
Senyum mengembang, sangat lebar. Sebelum langkah kaki di ayun cepat. Tepukan di bahu kiri lebarnya membuat pria remaja yang sedari tadi menjadi pusat perhatian banyak para wanita itu membalikkan tubuhnya. Gadis imut itu tersenyum.
"Maaf, ya aku agak telat!" ujarnya dengan nada lembut.
Kepala Vian hanya mengangguk kecil."Ya. Lagipula anggap saja hari ini pengganti hari yang nggak sempat saat itu," ujar Vian.
Delta mengangguk antusias. Hari di mana gadis ini meminta di temani ke tokoh buku. Vian tidak bisa, pria ini hanya mengantarkan Delta pulang ke rumah. Hingga, tersisa raut wajah kekecewaan saat itu.
Delta tanpa canggung menggandeng tangan Vian. Ke duanya memasuki tokoh buku terbesar dan terlengkap di salah satu pusat kota Tokyo.
"Mau cari buku apa kali ini?"
"Novel sih sebenarnya."
"Kenapa kau suka sekali dengan buku picisan itu?"
"Hei! Meskipun buku Novel terlihat picisan di mata kalian para pria. Buku Novel itu harapan yang nyata bagi kaum wanita," tukas Delta.
Vian mengeleng pelan. Keduanya berjalan mengitari rak-rak buku Novel. Di mana ada banyak Novel Indonesia yang ikut di pajang di sana. Jari jemari Delta menyentuh satu persatu cover buku. Sebelum tangan yang sempat mengandeng tangan Vian terlepas.
"Wajahmu masam sekali," kata Delta sebelum mendengus. Gadis ini menyempatkan sudut matanya menatap raut wajah datar dan aneh Vian.
Pria satu ini terlihat agak anti dengan buku Novel. Terutama Novel romansa, yang terbilang sedikit——mengelikan. Apa lagi ia pernah membaca sekilas buku di atas meja sang ayah. Dengan judul penaklukkan hati perempuan. Lucunya lagi, buku itu sekarang malah di pegang oleh Sean. Vian seringkali bertanya-tanya sendiri tentang kaumnya. Serumit apa hati wanita sebenarnya. Seumur-umur ia hanya hidup dengan dua perempuan sebaya nya saja. Adella, teman kecil nya dan Delta. Gadis yang kini tampak girang dan malu-malu membaca judul buku yang berada di tangan nya.
Setelah menegur raut wajahnya. Vian, menoleh ke rak buku di belakang tubuh nya. Siapa tau, ia akan menemukan buku asik di baca. Mungkin tentang psikopat atau tentang pria gila racun seperti nya. Ugh! Vian Yamato otaknya tidak pernah hilang dari seputar darah dan racun.
Delta menoleh ke arah Vian."Mau cari buku apa?" tanya nya.
Vian menoleh ke arah Delta."Mau cari buku pembunuhan," jawabnya blak-blakan sekali.
Delta menghela napas pendek. Anak Bos Mafia, tidak ada yang waras. Meskipun begitu, apa boleh buat. Ia sendiri tidaklah waras karena jatuh hati pada pria gila ini.
"Dasar," seru Delta kehabisan kata-kata.
Senyum kotak terbentuk kembali."Kau cari saja buku mu. Aku juga ingin melihat buku yang aku mau," ujarnya.
Delta tidak bisa membantah. Ia juga tau, para pria memang sangat tidak suka dengan buku romansa picisan.
"Oke," jawab Delta,"kalau udah ketemu jangan lupa balik ke sini. Dan jangan lirik gadis lain. Takutnya kamu di culik nenek lampir," kelakar Delta.
Vian hanya mengangguk pelan. Sebelum ke dua tangan nya bersembunyi di balik saku baju jaket kulitnya. Vian melangkah melewati beberapa rak buku. Sebelum manik mata coklat elang itu menangkap judul yang membuat nya merasa antara geli dan penasaran. Tungkai kaki panjang nya melangkah memasuki lorong rak-rak buku.
Tangan nya terulur menyentuh buku. Pria ini tercekat kala bukan buku yang ia sentuh. Telapak tangan besar tebal itu menyentuh punggung tangan wanita. Keduanya, sama-sama terperanjat dan melepaskan apa yang sempat di raih.
"Maaf!"
Dua suara dengan intonasi berbeda menggema dari ke duanya. Sebelum kembali kikuk, gadis berkacamata membingkai wajah sederhana itu menunduk.
