The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 35 (Perasaan terancam)



"Woah!"


Seruan kekaguman dari ke dua perempuan terdengar jelas. Delta tidak berkedip menatap wajah cantik Ella. Gadis di depan nya ini benar-benar cantik. Mereka masuk pada kelas yang sama. Ke depannya, Ella akan bersama Willem. Menjadi tangan kanan Willem. Sungguh beruntung Willem bisa di ikuti oleh perempuan Rusia secantik Ella.


"Hei! Biasa saja dong melihat nya. Air liur mu, bahkan hampir tumpah itu!" Tegur Willem tak lupa telapak tangan kanannya bergerak di depan wajah Delta.


Adella beberapa kali mengerjab di ikuti oleh Delta. Delta mengusap sudut bibir nya, sebelum mencabik pada Willem. Ia pikir ia benar-benar, mengeluarkan air liur. Ternyata tidak begitu. Sialan sekali, si Wellem ini.


Sean dan Vian memasang tampang biasa. Dahi Vian berlipat kala melihat manik mata coklat terang Ella. Seperti tidak asing di ke dua matanya. Vian sepat melamun sebentar sebelum tersadar. Karena teriakan kesal Delta dan pukulan di bahu Willem melalui banyak sofa.


Ella hanya diam saja. Wajah gadis itu cenderung dingin dan datar. Pandangan mata itu sesekali menajam. Benar-benar seperti seorang Doggy sejati. Ella bukan peliharaan biasa, seperti nya gadis cantik ini lebih dari itu.


"Sakit tau!" Kesal Willem mengusap dada bidang nya yang di lempari banyak.


Delta mendengus. Adella terkekeh pelan melihat bagaimana pertengkaran Willem dan Delta untuk pertama kalinya. Sean tersenyum kecil menatap wajah cantik Adella yang terkekeh. Meskipun begitu, ujung ekor matanya, pria remaja ini menatap diam-diam Ella. Ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan oleh Sean. Ada perasaan terancam setiap kala, Ella menatap ke arahnya. Meskipun gadis cantik itu tidak memasang wajah menakutkan padanya.


Sudah satu jam Ella bergabung dengan mereka. Gadis cantik itu lebih pendiam dari pada yang terlihat. Gerakan tubuh terlihat gemulai. Tidak seperti gadis yang terlatih pada umumnya. Kamuflase yang hebat! Itulah kata yang serentak tertanam di otak Sean dan Vian di saat waktu bersamaan.


"Eh, ngomong-ngomong bagaimana caranya kita membalas David. Jika dia malah terbang ke Belanda," kesal Delta.


"Kita tunggu pulang saja," timpal Adella pelan.


"Tidak bisa!" tukas Willem cepat,"enak di dianya dong!" lanjut Willem benar-benar kesal.


Malu sekali Willem pada sang ibu. Apa lagi, ayahnya dengan gampang nya berkata. Jika Willem mau tidak ada masalah, itu normal. Hanya saja, hubungan seperti itu harus di bicarakan. Takut merusak masa depan atau terjangkit penyakit kelamin jika tidak di terapkan dengan benar.


Ayolah, Willem Zhao bukan pria mesum yang berpikir terlalu jauh utusan ranjang. Meskipun tahun nanti usianya sudah genap dua puluh tahun. Tetap saja, itu akan sangat memalukan untuk di bicara kan. Dan David Miyaki, pria itu harus benar-benar mendapatkan ganjaran nya.


"Tenanglah kawan. Kita tidak usah repot-repot mengejarnya ke Belanda. Satu Minggu biarkan dia bersenang-senang. Dia mungkin berpikir jika setelah satu Minggu emosi kita akan mereda. Dan kita akan melupakan nya. Biarkan dia pulang dengan kejutan nantinya," kata Sean.


Adella mengulum senyum. Sean Yamato bukan pria yang mudah menyerah. David salah dalam mengerjai temannya satu ini.


***


Jari jemari Dera bergerak di atas kalkulator. Ke dua bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Di samping nya terlihat Clara memperhatikan kegiatan sang nyonya besar Yakuza ini.


"Kenapa kau harus sibuk-sibuk menjumlah pengeluaran, De?" tanya Clara.


Dera menghentikan pergerakan tangannya.


"Agar aku tau sebulan berapa banyak uang yang aku keluarkan. Aku takut kebablasan mengeluarkan uang. Untuk hal yang tidak berguna," balas Dera.


"Lagian, uang bulanan mu kan tidak ada batasan nya. Bos Hiro tidak akan pernah marah jika kau mengosongkan uang di ATMmu," kata Clara dengan wajah sumringah.


