
Sean merengek. Hiro merasa jengah. Kemana langkah kaki Hiro di sana lah Sean berada. Langkah kaki ke duanya berhenti, hampir saja dada bidang pria remaja ini menabrak tubuh sang ayah. Hiro berhenti mendadak dan membalik kan tubuh nya menatap kesal Sean.
"Kau mau kemana?" tanya Hiro dengan nada berat.
"Ya, mengikuti papa lah. Apa lagi?"
"Kenapa kau terus-terusan mengikuti papa, huh!"
"Papa jelas tau apa mauku!"
"Benar-benar keras kepala," cibir Hiro.
"Ya, kan ini turunan dari papa!"
"Kau bandel!"
"Turunan dari papa," tukas Sean lagi.
Ke dua bola mata Hiro berotasi malas. Sean benar-benar menyebalkan saat keinginan nya tidak terwujud.
"Dua hari lagi Adella pulang. Ngapain ke Paris?" ujar Hiro semakin kesal.
"Papa kayak nggak tau aja. Kalau orang kangen, dua hari itu seperti dua tahun papa!" protes Sean dengan nada yang terdengar menggelikan.
"Ugh! Menjijikkan," ujar Hiro dengan wajah geli,"siapa yang berkata seperti itu?" tanya Hiro.
Dahi Sean berlipat dalam."Itukan kata-kata gombal dari buku yang papa baca. Terus turun ke aku," jawab Sean jujur.
Oh, Hiro baru ingat. Buku-buku aneh yang ia baca dan ia terapkan untuk bisa membuat Dera semakin lengket padanya. Ia sengaja membeli banyak buku mulai dari cara menaklukkan hati wanita, isi hati wanita, cara membuat wanita nyaman, bahasa isyarat wanita sampai apa yang di benci oleh wanita. Tidak bisakah di lihat, betapa besarnya cinta Hiro pada Dera. Pria yang sangat suka mengayunkan Katana dan menebas kepala manusia. Malah membaca buku tentang kaum yang serba benar. Hanya untuk membuat sang istri tambah cinta.
"Jangan baca buku itu lagi," ujar Hiro setelah sekian lama terdiam.
"Kalau aku tidak baca, aku akan jadi pria paling kaku papa. Aku tidak ingin seperti itu," bantah Sean.
"Itu menggelikan, bung!"
"Nggak apa-apa, yang penting gadis yang aku cintai bahagia!" balas Sean.
Kembali wajah Hiro terlihat jijik. Ia tidak tau saja, bahwa dirinya jauh lebih mengelikan dari pada sang putra. Hanya untuk mendapatkan hati Dera.
"Terserah saja," ujar Hiro pada akhirnya.
Pria Yamato itu membalikkan badan kembali melangkah di ikuti oleh Sean.
Bug!
Punggung belakang Hiro di hantaman tubuh Sean. Sean mundur dua langkah, takut-takut Hiro marah. Anak setan satu ini meskipun gila dan acuh pada Hiro. Diam-diam dirinya juga memiliki rasa takut jika Hiro marah.
Hiro membalikkan tubuhnya. Menghela napas kesal.
"Kenapa mengikuti aku, lagi?"
"Aku akan terus ikut papa sampai papa setuju," keukeh Sean.
"Hei! Son. Papamu ini mau buang air besar. Mau ikut juga?" kesal Hiro.
Kontan saja Sean tertawa keras. Anak lelaki satu ini baru sadar jika ia dan sang ayah sudah berada di pintu kamar mandi di kamar utama. Jika Sean tertawa maka Hiro semakin memasang wajah kesal. Bagaimana tidak, sudah dua kali ia harus menahan buang air besar karena sang putra. Harusnya keluar langsung masuk lagi, karena menghentikan langkah dan berbicara dengan Sean. Dan ini ke dua kalinya.
"Cepat sana, nanti bicarakan lagi!" Titah Hiro sembari membalik kan badan membelakangi Sean dan melangkah memasuki kamar mandi.
Sean mengeleng pelan kepala nya. Sebelum keluar dari kamar ke dua orang tuanya.
***
Benda bulat itu menggelinding di lapangan. Teriakan memekakkan telinga berbunyi nyaring. Di barisan penonton di dominasi oleh kaum para wanita. Kursi-kursi di penuhi oleh lautan penonton. Sedangkan para pemain tampak serius menggopor bola dari satu orang ke satu orang lain. Peluh menetes dengan deras, hingga membanjiri kaos belakang. Celana selutut membuat otot kaki para pria terlihat jelas di tambah kaos oblong memperlihatkan otot bisep yang begitu keras. Membuat para wanita semakin menjerit histeris kala bola memasuki gawang kecil.
