di kunci dari luar. Tidak ada pengganggu untuk malam ini.