Bagaimana tidak. Mengingat ada jumlah uang yang selalu masuk ke dalam tabungan Dera membuat banyak wanita akan melenguh iri. Biasanya, banyak wanita yang akan membeli barang-barang malah. Sekedar bershoping ria. Lucunya, Dera malah menghemat pengeluaran. Yang jelas-jelas tidak akan berkurang di setiap bulan nya.


"Aku ingin beli rumah di luar negeri. Jika bisa berhemat!" jawab Dera tidak lupa menyenangkan senyum lebar.


"Eh! Rumah?" tanya Clara membeo.


"Ya." Kepala Dera mengangguk antusias."Kak Hiro bilang. Dia ingin masa tuanya di habiskan di pinggir pantai Yunani. Kalau beli rumah di sana pasti mahal. Jadi harus hemat," lanjut nya dengan wajah bahagia.


Sontak saja Clara menepuk cepat dahinya. Kadang-kadang Clara merasa pusing dengan keanehan Dera. Untuk rumah di manapun wanita ini mau. Bahkan jika Dera mau beli rumah di planet Mars sekali pun. Pasti akan di beli Hiro. Kenapa harus capek-capek berhemat.


"Siapa yang aneh?" seru Dera balik.


"Kau aneh, De! Dengan semua kekayaan. Kau malah berhemat hanya untuk beli rumah," ucap Clara pelan.


"Aku tidak mau membawa kekayaan ini saat tua nanti. Lagipula ada pewaris nya nanti, biarlah anak-anak yang mengelola nya. Aku hanya ingin hidup sederhana dengan Kak Hiro nantinya. Aku juga ingin merasakan bertengkar perihal yang yang Kak Hiro dapat, suatu saat nanti. Pasti seru," balas Dera.


Clara mendesah. Ia tak mengerti jalur pemikiran Dera. Di saat orang di luar sana ingin menghabiskan masa tua dengan uang yang mereka punya. Dera malah ingin hidup sederhana dan bertengkar kecil dengan suami nya. Benar-benar aneh.


Kekehan renyah terdengar di ambang pintu ruangan kerja khusus Hiro. Di mana Dera duduk di kursi singasana Hiro. Dan Clara duduk di sofa. Dengan cepat Clara berdiri dan membungkuk penuh hormat pada Hiro.


Wanita itu langsung berpamitan kabur. Membiarkan suami-istri ini berduaan. Hiro mengikis jarak di antara ia dan sang istri. Dera masih duduk di kursi Hiro.


"Apakah perkataan aku ada yang lucu?" Tanya Dera sembari mengangkat kepalanya. Menengadah menatap Hiro yang duduk di pinggir meja.


"Tidak." Jawab Hiro dengan senyum lebar.


Tangan besar nya jatuh di atas kepala Dera. Membelai kepala sang istri dengan lembut.


"Aku selalu merasa terpukau dengan apa yang istriku, katakan!" aku Hiro.


Dera hanya mengulum bibir. Sebelum tersenyum lebar.


***


Erangan dengan napas letih terdengar jelas. Tubuh wanita itu tampak keriput dan lunak. Duduk bersandar di dinding dingin dan berdebu. Sangat memprihatinkan. Jika ada orang yang masuk ke dalam penjara bawah tanah. Melihat keadaan wanita yang dulunya, sangat cantik. Benar-benar sangat cantik itu, tidak akan percaya jika di depan mereka wanita cantik yang dulu dan yang sekarang adalah wanita yang sama.


Mengingat bagaimana wajah Mirabel saat ini. Gio bergerak menyuntik kan vaksin baru. Yang akan di gunakan untuk para anggota Mafia. Jarum suntik ditarik kembali secara cepat. Bibir mengerut Mirabel meringis.


"Kapan aku akan mati?" tanya Mirabel lemah.


"Mati?" tanya Gio dengan nada aneh.


"Ya."


"Kau tidak akan mati. Vian ingin menjadikanmu sebagai tubuh percobaan. Banyak yang ingin Vian lakukan padamu. Simpan saja keinginan mu itu!" Balas Gio. Sebelum melepaskan sarung tangan karet di tangan nya."Dan, vaksin tadi akan memberikan mu kekuatan bertahan. Aku penasaran berapa lama vaksin itu akan berkerja. Jadi, mohon kerja samanya!" lanjut nya.


Kreat!


Pintu penjara terbuka lebar. Derap langkah kaki membuat Mirabel mengerang. Vian tersenyum miring.


"Hai Mom! Bagaimana, Vaksin ciptaan ku?" tanya Vian dengan nada beratnya.


Cuih!


Air liur Mirabel melayang hampir mengenai ujung sepatu Vian. Gio menatap Mirabel dengan pandangan tak percaya. Wanita bodoh ini benar-benar cari perkara.


"Kau iblis!" makinya.


Raut wajah datar Vian berubah persekian detik. Sebelum tawa mengelar di ruangan penjara khusus Yakuza.