
Ujung runcing pensil bergerak lincah di atas kertas gambar. Manik mata coklat kelam itu terlihat tengah serius dalam membuat gambar. Entah kenapa setiap gerak gerik yang di keluar dari tubuh gadis itu selalu menarik. Cara ia tersenyum, kala dahinya mengerut, kala ia mencibir dan marah. Pria ini suka.
Pensil runcing di turunkan kala gambar telah selesai. Ke dua sisi sudut bibirnya terangka tinggi. Hembusan angin menerbangkan helaian rambut gadis cantik itu.
"Cantik!" serunya.
Derap langkah kaki, membuat Sean menutup cepat buku gambar di depannya.
"Hei? Apa yang kau lakukan di sini! Aku dan yang lainnya mencari mu dari tadi tau!" Kesal Delta menpout kan bibirnya ke depan. Sembari menarik kursi satu lagi untuk duduk di samping Sean.
"Melukis. Besok aku berencana mengikuti kelas Seni," jawab Sean jujur.
Delta melipat tangan nya di depan dada. Menatap rahang tegas serta hidung mancung pria Yamato ini dari samping. Terlihat sangat jelas.
"Aku mau ikut!" Ujarnya tak lupa memasang senyum lebar.
Sean menoleh ke arah Delta. Gadis imut itu terlihat penuh semangat.
"Kau yakin?" tanya Sean tak percaya.
"Memangnya kenapa, kalau aku ikut?" Delta malah balik bertanya.
"Kau mengambar buah apel saja berubah menjadi bola!" ingat Sean kala mereka duduk di bangku SMP.
Delta merenggut kesal."Jahat sekali kau!"
"Ini fakta kawan!"
Ke duanya terkekeh pelan setelah nya.
"Hah!" Delta menghembuskan napas letih,"Besok David tidak masuk sekolah karena ada pemotretan sekaligus wawancara dari perusahaan Ayahnya. Willem anak itu mengikuti ekstrakurikuler basket sampai Sore. Sedangkan Vian dia akan mengikuti olimpiade Kimia. Dan kau juga malah meninggalkan aku!" curhat Delta dengan jadwal padat teman-teman nya.
"Kau sendiri bukanya akan ada pemotretan juga?"
Kepala Delta mengeleng cepat. Wajahnya terlihat cemberut. Membuat lelaki manapun akan merasa gemas.
"Kata fotografer nya, pemotretan nya di tunda karena David mendapatkan panggilan mendadak yang tidak bisa di tunda. Sial sekali bukan? Gara-gara si Kadal air itu. Aku jadi tidak jadi pemotretan!" cerocosnya tak lupa mengatai David.
Sean terkekeh. Ini yang dia sukai dari Delta. Sahabat wanita nya ini apa adanya. Tidak seperti gadis kebanyakan yang akan bertingkah aneh-aneh hanya untuk merebut perhatian nya. Delta membuat nya nyaman.
"Tertawa saja terus! Tertawa di atas penderita ku!"
Tawa Sean makin menjadi. Bukanya berhenti, ruangan khusus tempat para Siswa dan Siswi melukis di penuhi oleh suara tawa berat Sean. Dan suara erangan kesal Delta.
SRAK!
Pintu ruangan terbuka lebar. Ke dua manusia yang asik bercanda itu memutar kursi mereka. Menatap siapa yang telah membuka pintu hingga menghentikan candaan ke duanya.
"Maaf," seruan tak enak dari gadis berpipi chubby itu membuat raut wajah Sean berubah aneh.
Nika menggoyangkan pergelangan tangan Adella. Anak Seni ini merasa kikuk. Apakah harus masuk ke dalam ruangan atau mereka harus mengurungkan niat untuk meletakan buku gambar serta peralatan gambar Adella. Mengingat anak baru ini belum memiliki tempat duduk dan loker pribadi di dalam ruangan khusus ini.
"Masuklah!" seru Delta dengan nada ramah.
Ke duanya saling adu pandang. Sebelum ke dua gadis remaja ini masuk ke dalam. Manik mata coklat kelam nan tajam itu memperhatikan langkah ke duanya. Lebih tepatnya, fokus pada punggung Adella. Anak perempuan yang selesai ia gambar.
"Ah?"
"Keluar! Mereka seperti nya sebentar lagi akan memakai kelas ini." Delta menjelaskan. Sean Yamato, mengangguk pelan. Meski di dalam hati melenguh tak rela.
Ia dan Delta turun dari kursi. Sedangkan Adella dan Nika terlihat sibuk memasukkan beberapa keperluan melukis. Derap langkah kaki di belakang tubuh ke duanya terdengar samar. Dari ekor matanya, Sean melirik punggung Adella yang bergerak. Membantu Nika memindahkan barangnya.
Ke dua nya keluar. Barulah Adella menoleh ke arah pintu keluar. Yang masih terbuka lebar.
"Mereka terlihat seperti pasangan kekasih," kata Nika pelan.
