
Wajah cantik Cleo tampak merana. Beberapa kali gadis remaja itu menghembuskan napas kasar dari mulut. Di ikuti oleh ketiga anak perempuan cantik yang duduk di depannya.
"Kenapa kalian ikut-ikutan menghela napas panjang?" kata Cleo dengan menatap aneh ke tiga nya.
"Entahlah," jawab Cherry.
"Kami hanya merasa letih saja," kini suara Laura ikut mengalun.
"Lalu kakak Cleo sendiri kenapa?" Launa memilih bertanya balik pada Cleo.
"Nilai bahasa Inggris kakak jelek. Jangan bilang ke Bunda Clara ya," ujar Cleo dengan nada mengecil di akhir kata.
"Itu karena kakak terlalu sibuk dengan drama Korea," cibir Cherry.
Launa dan Laura terkekeh mendengar cibiran Cherry. Bibir Cleo mencabik mendengar kan cibiran sang adik.
Derap langkah kaki mendengar ke empat nya terdengar jelas. Canda tawa mengalun, hingga ke enamnya berhenti mengambil tempat duduk di samping si kembar, Cherry dan Cleo. Sean yang tentu nya berada di samping Adella. Ke empat lagi mengambil tempat di samping Cleo yang duduk sendiri.
"Baru pulang Bang?" tanya Laura dengan pandangan polos menatap ke dua Abang nya.
Kontan saja ke empat lelaki itu mengangguk. Meski pertanyaan itu di lemparkan untuk ke dua abangnya saja.
"Ada apa dengan wajah cemberut, adik cantik Cleo!" celetuk David menggoda Cleo.
Jika tadi Cleo yang mencabik. Kini giliran Cherry yang mencabik tidak lupa ekspresi ingin muntah nya. David seperti yang Papanya katakan. Si kadal air, yang suka cari perhatian sana sini. Papanya bilang, kalau ada si bule maka Cherry harus menjaga sang kakak. Dari rayuan basi David.
"Berhenti menggombal Cleo, Dav!" tegur Sean,"kau tidak lihat wajah masam adiknya padamu," lanjut nya.
Kontan saja mata orang-orang yang duduk di meja yang sama menoleh menatap wajah Cherry. Benar saja, mata kecil Cherry di buat besar. Jangan lupakan cara ia menatap penuh awas pada David. Pemuda remaja bermata hijau itu meringis melihat pandangan tajam dari Cherry. Seperti nya Yeko benar-benar menjadikan putri bungsunya sebagai penjaga anak gadis sulungnya.
"Adik manis, Abang David tidak macam-macam kok. Tenang saja, hem!" bujuk David.
"Huh!" Cherry mendengus mendengar bujukan David.
Gelak tawa menggelegar mendengar dengusan Cherry. Benar-benar lucu, itu lah yang ada di benar-benar pria remaja itu.
"Kata Abang David tidak boleh di percaya ya, kak Cherry!" ujar Laura mengopri.
"Eh?" David syok mendengar kata yang keluar dari bibir Laura. Wah! Benar-benar duplikat Sean kecil. Itulah yang David rasa kan pada Laura. Seringai aneh yang tercetak di bibir kecil Laura sama seperti seringai Sean Yamato saat kecil.
"Ya. Papa bilang, apa yang keluar dari mulut Abang David adalah racun dunia," ketus Cherry.
Cleo hanya mengeleng pelan. Jika saat berusia enam tahun Cleo adalah anak yang manis dan cenderung seperti burung beo. Merekam perkataan orang dewasa. Dan menyampaikan nya saat waktu yang tepat. Berbeda dengan Cherry, adiknya ini cenderung diam namun penuh amanat dan galak. Seperti saat ini, Cleo tau sang Papa meminta Cherry menjauhkan nya dari David. Dan lihat! Cherry selalu melakukan nya.
"Benar sekali Cherry! David bukan pria yang dapat di percaya," timpal Delta.
David memasang tampang teraniaya. Willem terkekeh melihat wajah nelangsa David. Pria yang selalu memasang wajah sok cool di depan kamera. Tapi malah selalu memasang tampang disudutkan saat bersama ia dan teman-temannya.
Vian mengeleng pelan melihat apa yang terjadi.
Di meja mulai memanas kala Laura kembali angkat suara. Gelak tawa dan dengusan terdengar. Tidak ada yang menyadari jika di bawah meja, Sean Yamato menggenggam erat tangan kanan Adella. Gadis cantik berpipi chubby itu merona dalam diam.
Sean Yamato, seperti nya tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Seperti saat ini.
