The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 51 (Reptil tanpa harga diri)



Puncak kepala David terlihat akan berasap jika mereka dalam dunia komik. Beruntung, mereka berada di dunia nyata. Hingga puncak kepala David yang berasap tidak terlihat. Hal yang paling David Miyaki benci adalah ujian. Karena saat ujian, pria ini akan kalangan kabut. Apa lagi jika berhubungan dengan yang namanya hitung menghitung. Beda lagi pasalnya, jika ujian Bahasa Inggris. Mengingat tuan muda Miyaki ini telah fasih dengan bahasa ibunya itu.


Manik mata hijaunya terlihat melirik wajah Sean Yamato yang terlihat sangat datar. Tidak tampak kerutan halus di dahinya kala mengerjakan soal perhitungan. Miris! Satu kata yang terlintas di otak nya saat ini. Terkadang David berpikir apakah ada perpustakaan di otak kecil Sean. Hingga sahabat nya ini selalu mudah menghadapi ujian. Jangan tanyakan seberapa bagus nilai-nilai Sean Yamato dalam semua mata pelajaran.


Nilai yang selalu memiliki dua nol di belakang angka satu. Membuat Sean menyandang gelar juara satu abadi.


"Kau lagi-lagi tidak belajar, Hem?" Ujar Sean masih di sela kegiatan memecahkan rumus.


David mendesah pelan. Guru pengawas di depan sana terlihat terkantuk-kantuk, mengawasi ujian.


"Aku benci belajar," jawab David enteng.


"Dan juga benci saat mendapat kan ceramah dari Mama mu, bukan?" cibir Sean lagi.


"Yeah, begitu lah!" jawabnya datar,"lagipula aku akan tetap menjadi pewaris perusahaan besar media masa milik Papaku. Yang terpenting saat ini adalah bersenang-senang kawan. Saat berusia dua puluh enam tahun. Kita tidak bisa lagi bersenang-senang. Mengingat sudah harus mengurus perusahaan atau menikah," lanjut nya.


Sean menghentikan pergerakan tangan nya. Menoleh menatap wajah tampan David. Senyum yang membawa lesung David semakin terlihat jelas. Para wanita akan berteriak keras dengan ketampan David. Saat pria ini mengembangkan senyum, terlihat sang seksi dan hot dalam satu waktu. Sayangnya, Sean bukan anak perempuan. Malah jijik melihat ekspresi wajah David.


"Berhenti tersenyum, Dav! Kerjakan saja kertas ujianmu," seru Sean.


Pria ini kembali fokus pada kertasnya. David mendengus dan mencabik. Sebelum mengeluarkan jurus andalan nya. Hitung kancing baju dari atas sampai bawah. Dimana lagu berhenti di sanalah jawaban yang tepat. Trik lama, yang tidak pernah punah untuk di praktek kan.


***


Leo memijit kasar pangkal hidung nya yang terasa berdenyut. Beberapa berkas telah mengunung di atas meja kerjanya. Leo Yamato memilih menjadi seorang pekerja kantoran biasa. Dari pada mewarisi tambuk ke kuasaan Yakuza yang pernah ditawarkan oleh Hiro.


"Sayang!" Serua dan ketukan di luar daun pintu membuat Leo menoleh.


Pintu terbuka lebar. Terlihat ibu angkat nya membawa teh hijau hangat masuk ke ruangan kerja pribadi Leo. Nomi tersenyum lucu melihat raut wajah kusut Leo. Wanita paruh baya itu melangkah masuk. Meletakan dua cup teh hijau hangat di atas meja di dekat sofa yang terdapat di dalam ruangan.


"Ayo, minum dulu sini!" ujar Nomi.


Leo bangkit dari posisi duduknya. Melangkah mendekati Nomi. Pria ini duduk berhadapan dengan ibu angkatnya.


"Terimakasih, Ma!" Ujar Leo meraih kuping cup teh. Perlahan Leo menghembuskan permukaan teh hijau sebelum menyesap nya.


Nomi juga melakukan nya. Wanita paruh baya ini tau, jika Leo pasti sangat letih. Mengurus perusahaan yang mulai berkembang. Belum lagi Vera yang hamil dengan banyak ke anehan. Di perparah dengan Lea yang manja pada nya minta ampun. Membuat Vera terlihat kesal. Ibu hamil itu cemburu kalau Leo membagi perhatian pada putri mereka. Hamil benar-benar aneh.


