
Manik mata coklat dingin menatap gerak gerik perempuan remaja yang bermain bersama ke dua putri kembarnya di bawah sana. Hembusan angin sore melambai-lambai, membelai tirai di ke dua sisi pintu gerbang balkon kamar Hiro dan Dera.
"Kenapa Kakak menatap nya seperti itu?" seruan di samping membuat Hiro menoleh. Menatap wajah imut sang istri.
"Siapa?" Hiro berpura-pura bodoh.
Dera menghembus kan napas pelan. Sebelum melangkah lebih dekat lagi dengan Hiro. Mengikis jaraknya dan sang suami. Ibu dengan empat orang anak ini memeluk Hiro dari depan. Hiro tidak ingin menyia-nyiakan keromantisan yang mereka peroleh. Sebelum ada gangguan dari yang lainnya. Kepala Dera menengadah, menatap wajah tampan sang suami.
"Siapa lagi jika bukan calon menantu," kata Dera.
Hiro mengulas senyum."Hanya merasa aneh saja," jawaban jujur.
Dahi Dera berlipat."Aneh?" Dera memberikan jeda,"apanya?" lanjut nya bertanya.
"Kau tau, Adella. Dia mampu membaca setiap pergerakan pertarungan. Kekurangan dan kelebihan seorang petarung. Secerdas-cerdasnya seorang manusia menganalisa. Tidak akan bisa terperinci jika dia tidak pernah mendapat pelatihan ilmu beladiri sebelum nya," papar Hiro dengan jelas.
Dera menarik diri. Hiro melenguh tak rela kala sang istri keluar dari pelukannya. Berdiri tegak menatap ke arah taman belakang. Wanita mungil itu ikut menatap gerak-gerik Adella. Tidak ada yang janggal. Itu lah yang Dera rasakan.
"Benarkah?" tanya Dera dengan nada tak yakin.
"Ya sayang. Suamimu ini tidak berbohong." Ujar Hiro memeluk Dera dari belakang. Meletakan dagu runcing nya di atas bahu Dera. Ke dua suami-istri itu menatap ke arah Adella.
"Aku hanya merasa familiar dengan nya. Tidak merasakan perasaan terancam kak," kata Dera. Perempuan ini mengungkapkan apa yang ia rasakan.
Hiro tidak menjawab.
"Apakah kita perlu mencari tau lebih dalam tentang nya, Kak?" usul Dera.
"Seperti nya begitu, agar lebih jelas lagi."
"Semoga saja tidak ada yang aneh. Aku tidak mau putra kita kecewa."
"Ya, aku juga sama!"
Ke duanya kembali membisu. Membiarkan keheningan menyapa. Di temani detak jantung yang masih mengila. Meski ke dua nya tidak lagi muda.
***
Derap langkah kaki ke duanya membawa gaduh di lorong salah satu Rumah Sakit mewah di Jepang. Adella masih saja bersemu kala tangan nya di gandeng oleh Sean Yamato. Pria ini sempat menawarkan Rumah Sakit keluarga nya untuk Adella. Sayangnya, gadis remaja ini merasa enggan. Ia berkata lebih nyaman berada di Rumah Sakit umum.
"Kamu mau tunggu di sini, atau masuk ke dalam?" tanya Adella kala ke duanya sampai di depan pintu masuk salah satu ruangan konsultasi.
Sean melepaskan tangan Adella. Meski ia merasa enggan melepas kan tangan sang pujaan hati. Sayangnya, Sean harus melakukan nya. Ia tau, Adella akan merasa tidak nyaman jika ia ikut masuk ke dalam.
"Aku tunggu di sana saja!" Jawab Sean menunjuk bangku besi di depan ruangan.
"Ah, baiklah. Aku masuk dulu ya," pamit Adella.
Sean mengangguk. Pemuda ini melihat punggung Adella. Kala gadis itu membelakangi nya. Dan masuk ke dalam ruangan. Sebelum Sean melangkah ke depan, menduduki bodi belakang nya di kursi tunggu. Sedangkan di dalam ruangan Adella tengah melakukan pengecekan. Secara menyeluruh. Hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit. Sebelum gadis remaja itu duduk di depan sang Dokter.
"Bagaimana Dok?" tanya Adella pada wanita bermata sipit itu.
"Kulitmu sudah berangsung-angsur membaik. Kedepannya kau harus berhati-hati. Meski ini sudah dua tahun. Tetap saja ada gejala yang akan di timbulkan setelah operasi penuh pada tubuh mu. Tolong hindari bergerak terlalu aktif," ujar Ochi. Teman sesama Dokter dari ayah angkat Adella.
"Baik Dokter Ochi. Terimakasih atas perhatiannya," balas Adella.
Dokter Ochi mengangguk pelan. Sembari mengulas senyum.
"Setidaknya kau terlihat semakin cantik dan sehat. Papamu pasti bahagia melihat pertumbuhan mu," ujar Ochi.
Adella Putri hanya mampu mengulas senyum. Diam-diam Ochi merasa iba dengan gadis remaja ini. Masih melekat dengan jelas bagaimana keadaan mengenaskan dari Adella. Seluruh tubuhnya mendapatkan luka bakar. Koma dengan tubuh seperti mumi. Bukan hanya tubuhnya, jiwanya juga sempat terguncang. Ada baiknya, Adella tidak mengingat masa lalu.