"A——aku, duluan yang meraihnya!" ujarnya cepat agak tergagap di awal kata.
Sebelah alis mata tebal Vian menungkik tajam. Pria ini tidak mengerti dengan perkataan gadis culun di depannya ini. Gadis itu mengangkat takut-takut kepalanya. Visual pria di depan nya ini seperti Animasi yang nyaris sempurna. Kembali ia menundukkan kepalanya.
Wajah dingin Vian tampak berubah. Gadis di depannya ini terlihat sungguh lucu. Sebenarnya, hanya butuh satu kalimat saja. Lucunya, gadis ini yang terlihat takut namun sok berani ini meminta dengan cara aneh.
"Kau ingin aku mengalah padamu?" tanya Vian. Suara serak seksi itu terdengar.
Kepala gadis itu mengangguk antusias. Sebelum kembali terangkat.
"Ambil saja. Aku tadinya, hanya ingin melihat saja. Karena judulnya unik," ujar Vian.
Gadis itu menoleh menatap sampul buku Novel yang berada di rak buku. Dengan judul; Cinta Racun dunia. Sudah pasti Vian, tertarik karena kata racun yang di sematkan.
"Kalau begitu terimakasih!" ujar gadis culun itu. Gerakan nya sangat cepat. Meraih buku yang tinggal satu-satunya, dan berlari cepat meninggalkan nya.
Vian terkekeh kecil. Melihat betapa cepatnya gadis itu menghilang.
"Gadis yang unik," seru Vian.
"Vian!" panggil Delta di belakang tubuh Vian.
Vian membalik kan tubuh nya. Tersenyum pada Delta.
"Sudah dapat?" tanya Vian.
"Ya, ini!" Ujar Delta dengan senyum lebar mengangkat kira-kira ada tujuh buku Novel di tangannya."Kau sendiri sudah dapat yang ingin di beli?" tanya Delta.
"Tadinya sih, tapi...ah! Sudahlah. Ayo kita ke kasir." Ujar Vian sebelum melangkah mendekati Delta.
Vian meraih buku yang ada di tangan Delta. Ke duanya melangkah menuju kasir.
***
Dua cup coklat hangat terhidang di atas meja. Dengan beberapa cemilan, Dera mengusap pelan pundak gadis di dekapan nya. Coklat tadinya panas dengan uap asap mengepul tak lagi terlihat setelah gadis remaja itu selesai menceritakan semuanya. Dera beberapa kali menahan rasa yang tak mampu di utarakan dengan sebaris kalimat.
"Kenapa tidak menghubungi kami?" tanya Dera dengan nada serak. Kerongkongan nya mendadak kering.
"Aku sama sekali tidak punya uang, Ma!" jawab Adella pedih.
Masih melekat jelas di otaknya. Tidak seperakpun uang yang ia pegang. Saat lapar ia hanya akan mendapatkan beberapa butir nasi basi. Jika merasa haus, hanya ada air keran sebagai pelebur rasa haus di kerongkongan.
Bulir bening hangat jatuh. Dera memeluk tubuh Adella semakin erat. Adella membalas, pelukan Dera benar-benar seperti pelukan Susi. Meskipun hanya hitungan bulan. Susi memperlakukan nya dengan penuh kasih sayang. Wanita yang melahirkan nya itu, membayar kesalahannya. Memperlakukan Adella dengan sangat baik. Mencurahkan kasih yang tak bisa ia berikan. Hingga sakit berat di diderita.
Dera mengusap pelan punggung Adella. Air mata masih meleleh. Jika saja, Dera tau kemalangan Adella. Ia mungkin akan menahan Adella tetap di sisinya. Ibu empat anak ini, memiliki hati yang lembut.
Adella terisak pedih. Jika semua nya bisa di ulang. Gadis ini lebih memilih untuk tidak hidup atau tidak pernah ada. Rasanya sangat lelah dengan kehidupan. Bahkan saat Vian kembali pada peluk kan Dera dan Hiro. Saat itu, Adella kecil ini menghilang dari dunia. Setidaknya, semua nya telah kembali pada tempat nya. Dosa ibunya sudah terbalas.
Sayang nya. Pemikiran itu menghilang saat melihat Sean kecil yang begitu ceria dan hangat. Bagaimana Sean menatapnya. Menyapanya, Adella kecil merasa perasaan berbeda.
Di balik pintu kamar. Pria berwajah dingin itu tersenyum kecut. Air wajah nya tak terbaca. Helaan napas perih, ia melangkah meninggalkan pintu kamar.