Adella menoleh kembali ke arah Nika.
"Bukankah kau bilang mereka adalah sahabat?" tanya Adella dengan wajah keheranan.
Nika membalikkan tubuhnya. Bersandar di loker besi dengan melipat sebelah tangan di bawah dada. Jari telunjuk tangan kanan di tempel kan di dahi seperti seorang yang tengah berpikir keras.
"Entahlah. Sebenarnya aku tak terlalu yakin, meski anak-anak lain mengatakan jika Delta adalah sahabat Sean. Terkadang aku berpikir hubungan itu lebih. Kau tau lah, tidak ada hubungan persahabatan antara pria dan wanita. Di sini, Sean hanya memperlakukan Delta satu-satunya wanita dengan amat baik. Sedangkan pada gadis-gadis lain, Sean cenderung dingin dan abai. Tidak seperti ke tiga pria lainnya!" jelas Nika mengeluarkan spekulasi yang ada di otaknya.
Adella hanya diam. Gadis ini tidak mengangguk dan tidak mengeleng. Perkataan Nika tidak ada salahnya. Tidak ada hubungan murni antara wanita dan pria. Itu menurut buku ya! Adella pun tak tau pasti. Karena gadis ini merasa enggan berdekatan dengan lawan jenis. Entah apa alasan pasti.
"Biarkan saja lah. Itu urusan mereka berdua!" Adella angkat suara juga pada akhirnya. Setelah sekian lama mempertimbangkan perkataan gadis Yamada ini.
Nika mengangguk pelan. Ke duanya kembali mengisi loker.
***
Matahari telah tengelam beberapa menit yang lalu. Musim Panas, membuat matahari terbenam lebih lama dari pada musim-musim lainnya. Jam sudah menunjuk kan pukul setengah delapan malam. Adella melangkah melewati berapa lorong sempit. Kontrak yang di sewa berada tepat di belakang gedung sekolah.
Ia mengeratkan pegangan nya pada tali tas. Kala merasa mendapat serangan panik. Adella menghentikan langkah kakinya. Menarik tasnya ke depan. Tangannya bergetar, peluh menetes membanjiri tubuh nya. Ia merogoh ransel dengan panik.
"Eh!"
Bruk!
Botol obat jatuh menggelinding kebelakang. Hingga berhenti menyentuh ujung sepatu mahal. Adella membalikkan tubuhnya dengan cepat. Ke dua mata bulatnya, melotot kala melihat siapa yang berada di belakang tubuhnya.
Pria itu membungkuk. Meraih botol obat, sebelum berdiri dengan tegap. Membawa netra coklat gelap itu menatap gadis di depannya. Masih terlihat bergetar ketakutan. Sean melangkah mendekati Adella. Mengikis jarak di antara mereka. Pria gagah ini menyodorkan botol obat pada tangan Adella.
"Ini!" Serunya.
Adella meraih botol obat itu dengan gerakan cepat membuka meraih satu pil. Meneguk nya tanpa air minum. Tubuh nya merosot ke aspal jalanan. Sean terkejut, hingga ikut berjongkok di depan Adella. Napas gadis ini terdengar tak teratur, peluh membanjiri tubuh Adella. Bahkan punggung belakang seragamnya telah basah kuyup.
"Tidak apa-apa, aku di sini. Jangan takut!" Ujar Sean dengan berani nya anak lelaki ini meraih tubuh Adella. Menepuk-nepuk punggung belakang gadis berpipi chubby itu dengan perlahan.
Aroma maskulin memenuhi rongga hidung sampai ke dalam paru-paru nya. Aroma mint yang menenangkan membawa napas Adella berasur-ansur teratur. Sean merubah tepukan menjadi usapan di punggung basah Adella.
Pria remaja ini, dapat mencium aroma sampo murahan di rambut hitam legam Adella. Lucunya, Sean menyukai aroma sampo sasetan yang di jual di Indonesia ini. Sean sendiri tak menyangka bahwa dirinya keluar dari gedung sekolah. Meninggalkan para sahabatnya, sampai kembaran'nya hanya untuk mengikuti gadis yang telah mencuri atensi dan pekiran di otaknya.
Awalnya ia tersenyum lucu di belakang tubuh Adella. Hingga dahinya berlipat melihat gadis yang ia ikuti terlihat aneh. Gestur tubuh Adella terlihat resah dan gelisah. Hingga ia melihat tubuh Adella bergetar hebat. Sampai mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Tidak apa-apa. Tidak akan ada yang bisa menyakiti mu, selagi aku masih di sini." Ujarnya lagi tanpa berhenti memberikan ketenangan pada gadis yang kini ia peluk.
Perlahan namun pasti, dari mulai napas yang kembali stabil, sampai tubuh yang bergetar tak lagi bergetar. Sean mengulas senyum, ia senang dapat memeluk gadis pujaan hatinya seperti ini. Oke, anggap saja ia licik.