"Tidak mau pulang ke Jepang saja. Mengingat di Jepang ada Dera dan Clara yang akan membantu mu. Jika di sini, Vera hanya ada Mama saja yang bisa di ajak bicara!" ucap Nomi  pelan.


Leo mendesah letih. Ia meletakan kembali cup teh ke atas meja. Menyadarkan punggung belakang nya di sofa.


"Tidak usah mendengar kan Papamu. Kau tau sendiri bukan bagaimana keras kepala Papamu yang ingin tinggal di sini. Sedangkan kau maupun Vera, sangat sulit beradaptasi di Belanda. Meskipun bisnis kecil-kecilan mu sudah mulai berkembang."


"Kasihan melihat papa sendiri di sini Ma," ujar Leo.


"Mama akan selalu di sampingnya. Tidak usah khawatir, yang terpenting di sini adalah kesehatan, kebahagiaan dan keceriaan keluarga mu Leo. Di Jepang Lea punya banyak teman. Lea anak introver, yang sulit bergaul dengan anak Eropa. Yang tentu nya ada banyak perbedaan dengan kita orang Asia. Kalau sudah tua, sih negera Belanda memang tempat yang bagus untuk masa tua. Tidak bagimu dan Vera," kata Nomi lembut.


Leo diam. Pria ini menimbang-nimbang. Apakah ia akan tetap di Belanda atau kembali ke Jepang. Di satu sisi ia kasihan dengan Zeo yang tinggal sendiri di sini. Pria ini bukan nya tidak suka berada di Jepang. Pria tua Yamato itu hanya merasa Jepang memiliki kenangan pahit di dirinya. Hingga membuatnya tak betah di sana.


"Aku akan membicarakan nya dengan Vera terlebih dahulu, Ma!"


"Hem! Bicara kan dahulu."


***


"Apa yang kalian lakukan!!!"


Teriakan bergemuruh di wahana kolam si reptil. Sean berkacak pinggang melihat kelakuan adik-adik nya. Serempak anak-anak perempuan itu menyembunyikan cat krayon bersama dengan lipstik berwarna hitam di belakang tubuh mereka.


Beberapa anak remaja lainnya menyusul Sean berdiri di pintu masuk kolam. Kontan saja tawa keras mengalun di dalam bangunan kolam. Ayolah, bagaimana tidak tertawa keras. Jumbo dan Jery terlihat menggemaskan. Di pinggir bibirnya penuh dengan warna merah dan sedikit ke ungun-ungguan. Di atas matanya ada warna hitam yang di gambar. Bak alis mata yang menungkik tajam. Jangan lupakan di pipinya ada warna pink cat krayon terlihat kontras. Seperti ke dua buaya yang tengah merona dan agak——genit. Melihat Warna  merah di bibir mereka.


Mata sayu ke duanya terlihat seolah-olah tengah menggoda. Padahal mereka ingin menangis dengan nasib tak beruntung. Karena sudah tua tidak bisa berlari cepat menghindari kejaran Laura yang secepat kancil. Otong dan Anu terlihat bersembunyi di balik kolam dalam. Mereka sudah sangat lelah di kejar oleh Laura dan di ikuti oleh Mika.


Untuk Launa, anak itu bersama Cherry hanya ikut-ikutan mewarnai saja. Ralat! Maksudnya hanya menghiasi wajah duo Buaya tua itu saja.


"Gila! Tampang mu genit sekali Jumbo dan Jery!" Ujar David di sela tawanya.


Adella dan Delta sudah tidak tertolong lagi. Ke duanya terduduk di lantai karena tawa keras. Willem dan Vian tersenyum konyol melihat ulah ke empat anak perempuan itu.


Sean mengeleng pelan. Iba, itulah yang ada di hati Sean melihat kedua buaya itu.


"Cantik kan!" Seru Laura dan Mika serentak.


Jumbo dan Jery mendengus. Namun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa pasrah tapi tak rela saja.


"Ada-ada saja kalian ini," ujar Sean kehabisan kata.


Diam-diam Launa dan Cherry keluar dari dalam kolam. Takut, mereka di amuk Sean. Membiarkan Laura dan Mika adik Willem berasa di kolam. Sungguh, Jumbo dan Jery merasa menjadi reptil tanpa harga diri. Dari dulu sampai sekarang. Mereka kehilangan identitas, sebagai reptil menakutkan.