
Sean duduk tepat di samping ranjang mengusap pelan peluh yang membanjiri dahi gadis yang beberapa hari ini berada di atas ranjang pesakitan. Belum ada kemajuan, dan ini meresahkan dirinya. Bukan hanya pria remaja ini saja, keluarga besar Yamato juga risau dengan keadaan Adella. Begitu pula dengan sahabat-sahabat Sean.
Ketukan lambat di balik daun pintu membuat Sean menoleh ke arah pintu. Saat pintu terbuka lebar, senyum hangat di tampilkan oleh tiga orang di sana. Sebelum ketiga nya masuk, David menutup pintu kamar. Membiarkan Willem dan Delta melangkah masuk terlebih dahulu.
Willem melirik wajah pucat Adella yang tertidur di atas ranjang."Bagaimana keadaannya?" tanya Willem pelan. Mencoba sepelan mungkin, agar gadis yang tengah terlelap itu tidak terganggu.
Sean menghela napas pendek."Masih sama," keluhnya.
Tepukan di bahu kanan terasa."Aku yakin Adella akan kembali sehat seperti sedia kala," ujar David tersenyum lembut.
Sean mengangguk pelan. Tangannya menggenggam pelan tangan Adella dengan lembut. Delta menatap lambat wajah pucat Adella. Ada sepercik rasa sesal menyelusup masuk ke dalam dirinya. Cahaya mata nya tampak sayu.
"Vian kemana?" tanya Willem sebelum mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan rawat yang begitu besar.
"Abang Vian di rumah. Kata papa, Abang Vian dan Gio melakukan tes darah Adella. Melihat apa yang salah padanya," jelas Sean.
"Kenapa tes lagi?" Delta bersuara.
Kepala Sean terangkat. Menatap sahabatnya dengan wajah letih.
"Papa curiga jika Adella terkena racun," jawab Sean.
Delta tercekat. Hanya untuk menelan air liur saja ia terasa tak mampu.
"Iya juga ya, karena kemarin katamu tidak ada yang aneh dan tidak ada tanda-tanda yang terlihat di tubuh Adella. Tapi bagaimana bisa Adella terkana racun. Sedangkan ia selalu bersama kita," kata Willem.
"Entahlah, aku sendiri tidak tau. Jikapun itu benar, aku akan mengusut sampai akhir. Dan menangkap orang itu, bahkan dengan tanganku sendiri aku akan menghancurkan dia!" Balas Sean mengepalkan ke dua telapak tangannya. Bahkan pandangan nya tampak menajam beberapa kali lipat lebih menakutkan.
Willem mengangguk pelan."Aku akan membantumu menemukannya. Apapun taruhannya. Karena menyentuh milik sahabat ku, sama juga menantang ku!" timpal Willem serius.
David melirik dari ekor matanya. Wajah Delta yang memucat. David menghela napas pelan, sebelum menoleh menatap wajah Adella yang berada di atas ranjang. Pikiran nya melayang pada lima hari yang lalu. Saat Adella di larikan ke Rumah Sakit.
Flashback on
David melayangkan kecupan dari jarak jauh pada adik kelas yang mengilainya. Membuat suara riuh terdengar jelas. David tersenyum sumringah saat melihat sahabatnya melangkah terburu-buru.
"Mau kemana dia?" monolog David melihat Delta tergesa-gesa menuju ke arah gudang belakang sekolah,"ganggu dia, ah!" lanjutnya dengan senyum miring khas miliknya.
David melangkah cepat mengikuti Delta dari belakang. Pria yang terkenal sebagai playboy cak kadal air, oleh para sahabat nya ini memang cukup jahil pada orang terdekat. Terutama pada Delta. Gadis imut dengan senyuman manis. Mampu membuat dirinya berdebar.
Mencintai dalam diam. Begitulah David pada gadis yang kini berkelok di tikungan di depannya. Gadis yang selalu memberikan dia semangat. Menjadi seorang playboy hanyalah topeng. David tidak ingin Delta merasa terbebani dengan perasan nya. Apalagi isi hatinya mampu menghancurkan persahabatan mereka. Seperti janji mereka dulu, tidak jatuh cinta pada sahabat sendiri.
Itu membuat David enggan memperjelas kan isi hati. Langkah kakinya terhenti, diam-diam bergerak mendekati Delta. Bermaksud mengejutkan Delta. Namun langkah nya urung, saat dari dalam gudang Ella keluar. Tubuh atletis David bersembunyi di balik tumpukan bangku yang rusak.
"Kenapa racun nya bereaksi sangat cepat. Bagaimana ini!" ujar Delta panik.
Ella diam. Gadis itu tampak mengerutkan dahinya.