"Dokter!" Panggil Adella cukup keras. Setelah empat panggilan darinya tidak di jawab.
"Ah? Eh? Maaf, ada apa Adella?" tanyanya setelah tersentak dari lamunan.
"Aku pamit pulang dan menebus resep obat!" Ujar Adella mengangkat kertas yang ada di tangannya.
"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Ochi.
"Ada teman yang menunggu di luar," kata Adella.
"Sayang sekali," keluh Ochi,"nanti kalau ada waktu hubungi Tante ya?" tidak ada lagi kata formal yang keluar di bibir Ochi.
"Siap, Tante!" Jawab Adella mengulas senyum untuk teman sang ayah.
Gadis cantik itu keluar dari ruangan.
***
Nada indah tercipta, kala jari jemari panjang nan lentik bermain di atas tuns-tuns Piano. Kelopak mata yang sempat tertutup terbuka perlahan. Alunan nada indah dari Piano membuat sang pemuda remaja itu bangkit dari tempat persembunyiannya. Melangkah mengikuti asal nada. Manik mata tajam miliknya jatuh pada rumah kaca. Perlahan namun pasti, ia semakin masuk ke dalam rumah kaca.
Netra coklat tajam nya menatap punggung belakang sang pemain. Senyum segaris terlihat jelas di ke dua sisi bibir nya. Aroma bunga menambah kesan romantis. Meski tau ada rasa yang salah, Vian tak bisa menghindarinya.
Prok!
Prok!
Prok!
Tepuk tangan keras kala permainan Piano nya berhenti, Adella terperanjat. Gadis itu memutar kepalanya kebelakang.
"Permainan Pianonya sangat menenangkan," Pujia Vian untuk pertama kalinya.
Adella mengulas senyum."Terimakasih atas pujiannya Vian," kata Adella dengan nada lembut.
Vian melangkah mendekati Adella. Berdiri di samping gadis itu.
"Maukah kau memainkan satu lagu lagi?" pinta Vian.
Adella mengangguk pelan. Ini pertama kalinya mereka berbincang. Biasanya, Vian cenderung diam dan tak banyak kata. Kecuali jika kembaran Sean ini berada di lingkaran keluarga nya.
"Mau aku bawakan lagu apa?" tanya Adella.
Vian mengerutkan dahinya. Berpikir keras.
"Terserah saja. Yang terpenting terasa menenangkan," balas Vian.
"Baiklah," ujar Adella.
Vian melangkah mendekati meja dan bangku panjang di dalam sana. Duduk di meja yang biasanya tempat ia dan sahabat nya lainnya berbincang-bincang. Mengobrol seputar gosip dari David.
Jadi jemari Adella kembali menari di atas tuns-tuns Piano. Lagu A Thousand Year dari Christina Perri. Bukan hanya nada indah dari Piano. Suara merdu Adella terdengar ikut menyuarakan lirik indah.
Heart beats fast
Jantungku berdebar kencang
Colors and prom-misses
How to be brave
Bagaimana agar berani
How can I love when I'm afraid to fall?
Bagaimana bisa aku cinta saat aku takut jatuh?
But watching you stand alone
Namun melihatmu sendirian
All of my doubt suddenly goes away somehow
Segala bimbangku mendadak hilang
One step closer
Selangkah lebih dekat
I have died every day waiting for you
Tiap hari aku tlah mati karena menantimu
Darling don't be afraid
Kasih jangan takut
I have loved you for a thousand years
Aku tlah mencintaimu ribuan tahun
I'll love you for a thousand more
Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi
Time stands still
Waktu berhenti berputar
Beauty in all she is
Segala tentangnya begitu indah
I will be brave
Aku akan berani
I will not let anything take away
Takkan kubiarkan segalanya berlalu begitu saja
What's standing in front of me
Apa yang menghalangi di depanku
Every breath
Tiap tarikan nafas
Every hour has come to this
Tiap jam telah sampai di sini
One step closer
Selangkah lebih dekat
And all along I believed I would find you
Dan selama itu aku yakin aku kan temukan dirimu
Time has brought your heart to me
Waktu tlah membawa hatimu padaku
I have loved you for a thousand years
Aku tlah mencintaimu ribuan tahun
I'll love you for a thousand more
Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi
One step closer
Selangkah lebih dekat
One step closer
Selangkah lebih dekat
And all along I believed I would find you
Dan selama itu aku yakin aku kan temukan dirimu
Time has brought your heart to me
Waktu tlah membawa hatimu padaku
I have loved you for a thousand years
Aku tlah mencintaimu ribuan tahun
I'll love you for a thousand more
Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi
Prok!
Prok!
Prok!
Adella membalikkan tubuhnya kebelakang dengan cepat. Sontak saja wajah memerah. Bukan hanya ada Vian semata. Ternyata di meja, dimana Vian duduki ada Sean, Delta, Willem dan David. Gadis ini tak tau kapan ke empat nya masuk ke rumah kaca. Bergabung duduk bersama Vian.