***
"Tidak melukai putriku, huh!" teriak wanita paruh baya yang terlihat buram di mata Adella.
Gadis yang kepalanya di perban. Baju seragam depan nya penuh dengan noda darah.
"Lalu yang di baju seragam depanĀ anak saya ini, jus tomat hah!" kini giliran pria paruh baya yang angkat bicara.
Gadis terlihat samar-samar itu mengeleng pelan."Paman! Bibi! Aku tidak berbohong. Dia di timpa tangga besi itu karena dia sendiri yang menendangnya," ujar gadis berambut panjang itu dengan suara bergetar.
"Tidak Ma! Aku tidak pernah menendangnya. Aku malah ingin melindungi nya dari cibiran teman-teman. Aku....aku, ingin bilang jika dia mau juara umumnya. Aku akan dengan senang hati memberikan nya. Karena dia kan anak yatim-piatu. Tapi dia malah marah dan semua nya terjadi," bohong gadis itu.
"Dasar anak tidak tau asal-usul. Gak punya bapak sama ibu ya begini lah!" sinisnya.
Sang guru tidak bisa apa-apa. Hanya memilih bungkam. Mengingat kekayaan yang di miliki oleh salah satu anak didik mereka. Belum lagi, bukti-bukti mengarah pada gadis yang kini menangis menahan rasa sakit di hatinya. Di sini bukan hanya anak gadis dari ibu itu yang terluka. Tapi ia juga terluka. Tangan kirinya patah. Bahkan pipi kanannya juga berdarah karena pecahan kaca saat tangga besi berat itu menghantam kaca di samping nya. Ia juga tertimpa, hingga tangan kirinya patah.
"SMP macam apa yang mau menerima anak jelek dengan pipi cacat itu. Bukan hanya cacat wajah, hatinya juga cacat. Sudah di beri beasiswa tapi malah membully teman sekelasnya!" gerutu pria paruh baya itu.
"Tidak... Aku tidak begitu," tolaknya.
Air mata di ke dua pipinya meleleh. Hingga ke dua kelopak mata Adella terbuka cepat. Dadanya terasa sakit begitu pula dengan kepalanya. Mimpi aneh itu datang lagi. Tidak ada yang terlihat jelas ia mata Adella. Semua nya terlihat samar. Ia tak tau siapa ke dua gadis itu orang tua gadis itu. Entah kenapa hati nya terasa sangat sakit.
Tangan Adella perlahan-lahan merubah posisi nya. Dari tidur menjadi duduk. Setelah merasa sempurna duduknya, Adella meraih laci nakas. Membuka nya cepat. Meraih botol obat, menelan cepat tanpa air. Ke dua sisi mata nya masih mengalir cairan asin.
"Apa yang sebenarnya ingin mimpi itu tunjukan padaku?" Keluh Adella meletakan asal botol obatnya. Sebelum telapak tangannya mengusap kasar wajah cantik nya.
Tidak satupun puing ingat di raih oleh nya. Adella frustasi.
***
"Kenapa kau terlihat pucat, Del?" bisik Nika di samping tubuh Adella.
Adella menoleh ke samping. Gadis itu mengulas senyum, seolah-olah ia berkata ia baik-baik saja. Guru di depan sana masih setia dengan penjelasan nya.
Gadis Yamada ini masih tidak terlihat tenang meskipun mendapatkan senyuman di bibir pink kering Adella.
"Mau ke ruang UKS?" tanya Nika kembali.
Adella mengeleng lemah. Sayangnya Nika bukan gadis yang penurut. Tangan kanannya terangkat membuat Guru di depan sana mengehentikan penjelasan nya.
"Ya, ada apa nona Yamada?" ucap sang guru.
Nika menurunkan tangannya."Adella sakit kepala Sensei bolehkah aku membawa nya ke UKS dahulu?" tanya Nika meminta persetujuan.
Kontan tatapan mata orang-orang mengarah pada Nika dan Adella. Peluh semakin membanjiri tubuh Adella. Tatapan yang di layangkan orang-orang membuat gadis ini merasa semakin ketakutan. Kepalanya semakin pening.
"Ya, silahkan!" jawab sang guru memberikan izin.
Nika berdiri dari posisi duduknya. Ia mengulurkan tangan nya pada Adella. Perempuan Indonesia itu menengadah. Nika terlihat khawatir, bagaimana tidak. Telapak tangannya serasa di masukan ke dalam air rendaman es. Wajah Adella terlihat semakin pucat. Perlahan Adella berdiri. Hingga teriakan keras siswa-siswi mengalun kala tubuh Adella terjerembab kebelakang. Nika berteriak keras kala Adella kehilangan kesadaran.