"Bukankah itu memang semestinya begitu. Racun buatan Vian memang lah kuat," balas Ella dengan nada tenang.
"Tapi....tapi kau saat itu bilang. Kalau racunnya akan berkerja perlahan!" tukas Delta dengan nada terbata-bata.
"Seperti nya, tubuh Adella menang kurang beruntung hingga reaksi nya secepat ini. Mau bagaimana lagi, sekarang tenanglah. Jangan panik, bertingkah lah seperti biasanya Delta!" Nasehat Ella menepuk pelan pundak Delta."Semakin cepat Adella mati. Maka semakin cepat pula Vian menjadi milikmu!" lanjut Ella. Sebelum menurunkan tangannya dari bahu Delta.
Mata David terbelalak. Ia merasakan hantaman keras di dadanya. Dua kali kelopak mata David berkedip-kedip cepat ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Pertama Delta meracuni Adella. Dan ke dua perasan gadis itu pada Vian, membuat ia gelap mata. Tunggu! David masih belum mengerti. Kenapa hanya untuk mendapatkan hati Vian, Delta bisa berubah begitu jauh. Delta yang ia kenal tidak seperti ini.
Adella milik Sean. Tidak ada apapun antara Adella dan Vian. Lalu, kenapa gadis yang selalu ceria itu meracuni Adella. David merasa pening seketika.
"Aku——aku...takut!" ujar Delta dengan nada bergetar. Gadis itu menangis.
Tampak ke dua sisi bahunya bergetar. Ini kali pertama ia seperti ini. Mengorbankan hati nurani untuk cinta.
"Tidak apa-apa, aku akan selalu membantuku. Kau jangan takut Delta!" Ujar Ella memeluk tubuh Delta. Mengusap pelan punggung belakang Delta yang bergetar.
Terdengar jelas Isak tangis Delta. Senyum lebar tampak di wajah Ella. David terkanga, apa yang sebenarnya terjadi? Banyak hal yang tidak di mengerti David saat ini. Siapapun, tolong jelaskan padanya apa yang terjadi. Banyak spekulasi yang berkecamuk di hati David saat ini.
Flashback off
"David! Hei! Ada apa dengan mu?" Willem mengguncang pundak David.
"Ah?"
"Kau, kenapa benggongong begini?" tanya Willem.
David mengulas senyum canggung. Ia mengeleng pelan. Willem hanya mengeleng kecil, sedangkan Sean tidak mengeser tangannya menggenggam tangan Adella. David menoleh ke samping. Tidak ada Delta, ia menoleh ke arah sofa. Di sana Delta telah duduk dengan pandangan kosong. Karena rasa cinta Delta menjadi bodoh dan membunuh hati nuraninya. Dan karena cinta pula, David menjadi tuli dengan apa yang pernah ia dengar. Hanya untuk menyelamatkan Delta.
"Maafkan aku, Sean. Aku tidak bisa mengatakan apapun. Jikapun nanti ketahuan. Maaf dan sangat menyesal aku akan tetap membantu Delta. Baik dari amukanmu ataupun membujukku untuk mengampuninya. Meskipun kau akan membenciku nantinya. Maaf," kata sesal yang tidak dapat David ungkap kan.
...***...
Beberapa kali pengujian di lakukan oleh dua orang berbeda usia. Vian menatap tajam pada zat yang berada di tabung panjang yang kini ia pegang. Gio yang berdiri di samping nya mengehela napas.
"Ternyata ini benar racun yang sama seperti yang kita kembangkan Vian!" ujar Gio.
Vian menatap tajam botol di tangannya.
BRANG!
Gio tercekat. Pria bule itu bahkan mundur beberapa langkah kebelakang. Sungguh! Aura yang di keluarkan oleh Vian sangat menakutkan.
"Bagaimana bisa ia mendapat racun ini?" satu kalimat yang keluar dari bibir Vian terdengar berat dan penuh rasa sesal.
"Vian!" panggil Gio pelan. Sebelum itu memejamkan ke dua matanya.
PRANG!
BRAK!
Laboratorium kacau. Semua benda pecah belah hancur di tangan Vian. Gio tidak mencegah. Pria ini tau percuma. Derap langkah kaki kasar beradu dengan lantai di luar ruangan terdengar jelas. Anggota Yakuza berlari dan masuk ruangan laboratorium dengan wajah panik. Mereka berpikir ada hal buruk yang menimpa putra pertama bos besar mereka. Saat pintu Labor terbuka. Mereka tercekat, aura membunuh menguar dari tubuh Vian yang kini masih mengamuk memecahkan peralatan. Mereka tak bisa berbuat apa-apa sama seperti Gio yang mencari aman ke sudut ruangan. Takut ikut terkena Ibas amukan Vian.