Kya!!!!
Kya!!!!
Kya!!!!
"Vian!!!"
"Willem!!!"
"David!!"
Kya!!!!!!!!!!
Teriak para wanita membuat ke dua gendang telinga pelatih futsal mau pecah. Pria itu mendengus keras, sebelum menyudahi latihan futsal dengan bunyi peluit panjang.
Pria itu mengeleng kepalanya kala para wanita terlihat sangat antusias memberikan baik handuk leher sampai air minum. Delta duduk di bagian penonton paling depan. Ia terkekeh pelan melihat David di kerumuni hingga nyaris menghilang di kerumuni para gadis. Sedangkan untuk Sean, Vian dan Willem. Para gadis remaja tidak berani bertindak gila. Seperti bertindak gila pada David Miyaki. Masih sayang hati, itulah yang ada di otak mereka. Mereka takut patah saat melakukan hal itu. Di tolak mentah-mentah oleh ketiganya.
"Punyaku!" Ujar Willem mengulurkan tangan nya pada Delta.
Delta langsung memberikan handuk leher dan botol minum. Bukan hanya untuk Willem seorang namun juga untuk Vian dan Sean. Ratusan pasang mata menatap iri pada Delta. Banyak gadis yang ingin berada di posisi Delta. Sayang nya sangat sulit.
"Gila! Apakah mereka benar-benar wanita?" Gerutu David saat sampai di depan sahabat-sahabat nya.
Beberapa bagian tubuh David tampak memerah. Di leher ada beberapa bekas cakaran, di lengan dan di pipi juga ada. Benar-benar bringas saat menaklukkan pria yang mereka inginkan.
"Makanya jangan playboy!" cemooh Willem.
"Hei! Aku tidak begitu lagi ya," protes David.
"Ah, masa!" ledek Delta.
"Sudahlah. Kau memang begitu akui saja kawan!" kini Vian angkat suara.
Tawa mereka terdengar. Wajah David semakin masam saja. Belum lagi rasa perih di kulitnya, akibat kelakuan para wanita yang ingin memberikan botol minum dan handuk mereka pada dirinya. Apes juga menjadi pria yang di puja banyak wanita. Siapa bilang hanya ada enak nya saja. Setidaknya itulah yang di pikirkan David.
***
Adella terkekeh renyah kala dari kejauhan Sean berlarian menyongsong ke datangan nya di Bandara. Beberapa orang yang berjalan santai menatap penasaran pada ke dua anak remaja yang kini berdiri berhadapan.
"Hei! Mau apa?" seru Adella menghindar dari pelukan Sean.
Pria remaja itu mendengus kesal."Mau peluk," ujarnya tidak tau malu.
Adella mengeleng pelan kepala nya."Enak saja peluk-peluk, kita ini bukan pasangan suami-istri!" ujar Adella dengan nada lucu.
"Kalau begitu hari ini kita nikah saja. Lagian kangen kan biasa pelukan!" tukas Sean.
Ino yang berdiri di belakang punggung Adella hanya tersenyum tipis mendengar perdebatan aneh ke duanya.
"Enak saja. Aku masih mau sekolah, aku belum bisa urus anak orang!"
"Aku kan pria serba bisa jadi jangan khawatir," bujuk Sean.
"Memangnya apa yang kamu bisa?"
"Aku sudah bisa memasak, bisa apa lagi ya?" ujarnya mencoba menggali potensi diri.
"Bisa cari uang?" tanya Adella.
"Itu, masih proses!" jawabnya polos.
Ino dan Adella terkekeh. Sean tersenyum, tangannya meraih telapak tangan Adella. Menautkan jari jemari nya, mengisi ruang yang kosong.
"Kalau nggak bisa pelukan. Gandengan tangan nggak apa-apa kan?" tanyanya dengan nada serius.
Adella mengangguk pelan. Sean tersenyum lebar, sebelum meraih koper di tangan kiri Adella. Pria ini menarik koper besar Adella menuju arah selatan. Di mana mobil yang ia bawa sendiri terparkir. Ino hanya menjadi penonton perasaan dua anak remaja.